Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter: 149


__ADS_3

Tepat di malam harinya, makan malam berlalu begitu saja. Hana melihat jika piring di seberang sana masih rapi, tidak tersentuh sama sekali. Yang menandakan seseorang yang seharusnya duduk di sana ada di sana, tapi sekarang keberadaannya tidak ada di tempat.


Hana mencoba bertanya kepada semua maid yang ada, tapi mereka menjawab jika anaknya itu tidak keluar kamar sejak pulang sekolah tadi. Hana melupakan sesuatu, ia bahkan tidak memperdulikan suaminya yang tengah memperhatikan dirinya.


"Apa yang kamu cari?"


"Jeano? Dia tidak turun ke bawah makan malam." Johan tersenyum, di akhir acara makan malam dia baru sadar jika ada orang lain yang tidak hadir di sini.


"Baru sadar, padahal sudah sejak tadi. Makan malam berlangsung 30 menit, sayang. Tapi kau baru sadar ketika semua sudah selesai, ada apa denganmu?"


"Jangan membuat masalah, Johan."


"Aku? Membuat masalah? Kau sendiri yang tidak sadar, sikap mu itu membuat anak-anak kita saling berperang. Kau terlalu pilih kasih, kuat atau lemahnya anak mereka tetap membutuhkan kasih sayang, apakah berarti anak yang kuat itu tidak mendapatkan apa pun? Tidak, dia harus mendapatkan apa yang dia seharusnya dapatkan. Kamu ini kenapa?"


Bukannya mau memulai sebuah pertengkaran di sini, tapi Johan hanya mau meluruskan semua masalah yang terjadi. Sengaja ia membahasnya ketika Jack sudah berada di dalam kamarnya, maka dia tidak akan mendengar semua ini.


Johan hanya mau menyadarkan istrinya itu saja, membuatnya sadar jika sifatnya itu terkadang menyakiti orang lain tanpa dia sadari sendiri. Memang sepertinya tidak ada yang terjadi, tapi jika di ingat kembali. Kesalahan ternyata bukan hanya sekali terjadi, melainkan beberapa kali terjadi dan terus terjadi.


"Apa maksudmu?"


"Hana, jangan hanya membela yang terluka di luarnya saja. Lihatlah yang lain, ingat? Anakmu bukan hanya Jack, tapi juga Jeano. Walaupun dia anak pertama, fisiknya dan mentalnya jauh lebih kuat ketimbang Jack. Tapi ingat, mentalnya tergantung kepadamu juga." Hana hanya diam, ia mengingat apa yang sudah ia lakukan dan kejadian tadi sore.


Di mana ia memang melihat kedua anaknya terluka, tapi ia baru menyadari jika Hana memang hanya mengobati salah satu saja dan meninggalkan sisanya begitu saja. Itu membuat Hana merasa bersalah.

__ADS_1


"Apa yang sudah aku lakukan?" Ketika itu, Johan menahan badan istrinya agar tidak terjatuh. Ia bukan berarti menyakiti istrinya, ia hanya mau meluruskan.


"Apa kau mengingatnya? Dia juga terluka, ingat..."


"Aku tidak tahu, maafkan aku..." Johan memeluk perempuan itu, dia juga pasti terluka akan perbuatannya sendiri. Mengingat anaknya yang selalu dia abaikan tanpa sadar.


"Jangan minta maaf kepadaku, minta maaflah kepada anak kita. Kamu juga harus meluruskan masalah ini, sebelum dia membenci saudaranya sendiri hanya karena ini."


Di sisi lain, siapa sangka jika ada orang lain yang mendengarkan percakapan itu. Sebenarnya yang terjadi, Jack tidak ke kamarnya melainkan masih berdiam diri. Ia menunggu saudaranya turun dari kamar, tapi justru apa yang ia dengar sekarang membuatnya sakit hati.


Bukan karena Jack merasa tersakiti, melainkan dia merasa bersalah akan semua ini. Padahal bukan kesalahannya sama sekali, Jack tidak mau ia terlihat oleh kedua orang tuanya. Dia memilih langsung pergi ke kamarnya dan bersembunyi di kamarnya. Ia tidak mau menambah masalah di sini, ia tidak mau jika saudaranya di abaikan terus.


"Apakah aku salah Jeano? Maafkan aku, apakah karena aku kau tidak bisa mendapatkan perhatian dari bunda? Padahal kamu sudah berusaha membuatnya bahagia setiap hari..."


...•••...


Seseorang masuk ke dalam kamarnya, berjalan menghampirinya dan berdiri di sisi ranjang. Wanita itu duduk di atas lantai, melihat keadaan anaknya yang sudah tertidur pulas seperti itu. Luka di wajahnya tentu saja tidak akan sembuh secepat itu, di tambah belum di obati.


Hana melihat keadaan anaknya karena ucapan Johan tadi. Dia melihat ke segala arah, kamarnya memang bersih tapi bagian meja belajar lumayan berantakan. Ada banyak buku yang belum di rapih kan, dan ada kotak obat di meja bawah.


Tidak bisa ia menahan semua kepedihan ini, Hana memegang sisi wajah Jeano. Ia menyesal sudah memperlakukan Jeano secara tidak adil seperti itu, dan lagi. Tidak memperhatikan anaknya itu lebih dalam lagi, padahal dia juga butuh. Hana melihat kondisi tangan Jeano yang diperban itu, terlilit dengan kain putih di sana. Hana tidak bisa menahan tangisannya, menyesali perbuatannya dan merasa bersalah akan semua ini.


Mungkin karena keberadaan Hana bisa Jeano rasakan, dia terbangun dari tidurnya dan melihat bundanya menangis di depannya saat ini, membuatnya terkejut.

__ADS_1


"Bunda? Ada apa?" Jeano terbangun, Hana yang menyadari sudah membangunkan anaknya dia mengusap air matanya dan tersenyum. Itu membuat Jeano kebingungan.


"Tidak apa-apa, apakah bunda mengganggumu? Maafkan bunda ya, tidurlah lagi. Jika kamu lapar katakan saja, nanti bunda masakkan nasi goreng." Ucapnya dan kemudian Hana pun keluar dari kamar Jeano.


Dia tidak bisa melihat Jeano yang sekarang, anaknya benar-benar pintar menyembunyikan kepedihannya sendiri tanpa ada satu pun orang yang tahu. Dia bahkan sempat bertanya padahal dirinya sendiri tidak pernah ditanyakan akan keadaannya sendiri. Hana kuar dari kamar Jeano, antara ia harus bagaimana sekarang.


Di dalam kamar, Jeano masih melihat ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat di sana. Ia tidak tahu ada apa, apa alasannya bundanya datang ke kamarnya? Jelas ia mendengar suara tangisan dan itu adalah suara bundanya bukan orang lain.


Jeano menatap ke arah tangannya sendiri, apakah bundanya sempat melihat tangannya sekarang? Ia tidak bermaksud menyakiti dirinya sendiri atau bahkan membuat bundanya itu bersedih. Sungguh, Jeano tidak ada niatan buruk sama sekali.


Ia memegangi tangannya sendiri yang masih terluka, bahkan wajahnya juga jelas terpampang luka memar di sana. Ia tidak mempermasalahkan lukanya itu, di tambah memang Jeano sendiri yang mau menolong saudaranya itu.


Semua itu juga karena Hana bukan karena orang lain, bundanya bilang Jeano harus menjaga Jack karena mereka adalah saudara dan Jack lebih muda. Jack lebih rentan akan luka, karena ia sudah berjanji jadi dia menepati semua ucapannya sendiri. Apakah semua itu salahnya?


Jeano menoleh ke arah meja, di sana terlihat ada kotak lain selain kotak obat. Seingat Jeano, terakhir ia tertidur tadi tidak ada apa pun di sana selain kotak obat yang memang Jeano sendiri yang menaruhnya di sana. Lalu, kotak itu apa?


Dia beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil kotak itu dari sana, menghidupkan lampu tidurnya itu. Ia sudah jelas mengingat kotak itu, nampak familiar di matanya dan tidak asing di pandangannya.


"Seperti pernah melihat, tapi di mana?" Ia berusaha mengingat akan kotak itu, Jeano benar-benar seperti pernah melihat kotak itu.


Sampai di mana ia ingat kotak itu milik siapa, tadi siang ada siswi yang menemuinya dan memberikan kotak hadiah kepadanya tapi Jeano menolak dengan cara diam. Apakah dia sampai di rumahnya? Bagaimana bisa? Rasanya mustahil jika ada orang masuk ke dalam rumahnya, maid baru saja di amankan dengan ketat apa lagi orang asing?


Jeano melihat kotak itu, di sana ada kertas yang menempel dan ia baru tahu itu. Karena penasaran juga dengan tulisan di kertas itu, ia membaca surat tersebut dan tulisan itu adalah tulisan tangan.

__ADS_1



"Anak ini, memang merepotkan."


__ADS_2