Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 42


__ADS_3

Setelah Hana di suruh untuk istirahat setelah acara yang melelahkan tersebut, Hana berbuat hendak mengganti bajunya yang sudah Viola berikan kepadanya untuk berganti baju, tidak mungkin tidur dengan gaun tersebut bukan?


Ketika Hana hendak saja berganti pakaian, tiba-tiba saja Satya membuka pintu kamar dan melihat keberadaan gadis itu berada di sana. Tentu saja Hana sudah merasa ada orang lain, mengurung niat untuk berganti pakaiannya.


"Kau di kamar ini?"


"Bunda yang menyuruh." Satya menaikan alisnya dan melangkah maju ke atan Hana, gadis itu yang merasa ada hawa tidak enak yang membuatnya tidak bisa menanggapi apa-apa.


Satya mendekat, mencengkram dagu gadis itu dengan kasar dan bahkan ia menatap dengan tatapan sinis kepada gadis itu, yang merupakan istrinya sendiri. Apa katanya? Bunda? Ayolah, Satya memang tidak bodoh dan itu wajar dikatakan oleh seseorang yang sudah menjadi istrinya. Tapi di posisi sekarang Satya tidak akan pernah mengakui keberadaan Hana yang menjadi istrinya.


Ingat suatu hal, jika Satya sudah mengatakan sesuatu maka semua akan terjadi. Ia akan melakukan sesuatu apa yang pria itu katakan sendiri, entah itu berakibat buruk atau baik.


"Bunda? Ingat, kau tidak berhak atas panggilan itu. Jadi jangan bertingkah sok dekat seperti itu, menjijikan." Ucapnya, dan tentu saja siapa yang tidak merasa sakit hati akan kalimat itu.


Satya bahkan mengatakan semua itu tanpa berpikir panjang, apakah perkataannya itu akan menyakiti Hana atau tidak? Sungguh, pria itu tidak akan pernah perduli akan itu. Ia tidak akan pernah menganggap keberadaan Hana di sekitarnya.


Pria itu menepis dagu itu dengan kasar membuat Hana merasa jika dirinya, mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Satya. Jika dirinya menjijikan, sudah berapa orang yang mengatakan kata itu dan sekarang Satya juga menjadi salah satunya. Gadis itu hanya diam, menunduk, tidak menunjukan wajahnya atau bahkan menatap ke arah Satya.


Dan Satya juga sepertinya tidak mau menatap ke arah Hana, semenjijikan itu istrinya? Padahal begitu banyak yang mengikhlaskan pernikahan itu di posisi mereka tidak rela, demi siapa? Demi Satya, lalu siapa lagi? Tapi seperti ini kah?


"Setelah kau berganti pakaian, kau tidur di ruang tamu. Aku tidak akan sudi tidur satu ranjang dengan mu." Dan lagi, mungkin sebenarnya Hana sudah menebak. Tapi tetap saja itu menyakitkan bagi seorang gadis, di sisi Hana juga sudah mulai menyukai Satya tapi pria itu tidak mengakui keberadaannya.


Satya hanya berdiri dan menunggu Hana berganti pakaian di kamar mandi, mungkin agak menghabiskan waktu yang lama karena gaunnya memang begitu sulit. Satya akan bernegosiasi akan itu.


Setelah 15 menit lamanya Hana berada di kamar ganti dan hanya berganti pakaian, gadis itu keluar dengan pakaian yang berbeda. Tanpa menoleh sama sekali, Satya seolah tidak melihat keberadaan Hana dan langsung melewati gadis itu begitu saja.

__ADS_1


Hana yang memang merasa diacuhkan hanya diam dan kemudian ia keluar dari kamar, ia menuju ke ruang tamu. Melihat keadaan sekarang, setidaknya sofa yang berada di ruang tamu masih manusiawi untuk dijadikan tempat tidur.


Gadis itu duduk di sana, ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Terdiam di sana dan memikirkan banyak hal adalah kebiasaannya, gadis itu terdiam selama beberapa saat sampai dia tertidur dengan sendirinya.


Hanya dengan bantal di sofa saja itu pun bantal yang memiliki tekstur keras tidak enak dijadikan bantal tidur, tapi ia memaksakan diri dan tidur di dalam suhu rendah tanpa selimut.


...•••...


Pagi hari begitu cepat, Hana terbangun karena suara dering di ponselnya. Ia terbangun, melihat ponselnya yang ternyata mendapatkan telpon dari Dimas. Gadis itu segera mengangkat telponnya, dan mendengar suara kakaknya itu.


"Hana sudah tidur?"


Hana hanya diam, apakah ia harus berkata jujur atau tidak sekarang karena ia sendiri merasa ragu dengan semua hal yang seharusnya ia mengatakan itu. Hana tidak mau memperbesar masalah ini, ia akan memendam sendiri selagi ia sanggup. Tidak perlu ada orang lain bukan? Hana sudah terbiasa sendirian, untuk apa melibatkan orang lain lagi.


"Iya, Hana tidur kok kak. Kakak bagaimana?" Setelah secara singkat mereka berdua berbicara dan setelah mengatakan yang sekitarnya tidak terlalu penting, hanya pembicaraan random saja dan kemudian Dimas memutuskan sambungannya.


"Kau bilang apa kepada kakak mu? Kau tidak bilang jika aku menyuruhmu tidur di ruang tamu bukan?" Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak mengatakan itu meskipun ia ingin. Tapi karena ia juga tidak mau menambah masalah hidupnya sendiri, Hana mengurung niatnya itu.


Satya ternyata sudah sejak tadi berdiri di sana mendengarkan apa yang Hana katakan kepada Dimas. Walaupun ia tidak mendengar sama sekali jika Hana mengatakan jika ia menyuruh gadis itu untuk tidur di ruang tamu, rasa tidak percayanya muncul.


Pria itu berakhir masuk kembali ke dalam kamarnya, tapi sebelum itu ia menoleh ke arah Hana yang masih duduk di sana dalam keadaan diam.


"Bersiaplah, bunda menyuruh kita segera pindah ke rumah yang baru." Hana hanya mengangguk menanggapi perkataan Satya dan sampai ia mendengar suara pintu tertutup.


Hana kembali menghela nafasnya, apakah ia akan bahagia? Semua kehidupan impian Hana, menikah dengan orang yang bisa menerimanya tanpa rasa terpaksa dan juga membangun sebuah keluarga kecil secara bersama, bahagia dan tidak ada pertikaian. Tapi sepertinya tuhan tidak mau mengabulkan permintaan kecil itu.

__ADS_1


Tidak apa, Hana sudah terbiasa dengan segala cobaan yang terus menghadangi dirinya. Tidak masalah selagi Hana masih bisa sesekali, ia bisa bertemu dengan seseorang yang ingin ia lihat.


"Aku tidak boleh menyerah begitu saja, jika aku menyerah bukan Hana namaku."


Berakhir Hana juga bersiap untuk segera pindah dari hotel, ia juga diberikan pakaian dari keluarga Satya untuk dikenakan. Karena semua barang-barang Hana sudah dipindahkan ke rumah tersebut, itu yang Dimas katakan saat masih menelpon tadi.


Mereka lumayan kaget karena Hana tinggal berdua bersama Dimas ketimbang bersama keluarganya, mungkin karena Stella berada di sana dan memberi alasan logis tapi penuh dengan kebohongan mereka percaya. Dimas? Sangat ingin menentang tapi bagaimana lagi.


Tidak butuh waktu yang lama mereka berdua pun siap, Satya berjalan terlebih dahulu dari pada Hana yang sekarang berjalan di belakangnya. Mungkin terlalu banyak sandiwara yang akan mereka berdua lakukan nantinya di depan keluarga tentu saja. Tidak mungkin Satya bersikap kasar secara langsung, bisa-bisa ia dipecat jadi anak.


Sampai di parkiran hotel dan naik ke dalam kendaraan beroda empat itu. Menempuh perjalanan lumayan jauh, sepanjang jalan Satya menelpon Anna. Bahkan dengan semua kata-kata romantis yang terus keluar dari mulut pria itu kepada Anna, bahkan Anna tidak ada rasa canggung sama sekali.


Padahal dia juga tahu betul dan bahkan dia sendiri datang ke acara pernikahan itu. Tidak ada rasa bersalah sama sekali menelpon Satya yang sekarang berstatus suami orang.


"Bagaimana di sana? Di sana pasti ada Hana ya."


"Tidak apa, jika dia protes aku akan melakukan sesuatu. Tenang saja, lagi pula dia tidak akan protes."


"Iya juga, dia cukup sadar diri jika dia adalah orang ketiga di sini bukan aku."


Hana mendengar walaupun sekilas tapi ia tidak mengatakan apa pun, walaupun ia tidak tahu di mana posisi orang ketiga itu disebutkan. Entah memang Hana atau justru Anna. Tidak ada yang tahu kecuali seseorang yang memang niat menghancurkan hubungan itu.


Gadis itu terus terdiam, sampai di mana acara menelpon itu selesai dan berganti suasana sunyi sekarang. Satya fokus menyetir, sedangkan Hana sibuk melamun.


"Kau harus ingat, bersikap lah normal di depan kedua orang tua ku. Jangan bertingkah seperti ini, mengerti?" Hana menoleh sekilas ke arah Satya dan mengangguk sekaligus menjawab dengan singkat.

__ADS_1


"Iya, aku mengerti."


__ADS_2