
Gadis itu mulai membukanya dan tidak melihat siapa pun di sana terkecuali dirinya seorang, Hana mencoba untuk memposisikan dirinya untuk duduk. Namun, secara tiba-tiba saja Brian datang dengan wajahnya yang panik.
"Hey, jangan bangun dulu. Aku harus memeriksa mu sebentar." Hana tidak tahu apa pun, ia tidak mengingat setelahnya entah apa yang terjadi kepadanya.
"Aku baik-baik saja."
"Jangan katakan itu, tiduran sebentar saja." Brian mengambil alatnya dan memeriksa Hana lagi, semua sudah lumayan membiak tapi wajah itu masih terlihat pucat. Ia merasa memang ada yang janggal, tapi Brian mencoba berpikir positif dan ia kembali tersenyum.
"Setelah Aca kembali ke sini, kamu makan dan minum obat ya. Jangan banyak membantah, karena ini demi kebaikan mu juga."
Hana kembali diam, tidak lama kemudian Aca benar-benar datang membawa makanan di tangannya. Ia tersenyum, bersemangat dan langsung memeluk Hana dengan erat. Sebenarnya ingin menangis tapi karena ada Brian di sana ia menjaga aibnya, Aca terlalu banyak aib.
"Aca-"
"Kamu kalau ada apa-apa bilang kepadaku, jangan diam saja. Aku ini khawatir kepadamu, kamu ini anggap aku apa sih?" Aca mulai menangis, tidak memperdulikan akan keberadaan Brian lagi. Dia benar-benar sedih ketika melihat Hana yang sekarang, padahal dahulu Hana selalu ceria dan tersenyum manis.
Aca hanya merindukan itu saja, tidak lebih dari itu. Ia hanya mau Hana baik-baik saja sekaligus selalu bahagia, karena pertama di mana mereka berdua dua bertemu. Hana tampak tidak baik-baik saja tapi dia tetap tersenyum seperti tidak ada yang terjadi.
"Maafkan aku."
"Sudah-sudah, Aca tolong jaga Hana ya. Aku ada urusan sebentar."
"Loh mau kemana?" Brian hanya memberi kode saja itu pun Aca tidak paham maksudnya apa.
Berakhir pria itu keluar dari ruangan kesehatan meninggalkan kedua gadis itu asik dengan dunia mereka berdua, pria itu berjalan ke arah lorong dan di sana sudah ada Theo yang tengah menunggunya. Bersandar di dinding dengan tatapan datar seperti biasanya.
"Bagaimana hasilnya?" Pertanyaan Theo yang terkesan langsung kepada inti maksud mengapa Theo menyuruh Brian untuk menemuinya.
__ADS_1
"Sudah lebih baik, aku tidak yakin dengan pikiran ku dan semoga saja tidak terjadi. Jaga dia, jangan terlalu banyak memikirkan hal yang berat, itu akan berbahaya, dia bisa drop lagi." Ucap Brian dan memberikan kertas hasil laboratorium kepada Theo.
Pria itu menerima kertas itu dan membaca isi kertas tersebut, menghela nafas panjang dan ia mengangguk. Brian tersenyum, ia tahu bagaimana Theo. Jika Theo sudah berbuat jauh kepada seorang gadis adalah sebuah kabar baik. Tapi Brian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Theo, Hana dan seseorang itu.
"Jaga dia ya, aku ada kelas setelah ini. Sampai jumpa di sirkuit." Tidak ada jawaban dari Theo, pria itu hanya menatap Brian yang mulai pergi meninggalkannya.
Theo tidak bisa berkata-kata, pria itu hanya diam. Ia pun berakhir pergi ke arah ruangan kesehatan, masuk ke dalam? Kalian salah, Theo hanya berdiri di depan jendela saja dan melihat Hana tengah bercanda dengan Aca yang mencoba menghiburnya. Theo tersenyum, ketika ia kembali melihat wajah cerah itu lagi.
'Aku harap kamu akan terus bahagia, jika tidak. Biarkan aku yang membuatmu bahagia selama aku masih bertanggung jawab untuk menjagamu.'
...•••...
Pulang dari kampus dengan keadaan lelah dan berantakan, tapi ia cukup senang karena selama beberapa saat bisa melupakan masalah yang membuatnya tidak bisa berpikir banyak. Gadis itu pergi ke apartemen terlebih dahulu sebelum ia pergi membuat janji kepada seseorang.
Gadis itu masuk ke dalam apartemen yang ia lihat dalam kesunyian. Hana tidak tahu apakah Dimas masih ada di apartemen atau tidak, tapi ia tidak melihat keberadaan Dimas sekarang. Hana melangkah semakin masuk ke dalam dan melihat apa yang dia masak ternyata sisa sedikit.
Tanpa sadar sebuah senyuman tipis tercipta, ia hanya senang pada akhirnya Dimas memakan masakannya yang sudah ia buat dari subuh. Tidak sia-sia Hana bangun pagi menahan pusing di kepala dan memasak.
Hana masih berpikir positif akan kejadian tadi pagi, ia berharap lebih. Hanya Dimas yang tahu bagaimana keadaannya yang sebenarnya, selain Dimas siapa lagi? Mungkin Hana tidak menyadari begitu banyak yang memikirkannya.
Efek terlalu dikucilkan membuat Hana merasa selalu sendiri padahal dia tidak benar-benar sendirian, itu hanya sebuah kebiasaan lama yang terbawa sampai sekarang.
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan bersiap. Ternyata kedua orang tuanya sudah mengirimkan sebuah dress sederhana untuknya di pakai saat acara resmi nanti. Semoga bukan sebuah keburukan, Hana terlalu lelah untuk menanggapi dunia kejam ini.
"Ayo Hana, jangan menyerah dulu. Mungkin ini juga sebuah jalan yang tuhan berikan kepadamu untuk terus bahagia, benar bukan? Tuhan tidak akan sekejam itu kepada hambanya."
Hana yakin, pasti ada sebuah jalan yang terbaik untuk dirinya. Gadis itu pun segera bersiap dan akan pergi sekarang juga sesuai janjinya.
__ADS_1
Walaupun sebuah kejanggalan di dalam hatinya akan semua ini, ia ragu harus melakukan ini tapi ini demi keluarganya sendiri, walaupun ia tahu keluarganya tidak akan suka rela menyayanginya semudah itu.
...•••...
Sebuah restoran mewah, hanya beberapa orang saja yang berada di sana dan memang suasana di sana terbilang sepi. Namun, menenangkan. Tidak salah memilih sebuah tempat seperti ini.
"Bund, aku mau ke toilet sebentar ya." Ucap seorang pria kepada bundanya yang tengah memesan makanan.
"Iya, pergi saja. Jangan melarikan diri karena ini penting sekali."
"Aku tidak akan melarikan diri, hanya sebentar saja."
"Baiklah, cepat kembali ya nak." Pria itu mengangguk dan segera pergi ke toilet, sudah berada di ujung mungkin membuatnya terburu-buru walaupun ia harus menahan semua itu.
Berselang beberapa menitnya sebuah keluarga datang, dan ya mereka saling menyapa dengan keluarga yang sudah menunggunya. Hana juga ada di sana, dia hanya diam tidak berani membuka suara sama sekali.
"Hey, apa ini anak perempuan mu? Cantik sekali, Hai nak. Siapa namamu?" Hana tidak bisa menjawab, tapi Stella memberikan isyarat agar menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.
"Hana..."
"Kamu gugup ya? Tidak apa, kamu duduk dulu ya. Saya sudah pesankan makanan untuk kalian juga kok." Ucapnya seraya menuntun Hana untuk duduk di sampingnya, genggaman tangan yang tidak dilepaskan seolah tidak memperbolehkan Hana pergi ke mana-mana.
Lumayan aneh untuk Hana yang tidak pernah di berikan perhatian oleh kedua orang tuanya sendiri, bahkan pria itu yang duduk di sana tengah menyapa ayahnya juga tersenyum ke arahnya.
"Tenang saja, tidak akan ada sesuatu yang buruk. Kamu pasti sudah tahu bukan? Saya akan menemani kamu di sini, saya sangat ingin memiliki anak gadis seperti mu. Cantik, lemah lembut, astaga kamu impian saya." Hana hanya tersenyum tipis, ia tidak tahu apakah yang diucapkan benar atau tidak tapi dari raut wajah wanita itu begitu antusias.
Menunggu berselang beberapa menitnya seseorang datang dengan rapi menggunakan jas mewah yang dia pakai, ia membungkuk dan meminta maaf atas keterlambatannya. Hana tidak menoleh ke arah suara karena dia takut, sampai pria itu duduk tepat di samping pria di samping ayahnya membuatnya terkejut.
__ADS_1
"Hana?" Ucapnya membuat semua orang lantas menatap ke arah Hana, Hana antara pria itu.
'Tidak mungkin, kenapa harus dia?'