
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Hana, ia mendongak menoleh ke arah pintu utama. Jika itu Dimas, pria itu akan langsung masuk karena dia tahu password pintunya. Tapi siapa? Ia pun memilih untuk membiarkan saja, tapi suara ketukan itu terus terdengar membuatnya muak sendiri.
Hana pun segera beranjak dari tempat duduknya dan kemudian melangkah menghampiri pintu, ia mengintip dari lubang pintu. Nampak tidak asing, Hana pun membuka pintunya dan benar saja sosok di depannya benar-benar ia kenal.
Wanita itu tersenyum ketika melihat Hana berada di depannya sekarang, tapi entah apa tujuannya sekarang datang ke apartemennya sekarang.
"Bunda? Ada apa?" Tanya terlebih dahulu, yakin saja pasti ada sesuatu yang terjadi membuat wanita paruh baya itu datang jauh-jauh.
"Boleh bunda bicara sebentar dengan kamu? Hanya sebentar saja, bunda janji."
"Bisa, masuk dulu bund-"
"Tidak perlu, di sini saja juga tidak apa." Hana tidak paham dengan apa yang terjadi, tapi ia berharap bukan sebuah kabar buruk yang akan dia dengar nanti.
Hana hanya diam menunggu wanita itu memulai percakapannya, ia menunggu sampai di mana wanita itu mulai menunduk dan menggenggam tangan Hana begitu saja. Tentu saja itu semua membuat Hana kebingungan, ada apa ini?
"Apa kamu bisa ke rumah bunda untuk menemui Satya? Tolong, hanya sekali ini saja Hana-"
"Tidak, Hana tidak akan pergi." Seseorang secara tiba-tiba menyela perkataan wanita itu, tentu saja itu membuat keduanya mengalihkan pandangan ke arah sosok pria yang baru saja datang.
Dia berdiri dengan tegak, tatapannya datar seolah tidak menerima tamu siapa pun sekarang. Hana hendak menahan pria itu agar menahan emosinya, tapi sepertinya percuma saja karena Dimas sudah kehabisan kesabaran sekarang.
Tentu saja, ia tidak akan mau memasukan adiknya ke dalam jurang lagi. Cukup kemarin saja, itu sudah membuat Dimas nyaris gila. Bagaimana jika kejadian itu terulang lagi? Dimas tidak akan menerima semua itu bagaimana pun itu, jangan sampai Hana termakan perkataan keluarga sialan itu.
__ADS_1
Di mana memang pada dasarnya di antara kakak beradik itu sudah tidak percaya dengan siapa pun lagi, seolah kepercayaan itu sudah hancur cukup lama.
"Hana tidak akan pergi, apa pun alasannya itu. Aku tidak akan mengizinkan Hana keluar dari apartemen ini."
"Kak-"
"Diam Hana, kakak tidak suka jika kamu terus membela seseorang yang sama sekali tidak sadar di mana letak kesalahannya sendiri. Dan untuk anda nyonya, silahkan pergi dari sini." Seolah itu adalah kata perintah yang patut untuk di patuhi.
Viona tidak tahun harus bagaimana lagi, mungkin memang pada dasarnya kesalahan putranya tidak dapat di toleransi lagi. Lagi di sisi lain, putranya membutuhkan keberadaan Hana. Dia masih mencintai perempuan itu bahkan sampai sekarang, walaupun caranya memang salah.
"Tapi hanya sekali saja, aku mohon-"
"Aku tidak perduli, masuk Hana." Dimas menarik Hana masuk kembali ke apartemen tanpa harus memikirkan orang lain.
Tapi Dimas tidak mendengarkan penjelasan apa pun, dia seolah tuli sekarang ini. Pria itu menarik Hana masuk ke dalam, membuat gadis itu merasa jika dirinya salah sekarang.
"Apa yang kakak lakukan?" Pertanyaan konyol macam apa itu? Tentu saja niat Dimas masih sama, melindungi Hana dari orang-orang yang sama sekali tidak bertanggung jawab seperti mereka.
"Apakah tadi kurang jelas? Kakak hanya tidak mau kejadian saat itu terulang lagi, Hana. Kapan kamu bisa mengerti perasaan kakak?" Walaupun posisi sekarang Dimas tidak bisa mengendalikan emosinya, tapi ia masih ingat kondisi Hana sekarang.
Adiknya tengah mengandung sekarang, terlalu menekan mentalnya bukan sebuah ide bagus. Justru terlalu buruk, maka dari itu semarah apa pun Dimas, dia berusaha mengendalikan emosionalnya sendiri agar tetap tenang dan tidak membentak atau meninggikan nada bicaranya.
Hana terdiam, pria di depannya tidak mau mendengarkan penjelasan apa pun. Hana tahu bagaimana keadaannya, hanya saja bagaimana dengan orang lain itu? Dia membutuhkan Hana bukan?
__ADS_1
Mungkin pemikiran Hana terlalu bodoh untuk memikirkan semua masalah ini, dia mengandung anak pria itu dan tentu saja dia juga masih mempunyai perasaan di dalam hatinya. Meskipun ia sudah berusaha untuk membencinya, ia sudah berusaha semampunya.
"Jangan katakan kau mau menemuinya..." Dimas sudah menebak semua ini sejak awal, tapi bagaimana pun kehendaknya tidak bisa di paksakan begitu saja.
Hana hanya diam, mungkin itu adalah sebuah jawaban di mana Hana akan mengatakan 'iya' di saat itu juga. Tapi dia takut membuat Dimas marah sekaligus kecewa, pria itu berusaha membuat kehidupannya kembali seperti dahulu. Ketika Satya belum datang di dalam kehidupannya tentu saja, kehidupan yang sangat Hana impikan sekilas datang walaupun itu musnah dalam sekejap.
"Tapi dia membutuhkan aku kak-"
"Apakah dia datang ketika kau membutuhkannya?"
Hana hanya diam, ia tidak bisa menjawab. Antara tidak ada jawaban dan ia tidak mau mengingat masa lalunya dahulu. Hana berharap jika semua ini tidak terjadi tapi kenyataannya semua sudah terjadi begitu saja, apakah ia harus mengelak? Tidak bisa.
"Kenapa hanya diam? Dia tidak datang bukan? Dia bahkan tega memukulmu, membiarkan mu di rumah sendirian sedangkan dia sibuk mengurusi wanita lain. Kau masih perduli kepadanya?"
Bukannya dia menyudut seseorang, Dimas hanya tidak mau jika Hana terlalu bodoh menghadapi semua ini. Di sisi lain memang hanya Dimas di sini yang berada di pihak Hana, andai saja Dimas tidak ada di sini. Bagaimana keadaan Hana nanti? Dimas bahkan tidak bisa membayangkan semua itu terjadi.
Jangan sampai, ia tidak akan rela melihat Hana menderita seperti itu. Ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, melindungi Hana adalah sebuah tujuan utamanya selama ini. Selama Dimas hidup, ia akan menjadi pelindung adik perempuannya itu sampai kapan pun.
"Dengarkan kakak Hana-" Hana hanya menunduk, ia menahan air matanya. Mengingat lagi, padahal dia tidak mau mengingat kejadian itu.
Dimas menarik perempuan itu masuk ke dalam pelukannya, menenangkannya sebisa mungkin. Walaupun itu tidak akan bertahan lama tapi tetap saja, Dimas sudah berusaha bukan?
__ADS_1
"Kakak hanya mau melindungi mu, melihatmu menderita sama saja siksaan untuk kakak. Kakak tidak mau itu terjadi, kamu dunia kakak." Hana tidak bisa berpikir dengan jelas, tapi di sisi lain ia ingin melihat Satya sekarang. Ia tidak bisa berbohong soal perasaannya sendiri, Hana masih banyak berharap atas semua hubungan ini, berharap akan kehancuran yang tidak terjadi.