
"Kamu dari mana saja? Aku pikir kamu di rumah tadi." Ucapnya dan memeluk Hana, ia hanya takut jika Hana kenapa-napa saja.
Sedangkan gadis itu, yang baru saja datang dan sudah mendapatkan pelukan seperti lantas hanya bisa terdiam. Walaupun ia sudah sering diperlakukan seperti ini oleh suaminya sendiri, sudah berjalan 1 bulan lebih hubungan mereka berdua yang berjalan dengan lancar.
Hana bersyukur sekali atas apa yang ia rasakan sekarang, berharap sekali jika Satya akan terus seperti ini. Hana membutuhkan seorang Satya di dalam kehidupannya, seburuk apa pun Satya di masa lalu. Satya adalah pria yang baik, Hana yakin itu.
"Kamu dari mana saja? Kalau mau keluar bilang sama aku, nanti kalau kamu kenapa-napa aku bisa tahu kamu di mana. Ya?" Hana mengangguk lagi, ia hanya punya jawaban itu saja.
"Makasih sudah mengkhawatirkan ku."
"Kau ini bicara apa? Kau istri ku, bagaimana bisa aku tidak khawatir dengan mu." Kenapa Hana mendadak menjadi seperti ini? Satya merasa jika Hana tengah menghadapi banyak cobaan.
Apa semua itu tentang Aca lagi? Memikirkan gadis itu sebenarnya Satya tidak ada rasa minat sama sekali, untuk apa memikirkannya? Tapi apakah dia memikirkan Hana? Tentu saja tidak, terlihat sifat egoisnya sendiri yang seperti itu.
Langsung memberikan pendapat yang sangat tidak masuk akal untuk menjerumuskan Hana seperti itu, padahal Satya dahulu tahu jika Hana dekat dengan Aca. Tapi itu adalah kejadian lama, kenyataannya Aca tidak lagi memperdulikan Hana dan justru menjatuhkan Aca. Mungkin bagi Satya tidak akan masuk akal, tapi Hana memikirkan semua sifat Aca yang sekarang adalah memaklumi.
Mungkin Aca masih marah dengan Hana karena keadaan, mungkin dia butuh waktu sendiri dahulu atau, Aca sudah benar-benar membenci Hana?
"Sudah malam, mandi dahulu lalu tidur, mengerti?" Satya mengusap rambut pendek itu, merasa bersalah ketika rambut panjang itu sudah tidak ada lagi.
"Iya."
...•••...
Anna tengah berada di sebuah cafe, ia hanya sendirian saja karena ia benar-benar ingin meminum cappucino. Mungkin karena kehamilannya itu membuat dirinya seperti ingin sesuatu dan harus di turuti. Di tengah hujan seperti ini, seharusnya Anna tidak di luar karena tidak bagus juga.
Tanpa perempuan itu tahu jika seseorang melihat keberadaan Anna, ia menghampiri Anna dan menaruh sepotong kue manis di depannya membuat Anna langsung mendongak, mendapati pria itu sekarang di depannya.
"Sendirian saja. Tidak bersama teman-temanmu?"
__ADS_1
Pria itu duduk di kursi depan yang kosong di sana, sedangkan Anna hanya menggelengkan kepalanya ketika mendapatkan pertanyaan itu. Memangnya jawaban apa lagi yang harus Anna berikan? Ia tidak bisa berpikir jernih, di sisi lain ia punya masalah besar sekarang.
Wildan hanya diam saja, ia menatap ke arah perempuan di depannya yang sepertinya banyak pikiran sekarang. Pria itu membuang nafas panjang, ia melepaskan jasnya dan ia berdiri menghampiri Anna. Memakaikan jas itu di kedua bahu perempuan itu, membuat Anna merasa terkejut.
Lantas ia mendongak melihat Wildan hanya tersenyum ke arahnya, jas yang berada di badan Anna benar-benar membuat Anna semakin kecil, mungil bahkan hampir tenggelam karena jas Wildan yang memang besar itu.
"Pakai saja, aku tahu kau kedinginan." Anna hanya diam tidak menjawab, ia bingung harus menjawab apa. Tangannya meremat jas itu dengan erat, bagaimana ia belum pernah mendapatkan perhatian seperti ini dari orang lain.
Mungkin Satya itu sudah biasa, karena dahulu mereka berdua memang punya hubungan tapi Wildan, pria itu tidak punya hubungan apa pun dengan Anna. Wildan meminum kopinya, ia mengabaikan tatapan Anna yang sepertinya kebingungan.
"Terimakasih..." Melirik ke arah perempuan itu yang kembali menunduk, ia tidak paham kenapa Anna mendadak menjadi seperti ini.
Sejujurnya Wildan sudah tahu semuanya, tapi yang namanya sebuah tragedi dan keadaan. Siapa yang mau menyalahkan? Menyalahkan orangnya pun tidak masuk akal, semua manusia adalah kendali tuhan. Itu yang Wildan pikirkan sekarang, pria itu mencoba bersikap sedewasa mungkin. Lagi pula dirinya sudah bukan anak remaja labil yang suka tawuran seperti dulu.
Ia juga tahu kabar jika Anna tengah mengandung, parahnya adalah anak dari pria yang sudah beristri. Jujur saja Wildan marah, padahal pernikahan itu Anna juga hadir dan tepat di depan mata. Seharusnya perempuan itu tahu jika perbuatannya adalah sebuah kesalahan dan, sekarang harus bagaimana lagi?
Perbuatannya itu menghasilkan buah yang tidak akan bisa dihilangkan, itu adalah akibat dari semua kesalahannya. Anggap saja itu sebuah karma yang begitu kejam, tuhan tentu saja akan memberikan hukuman agar manusia jera. Benar bukan?
"Bagaimana kandunganmu? Sudah periksa ke dokter kandungan?" Pertanyaan yang Wildan layangkan kepada Anna, membuatnya terkejut.
"Kenapa? Kau terkejut dengan ucapanku? Tenang saja, hanya aku, Theo dan satu orang manusia saja yang tahu. Aku tidak berminat membocorkannya, Theo juga tidak perduli dan satu orang itu juga tidak akan berminat balas dendam dengan mu. Tidak berguna juga, sudah terjadi." Kalimat yang Wildan itu tentu saja membuat Anna semakin merasa di rendahkan.
Tapi bukannya mengelak seperti biasa dia lakukan, ia hanya diam dan tidak berani membuka suara sama sekali. Kenapa? Semua sudah tahu bukan?
"Aku pikir berita itu sudah menyebar." Ucap Anna, ia tidak tahu harus memberikan perkataan apa lagi. Di sisi lain ia sadar jika dirinya salah, tapi ada sisi di mana.
"Mau aku antar periksa besok? Kau tidak akan tahu bagaimana keadaan anakmu itu." Ucapan Wildan memang ada benarnya, sudah 1 bulan lebih Anna tidak pernah periksa dan tidak tahu bagaimana keadaan anaknya. Karena dia takut.
__ADS_1
"Aku-"
"Anak mu tidak salah, jika kau sudah mengintropeksi diri itu bagus. Kau salah, tinggal jalani apa yang kamu hasilkan dari kesalahanmu itu. Tidak ada yang dendam di sini, kau tidak perlu memikirkan itu."
"Tapi kak Dimas?"
"Dimas? Mungkin dia akan tahu sendiri, dia tidak mungkin membunuh adiknya sendiri. Walaupun dia akan marah di awal, dia akan paham nanti. Jangan banyak memikirkan sesuatu, tidak bagus untuk calon bayimu. Makan kuenya, atau mau sesuatu yang lain?"
Anna menggelengkan kepalanya menolak tawaran Wildan, ia memilih memakan kue manis di depannya saja. Walaupun jujur saja Anna masih lapar, karena tidak nafsu makan di rumah. Tidak ada makanan yang menggugah selera di matanya sekarang.
Wildan sibuk dengan ponselnya, mungkin urusan pekerjaan belum selesai. Dia juga sibuk dengan dunianya sendiri, tapi di sisi lain ia juga mengawasi Anna yang berada di depannya.
Ia melirik ke arah Anna yang makan kue manis yang dia beli untuk perempuan itu. Ia hanya tersenyum saja, melihat cara makan Anna yang menurutnya menggemaskan saja. Kenapa wanita hamil selalu terlihat menarik?
"Kau mau sesuatu? Katakan saja jangan sungkan." Wildan menawarkan lagi, karena ia yakin Anna pasti ingin sesuatu tapi dia takut berbicara. Ia akan menunggu saja, lagi pula jika dia berurusan dengan ibu hamil di depannya juga tidak baik.
Hampir 1 jam mereka berdua di sana, entah melakukan apa di sana. Hujan juga masih betah turun mengguyur kota jakarta tanpa henti, Anna melihat ke arah jendela di cafe. Melihat kendaraan yang lewat, sebenarnya ia bosan tapi bagaimana lagi. Tidak mungkin ia berteriak dengan berkata bosan, di kira orang gila.
"Pulang naik apa?" Tiba-tiba saja Wildan bertanya, pria itu tidak mengalihkan pandangannya dari ponselnya itu.
"Grab tadi-"
"Pulang bersama ku, tidak ada penolakan." Ucapnya seolah benar-benar tidak bisa dibantah sama sekali, Anna memang awalnya akan menolak tapi tidak bisa karena Wildan seolah tahu apa yang Anna pikirkan.
"Pulang sekarang atau nanti?"
"Sekarang saja, nanti ayah mencari."
"Baiklah."
__ADS_1