Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 106


__ADS_3

Tepat di pagi hari, Johan terlebih dahulu bangun dari tidurnya. Ia merasa lain dengan suasana seperti ini, aroma masakan yang membuatnya terbangun sekarang. Kenapa suasananya seperti ini? Johan tidak pernah merasakan suasana yang setenang ini.


Pria itu beranjak dari tempat tidurnya, dia membuka pintu kamarnya dan mencium aroma masakan yang membuatnya mendadak kelaparan. Dia belum makan sejak semalam tadi di tambah ia semalam juga ngelembur karena pekerjaan.


Masih menggunakan kaos berwarna putih dan juga celana training yang dia pakai sekarang, dia menuruni anak tangga. Melihat siapa yang memaksa sepagi ini? Sampai ia turun ke lantai dasar, melihat di dapur sudah ada orang di sana.


Maid biasanya sudah berada di rumahnya ketika sudah pukul 7, tapi sekarang masih jam setengah 6 pagi. Pria itu melangkah mendekat, melihat meja makan sudah penuh dengan makanan di sana.


"Oh, Johan? Kau sudah bangun?" Johan lumayan terkejut dengan penampilan Hana hari ini.


Tidak terbuka, hanya saja dengan hoodie kebesaran itu membuat badannya tenggelam di hoodie tapi tidak menutupi perutnya yang membesar itu. Bahkan wajahnya lebih bulat dari yang sebelumnya.


"Sepertinya begitu..."


"Duduk lah, aku sedang memasak sarapan mu atau kamu bisa mandi dulu sebelum kerja." Johan menaikan alisnya, ia masih melihat Hana yang sibuk sendiri dengan dunianya itu.


Pria itu tersenyum, tipis ketika ia di kejutkan dengan kehadiran Jihan yang secara tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Masih dengan muka bantalnya sekaligus rambutnya yang panjang itu seperti singa. Johan hanya bisa menghela nafasnya, tidak merasa heran karena beberapa kali melihat Jihan dalam keadaan seperti itu.


"Hana masak apa?" Hana menoleh dan melihat Jihan ternyata sudah berada di sana, gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Aku tidak tahu apa yang kalian suka, aku masak yang aku bisa..."


"Kelihatannya enak sekali, aromanya saja enak apa lagi rasanya."


"Benarkah? Terimakasih pujiannya." Jihan mengangguk, walaupun dia masih mengantuk dan nyawanya belum terkumpul semuanya.


"Aku akan bersiap dulu."

__ADS_1


"Baiklah, cepat turun ya." Johan menoleh ke arah Hana yang menatapnya dengan tatapan binar. Pria itu tersenyum gemas, dia menjawab dengan anggukan singkat dan kemudian dia kembali ke kamarnya untuk bersiap berangkat bekerja.


Sedangkan Jihan, dia tidur di meja. Karena memang hari ini adalah hari sabtu jadi tidak terlalu banyak yang di pikirkan, dia hanya seorang penulis. Hidupnya terlihat santai, tapi otaknya memikirkan skenario buku.


Tidak beberapa lama Hana selesai memasak dan bersamaan juga dengan Johan yang baru saja keluar dari kamar, dia sudah rapi menggunakan jas kantorannya. Dia berjalan ke arah meja makan, dia juga menepuk bahu Jihan agar gadis itu segera bangun.


"Hah? Apa?"


"Bangun dulu, sarapan lalu kalau mau tidur lagi tidak apa-"


"Tidak, mandi dan bekerjalah jangan malas-malasan." Johan memotong kalimat yang Hana katakan tadi, sepertinya Hana terlalu lembut.


"Ck, padahal aku mau hibernasi." Johan menggelengkan kepalanya merasa heran. Dia memasang dasinya yang tidak terpasang sejak tadi, sedangkan Hana menyiapkan beberapa piring di atas meja.


Ia menyadari ada yang aneh, Johan berusaha memasang dasinya tapi tidak terpasang juga. Bentuknya tidak beraturan, biasanya tidak memakai dasi karena dia biasanya tidak pakai kemeja melainkan pakai kaos saja di dalam luarnya baru jas. Tapi mungkin karena ada meeting penting hari ini, ia harus rapih.


"Biasanya siapa yang memasang dasinya?"


"Biasanya aku pakai kaos, bukan kemeja." Hana mengangguk paham, dasi sudah terpasang rapih dan Hana juga merapihkan kerah kemeja yang Johan kenakan.


"Sudah selesai, sarapan dulu sebelum berangkat."


"Baiklah, terimakasih." Hana tersenyum sebagai jawabannya, mereka bertiga makan dengan tenang sedangkan Johan berusaha mengatur detak jantungnya sekarang.


Entah kenapa ia mendadak gugup, sedangkan Hana bersikap seperti biasa dan menutupi perasaannya canggungnya sendiri. Ia tidak boleh seperti ini, tapi ia hanya ingin membalas semua kebaikan Johan selama ini. Apakah Hana salah?


"Aku akan pulang larut, Jihan jaga rumah."

__ADS_1


"Aku? Aku di panggil mama jika kau lupa."


"Bibi?"


"Ya begitu lah, kau pasti tahu jadi jangan pura-pura bodoh." Hana hanya menyimak apa yang mereka katakan, ia tidak paham dengan percakapan mereka berdua.


Sampai acara makan selesai, Johan beranjak dari tempat duduknya tapi dia berhenti melangkah karena dia melupakan sesuatu. Dia menghampiri Hana, membuat perempuan itu kebingungan. Apa ada yang ketinggalan?


Tapi ternyata yang ketinggalan adalah kecupan kening, tentu saja Hana terdiam bagaikan batu di sana. Ia tidak bisa berkata-kata sekarang, sedangkan Jihan yang melihat itu tersenyum. Sepupunya memang agresif.


"Jangan ke mana-mana, jika ada masalah telpon aku, aku akan menyuruh para maid segera datang menemani mu. Jaga dirimu selama aku pergi, paham?" Hana mengangguk paham, tapi dia masih dalam keadaan tidak bisa berpikir sekarang.


Johan tersenyum, mengusap rambut Hana seperti yang pernah dia lakukan dulu. Kemudian dia pergi begitu saja, sedangkan Jihan tersenyum diam-diam. Bahkan lebih tidak terduga lagi adalah, dia mengambil foto saat momen itu terjadi. Tidak apa-apa bukan? Ia bisa menceritakan semua kejadian ini kepada keponakannya nanti jika lahir.


"Astaga dia memang agresif, maafkan dia ya." Hana menoleh ke arah Jihan dan mengangguk kaku.


"Biarkan maid yang membereskannya. Lebih baik kamu istirahat saja, aku pergi nanti jam 10 kok." Ucap Jihan dengan santai, dia menggandeng lengan Hana dan membantunya menaiki anak tangga.


Anggap saja Johan terlalu posesif, dia menyuruh Jihan menjaga Hana ketika pria itu tidak ada di rumah. Tanggung jawab Jihan ketika Johan tidak ada di rumah, memang sedikit membuatnya terkejut tapi tidak masalah. Jihan akan melakukan semua itu tanpa harus di suruh Johan sekali pun.


"Apakah tidak terlalu berlebihan? Aku sudah istirahat semalaman."


"Tidak, Johan hanya tidak mau kamu kenapa-napa. Dia khawatir dengan dirimu, Hana." Hana mendadak terdiam, dia hanya mengangguk saja sampai di mana dia masuk ke dalam kamar.


Jihan pergi ke kamarnya untuk mandi sebentar saja, meninggalkan Hana sebentar sepertinya bukan sebuah masalah yang besar. Hana di kamar sendirian, dia menatap ke arah pintu balkon kamarnya yang di mana cahaya matahari masuk ke dalam.


Ibu hamil itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah perlahan ke arah balkon, membuka pintu balkonnya. Angin pagi seketika menyambut dengan hangat. Sampai secara tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang seharusnya tidak dia ingat. Hana menggelengkan kepalanya berusaha melupakan semua ingatan itu.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak boleh seperti ini terus. Dia pasti sudah melupakan diriku, untuk apa aku memikirkannya? Dia pasti melupakan ku..."


__ADS_2