Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 141


__ADS_3

Johan masuk ke dalam rumah dengan penuh dengan amarah, walaupun raut wajahnya tidak terlihat ekspresi yang dia tunjukan sekarang sangat tidak bisa di tebak.


Ketika semua pekerja di rumahnya sudah di kumpulkan tanpa terkecuali, tidak ada yang meloloskan diri dari sana dan Johan memeriksa semua orang yang berada di sana. Dari semua wajah-wajah yang familiar ia lihat dari yang tidak sama sekali ia lihat sehari pun.


"Siapa dia?" Johan menunjuk ke salah satu maid yang menunduk itu, ia tidak pernah melihatnya berada di rumahnya selama ini dan memang baru kali ini ia mulai menyadari orang asing yang masuk ke dalam rumahnya.


Johan melangkah menghampiri dan tanpa berpikir apa yang ia lakukan nanti, dia langsung menarik rambut wanita itu membuatnya mendongak tepat ke arah Johan, bagaimana ia meneliti setiap wajah itu sekarang juga.


"Siapa kau? Dan bagaimana bisa kau masuk ke rumah ku?" Johan mencoba mencari jawaban sebisanya, dia membahayakan nyawa calon istri dan anak-anaknya, bagaimana bisa ada toleransi?


Tidak akan ada kata toleransi sekarang, ia sudah muak dengan segala hal yang seperti ini. Padahal dia berusaha keluar dari dunia kegelapan itu dengan dunia yang baru, tentu saja demi seseorang yang sangat dia ingin lindungi.


"Say-saya-"


"Coba aku tebak, bos mu adalah ayah ku. Apa aku benar?" Tidak ada jawaban, yang ada hanyalah air mata ketakutan dengan badan yang mendadak menggigil sekarang.


Johan tidak mau penjelasan apa pun setelah ia tahu jawabannya apa, pria itu menyuruh anak buahnya untuk menyeret wanita itu ke halaman rumah bagian belakang. Di mana di sana dia akan diberikan hukuman yang pantas, walaupun memang kedua bayinya baik-baik saja.


Tidak menuntut kemungkinan Haha juga. Racun yang digunakan memiliki dosis berbahaya, itu bisa saja membunuh bayi dan ibunya juga. Pria itu tidak mau ada sesuatu yang terjadi lagi, cukup hari ini semua terjadi begitu saja dan berterimakasih dengan Reyhan yang membantu sebagian pekerjaan Johan dengan mencari pelakunya.


Wanita itu memangnya akan di apakan oleh Johan? Jawaban yang mudah, ketika wanita itu mulai di ikat kedua tangan dan kakinya dan kemudian di dorong ke dalam kolam renang. Tidak ada yang membantunya, hanya menatap dan menyaksikan seberapa cepat dia akan kembali ke darat.


Dan siapa sangka jika dia berhasil melepaskan ikatan di kedua tangan sekaligus kakinya, dia memang terlatih atas semua itu. Tapi sayang saja, cara dia membunuh orang sangat ceroboh sekali. Dia tidak tahu siapa yang dia hadapi sekarang ini, adakah menjadi akibatnya.

__ADS_1


Membiarkannya lepas begitu saja? Tentu saja tidak akan, melupakan sebuah prinsip lamanya selama dia masih tinggal bersama kedua orang tuanya dan di didik keras oleh ayahnya. Johan menyiramkan bensin ke atas tubuh wanita itu ketika dia sudah di seret keluar dari air.


Membakarnya hidup-hidup, mendengar suara teriakan yang sudah lama ia tidak mendengar yang seperti ini. Tanpa rasa kasihan sama sekali Johan hanya menatap dengan mata telanjang, dia jelas melihat semua kejadian itu.


"Seharusnya dia tahu siapa yang tengah dia lawan sekarang." Mungkin tidak akan pernah terlintas di dalam kepalanya akan semua itu, jika dia benar-benar anak buah ayahnya dia juga pasti tahu sesuatu.


Di mana dia nyaris saja hangus, tapi beruntung Johan menghentikan semua itu. Menyuruh bawahannya untuk menyemprotkan air yang di campur baking soda. Itu bisa meredakan api besar itu, tapi dia ambruk tidak sadarkan diri dengan luka bakar yang sangat parah.


"Bawa dia ke rumah sakit dan berikan laporan bunuh diri yang gagal."


"Rumah sakit? Apa anda yakin? Bukannya dia sudah memberikan racun kepada-"


"Dia tidak berhasil membunuh calon ku, biarkan dia hidup dengan cacat seumur hidup. Itu adalah hukumannya."


Dia di bawa ke rumah sakit dengan laporan yang tadi, mungkin orang-orang akan percaya saja karena memang banyak kasus bunuh diri sekarang. Johan tidak berbuat apa pun setelah itu, dia sudah membereskan orang itu dan tinggal satu tugas lagi, dirinya akan menjaga lebih ketat keamanan calon istri dan anak-anaknya di rumah sakit. Pengawasan itu masih di butuhkan.


...•••...


"Di mana sepupumu?"


"Johan? Ehmm..." Hana sudah sadar dari tidurnya, dan dia tengah mencari sosok Johan sekarang yang sudah mengantarnya sampai ke rumah sakit sebelumnya.


Kedua anaknya masih berada di dalam sebuah kotak kaca dengan banyak alat medis, mereka baik-baik saja dengan keadaan sehat walaupun belum sepenuhnya sempurna. Jihan sebenarnya khawatir dengan keadaan Hana, padahal dia baik-baik saja terakhir di lihat setelah makan malam dan secara tiba-tiba saja.

__ADS_1


"Apa keadaanmu sudah membaik? Bagaimana bisa bayinya lahir sebelum tanggal prediksi? Biasanya dokter kandungan tidak meleset perkiraannya."


"Mungkin memang sudah waktunya, Jihan." Mungkin memang begitu, tidak ada yang tahu takdir apa lagi seorang dokter. Dokter hanya perantara saja, yang memang di bekali ilmu untuk merawat orang-orang yang tengah dalam keadaan tidak baik.


Begitu lah kehidupan, tidak ada yang tahu masa depan akan seperti apa. Apalah prediksi akan terjadi atau tidak? Tidak ada yang tahu akan semua jawaban itu, jawaban yang pasti hanyalah menunggu saja tidak lebih dari itu.


Beberapa saat saling terdiam, suara pintu membuat keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu dan ternyata Johan sudah datang. Pria itu tersenyum ke arah Hana, berjalan menghampiri perempuan itu dan memeluknya melepaskan segala kerinduannya. Jihan? Dia hanya sibuk menyimak berakhir dia memilih untuk bermain game saja.


"Kapan kamu bangun?"


"Tidak lama tadi." Johan mengangguk paham setelah itu, dia juga datang bukan dengan tangan kosong. Dia membawa beberapa makanan untuk sarapan karena mereka belum sempat sarapan karena masih dalam keadaan panik.


"Bagaimana anak-anak ku? Kamu sudah melihatnya?" Hana mendadak khawatir dengan anak-anaknya, ia tidak melihat anaknya karena tadi ia langsung pingsan.


"Mereka baik-baik saja, mereka juga sehat. Tenang saja, mereka anak yang kuat sama seperti bundanya." Ucapnya seraya mengusap rambut pendek Hana, khawatir itu wajar karena dia masih belum bisa bertemu dengan anak-anaknya.


"Aku harap begitu."


"Kalian cepatlah menikah, hubungan tanpa status itu menyiksa tahu." Tiba-tiba saja Jihan berbicara membuat Johan merasakan tersindir, dia menoleh ke arah belakang di mana Jihan berada.


Gadis itu tidak menatap balik, dia sibuk dengan gamenya dan mengabaikan banyak hal. Johan merasa tersindir tentu saja, bagaimana tidak? Jihan tiba-tiba mengatakan semua itu tanpa kendali, memang hubungan tanpa status itu menyiksa batin.


"Setelah keadaanmu membaik, aku akan menepati janjiku."

__ADS_1


__ADS_2