Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 89


__ADS_3

Viona hanya diam saja tidak menanggapi apa pun, dia justru menatap ke arah Anna dengan tatapan tajam seolah dia tidak terima dengan apa yang terjadi sekarang. Awalnya ia pikir mereka datang untuk bersilahturahmi, tapi raut wajah anak itu dulu yang membuat wanita itu sudah merasa tidak enak. Firasat buruk menghampiri pikirannya.


"Kami tidak mau jika masa depan anak kami-"


"Lalu kalian mengorbankan anak yang lain, dan kau pikir itu akan mudah? Pikirkan dua kali sebelum membuat keputusan, itu memang kesalahan anak kami. Tapi anak kami tidak akan seperti itu jika tidak terhasut, anak kalian pasti sudah melakukan sesuatu-"


"Jangan menyalahkan Anna!"


"Jaga sopan santun mu nyonya, kau berada di wilayah kami."



Jika memang apa yang mereka katakan benar, Viona akan mengakui jika itu memang kesalahan anak laki-lakinya. Namun, ia sebagai seorang ibu yang memang sudah membesarkan anaknya itu bahkan sampai sekarang. Dia tahu betul bagaimana anaknya itu tumbuh, semua sifat buruk dan baiknya dia tahu.


Memang mereka tahu apa? Viona melangkah mendekat ke arah Anna dengan tatapan datar yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun, karena pada dasarnya Viona memang ramah kepada semua orang. Tapi ramah dengan seseorang yang sudah merusak rumah tangga orang lain, untuk apa? Tidak ada gunanya melakukan semua itu.


"Kau apakan putra ku?" Anna tidak bisa menjawab apa pun, dia hanya diam penuh perasaan ketakutan yang sangat.


"Jangan bersikap kasar dengannya." Stella melangkah melindungi Anna, itu jelas apa yang Viona lihat semua itu. Gadis itu terlalu di manja sampai dia sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya.


"Keputusan ku sudah bulat, aku tidak akan menikahkan Satya dengan putrimu itu-"


"Tapi dia hamil anak putramu!"


"ITU KESALAHANNYA! KENAPA DIA BEGITU MURAHAN SAMPAI DIA SENDIRI MENDEKATI SUAMI SAUDARA KEMBARNYA SENDIRI! KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU? MEREKA PUNYA HUBUNGAN GELAP DI BELAKANG HANA DAN AKU MENCOBA DIAM KARENA AKU PIKIR MEREKA AKAN BERHENTI DALAM WAKTU DEKAT!!"


"Tenanglah istri ku-"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tenang? Kehidupan Hana hancur, aku tidak bisa biarkan itu terjadi lagi." Ucap Viona, ia tidak akan bisa melihat gadis itu menangis pasrah.


Walaupun gadis itu memang bukan anak kandungnya, tapi selama ini Viona memperhatikan Hana dengan teliti. Gadis itu terlalu baik, terlalu polos, terlalu banyak menerima cobaan dunia sampai dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri.


Terutama Anna, dia sebenarnya tahu apa yang terjadi karena dia pikir semua akan berhenti ketika anaknya mulai sadar jika itu salah. Ia tidak akan menduga akan sejauh ini, Viona kecewa dengan putranya juga walaupun ia masih tidak bisa berkata apa pun untuk menanggapi semua ini.


"Kau harus merestui mereka berdua, nyonya."


"Itu hak ku, kau tidak punya hak atas kehidupan putraku."


Viona dan Stella tengah bertarung sengit, melindungi anak masing-masing. Stella harusnya sadar jika cara mendidik anaknya memang sudah salah sejak awal, dia harusnya menyesal dan menyadari titik kesalahannya. Bukan malah menyalahkan orang lain seperti ini, dia bahkan tega mengorbankan kebahagiaan anaknya yang lain hanya demi anak kesayangannya bahagia dan hidup dengan adil.


...•••...


Hana berada di rumah sakit, dia membuka matanya dan melihat keberadaan Dimas di sana yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Pria itu beranjak dari tempat duduknya dan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan adiknya itu.


Dia menunggu hasilnya sampai di mana dokter itu menjelaskan apa yang terjadi, dia juga pergi memberikan ruang kepada adik kakak tersebut untuk bicara. Dimas kembali menghampiri Hana dan menggenggam tangan adik kesayangannya itu.


"Kakak?"


"Apa yang sudah pria brengsek itu lakukan kepadamu?" Hana tidak menjawab sama sekali, Dimas sudah menduga sebelumnya ini akan terjadi.


Dia tidak akan memaksakan jawaban kepada gadis itu, dia menyuruh Hana untuk istirahat sejenak dan pria itu keluar dari ruang inap dengan tatapan datarnya. Dia menghubung nomor anak buahnya yang tengah melakukan apa yang dia perintahkan, dan mereka melakukan pekerjaan mereka dengan baik.


Pria itu menutup sambungan telepon itu dan berjalan ke suatu arah, kebetulan sekali. Ia bisa lebih dekat, jauh lebih mudah ketimbang ia harus menghabiskan banyak tenaga hanya untuk hal yang tidak berguna.


Dia melangkah menelusuri lorong, sampai di mana ada bawahannya yang berdiri di lorong rumah sakit itu. Memberikan hormat kepada Dimas, pria itu hanya memberikan anggukan sebagai balasan dan pria itu langsung masuk ke dalam ruangan sedangkan bawahannya itu hanya mengawasi dari luar saja. Tidak akan ikut campur sebelum perintah langsung datang kepadanya.

__ADS_1


Dimas masuk ke dalam ruangan itu membuat keduanya terkejut, pria itu berdiri terkejut akak keberadaan Dimas yang secara mendadak berada di depannya sekarang. Dimas langsung menarik Satya keluar dari ruangan itu dan membanting pria tersebut ke lantai.


"APA YANG KAU LAKUKAN KEPADANYA?!" Dimas hanya melirik dengan tatapan tajam membuat Aca terdiam, dan pria itu keluar begitu saja dari sana.


Dia memukuli Satya tanpa berpikir panjang, langsung di tempat tanpa harus mencari stop kegaduhan terlebih dahulu. Aca mencoba beranjak dari tempat tidurnya dia mencoba melangkah keluar dan dia melihat jelas keadaan Satya yang sudah tidak bisa melakukan apa pun.


Tentu saja dengan Dimas yang memukuli tanpa ampun sama sekali, ketika Aca hendak menghentikan Dimas seseorang sudah terlebih dahulu menghalangi langkah gadis itu.


"Lebih baik anda diam di tempat jika tidak mau keadaan anda seperti pria di sana." Aca tidak bisa diam saja, tapi di sisi lain dia takut jika sesuatu terjadi kepada Satya.


"Berhenti! Aku mohon jangan sakiti dia..." Aca menangis, dia bahkan tidak bisa menompang badannya sendiri. Tidak sanggup melihat keadaan Satya yang seperti sekarang.


Dan pria itu menoleh dengan tatapan datarnya, tidak ada ekspresi apa pun di sana dan dia kembali merapihkan pakaiannya. Menghampiri Aca yang terduduk di lantai seperti memohon kepadanya sekarang.


"Jadi kau iblis yang sudah membuat adik kesayangan ku menderita, tidak seperti apa yang aku bayangkan. Buruk rupa sekali, kau merasa paling cantik di sini setelah merebut pasangan orang lain?" Ucap Dimas, dia menarik dagu gadis itu dengan kasar seperti memeriksa sesuatu.


"Ck! Bukan tandingan ku." Ucap Dimas, dia berdiri kembali dengan tebak dan kemudian meninggalkan mereka berdua berada di sana.


Aca melihat keadaan Satya yang terkapar di lantai, lantas menghampiri pria itu dan memeriksa keadaannya yang kenyataannya sangat buruk sekarang. Tapi sebelum dia meninggalkan lokasi itu, Dimas sempat berhenti itu membuat Satya melirik dengan perasaan yang campur aduk.


"Tidak ada kesempatan untuk pengecut seperti dirimu, tanda tangani surat cerai dan aku akan membawa Hana pergi jauh dari mu untuk selamanya." Seketika semua kalimat itu membuat Satya terdiam.


Pria itu berdiri memaksakan diri dan berlari ke arah Dimas, dengan semua tenaganya yang tersisa. Dia tidak perduli dengan keberadaan Aca di belakangnya, ia tidak akan bisa hidup tanpa Hana di sampingnya.


"Jangan lakukan itu aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpa Hana..." Satya menunduk, dia kembali terjatuh tersungkur di lantai. Dimas menoleh sekilas ke arah Satya dengan ekspresinya yang sama sekali tidak bisa di tebak.


"Aku tidak perduli dengan jawaban mu." Dimas kembali melangkah tanpa memperdulikan siapa pun, dia mengabaikan semua orang yang berada di sana.

__ADS_1


Sedangkan Satya menangis pilu, lalu apa yang harus dirinya lakukan sekarang? Tidak ada, tidak ada harapan jika Dimas sudah memutuskan sesuatu tentang Hana. Dia akan melakukan apa saja untuk membawa Hana pergi darinya.


"Aku tidak bisa, aku mencintainya..."


__ADS_2