Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 86


__ADS_3

"Bagaimana? Hana mau milih yang mana?" Hana terus menatap ke arah kue balok yang dia mau, Hana sangat ingin. Mungkin karena video yang berada di aplikasi membuatnya ngiler sendiri melihat makanan tersebut.


Hana tidak bisa mendeskripsikan sesuatu, ia ingin semuanya satu persatu agar bisa mengetahui semua rasanya. Tapi memang bisa di pesan dengan cara seperti itu? Bahkan prosesnya saja seperti di masak dalam prosi langsung banyak setiap pesan.


Dimas masih menunggu jawaban Hana sekarang, kenapa gadis itu hanya diam saja? Apa dia sudah tidak mau kue balok itu lagi? Tapi dia masih tidak yakin, jadi Dimas memutuskan untuk menunggu sampai Hana mengatakan sesuatu.


"Aku mau rasa coklat, tapi topingnya semua boleh?" Dimas agak terkejut, tapi dia mengangguk dan kemudian memesan apa yang Hana mau.


Mereka berdua tinggal menunggu saja sambil minum jus, tadi sempat beli. Dimas sengaja membelikan Hana jus, ia berpikir jika gadis itu jarang makan buah karena terlalu banyak pikiran. Itu benar-benar bencana untuk Dimas sendiri, ia tidak mau Hana sakit hanya karena kurang serat buah.


Tidak terlalu lama mereka berdua menunggu sampai kue baloknya sudah matang, Hana begitu antusias melihat makanan pesanannya di bungkus dengan banyaknya toping yang dia mau, Dimas juga tidak protes. Hanya saja, apa itu tidak menganggu tenggorokan? Makanan manis semua itu.


"Yey! Dapat!" Dimas tersenyum tipis, membayar makanan yang dia beli dan setelah itu membawa Hana ke mobil. Makan di dalam mobil dengan makanan yang lain, ternyata Hana juga anaknya lapar mata sebenarnya tapi dia mampu menghabiskan semua makanan yang dia tunjuk.


Biasanya sebelum Hana mau, dia akan mempertimbangkan apakah makanan itu mampu dia habiskan atau tidak? Terkadang Dimas heran saja, bagaimana bisa Hana begitu?


"Makannya pelan-pelan saja, lihat itu. Belepotan begitu, masih panas loh."


"Kakak mau? Enak tahu." Dimas menggelengkan kepalanya, menolak secara halus. Dimas kurang suka makanan manis seperti itu, pria itu hanya makan roti yang dia beli dari Indomaret terdekat tadi.


Melihat Hana makan itu saja sudah cukup membuatnya ikut kenyang, cara makan gadis itu memang agak lain tapi justru itu sangat menggemaskan sekali. Tidak heran Dimas sekarang, banyak pria yang menggilai adiknya sampai seperti itu. Bahkan tidak perduli dengan status Hana yang jadi milik orang lain, tidak mematahkan semangat.


"Kakak yakin tidak mau?"


"Tidak sayang, makan saja semua sampai puas. Kakak sudah kenyang lihat kamu makan kayak gitu."


Mungkin tidak ada yang aneh dari Hana, tapi entah kenapa Dimas merasa ada yang janggal. Tapi Dimas mencoba berpikir positif, tidak memikirkan semua itu. Ia tidak yakin, tapi harus bagaimana lagi mungkin saja apa yang Dimas pikirkan akan terjadi cepat atau lambat.


'Aku hanya khawatir dengan masa depannya saja, masalah hamil. Mungkin tidak, mustahil.'

__ADS_1


...•••...


Satya keluar sebentar untuk membeli makanan, dia tidak pulang selama seharian ini. Mungkin dia akan makan di kantin saja, tentu saja dia tidak sendirian. Aca meminta untuk ikut, jadi mau tidak mau Satya menuruti itu.


Gadis itu duduk di kursi roda, karena keadaannya tidak memungkinkan untuk berjalan sendirian. Dia juga memaksakan dirinya untuk ikut padahal dia baru saja siuman. Dia begitu senang, pertama kalinya dalam seumur hidup dia berjalan bersama Satya, tidak. Lebih tepatnya sedekat ini dengan pujaan hatinya yang selama ini dia sukai.


Anggap saja ia terlalu egois, di sisi lain dia tahu jika Satya sudah punya orang lain yang tentu saja lebih berhak atas segalanya tentang pria itu. Tapi bagaimana jika kenyataannya hati tidak berpihak? Sama saja bukan.


"Seharusnya kamu tetap di bangsal saja, apa tidak apa jika seperti ini?"


"Tidak apa-apa, aku sudah baikan kok." Ucapnya dengan penuh keyakinan, jujur saja itu merepotkan. Tapi ia sangat senang ketika usahanya tidak terbuang sia-sia.


Keadaan Aca sekarang memang belum bisa dikatakan baik, tapi dalam keadaan sekarang dia masih boleh jalan-jalan tapi masih dalam pengawasan. Telinganya tuli sebelah karena suara benturan keras tentu saja merusak gendang telinganya.


Tapi dia seolah menerima semua itu, toh memang dia yang mau seperti ini. Gadis itu terus bercerita banyak hal, pria itu juga tidak keberatan dengan itu, dia juga mendengarkan semua perkataan Aca dengan seksama. Tapi mungkin karena di dalam hati masih tersimpan seseorang, membuatnya pandangannya teralihkan.


Dia justru mengingat orang lain, dulu gadis itu terus bercerita sebelum tidur. Tentang bagaimana pelajarannya, tentang banyak hal yang menurutnya menarik untuk di ceritakan. Itu membuat Satya linglung sendiri.


"Aku? Tidak apa, memangnya aku kenapa?" Aca tidak menjawab, ia justru sibuk berpikir dengan pikirannya sendiri yang entah pemikirannya benar terjadi atau tidak.


'Apa Satya masih memikirkan gadis pembawa sial itu? Jika iya, aku bisa gagal mendapatkannya nanti. Perempuan itu memang suka menghamba impian orang lain.'


Sesampainya mereka berdua di kantin, tentu saja Satya akan memesan makanan untuk dirinya. Soal Aca yang makan atau tidak, dia sebenarnya tidak boleh makan makanan sembarangan. Jadi pria itu hanya memerankan minuman dan cemilan yang tentu saja memang di ijinkan oleh dokter.


Aca juga tidak protes akan itu, mereka berdua sibuk dengan dunia mereka sendiri. Sampai waktunya di mana acara makan siang selesai dan mereka pun memutuskan untuk kembali ke ruang inap tentu saja.


Di tengah perjalanan mereka berdua banyak bergurau, entah membicarakan apa. Secara tiba-tiba seseorang berdiri di sana, dia tidak berdiri di tengah jalan, melainkan bersandar di dinding dengan tatapan kosong di sana.


Dia nampak tidak asing, tentu saja di mata Satya. Pria itu hanya diam saja, jadi Satya memilih mengabaikan pria itu dan terus berjalan begitu saja, sampai di mana.

__ADS_1


"Aku ingin bicara dengan mu, berdua saja." Aca tentu saja kebingungan, antara dia juga ingin tahu apa yang akan pria itu katakan kepada Satya nanti.


Pria itu menatap ke arah Aca dengan tatapan datar, tentu saja mungkin karena bentuk matanya yang memang tajam terkesan dia begitu sangat menakutkan. Aca memalingkan pandangannya ke arah lain, dia enggan menatap pria itu.


"Kita bicara di sini saja, Aca tidak bisa di tinggal sendirian." Aca diam-diam tersenyum, Satya perduli kepadanya sekarang? Itu membuatnya sangat senang.


Sedangkan pria itu, mendengar perkataan Satya. Dia justru tertawa pelan, seolah meremehkan kedua orang itu secara langsung sekarang ini. Entah apa maksudnya?


"Jadi namanya Aca ya, dia tidak bisa di tinggal sendirian sedangkan kau menelantarkan istrimu di rumah sendirian. Bagaimana menurutmu?"


"Jaga ucapanmu-"


"Menjaga ucapanku untuk mu? Apa gunanya sopan kepada orang yang suka sekali melanggar janji? Aku tidak mau basa basi di sini, karna aku juga muak melihat wajahnya yang sok polos itu."



Johan menatap tajam ke arah Aca, ia tahu betul bagaimana perempuan licik seperti itu tengah masuk ke dalam permainannya sendiri dalam keadaan tidak bisa diprediksi.


"Berhenti menatapnya seperti itu." Johan mengalihkan pandangannya ke arah Satya, kenapa pria itu seperti ini? Seharusnya dia kembali lebih awal, maka Hana akan menjadi miliknya nanti.


"Baiklah, tapi temui aku di rooftop sebelum ada mayat di depan gedung rumah sakit ini." Ucapnya dan kemudian pergi entah kemana. Itu membuat keduanya mendadak saling terdiam, mungkin karena ucapan yang Johan katakan.


Satya memang tidak terlalu mengenal pria itu, tapi dia tahu betul bagaimana dia mengatakan sesuatu maka cepat atau lambat akan terjadi. Aca memegang tangan Satya dengan erat, mungkin gadis itu ketakutan karena keberadaan Johan tadi dan sekaligus ancamannya yang seolah akan menjadi kenyataan.


"Aku takut, kamu jangan ikuti apa katanya. Jangan pergi ke sana-"


"Aca, dengarkan aku." Satya berada di depan Aca sekarang, menggenggam kedua tangan gadis itu yang ternyata berkeringat dingin. Apa setakut itu?


"Aku akan baik-baik saja, lagi pula dia satu anggota gengs dengan ku. Dia tidak akan melakukan apa pun, percaya lah. Aku akan mengantarmu ke kamar, tunggu aku di sana. Aku berjanji akan kembali."

__ADS_1


"Kamu berjanji akan kembali?"


"Tentu saja."


__ADS_2