
Keadaan yang mendadak hilang kendali untuk sekian kalinya, Johan memijat keningnya karena terlalu pusing. Ia harus menunggu dokter keluar, menemukan hasil yang ia harap akan bagus.
"Kenapa kamu bisa sampai seperti ini, Jihan? Aku tahu, semua ini memang sulit tapi bukan seperti ini jalannya..."
Di sisi lain, gadis itu berbaring di bangsal dengan keadaan sudah tidak sadar lagi. Dia harus mendapatkan donor darah karena kehabisan darah, luka di tangannya terlalu dalam dan darahnya memang keluar cukup banyak. Itu membuatnya tidak sadarkan diri saat di bawa ke rumah sakit.
Wajahnya yang pucat, tanpa di sadari oleh para perawat di sana yang mengurus luka Jihan. Gadis itu menangis di dalam tidurnya dalam keadaan dia masih menutup matanya. Dunia sekejam itu kepadanya.
...•••...
Lino berada di salah satu cafe di pinggir jalan, ia sudah berusaha menghubungkan sahabatnya itu tapi tidak aktif nomornya. Itu membuatnya frustasi, semalam tingkah sahabatnya aneh kepadanya. Tentu saja, itu menimbulkan berbagai pertanyaan di benaknya.
Hampir bertahun-tahun mereka berdua tidak bertemu, mereka masih bersahabat dan menjalani hubungan itu sudah cukup lama bahkan sejak kecil mereka kenal satu sama lain. Tapi baru kali ini ia melihat bagaimana dia memperlakukan dirinya seperti orang asing.
Sikapnya yang aneh, Lino semakin kepikiran sekarang. Ia tidak tahu harus apa yang dia lakukan sekarang? Sampai di mana dia pun memutuskan untuk pergi ke kediaman rumah sahabatnya itu saja. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan gadis itu dan bisa bicara kepadanya.
Dia menempuh perjalanan yang lumayan jauh, rumah sahabatnya yang ia tahu terakhir kali berada lumayan jauh dari pusat kota, Lino lumayan kesulitan untuk pergi ke sana. Tapi ia melakukan hal nekat itu hanya untuk bertemu dengan sahabatnya itu.
Sampai di mana setelah ia menempuh perjalanan hampir 1 jam lebih, ia berhasil sampai di sana. Di sebuah rumah besar di sana yang ia tahu adalah rumah keluarga sahabatnya, dia keluar dari mobil itu dan kemudian ia menghampiri ke arah gerbang.
Bertemu dengan penjaga di sana, ia harap perjalannya yang di tempuh dengan waktu 1 jam itu membuahkan hasil. Semoga saja, Lino terlalu berharap akan semua itu. Ia hanya mau bicara saja, setidaknya ia hanya ingin tahu kenapa dia seperti itu?
"Permisi, apakah Jihan ada di rumah ini?"
__ADS_1
"Jihan? Saya tidak melihatnya akhir-akhir ini, dia pergi entah ke mana setelah tuan dan nyonya memutuskan bercerai. Saya dengar nona Jihan tidak akan datang lagi kemari karena masalahnya bersama ayahnya. Hanya itu yang saya tahu, tuan." Lino terdiam seketika ketika ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lino tidak bisa berkata apa pun, dia memutuskan untuk pergi setelah mendapatkan kabar buruk itu yang bahkan di mana Jihan tidak mengatakan apa pun kepadanya.
Apakah selama ini dia berpura-pura? Dia menutupi semua yang dia alami dan benar-benar menyimpan segala masalahnya seorang diri tanpa ada yang tahu satu pun bahkan termasuk Lino, sahabatnya sendiri?
Pria itu masuk ke dalam mobil, jujur saja ia kecewa kepada sahabatnya itu. Kenapa dia menyembunyikan semua masalahnya seorang diri? Masalah sebesar ini, Lino bahkan tidak tahu apa pun. Pantas saja selama beberapa saat ia sempat tidak bisa menghubungi gadis itu, tapi dia memberikan alasan sibuk tugas kuliah saja. Lino pikir itu benar, jadi dia tidak memperpanjang masalah itu.
Tapi kenyataan berbanding balik begitu saja, di mana dia menyimpan semua kepedihannya seorang diri. Benar-benar sendirian? Lino memukul setir mobilnya dengan keras, antara ia kecewa dengan Jihan dan ia juga kecewa dengan dirinya sendiri.
"Tidak berguna! Kenapa kau tidak mengatakan apa pun kepada ku, Jihan? Kenapa? Kau bahkan menyembunyikan hal sebesar ini dari ku..."
Ia merasa menjadi seorang sahabat yang tidak berguna sekarang, ia bahkan tidak tahu apa pun. Ia hanya tahu ketika semua sudah terjadi dan terlambat dalam bertindak.
"Kau egois, Jihan. Kau egois..."
...•••...
Perempuan itu menunduk, berdoa dengan penuh harapan yang dia punya. Berdoa akan segala keselamatan, kabar baik akan datang. Ia tidak berharap lebih, tapi semoga saja tuhan mau mendengarkan dirinya hanya untuk kali ini saja.
Di sisi lain, perempuan itu hanya berbaring di bangsal dengan lemah. Ia penuh berharap jika semua akan baik-baik saja tapi semua sepertinya mustahil jika terjadi. Ia mengingat betapa buruknya ia di masa lalu dahulu, di mana dia benar-benar tidak punya hati.
Mengingat wajah saudaranya yang menangis karena ulahnya saat itu, pukulan demi pukulan dia terima tanpa membalas satu pun kekasaran itu. Dia hanya diam, menangis dan memohon agar berhenti dan mengingat bagaimana kakak laki-lakinya dahulu sampai di kurung di dalam kamarnya karena akan nekat menolong adiknya itu. Semua itu adalah ulah Anna sendiri.
__ADS_1
Menyesal? Percuma saja, semua susah terlanjur terjadi begitu saja. Bahkan ia bisa melihat bagaimana bekas luka itu kenyatannya masih ada dan membekas begitu jelas, maaf bukanlah sebuah kalimat yang cukup untuk luka di dalam hati.
Anna sadar ia keterlaluan dahulu, merebut segalanya bahkan membuat saudaranya sendiri menderita seumur hidup, harus menanggung segala trauma yang ada membuatnya nyaris gila.
"Jangan terlalu banyak berpikir, itu terlalu beresiko untuk dirimu." Satya juga sebisa mungkin selalu ada untuknya.
Di mana Anna tahu betul, jika suaminya itu masih tidak bisa melupakan keberadaan istri pertamanya. Anna sadar, keberadaan Hana tidak bisa dirinya gantikan sampai kapan pun. Dia terlalu baik, terlalu sabar menghadapi keadaan, sedangkan Anna berbanding balik.
"Aku takut jika apa yang aku lakukan dahulu, alam menimpa anak ku juga..."
"Kau khawatir? Jangan pikirkan itu, pikirkan kesehatanmu sekarang. Sebentar lagi kamu akan menjalani masa persalinan, aku tidak mau sesuatu terjadi kepadamu." Anna tidak bisa membayangkan, karma akan selalu berlaku untuk siapa pun juga. Anna hanya takut jika saja pembalasan yang akan tuhan berikan itu menimpa anaknya, bukan dirinya.
Itu membuatnya terus berpikir, walaupun Anna sudah menyesali semua perbuatannya. Tetap saja, ia masih merasa bersalah dengan saudaranya itu tanpa henti.
"Penyesalan tidak akan cukup, minta maaf bukan jalan yang terbaik..."
"Anna..."
...•••...
Di sebuah tempat yang bahkan tidak mau siapa saja yang berkunjung, tentu saja tidak akan ada yang berharap masuk ke dalam saja. Di balik jeruji besi itu, banyak penjahat yang di kurung selama bertahun-tahun untuk menembus segala kesalahannya dahulu. Mungkin itu belum setimpal dengan apa yang sudah para penjahat itu berbuat.
Tapi di sisi lain, salah satu sel itu terdapat satu seseorang yang sibuk menghitung hari. Hitungannya dia memang masih baru, belum ada satu tahun dia berada di sana.
__ADS_1
Banyak coretan yang dia coret di dinding menjadi sebuah hitungan hari, dia akan lepas sebentar lagi. Lebih tepatnya memang masih lumayan lama, hukumannya terlalu panjang untuknya.
"Ketika aku keluar nanti, lihat saja apa yang aku lakukan kepadamu. Gara-gara kau aku masuk ke dalam tempat menjijikan ini, akan aku balas kau, Hana..."