
Dimas tengah melakukan sesuatu, jelas saja ia harus berusaha agar bisa mengalahkan perusahaan milik keluarganya sendiri. Ia harus melakukannya dan tentu saja ia susun semua rencana dari angka 0, berusaha keras karena sebuah niat baik.
Lelaki itu tidak mau jika adik perempuannya terus di injak-injak seperti itu, kakak laki-laki mana yang terima jika adiknya di injak-injak bahkan diremehkan? Padahal mereka yang memiliki lidah panjang itu belum tentu bisa seperti adiknya.
Ia melihat Hana tertidur pulas, ia akan berusaha melakukan sesuatu. Melakukan apa yang harus ia lakukan, Dimas akan berusaha demi kehidupan yang lebih baik. Karena ia sudah berjanji akan membuat Hana bahagia dan sebisanya akan Dimas wujudkan semuanya.
"Kakak akan berusaha, Hana. Demi kamu apa pun akan kakak lakukan."
......•••......
Sudah 2 bulan berjalan tidak terasa sama sekali, kedua kakak adik ini masih sibuk dengan dunianya. Berbeda dengan Dimas yang terlalu fokus, sedangkan Hana fokus dengan pendidikannya karena itu permintaan Dimas.
Di tengah ia baru saja pulang dari kampusnya, baru saja masuk kuliah menjadi mahasiswa baru dengan peringkat tertinggi, tentu saja sesuai aturan sekolah Hana mendapatkan fasilitas yang bagus dan juga layak. Hana juga cukup bersyukur akan itu semua, Hana juga begitu senang bisa masuk kelas unggulan karena usahanya selama ini.
Dimas juga senang mendengar kabar itu, sekaligus ia bangga. Hana juga sangat senang bisa membuat Dimas bahagia hanya karena prestasi yang ia miliki, setidaknya usahanya tidak akan sia-sia seperti dahulu.
Hana berjalan keluar dari gedung kampusnya, menatap sekeliling tampak normal dan itu yang ia senangi sekarang. Semua normal, akhirnya Hana bisa merasakan hidup dengan normal dan tanpa halangan apa pun.
Melangkah keluar dari gedung kampus dan saat itu langkahnya berhenti ketika pandangannya tidak sengaja menemukan sosok yang nampak tidak asing baginya.
"Jeffran?" Hana menatap terus bahkan mengikuti ke arah kemana Jeffran melangkah, sampai lelaki itu sadar akan keberadaan seseorang.
Lelaki itu menoleh ke arah Hana, hanya sekilas dan kemudian kembali tertawa dengan gadis di sampingnya. Siapa? Anna, gadis itu adalah saudara Hana sendiri. Berjalan bersamanya dan bahkan tertawa dengan penuh kebahagiaan yang sempat Hana rasakan sekejap mata saja.
Entah bagaimana perasaan yang Hana rasakan sekarang? Tidak bisa dijelaskan bagaimana, tapi ia hanya bisa merasakan dadanya begitu sesak membuatnya tidak dapat bernafas meskipun hanya tarikan nafas saja untuk masuk ke dalam rongga paru-parunya.
Rasanya sesak tidak bisa dijelaskan, bahkan air mata yang keluar tanpa ijin membuat Hana menyedihkan sekarang. Ia sudah menerima semuanya dan ia mencoba terbiasa, tapi tetap saja. Perasaan mana yang tidak hancur ketika melihat seseorang yang kita cintai justru lebih menghabiskan waktu dengan saudaramu sendiri.
__ADS_1
"Ini."
Seseorang memberikan Hana sapu tangan, ia tengah duduk di atas motor dengan tatapan yang begitu datar ke arah Jeffran dan juga Anna. Entah kenapa? Hana menerima sapu tangan itu untuk mengusap air matanya, menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan wajah menyedihkannya itu.
"Tidak perlu disembunyikan, aku sudah melihatnya."
"Menangisi manusia tidak berguna seperti itu hanya membuang waktu, lebih baik kau pulang dan tidur. Itu akan jauh lebih berguna." Setelah itu ia memakai helmnya dan kemudian pergi begitu saja.
Sedangkan Hana hanya diam, tangannya yang masih memegang sapu tangan berwarna putih milik lelaki tadi. Hana menunduk, menatap sapu tangan yang ia pegang sekarang. Merematnya untuk menahan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
...•••...
Memegang gagang pintu dan membuka pintu dengan sensor sidik jari, suara pintu terbuka menggema ke seluruh ruangan. Menatap ke arah rak sepatu tidak ada siapa pun di dalam apartemen, sepi dan sunyi.
Hana menangis keras, menutup kedua matanya sendiri dengan tangannya dan berusaha bernafas dengan tenang. Namun, tidak bisa karena seolah stok udara mulai menipis hanya karena dirinya.
"Aku gak tahu lagi, apakah aku harus mengalah atau tetap egois? hiks hiks..." Hana berjalan ke arah sofa dan membuka layar ponselnya, kemudian membuka ruang chat yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Pesan singkat ia kirimkan kepada Jeffran, hanya sekedar menanyakan keadaannya saja walaupun Hana sudah tahu apa jawabannya nanti. Hana hanya ingin tahu secara langsung, ia tidak akan percaya jika bukan Jeffran sendiri yang mengatakan semuanya.
Sampai pesan balasan untuk kalimat Hana yang Hana kirimkan kepada lelaki itu di beberapa menit sebelumnya akhirnya di baca dan di balas olehnya. Tapi jawaban yang membuat Hana semakin ingin menangis dan menyesakkan adalah 'Aku sedang sibuk dan jangan ganggu aku lagi.'
Iya, hanya kata-kata itu saja sukses membuat Hana semakin menangis kencang. Rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan dari pada Hana dipukuli dahulu, benar apa kata Dimas. Menyimpan perasaan terlalu dalam sekaligus terlalu berharap akan membuat rasa sakit semakin nyata meskipun tidak terlihat betul bagaimana bentuk lukanya.
"Kamu berubah, Jeff. Aku hanya meminta mu bersamanya sebentar saja, bukan berarti kamu seperti ini kepada ku."
__ADS_1
...•••...
"Ada apa, Jeff?" Suara perempuan itu membuatnya seketika mematikan ponselnya dan tersenyum penuh kepalsuan.
"Tidak ada, lanjutkan makan mu. Setelah ini mau kemana?" Anna menatap kearah Jeffran dan kemudian tersenyum, gadis itu berpikir akan menjawab dengan apa nanti.
Dengan pertanyaan Jeffran yang membuat Anna ingin sekali melayang, lelaki itu sukses membuatnya cinta mati walaupun sikapnya terkadang cuek dan terlalu pendiam.
"Bagaimana kalau kita mampir ke kampusnya Hana? Aku lihat kampusnya bagus banget, itu kampus impianku. Tapi sayang banget nilai ku tidak cukup untuk masuk ke sana, Hana beruntung banget bisa masuk ke kampus itu. Aku jadi iri."
'Dan juga ingin menghancurkannya seperti serpihan debu.'
Jeffran mengejek dalam hati, tentu saja tidak bisa masuk jika kelakuannya saja tidak bisa dirubah. Kampus yang Hana tempati bukan sembarangan kampus, di sana di jaga ketat dengan peraturan yang harus dan wajib di patuhi.
Jika ada mahasiswa yang melanggar lebih dari 3 maka dia akan dikeluarkan dari kampus itu tanpa perlu bertoleransi lagi. Semua sudah keputusan dan peraturan yang sudah ditentukan. Apa lagi dibandingkan dengan Hana, tentu saja Hana akan jauh lebih unggul.
"Jeff, aku tadi lihat Hana sama pria. Apa itu pacarnya? Jika iya, itu parah sekali. Kamu di selingkuhi sama Hana."
"Diam, jangan urusi urusan orang lain dan urusi hidupmu sendiri." Ucap Jeffran dengan nada suara yang berubah menjadi datar dan tanpa ekspresi.
"Aku hanya memberi tahu-"
"Tapi aku sendiri sudah seperti berselingkuh dengan mu, bedanya Hana meminta. Jika tidak, aku juga tidak akan sudi bersamamu." Ucap Jeffran, lelaki itu berdiri dan kemudian pergi dari cafe tersebut. Ia membayar ke kasir tanpa menerima kembalian sama sekali.
"Ambil kembaliannya." Setelah itu dia pergi meninggalkan Anna begitu saja.
"Jeffran! Jeffran! Kamu mau kemana?!" Melihat kendaraan yang dinaiki Jeffran ternyata sudah jauh, membuat Anna kesal.
__ADS_1
"Sial! Semua ini gara-gara Hana! Semua salahnya, anak sial itu harus segera dihilangkan."