
Hana merasa aneh dengan sekitarnya terutama Aca, gadis itu sering terdiam dan tidak seperti biasanya yang biasanya dia akan selalu bersikap heboh sendiri. Tapi nampaknya suasana hatinya tengah tidak baik, tapi sekarang yang Hana pikirkan adalah, ia ingin mengatakan sesuatu kepada Aca tapi Hana juga tidak siap harus menerima resikonya.
Gadis itu pergi begitu saja setelah kelas selesai, Hana segera membereskan barang-barangnya dan mengejar sahabatnya itu secepat mungkin.
"Aca!" Langkahnya terhenti ketika namanya di sebutkan oleh seseorang, ia berakhir menoleh ke arah Hana yang berdiri di belakangnya. Hana menghampirinya sekarang, ia menarik tangannya dan bahkan seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Aku ingin bicara dengan mu, apa kamu punya waktu sebentar?"
"Bicara apa? Bicara saja di sini-"
"Tidak, aku mau di tempat lain. Aku mohon..." Aca menoleh ke segala arah, banyak mahasiswa yang lewat tentu saja mungkin Hana merasa pembicaraan yang akan dia katakan bersifat pribadi.
"Baiklah, ke mana?"
...•••...
Sekarang mereka berada di cafe yang tidak begitu ramai, memesan dua minuman saja untuk menemani obrolan mereka berdua hari ini.
Hana membuang nafas panjang, ia berusaha mengumpulkan segala keberaniannya untuk mengatakan apa yang seharusnya Hana lakukan sebelumnya. Sedangkan Aca menunggu apa yang akan sahabatnya itu katakan, semoga saja bukan sebuah keburukan.
"Kamu mau bicara apa?" Pertanyaan itu seolah menjadi sebuah pembukaan di antara obrolan mereka selanjutnya, Hana tidak bisa mengatakan itu tapi ia harus melakukannya.
"Maafkan aku." Aca tidak mengerti, kenapa Hana selalu meminta maaf kepadanya bahkan akhir-akhir ini gadis itu selalu mengatakan itu berulang kali, entah karena masalah kecil atau hal sepele saja dia selalu meminta maaf.
Aca merasa memang ada yang tidak beres, di semua tragedi yang ada membuatnya bingung dengan dunia ini. Dari semua masalah di mana Hana sering menghilang dan kembali dengan keadaan tidak dalam baik-baik saja dan entah apa alasannya, dan kenapa?
"Maafkan aku, seharusnya aku bilang ini sejak awal." Aca masih menunggu kalimat yang selanjutnya, karena ia yakin Hana akan mengatakan hal yang lain.
"Aku di jodohkan orang tua ku." Aca masih diam, ia kurang mengetahui bagaimana keluarga Hana. Tapi ia hanya tahu jika keluarga sahabatnya itu sangat toxic. Ia paham kenapa Hana bisa menerima semua itu dan dengan segala keraguan itu terlihat.
__ADS_1
"Dan pria itu adalah Satya." Senyuman itu perlahan luntur, entah apa yang dia pikirkan sekarang. Perkataan Hana membuatnya merasa jika jantungnya seolah berhenti berdetak.
Bagaimana tidak? Kenapa harus Satya? Kenapa harus pria yang dia cintai yang harus berjodoh dengan sahabatnya sendiri? Aca hanya diam, ia bahkan menatap ke depan dengan tatapan kosong bahkan seolah hidupnya menghilang. Hana tidak bisa berpikir, gadis itu menunduk. Ini semua atas permintaan kedua orang tuanya.
"Maafkan aku, aku terpaksa. Perjodohan ini demi perusahaan dan pengobatan saudara ku, aku harus menerima perjodohan itu. Maafkan aku Aca..." Aca menunduk, ia berusaha menyembunyikan wajah sedihnya bahkan menahan bendungan air mata itu agar tidak meloloskan diri dari matanya.
Perkataan dan penjelasan Hana jelas, gadis itu terpaksa. Ia harus menerima perjodohan itu demi sebuah tujuan yang pasti, bahkan tujuannya memang baik dan apa adanya. Aca tidak bisa menyalahkan Hana begitu saja, tapi di sisi lain ia marah dengan Hana. Kenapa baru bilang sekarang?
"Kamu bercanda kan?" Hana menggelengkan kepalanya, ia tidak berbohong atas itu. Itu membuat Aca merasa dunianya sekarang hancur berkeping-keping.
"Kenapa harus Satya, Hana? Kenapa harus Satya?"
"Maafkan aku, Aca..." Aca mengusap air matanya secara paksa, ia berusaha menguatkan dirinya sendiri tapi rasanya tidak bisa. Ia sudah terlanjur hancur.
"Aca-"
"Jangan temui aku untuk beberapa hari ini, aku sedang ingin sendiri, permisi." Hana langsung mendongak ketika Aca mulai beranjak dari tempat duduknya, Hana mencoba mengejar Aca tapi gadis itu berjalan dengan cepat. Masuk ke dalam mobil jemputannya dan meninggalkan Hana begitu saja.
Sedangkan gadis itu berada di dalam mobil, melihat dari kaca spion mobilnya. Hana mengejarnya sampai gadis itu tersandung, terjatuh begitu saja. Aca langsung mengalihkan pandangannya, ia menutupi matanya sendiri dan menahan derasnya air matanya yang terus menetes.
...•••...
"Sayang? Kamu dari mana saja? Aku mencari dari tadi loh-"
"Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget, kamu sakit?" Satya terus melontarkan pertanyaan kepadanya, pria itu bahkan merangkulnya dengan posesif dan terus mengawasi keadaan Hana.
Gadis itu tidak dalam keadaan baik-baik saja, dia seperti habis menangis. Tapi kenapa? Satya berpikir lagi, ia mencoba bertanya tapi jawaban Hana selalu sama saja. Tidak ada yang berubah, gadis itu memang sulit di tebak bagaimana keadaannya tapi Satya jelas merasa jika Hana tengah kacau.
"Kita pulang ya, kamu capek ya? Sampek rumah tidur aja oke." Satya menuntun Hana kembali ke mobil, membuat gadis itu masuk kedalam kendaraan beroda empat itu dan kemudian membawanya kembali ke rumah.
__ADS_1
Sedangkan seseorang yang hanya melihat dari kejauhan, ia hanya sekedar menatap saja tanpa ada niatan melakukan apa pun. Lagi pula jika ia berjuang, memangnya siapa dirinya di dalam kehidupan Hana? Bukan siapa-siapa, hanya lah orang baru yang mencoba terus ikut campur ke dalam urusan gadis itu.
Ia memalingkan wajahnya untuk tidak menatap ke arah yang sama, ia berusaha mengontrol dirinya sendiri. Apa yang dia lakukan sekarang adalah sebuah kesalahan. Ini semua salah, harusnya pria itu sadar akan perasaan yang seharusnya tidak ada sejak awal.
"Lupakan dia, Theo. Dia tidak menginginkan dirimu." Pria itu mencoba berpaling, sampai di mana ia memilih untuk pegi dari sana dan langsung kembali ke rumahnya.
Di dalam perjalanan yang di tempuh cukup jauh ke rumah, pria itu mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatannya sekarang. Hatinya di landa kebimbangan, perasaannya salah dan itu sudah jelas. Tapi hatinya menolak melupakan dan otaknya seolah tidak mau menghilangkan memorinya.
Mengumpat di dalam hati sepanjang jalan dan sampai di mana ia masuk ke dalam rumahnya dalam keadaan hatinya yang kacau, ia tidak bisa berbuat apa pun. Apa yang dia lakukan itu tetap saja salah? Ia tidak mau menjadi alasan rumah tangga seseorang hancur, karena egonya. Ia harus menghancurkan kebahagiaan yang sudah ditemukan. Tidak, Theo tidak seperti itu.
Ia memasuki rumahnya dan melempar helmnya begitu saja, membuat para maid terkejut akan kedatangannya yang tiba-tiba seperti ini. Pria itu langsung menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar tanpa mengatakan apa pun.
Sedangkan wanita yang berada di lantai dasar merasa bingung, ada apa dengan anaknya itu? Ia berusaha untuk menemukan kesalahan dan tidak ada yang salah.
"Tuan muda, kenapa nyonya?" Wanita itu juga tidak tahu apa yang terjadi kepada putranya itu. Tapi ia berdoa agar dia baik-baik saja.
Pada kenyataannya semua itu tidak lah baik-baik saja. Pria itu membanting pintu kamarnya, ia menatap dirinya sendiri di cermin. Melihat betapa menyedihkannya dirinya sekarang, ia tersenyum miris. Tersenyum akan semua nasib yang tidak pernah beruntung dalam apa pun.
"Lupakan dia Theo, dia sudah punya orang lain dan orang lain itu adalah sahabat mu sendiri." Ia berusaha menyadarkan dirinya sendiri, tapi hatinya menolak untuk sadar.
Theo menatap dirinya sendiri di pantulan cermin itu, ia menampar pipinya sendiri dengan keras mencoba sadar tapi tidak bisa. Pipinya merah karena tamparannya sendiri, keadaannya kacau akhir-akhir ini.
Jika saja pria itu mau, ia sudah dari awal membuat hubungan itu hancur karena dia sudah tahu semuanya di mana orang lain tidak mengetahui sebuah kebenaran itu. Sampai di mana emosinya mulai membludak membuat pria itu memukul kaca tepat di depannya, pecahan cermin itu terpental ke mana-mana dan bahkan darah mulai menetes dari sana.
"AAAAA!! THEO SADAR!! DIA TIDAK AKAN MELIRIK MU! DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGHARAP AKAN KEBERADAAN MU! SADAR THEO SADAR!!" Ia terus memukul cermin itu tanpa henti.
Sampai di mana air matanya menetes begitu saja, kenapa ia bisa jatuh sampai seperti ini? Ia tidak mengerti kenapa bisa terjadi, semua ini adalah salahnya. Benar-benar kesalahannya. Pria itu ambruk di atas lantai, tangannya menjambak rambutnya sendiri karena isi kepalanya begitu berisik.
...•••...
__ADS_1
Di sisi lain, Hana menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong. Ia harus bagaimana? Aca menjauh darinya dan tidak akan pernah mau bertemu dengan dirinya. Gadis itu tersenyum miris, air matanya yang menetes begitu saja.
'Kamu memang brengsek, Hana. Kamu memang pantas menderita.'