Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 132


__ADS_3

Dimas masuk ke dalam apartemennya, dengan suasana sepi yang menyambut akan kedatangannya sekarang. Itu adalah alasan mengapa Dimas lebih banyak menghabiskan waktu di kantor ketimbang di tempat tinggalnya sendiri.


Jujur saja Dimas terlalu kesepian sekarang, ia tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan setelah ini. Dia duduk di atas sofa dengan segala amarah yang sudah dia keluarkan tadi, cukup melelahkan menahan amarah. Dimas tidak bisa melakukan semua itu, tapi dia berusaha demi janji yang dia ucapkan kepada Hana.


Pria itu berusaha yang terbaik untuk adiknya itu, ia berharap jika Hana akan bahagia di sana bersama Johan. Meskipun Dimas harus melawan segala rasa rindunya, ia selalu membayangkan akan kehadiran Hana di sekitarnya. Entah itu Hana tengah memasak di dapur, membersihkan rumah, atau bahkan tertidur di sofa dengan televisi menyala membuatnya ingin menangis.


Johan juga mengabari semuanya, ia cukup bahagia ketika Hana sudah tidak lagi merasakan segala siksaan dunia lagi. Dimas menangis tanpa ia sadari, di mana ia sangat ingin. Apa yang dia inginkan tercapai sekarang, Hana bahagia di sana tanpa dirinya.


Pria itu menatap ke arah bingkai foto itu, di mana ia berfoto bersama adik perempuannya ketika adiknya lulus sekolah. Senyuman itu, membuat Dimas tersadar apa yang dia lakukan. Lantas ia mengusap air matanya, Hana melarangnya menangis. Kenapa Dimas menangis?


"Maafkan kakak, kakak tidak akan menangis lagi. Kakak janji..." Dimas mengusap air matanya seolah Hana bisa melihat dirinya tengah menangis. Tapi ia sudah terlanjur berjanji, ingat? Apa yang dia katakan harus terjadi apa pun yang terjadi termasuk janjinya yang dia buat sendiri.


Ia berusaha tetap kuat walaupun sulit, pria itu hendak menutup matanya untuk menghilangkan perasaan sedih berlebihannya itu. Sampai di mana tanpa di duga ponselnya berdering, Dimas awalnya tidak menghiraukan panggilan itu tapi karena suaranya terus menerus membuatnya terganggu, dia tanpa melihat nama kontak langsung menerima panggilan tersebut dan menjawab dengan nada ketus.


Karena kebiasaan buruknya memang seperti itu, jika terasa menganggu ia akan berkata tidak enak tidak perduli lawan bicaranya akan bagaimana nantinya.


"Hm?"


"Kakak!"


"Hana?"


...•••...

__ADS_1


Dimas berlari kencang, dia sampai di sebuah bandara yang sama seperti dulu terakhir kali ia melihat adik perempuannya. Ia menatap ke segala arah, tempat yang tidak luput dari keramaian manusia. Dia tetap menerobos banyaknya orang-orang itu demi bertemu adiknya.


Pria itu terus berlari tapi tidak menemukan apa pun selain orang asing yang sekilas hanya mirip dengan adiknya, Dimas mulai frustasi. Dia hanya melamun di tengah keramaian, baru saja dia akan membalikan badannya dengan niatan kembali ke apartemen. Ia hanya halusinasi saja, itu pikirannya. Tapi seseorang memanggilnya membuatnya terdiam, kakinya yang awalnya melangkah pergi sekarang hanya diam di tempat.


"Kakak!!" Dimas langsung menoleh dan langsung mendapatkan pelukan yang sudah lama ia rindukan.


Ia menatap ke arah depan, di mana ia melihat Johan yang tengah tersenyum ke arahnya seraya mendorong troli dengan empat koper di atasnya. Dimas memeluk erat seseorang yang tengah berada di dalam pelukannya sekarang.


Bahkan di saat itu pria itu tidak tahu jika air matanya lagi-lagi menetes begitu saja tanpa dirinya ketahui, terlalu bahagia sekarang. Ia pikir kejadian ini tidak akan pernah terjadi tapi kenyataannya.


"Bagaimana bisa kamu ada di sini?" Entah pertanyaan dari mana yang muncul di kepala Dimas sekarang.


"Aku minta kepada Johan saja, aku pikir dia bercanda tapi dia serius membawaku pulang." Ucap Hana dengan senyumannya yang begitu cerah, Dimas melepaskan pelukan itu dan bisa melihat bagaimana adiknya sekarang begitu bahagia.


Hana sekarang, dia berbeda. Bahkan kelihatannya dia nampak lebih berisi. Entah karena efek kehamilan atau dia sudah makan dengan teratur seperti sedia kala. Dimas melihat ke arah Johan yang berdiri di depannya.


Kedua pria itu saling menyambut satu sama lain, saling berpelukan secara singkat sebagai ucapan selamat datang. Hana yang melihat kedua pria itu hanya tersenyum, apakah harapan yang Dimas inginkan sudah tercapai?


"Terimakasih sudah menjaganya."


"Itu bukan sebuah masalah besar, aku senang jika kau percaya kepada ku." Dimas tidak bisa menahan senyumannya sekarang, dua orang di depannya membuat perasaannya lega seketika di tambah Hana yang sekarang nampak lebih banyak tersenyum, bukan senyuman palsu yang biasa dia tunjukan, senyuman yang menunjukan di mana dia benar-benar bahagia.


Ketika melihat perut Hana membuat Dimas terkejut, Dimas menghitung usia kandungan adiknya sendiri dan dia tidak akan menyangka akan sebesar itu, apakah ia salah menghitung hari?

__ADS_1


"Perutmu, kamu tidak apa-apa kan?" Hana hanya tersenyum, mengusap perutnya dengan senyuman yang sangat bahagia itu membuat Dimas bingung. Apakah sudah akan lahiran?


Johan yang melihat betapa bingungnya Dimas, mungkin ia tahu bagaimana perasaan Dimas sekarang. Sama seperti Johan dulu, dirinya juga bingung akan kehamilan Hana sekarang. Perutnya tidak sesuai dengan usia kehamilan yang sebenarnya. Johan menggenggam tangan Hana dengan erat, Dimas melihat itu semua dan dia masih belum paham.


"Mereka sehat, kakak. Jangan khawatir tentang bayi-bayi ku."


"Mereka? Bayi-bayi? Apa maksudmu? Katakan yang jelas Hana, kamu biasanya langsung to the point."


"Kembar, bayinya kembar." Ucapan yang jadi saja keluar dari mulut Johan membuat Dimas terdiam, kembar? Maksudnya bayi yang berada di dalam perut adiknya kembar?


Dimas melihat bagaimana kedua tangan itu bertautan dengan erat membuatnya berpikiran ada sesuatu yang ia tidak tahu selama ini, ia melirik ke arah Hana untuk menjelaskan tapi perempuan itu hanya tersenyum malu-malu, itu membuat Dimas tidak percaya.


"Jangan bilang jika kalian sudah tahu, dan apa ini? Hana, kamu belum mengatakan semua ini sama kakak."


"Maafkan aku kakak, aku hanya memberikan kejutan saja kepada kakak. Kakak tidak marah kan?" Hana hanya takut jika pria itu marah, di tambah lagi ia juga tahu jika Dimas adalah seseorang yang memiliki tempramen yang tidak stabil.


"Untuk apa marah dengan kabar baik? Ayo pulang, kakak akan pesankan sushi kesukaanmu."


"Benarkah?! Kakak serius!"


"Sayang, jangan begitu kasihan bayinya." Mungkin karena Hana terlalu banyak bergerak membuat Johan khawatir.


Dimas melihat semuanya, melihat bagaimana tatapan cinta yang begitu tulus itu masih ada di sana. Dimas sudah tahu tentang di mana Johan mencintai adiknya sejak sekolah, tapi belum tersampaikan karena kejadian tidak terduga. Tapi beruntungnya Johan, dia mendapatkan apa yang menang dia miliki. Dia menjaga Hana dengan baik, bahkan terlalu baik.

__ADS_1


"Dengarkan kata calon suamimu, jangan banyak tingkah. Dia khawatir dengan mu." Hana hanya menunduk, wajahnya sudah merah karena Dimas menggoda dirinya. Dan Johan? Jangan di tanya lagi, dia berusaha menahan malunya di depan Dimas.


__ADS_2