
Anna menunjukan jalan ke arah ruangan bayi, di mana ia masuk ke dalam bersama Hana dan menyisakan Johan di luar ruangan bayi. Ia tidak mau ikut campur dalam urusan perempuan, apa lagi ia juga akan mengawasi dari jarak jauh saja dan di dalam juga ada beberapa suster.
Hana lumayan kebingungan ketika masuk ke dalam ruangan bayi tersebut, begitu banyak bayi-bayi di sana dan tidak tahu semuanya anak siapa. Tapi nampak menggemaskan semua, Hana tersenyum ketika melihat banyaknya bayi yang tertidur pulas di dalam keranjang bayi masing-masing. Membayangkan jika nanti bayi-bayinya lahir dan menggemaskan.
Kedua perempuan itu berhenti di salah satu bayi yang entah kenapa keadaannya berbeda dari yang lain, Hana lumayan kebingungan tapi ketika ia melihat bagaimana raut wajah saudaranya itu.
"Namanya Kamila, dia lahir seminggu yang lalu."
"Dia cantik, mirip seperti dirimu." Anna tersenyum ketika mendapati ucapan Hana, perempuan itu memang terlalu baik. Terkadang ia merasa jika dirinya tidak akan bisa seperti Hana, walaupun keduanya kembar tapi tidak ada kesamaan sama sekali.
Hana melihat bagaimana bayi itu tidur dengan alat bantu bernafas di hidungnya, bagaimana bisa bayi selucu itu bisa dalam keadaan seperti ini? Ia merasa khawatir kepada bayi itu, dan Anna pasti tengah bersedih dengan apa yang sudah menimpa anak pertamanya itu.
Perempuan itu memeluk saudaranya, berharap dia bisa kuat menghadapi semua ini. Harus, karena anaknya juga butuh akan keberadaan Anna sekarang.
"Aku tahu ini menyakitkan, tapi jangan menyerah karena Kamila butuh sosok mama yang baik." Anna tersenyum, ia bahkan tidak sadar ia tengah menangis sekarang. Menangis bahagia karena ada seseorang yang mendukungnya sekarang, Hana memang orang yang paling Anna butuhkan sejak dulu. Seharusnya ia sadar akan semua itu sejak lama.
...•••...
"Kenapa kamu melamun? Memikirkan sesuatu?" Johan sebenarnya sudah merasa ada yang aneh ketika Hana hanya diam, di masa kehamilan sekarang Hana memang jauh lebih ceria dari pada biasanya, mungkin bawaan bayi.
Tapi jika mendadak perempuan itu terdiam, berarti memang ada sesuatu yang tengah dia pikirkan. Bagaimana Johan tahu? Jangan bertanya jika sudah menyangkut Hana, pria itu seolah tahu semuanya.
Ketika pertanyaan itu mengarah kepadanya, perempuan itu hanya menoleh ke arah Johan tanpa menjawab. Ia seolah menolak akan perkataan Johan tadi, Hana memang masih sama saja. Dia sering berbohong kepada dirinya sendiri, padahal ada orang lain yang khawatir kepadanya.
"Jika ada sesuatu katakan saja, aku akan berusaha membantu."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa." Hal itu terus berlanjut sampai mereka berdua sampai di gedung apartemen itu, berjalan berdua secara berdampingan.
Perut Hana memang sudah sangat besar, itu membuat Johan terkadang bertambah khawatir sekaligus lebih posesif, dia tidak mau ada sesuatu yang terjadi. Bukan sebuah alasan yang tidak masuk akal, ia melakukan itu juga atas kemauannya sendiri.
Jika saja Hana terlalu lelah berjalan kaki sampai unit apartemen mereka, maka Johan akan menawarkan diri untuk menggendong Hana sampai ke unit mereka berdua.
Mereka berdua penghuni baru di apartemen tersebut, hanya Johan sebenarnya karena beberapa satpam yang sudah lama bekerja di sana masih mengenali Hana. Sebagai seorang adik dari perusahaan otomotif milik Dimas saat ini.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini. Kamu pasti akan lelah."
"Tidak akan lelah selagi itu adalah kamu, tidur lah. Sudah jam 1 siang, waktunya istirahat." Entah sikap Johan sekarang memang berbeda dari yang dulu.
Dia jauh lebih perhatian bahkan dengan terang-terangan akan melakukan apa pun, mengatur semua jadwal yang akan Hana lakukan setiap hari. Pada intinya dia melakukan tanggung jawabnya, walaupun ia bukan seorang suami, baru calon.
Hari pernikahan juga sebentar lagi akan dilaksanakan, secara meriah tentu saja. Itu atas permintaan bunda kandung Johan, karena pernikahan adalah momen terindah seumur hidup harus menjadi kenangan yang indah.
Permintaan Hana yang paling terdengar aneh, terdengar tidak masuk akal. Orang tidak di kenal boleh ke acaranya jika benar-benar membutuhkan, maksudnya seperti orang-orang yang tidak bisa makan karena tidak ada cukup uang. Mereka boleh makan atau sebuah makanan boleh di bawa pulang, dengan jumlah tertentu saja.
Terlalu baik? Mungkin itu yang akan Johan katakan. Orang lain bahkan tidak pernah memikirkannya tapi dia sempat memikirkan orang lain ketika dia punya sesuatu.
Hana sudah tertidur sejak tadi, ketika dia di suruh tidur maka dengan cepat dia akan segera masuk ke dalam alam mimpi. Perempuan yang sangat menurut, dan juga mandiri. Terdidik keras dalam keluarga tidak semuanya akan buruk, berlatar belakang buruk tidak semua orang juga akan buruk. Latar belakang bukan patokan untuk memastikan seseorang itu baik atau tidak.
Sampai di mana suara bel berbunyi, membuat Johan harus memeriksa siapa yang datang di tengah siang yang panas ini. Ketika ia mengintip di kamera pengawas di pintu. Dia langsung membuka pintu apartemen lebar-lebar.
"Hai, apa adik ku ada di rumah sekarang?" Dimas datang, dengan membawa makanan dari luar untuk kejutan.
__ADS_1
"Ada, dia ada di kamar sedang tidur. Mungkin terlalu lelah setelah berjalan-jalan, katanya dia merindukan rumah."
"Benarkah? Jangan terlalu membuatnya lelah, aku tahu dia keras kepala." Kedua pria itu berbicara akan banyak hal, entah itu tentang perempuan hamil yang tengah tidur itu, atau perkembangan perusahaan mereka yang tengah bekerja sama.
Sudah lumayan lama mereka menjalin hubungan perusahaan, sudah di rencanakan sejak masih sekolah. Dengan tingkatan yang berbeda, Johan jauh lebih muda dari Dimas jadi memang pemikirannya lebih dewasa entah bagaimana.
Dia sudah berpikir ke depan di tengah Dimas banyak berpikir masalah lain, saling bekerja sama bukanlah sebuah ide buruk. Apa lagi perkembangan perusahaan yang sama-sama dikembangkan sendiri itu, sama-sama mendapatkan hasil yang bagus.
"Yang lain juga ingin bertemu dengan dirimu, sudah lama kita semua tidak berkumpul."
"Memang, tapi tidak mungkin di usia kita yang sekarang masih melakukan taruhan balapan seperti dulu atau tawuran?"
"Jangan bercanda, dan jangan terlalu keras. Hana bisa marah jika tahu aku pernah melakukan kedua itu."
Johan tertawa pelan, melihat ketika Dimas kenyataannya masih takut jika adiknya marah. Dimas memang sesayang itu dengan Hana, bahkan sejak Hana masih kecil banyak yang bilang jika Dimas sering membawa Hana ke mana-mana.
Padahal Hana masih bayi, tapi Hana dulu bukan tipikal bayi yang rewel. Dia hanya diam selagi ada susu, jika ada susu jadi semua aman terkendali.
"Kapan pernikahan akan di laksanakan? Aku harap secepatnya tapi jangan terburu-buru juga."
"Aku pikir dalam waktu dekat, semua sudah siap. Tinggal menunggu keputusan dari ayah, aku harap dia setuju." Membicarakan semua itu sepertinya adalah permasalahan yang serius.
Tapi apa yang sudah Johan lakukan sekarang adalah bentuk kebebasan, dia mau lepas dari kengkangan ayahnya dan bisa melakukan apa saja termasuk mencari pasangan. Ayahnya tidak mungkin melanggar janjinya dulu.
"Dia pasti setuju, lagi pula bunda mu juga sudah setuju."
__ADS_1
"Kau tidak tahu ayah ku..."