Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 20


__ADS_3

Sebuah tempat di mana mungkin tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam sana, jika tidak diijinkan maka tidak akan bisa masuk ke sana.


Markas anggota Vesselsolf, yang memiliki lebih dari 40 anggota. Sudah turun temurun mereka mempertahankan gelar mereka yang memang di pandang baik oleh masyarakat, sekalian tergolong orang-orang konglomerat, di isi banyak anak-anak sukses dan juga remaja yang memiliki otak jenius. Tentu saja siapa saja akan ingin masuk ke dalam kelompok itu, karena emang saking terkenalnya.


Mereka bersekutu dengan Geng Elang yang tahu siapa pemimpinnya, kalau bukan Alexandryan Dimas Cakraka. Pemimpin yang begitu bringas dan brutal, tapi juga di kenal sebagai sosok yang baik. Ia bahkan kenal siapa pemimpin kelompok Vesselsolf.


Di pimpin oleh salah satu anggota termudanya, Juno Tyantara. Biasa di panggil dengan Juno, remaja berumur baru menginjak 18 tahun tersebut mampu memimpin kelompok dengan jumlah besar, baru saja di pilih oleh mantan pemimpin yang terdahulu. Dengan alasan dia akan fokus mengurus karir dan keluarga barunya.


Bertanya kah siapa wakil anggota Vesselsolf?


Albrecht Theo Dirga, wakil dari anggota tersebut dan terkenal jauh lebih menyeramkan dari ketuanya sendiri. Awalnya dia di tawarkan posisi tinggi itu, tapi dia menolak karena alasan yang simpel, malas. Hanya itu saja sukses membuat anggota lain tidak habis pikir.


"Johan anak kelompok Elang katanya keluar negeri, kita gak sempet ke sana."


"Lagian gak di kasih tahu juga kapan berangkat, tahu-tahu saja dia sudah pergi duluan. Bukan salah kita juga, yang penting kita sudah chat dia saja untuk mengucapkan kata sampai jumpa." Ucap Bryan dengan santai, bersamaan dengan sepotong pizza masuk ke dalam mulutnya.


"Yakin ponselnya penuh dengan notifikasi." Mereka lantas tertawa, membayangkan salah satu anggota Elang yang terkenal pendiam itu akan merasa kesal dengan ponselnya sendiri ketika mendengar suara notif dari mereka.


Kelompok itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh, justru mereka hanya berkumpul, jalan-jalan bersama atau mungkin kegiatan yang paling lumayan nakal untuk mereka adalah balapan dengan taruhan, taruhan. Kalian pasti paham.


"Kemana Theo?"


"Entah lah, mungkin dia tidak datang karena tugas kuliah. Biarkan saja, mungkin dia sedang malas datang kemari." Ucap Juno, pemimpin kelompok itu melarang keras minuman beralkohol tinggi, mungkin jika kasar alkoholnya rendah tidak dipermasalahkan tapi tahu tempat mereka melakukan minum-minum itu.


Ada juga yang merokok, tidak di larang karena bagaimana pun itu kesukaan mana bisa dihentikan tapi jika memang benar-benar harus dihentikan maka akan dihentikan secepatnya. Tapi sejauh ini peraturan tidak melarang mereka merokok.

__ADS_1


"Satya, apa kau akan lomba lagi?" Juno hanya penasaran saja, memang apa salahnya?


"Iya, mungkin sebentar lagi. Jika kalian mau datang silahkan saja." Ucapnya dengan segelas minuman soda di tangannya dengan tatapan yang ramah.


"Baguslah, kami akan datang. Aku usahakan sebenarnya."


"Santai saja, jangan dipaksakan jika tidak bisa. Aku tidak akan mempermasalahkan itu." Mereka berbincang masalah random ataupun membicarakan hal yang mereka bicarakan secara serius.


Di situ Satya mendadak terdiam, entah mengapa ia hanya ada sebuah firasat buruk akan dirinya sendiri. Tapi lelaki itu tidak mengetahui apa yang akan menimpa dirinya ke depannya, lamunannya membuat yang lain menjadikannya pusat perhatian. Terutama Sony, lelaki yang menginjak umur 23 tahun itu, sepertinya peka dengan keadaan Satya sekarang.


"Kau tidak apa?"


"Iya, aku tidak apa-apa. Jangan pikirkan itu." Ucap Satya mencoba meyakinkan yang lain, lagi pula memang akhir-akhir ini ia selalu merasa jika orang tuanya terlalu memperhatikannya.


Satya senang akan itu, berarti ia berarti untuk kedua orang tuanya dan tidak akan diabaikan lagi. Tapi ada sebuah firasat, yang membuatnya jika perhatian itu didapatkan akan mendatangkan sebuah pertanda buruk untuknya.


...•••...


Membuat lelaki itu seketika kehilangan kesadarannya dan samar-samar ia melihat seseorang yang tengah hendak membawanya ke sebuah tempat yang di mana Jeffran tidak tahu akan ke mana.


...•••...


Pusing dan juga perasaan berat, kepalanya terasa berat jika digerakkan. Lelaki itu mencoba menahan diri agar tidak merasakan sakit itu, hanya saja bagian leher belakangnya masih terasa nyeri akan pukulan yang ia dapatkan.


Pandangannya mulai semakin jelas dan menatap sekeliling, ia mulai panik. Jeffran tidak mengerti, ia berada di mana dan bagaimana bisa ia berada di tempat seperti ini?

__ADS_1


Sampai suara pintu terbuka dan sepatu yang entah itu milik siapa, seseorang memeluk dirinya dari belakang dan Jeffran tahu siapa yang memeluknya dari belakang itu.


"Harusnya kamu tidak ke sana, sayang. Aku tahu apa yang akan kamu lakukan, jadi tidak salah jika aku menculikmu sebentar bukan?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Wow, kamu tahu ternyata. Aku hanya mau sesuatu dari kamu aja kok, cuma sebuah permintaan kecil saja." Ucapnya dan ia tersenyum, masih memeluk leher Jeffran sekarang membuat lelaki itu merasa muak.


Jika ia bisa melepaskan diri, ia pastikan ia akan membalaskan semuanya kepada manusia tidak punya hati nurani tersebut. Tidak bisa dijelaskan bagaimana rasa benci itu muncul sekarang, tapi yang jelas Jeffran akan melakukan sesuatu yang mungkin gadis itu tidak bisa menebak.


"Apa? Cepat katakan dan lepaskan aku."


"Santai saja, dear. Aku mau kamu terus bersama aku, hanya itu saja memang apa susahnya ya kan."


"Kau sudah gila."


"Memang, gila karena mu. Jadi bagaimana? Mau menuruti permintaan ku atau-" Jeffran menunggu kalimat selanjutnya dan ia harap tidak akan buruk atau bahkan menimpa seseorang yang mencoba ia lindungi.


"Hana akan mati." Jeffran membuang muka, ia masih berpikir. Tapi ia secara reflek, jika saja ada yang mencoba menyakiti Hana ia akan melindungi gadis itu sampai kapan pun. Walaupun nyawanya akan hilang pada akhirnya, lelaki itu akan mengikhlaskan semua itu.


Menutup matanya sejenak untuk mencoba tetap tenang dan tidak melakukan sesuatu yang akan membahayakan siapa pun atau bahkan termasuk Hana. Ia tidak akan bisa melakukan itu. Sampai ia mulai menemukan jawaban, walaupun itu akan menyakiti Hana nanti. Tapi ia mencoba melindungi gadis itu setidaknya dari jarak jauh.


"Baiklah, jika itu mau mu." Anna tersenyum penuh dengan kemenangan, ia menang seperti biasa dan akan mendapatkan segalanya yang dia inginkan.


"Keputusan yang bagus, ingat kamu tidak boleh bersamanya. Aku mengawasi mu, dear." Jeffran kembali menutup matanya lagi, ia tidak sanggup. Walaupun ia sudah bersumpah akan membuat Hana bahagia, ia justru akan menghancurkan gadis itu mulai sekarang. Dengan terpaksa dan penuh perasaan yang hancur secara bersamaan.

__ADS_1


Air matanya menetes tanpa sadar, Jeffran tidak akan bisa menahan perasaannya. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan tapi bagaimana jika orang itu seperti Anna sekarang, membuat orang yang kita cintai dalam bahaya. Siapa yang mau itu? Tentu saja tidak, termasuk Jeffran sendiri.


'Maafkan aku, Hana. Aku terpaksa melakukan ini untuk melindungi mu, tapi aku akan berusaha melepaskan diri ku dan juga membuatmu aman. Dan kita akan bersama lagi setelah aku menyelesaikan urusanku dengan iblis ini.'


__ADS_2