
Hana baru saja masuk ke kelas, ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Ia melihat seluruh murid menatapnya dengan tatapan seperti biasa, tatapan kasihan, tatapan benci, dan yang lainnya. Entah bagaimana caranya Hana menjelaskan situasi sekarang membuatnya merasa dirinya benar-benar seperti sampah masyarakat.
Ia melihat ke arah bangkunya yang penuh dengan coretan, tulisan ancaman sampai ejekan yang menyakitkan. Hana melirik ke arah gerombolan Anna, gadis itu menatapnya dengan tatapan benci bahkan senang melihat Hana menderita sekarang.
Gadis itu hanya menunduk, mengambil tisu untuk membersihkan mejanya sendiri. Ketika Hana duduk di bangkunya, ia merasa ada yang basah membuat Hana kembali berdiri. Tapi malah roknya robek. Suaranya bahkan keras membuat satu kelas tertawa, menertawakannya dirinya.
"Wow, apa itu yang robek?" Ucap Anna dengan senyumannya itu, Hana hanya diam tidak berkata apa-apa. Gadis itu terdiam di bangku, ia takut jika ada yang melihat roknya robek.
Tapi siapa sangka jika ada seseorang yang melilitkan jaketnya di pinggang Hana. Membuat robekan itu tidak terlalu terlihat, mengambil tisu dan membersihkan meja Hana yang penuh dengan coretan.
"Setelah ini kau bisa ikut aku, ganti rok mu itu." Ucap Jeffran. Hana hanya diam, tidak bisa menolak karena ia tahu pada akhirnya walaupun dirinya menolak ajalah Jeffran.
Lelaki itu menatap tajam ke arah seluruh anak-anak di kelas, termasuk yang hanya diam dan menertawakan. Terutama pelaku utama yang menatap Jeffran dengan tatapan heran, mengapa Jeffran selalu datang? Lelaki itu memberikan tatapan mematikan seolah siapa saja yang mengganggu Hana akan dia bunuh di saat itu juga.
Satu kelas diam saat Jeffran menatap satu orang, satu persatu tanpa tertinggal. Sampai guru tidak lama masuk ke kelas, tidak menghiraukan apa yang terjadi membuatnya muak. Tidak salah keputusannya pindah kembali ke tempat asalnya, melindungi Hana adalah tujuan utamanya.
Pelajaran mulai berlangsung, Hana hanya diam dan tidak berkata apa pun. Hana bahkan bingung harus melakukan apa dan berkata apa untuk kejadian yang belum saja berlangsung selama 24 jam sudah membuatnya seperti ini.
"Jika ada yang menggangguku, lawan saja. Tidak perlu takut, aku ada di sampingmu. Membelamu, jangan takut dengan para bajingan itu."
Hana tidak menjawab apa pun, bahkan jawaban untuk perkataan yang Jeffran katakan tadi. Lelaki itu melihat ekspresi Hana yang tidak bisa ia tebak menggambarkan apa, ia tidak paham. Tapi ia yakin, jika di dalam hati mungil itu tengah menangis.
......•••......
__ADS_1
Johan melangkah ke kantin, dan tidak sengaja mendengar percakapan anak-anak kelas lantai bawah. Lelaki itu hanya mendengar secara seksama saja, sampai ia mendengar ada yang menyebutkan nama seseorang.
"Entah kenapa Jeffran selalu datang ketika Anna menganggu Hana, padahal sangat seru tadi. Hana tidak pantas di bela, untuk apa dibela iya kan?"
"Iya, padahal tadi seru. Roknya robek karena lem kayu yang Anna taruh di kursinya, kasihan melihatnya tapi aku senang sekali."
"Sayang sekali karena Jeffran datang, aku agak takut dengan anak pindahan itu."
"Aku juga, tatapannya menakutkan."
Lelaki itu langsung melangkah ke arah kelas, lebih tepatnya kelas Hana yang ia tuju. Melihat dari jendela tidak melihat siapa pun di kelas, sepertinya Hana akan aman jika bersama anak pindahan itu. Buktinya anak pindahan itu selalu datang dan menolong Hana.
Bukan seperti tindakan Johan yang terkesan tidak mau ketahuan akan apa yang dia lakukan untuk membela Hana, Johan lebih ke diam tapi bertindak di belakang. Bukan seperti Jeffran yang langsung bertindak secara terang-terangan. Ia juga tahu bagaimana akibatnya jika Johan membela secara terang-terangan, Hana akan semakin di bully.
Di tambah lagi, Johan tidak satu kelas dengan Hana mempersulit dirinya untuk mengawasi gadis itu. Bukan sebuah keputusan buruk Johan melindungi secara bersembunyi, tapi tidak menguntungkan untuk Hana yang selalu di ganggu tanpa pembelaan secara langsung.
Dimas tidak tahu jika pemuda kelahiran Tangerang itu juga menyukai adiknya. Tidak ada yang salah di sini, menyukai seseorang bukan lah perbuatan dosa. Itu wajar saja dirasakan asalkan tidak berlebihan, benar bukan?
Johan pergi ke kantin memastikan jika Hana berada di sana. Melangkah ke arah sana dan melihat Hana dari jauh, duduk bersama Jeffran. Menukar cerita dan tertawa bersama, ingat jika Johan memiliki tanggung jawab di sini.
'Aku bisa merasa lega jika dia tertawa seperti ini, tapi aku juga-'
Tidak bisa melakukan apa pun, Johan hanya bisa mengawasi dari jarak jauh. Ketika Jeffran pergi entah kemana, membuat Johan semakin waspada. Lelaki itu bisa melihat jika salah satu teman Anna, Nisa. Tengah berjalan ke arah Hana, membawa senampan makanan di tangannya dan lewat di belakang Hana.
__ADS_1
Tanpa gadis itu sadari sendiri, jika Nisa menuangkan makanan tepat di atas kepala Hana membuat satu kelas terdiam. Ada yang tertawa ada juga yang hanya melihat dan cukup tahu dengan diam.
Johan melihatnya sendiri, lelaki itu berjalan dengan cepat ke arah Hana sebelum minuman kopi panas itu tumpah di atas kepala Hana. Nisa hampir saja menuangkan kopi panasnya, tapi terhalang oleh Johan yang malah mendorong Nisa sampai terjatuh. Dan kopi itu terjatuh tepat di seragam Nisa.
"Aduh! Kamu ini apa-apaan sih?!"
"Kau sengaja melakukannya atau kau benar-benar buta? Jika kau tidak buta, mau ku buat kau buta secara langsung?" Ucap Johan secara terang-terangan, sedangkan Hana hanya menunduk. Membersihkan seragamnya yang kotor karena makanan.
"Menyingkir dari pandangan ku pelacur."
"Aku bukan pelacur!" Teriak Nisa dengan kencang membuat satu kantin diam, kehadiran Johan yang mendadak di tengah-tengah kantin membuat semua murid bertanya-tanya.
"Kalian semua hanya diam dan menikmati pemandangan? Aku harap besok hidup kalian selesai." Johan menarik Hana untuk berdiri, memberikan jaketnya untuk menutupi seragam yang nerawang.
Membawa Hana ke toilet. Membiarkan satu kantin diam seperti itu entah berapa lama, sedangkan Anna menggeram marah karena Johan datang dan membuatnya semakin marah adalah, Johan membela Hana.
"Apa maksudnya?!"
Johan mengantar Hana ke toilet. Dan kemudian pergi begitu saja membuat gadis itu terdiam, ia memutuskan untuk pergi ke toilet untuk membersihkan seragamnya. Lagi pula nanti adalah jam olahraga, seragamnya juga akan ganti nanti. Tapi entah seragamnya di loker selamat atau tidak.
Tidak lama kemudian seseorang mengetuk pintu toiletnya, dan Hana membukanya sedikit. Ternyata Johan memberikan paperback berisikan seragam, dua jenis sekaligus.
"Pakai ini, seragam mu aku buang karena tidak layak pakai. Tanpa penolakan, dan pakai ini." Setelah itu dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun lagi.
__ADS_1
Hana hanya diam, melihat jika Johan pergi dari toilet dengan raut wajah yang sama seperti sebelumnya, datar dan tanpa emosi apa pun. Tapi Hana bersyukur akan kehadiran Johan, ia merasa aman jika di samping Johan.
'Aku tidak boleh berlebihan, mungkin Johan hanya kasihan dengan ku.'