
Tepat di mana malam ini seharusnya tidur lebih awal tertunda, karena sebuah hal yang seharusnya mereka berdua tidak biarkan terjadi. Jihan tidak pulang, di sisi lain sekarang sudah lewat tengah malam di mana seharusnya gadis itu sudah pulang dan berada di rumah.
Johan yang terus berjalan mondar-mandir seraya menghubungi nomor Jihan, tapi tidak bisa tersambung. Pria itu nyaris saja marah, menyerah karena frustasi tidak tahu harus bagaimana cara mencari sepupunya itu. Sedangkan Hana terduduk di sofa dengan penuh ke khawatirannya kepada Jihan.
Sinta mencoba membuat Hana tenang, keadaannya tengah hamil besar sekarang dan tidak seharusnya Hana memikirkan banyak masalah karena itu juga bisa berdampak kepadanya. Johan sudah menyuruh beberapa bodyguard untuk menelusuri kota, tapi masih tidak ada yang menemukan Jihan sampai sekarang.
Pria itu menoleh ke arah jam dinding, sudah jam 1 malam. Dia menoleh ke arah Hana yang duduk, dengan raut wajah yang jelas dia khawatir dengan Jihan yang tidak kunjung pulang sampai sekarang. Dia menghampiri Hana, jongkok tepat di depan perempuan itu dan berkata.
"Tidur saja dulu, aku akan mencari Jihan sampai dapat. Jangan membuat dirimu sakit."
"Tapi-"
"Johan benar, kamu harus tidur karena sudah lewat jam tengah malam. Tidak baik jika ibu hamil belum tidur jam begini." Sinta mencoba menjelaskan, sampai di mana Hana menyerah dan menurut apa yang di katakan. Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya di bantu Sinta.
Johan hanya menatap kedua perempuan itu dengan raut wajah yang tidak bisa di baca, pria itu berusaha tenang. Tapi di sisi lain, ia sering tidak bisa mengendalikan emosionalnya sendiri. Tapi dia berusaha melakukan apa yang biasanya tidak dia bisa.
Sampai di mana, seseorang baru saja datang dan berdiri di depan pintu. Itu membuat Johan menoleh ke arah pintu utama yang masih terbuka sekarang, dan Hana yang belum sempat naik ke atas tangga juga ikut melihat.
Perempuan itu tersenyum ketika mendapati Jihan berada di sana, dia berdiri dengan keadaan kacau. Dia menatap ke arah Hana dan tersenyum seolah tidak ada yang terjadi kepadanya.
__ADS_1
"Jihan!" Hana berlari ke arah Jihan dan memeluk gadis itu, ia hampir saja menangis karena terlalu khawatir.
Johan menghampiri dan, memeriksa keadaan. Memastikan jika sepupunya itu tidak terluka, dan untung saja tidak ada yang terluka sama sekali. Johan memberikan isyarat kepada beberapa bodyguardnya untuk kembali ke tugas awal meninggalkan mereka berada di sana.
"Kamu dari mana saja? Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku?" Jihan menunduk, ia tahu dirinya salah di sini karena keluar tanpa pamit dan pulang malam-malam seperti ini membuat semua orang khawatir.
"Maafkan aku..."
"Jangan ulangi perbuatan mu itu, kau membuatku jantungan." Jihan menoleh ke arah Johan yang menatapnya dengan tatapan datar.
Walaupun raut wajahnya datar, Jihan tahu jika pria itu khawatir akan dirinya. Dan sekarang Jihan sudah kembali membuat semua orang sudah mulai merasa lega sekarang. Hana mengusap pipi Jihan, tapi ada yang aneh dengan Jihan sekarang. Ada apa dengannya?
"Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir, aku akan kembali ke kamar ku."
Sedangkan Hana, dia masih menatap ke arah Jihan. Ada yang aneh dengan gadis itu, tidak biasanya dia pulang semalam ini dan lagi. Wajahnya nampak pucat, keadaan matanya merah seperti lama menangis. Hana tidak tahu apakah dugaannya benar atau salah, tapi sekarang ia khawatir kepada Jihan.
Apakah dia ada masalah sekarang? Dia tidak mengatakan apa pun bahkan dia langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apa pun itu.
Johan merangkul Hana, membuat perempuan itu tersadar akan lamunannya. Sinta sudah kembali ke kamar karena dia sudah lega dengan kedatangan Jihan tadi, dia sudah mempercayakan Hana kepada putranya jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
__ADS_1
"Sekarang sudah lega? Ayo tidur, sudah malam." Johan menuntun Hana ke kamarnya sendiri. Sedangkan Hana masih memikirkan apa yang terjadi. Ia masih khawatir dengan keadaan Jihan yang sekarang, perempuan itu menatap ke arah kamar gadis itu yang suasananya sunyi.
Sedangkan di dalam kamar, Jihan menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia berusaha menahan semua perasaannya yang sekarang ini ia rasakan. Tapi tanpa ia sadari sendiri, tangisannya tidak bisa di tahan lagi.
Mendadak pikirannya ke arah yang seharusnya tidak dia ingat, gadis itu tidak bisa menahan tangisannya sekarang. Dia membalikan badannya dan bersandar di pintu kamarnya sendiri. Menatap ke arah atas untuk menahan air matanya agar tidak turun begitu saja, tapi kenyataannya gagal dia lakukan.
Bagaimana bisa ini terjadi kepadanya? Dosa apa yang pernah Jihan lakukan sampai ia harus menghadapi semua ini? Ia sudah kehilangan banyak hal, hanya segelintir orang yang memperdulikan dirinya.
Gadis itu menatap ke arah sebuah foto di mana ada dua orang yang tersenyum di sana, senyuman bahagia. Dan sekarang semua musnah seketika, Jihan menangis walaupun sudah dia tahan. Ia tidak mau ada orang lain tahu akan keadaannya.
Biarkan saja Jihan sendiri yang menanggung semua ini sendiri, ini salah Jihan sendiri. Kenapa dirinya tidak mendengarkan apa yang di katakan Kaisal saat itu? Kenapa dia terus membela seseorang yang justru menghianati dirinya?
"Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan kepada mu? Tapi sungguh kau melukaiku, kau menambah luka ku..." Jihan memeluk dirinya sendiri sekarang, hawa dingin membuatnya semakin memilukan.
Ia tidak bisa membayangkan semua ini akan terjadi, tapi percaya atau tidak sekarang ia mulai tidak percaya dengan siapa pun. Gadis itu menahan suara tangisannya, menutup mulutnya sendiri agar tidak bersuara justru membuatnya semakin terlihat menyedihkan.
Sampai di mana ponselnya menyala di atas lantai itu, Jihan hanya melirik. Ia tidak minat membuka chat obrolan itu karena sama saja itu semua akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kenapa aku begitu bodoh? Aku percaya dengan seseorang yang bahkan tidak perduli dengan ku. Aku memang bodoh, iya seharusnya aku tidak seperti ini..." Jihan menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Kenapa dirinya begitu bodoh? Dan percaya kepada seseorang yang bahkan tidak memperdulikan keadaannya? Di sisi lain seharusnya dia tahu keadaan Jihan sekarang, tapi ucapannya yang selalu dia ucapkan dia langgar sendiri.
Egois katanya? Iya, Jihan memang egois. Karena dia juga ingin merasakan bagaimana di cintai seseorang, apakah semua itu salah? Keadaan yang Jihan rasakan sekarang tidak pernah orang duga, karena Jihan sendiri yang menutupi semua wajah menyedihkannya itu dengan senyuman konyol yang sangat bodoh.