
Ia menancapkan gasnya dengan kencang, ia juga membuat jaketnya seperti tali untuk mengikat tubuh gadis itu agar tetap berada di belakangnya. Dengan perasaan panik yang bercampur aduk, tidak bisa ia rasakan apa pun.
Sampai di mana ia sampai di area rumah sakit dan menggendong gadis itu ke dalam rumah sakit yang masih dalam keadaan ramai itu, tidak bisa ia berpikir dengan jernih.
"Tolong! Perawat siapa aja! Tolong!" Mereka dengan cepat membantu pria itu membawa gadis itu ke bangsal, dengan keadaan seperti sekarat ia tidak bisa berpikir.
Ia melihat keadaan gadis itu sudah mengenaskan, jika saja dirinya tidak lewat di kawasan tersebut. Apa yang akan terjadi ke depannya? Sungguh tidak bisa di bayangkan lagi bagaimana nanti.
Pria itu menghubungi seseorang, tentu saja yang benar-benar harus ia hubungi dan di mana ia sudah menghubungi seseorang untuk datang ke rumah sakit. Bima juga menghubungi Satya, tentu saja ia harus menghubungi pria itu karena dia adalah suami dari Hana.
Ia berusaha menghubungi Satya, menelponnya berulang kali bahkan mengirimkan pesan spam kepada pria itu tapi tidak ada sautan apa pun. Membuat Bima frustasi bukan main, ia tidak bisa berbuat lebih.
Sampai ia duduk di kursi dengan perasaan gusar, darah di pakaiannya sepertinya tidak akan hilang untuk sehari ke depannya. Bima tidak bisa lagi harus menjelaskan bagaimana, tangannya terluka karena ia sempat harus bertengkar bahkan membuat orang-orang itu tidak berdaya, membawa Hana pergi bukan sebuah hal yang muda.
Luka di lehernya juga membuktikan berapa ia harus berjuang membawa Hana pergi dan mengalahkan mereka. Bima tidak tahu ada masalah apa mereka dengan Hana, tapi yang pasti ia mengingat wajah-wajah itu.
"Bima!"
Pria itu menoleh dan ia berdiri, ia melihat berapa khawatirnya wajah pria yang jauh lebih tua darinya 4 tahun tersebut. Bahkan dia juga melihat semua luka yang berada di wajah sampai bahkan tangannya juga penuh dengan luka.
"Apa yang terjadi?" Dimas, tidak bisa berpikir panjang. Bahkan saat dalam perjalanan saja ia sudah tidak memperdulikan nyawanya sendiri kecuali di mana ia harus sampai ke rumah sakit dan melihat keadaan adik perempuannya itu.
"Hana nyaris di bunuh, bahkan dia hampir saja di perkosa-" Dimas ambruk, tidak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi jika saja Bima tidak datang menolong Hana.
Bima mencoba membuat Dimas tenang tapi pria itu justru menangis, memukuli dirinya sendiri. Menyalahkan dirinya sendiri seolah dirinya benar-benar salah dalam semua ini, padahal Dimas tidak salah apa pun. Kejadian ini tidak ada yang tahu, tidak ada yang membayangkan akan terjadi seperti ini.
__ADS_1
Dimas menangis keras, memukul dirinya sendiri dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Ia merasa tidak pantas menjadi seorang kakak, tidak bisa menjaga Hana seperti layaknya seorang kakak laki-laki yang seharusnya. Seharusnya Dimas memaksa Hana untuk pergi bersamanya sana bukan malah membiarkannya pergi sendirian.
"Ini salah ku, seharusnya aku memaksanya tetap bersama ku saja hiks hiks."
"Tidak, ini bukan kesalahanmu. Ini sudah takdir, tidak ada yang tahu akan masa depan. Tenangkan dirimu-"
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?! ADIKKU HAMPIR DI BUNUH! DIA HAMPIR-" Bima memeluk pria itu, ia tahu bagaimana perasaan Dimas sekarang. Hancur lebur bagaikan vas bunga yang benar-benar jatuh berkeping-keping, mana bisa diperbaiki jika sudah hancur seperti itu.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja, aku sudah menghubungi Satya untuk datang. Dia pasti akan datang sebentar lagi." Pria itu tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Bima, ia hanya tidak bisa berpikir jernih. Otaknya penuh dengan keadaan Hana sekarang bagaimana?
Bima berusaha menghubungi Satya yang nomornya tidak aktif sama sekali, ada apa dengan pria itu? Biasanya selalu aktif dan, sekarang kenapa? Di saat-saat seperti ini pria itu tidak bisa dihubungi sama sekali.
'Sial! Ayo angkat telpon ku bodoh. Kau ini di mana sih?'
...•••...
"Satya pelan Ahh-"
"Sabar sayang."
Tidak ada yang berniat untuk mengangkat telpon yang berulang kali berdering, mengabaikan semuanya hanya demi kesenangan mereka sendiri. Mereka tidak pernah berpikir jika di tengah kesenangan meraka ada seseorang yang tengah berjuang akan hidup.
...•••...
Wajahnya penuh dengan luka, alat bernafas juga terpasang agar dia bisa tetap bernafas dengan baik. Keadaannya tidak ada kata baik-baik saja, tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.
__ADS_1
Dokter memeriksa keadaannya dan mendata semua kondisi kesehatannya, sampai ia sudah selesai dengan urusannya yang membuat gadis itu bertahan. Bagaimana ini bisa terjadi? Takdir terkadang memang suka mempermainkan.
Suara pintu terbuka membuat dokter itu menoleh dan mendapati seseorang yang tengah berjalan ke arahnya. Dokter itu membuang nafas panjang, ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
"Apa kamu keluarga dari pasien?" Dia hanya mengangguk, dan menatap dokter itu dengan tatapan seperti tidak ada harapan hidup.
"Bagaimana keadaan adik saya?"
"Dia mengalami gagal jantung, tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan ternyata tuhan masih sayang dengannya. Dia selamat, tapi luka di kepalanya membuatnya kepalanya mengalami pendarahan hebat. Jangan membuatnya dalam keadaan setres, itu akan membahayakannya. Hanya itu saja yang bisa saya jelaskan, saya permisi dulu tuan."
Dokter itu keluar dari ruangan meninggalkan adik kakak itu berdua di dalam ruangannya yang sunyi itu. Dimas masih menunduk, ia tidak bisa menahan tangisannya meskipun ia sudah memaksakan keadaannya. Ia memberanikan diri melihat keadaan adik perempuannya sekarang.
Air matanya tidak bisa berhenti sekarang, ia menghampiri bangsal itu dan menggenggam tangan gadis itu. Yang ia lindungi selama ini, ia tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian ini.
"Maafkan kakak, kakak tidak becus menjaga kamu. Seharusnya-"
Dimas menggenggam tangan mungil itu, dan lagi-lagi ia merasakan suasana ini. Suasana rumah sakit di mana tepat di depan matanya gadis itu kembali berbaring dengan mata tertutup, enggan membuka matanya seolah tidak mau melihat dunia lagi.
"Jangan tinggalkan kakak, maafkan kakak Hana. Maafkan kakak-" Tangisannya tidak bisa di tahan, suara tangisannya pecah dan memenuhi ruangan tersebut.
Dimas menggenggam tangan mungil itu, tidak mau melepaskan tangan itu. Tidak akan, tidak mau melepaskan seolah dia tahu jika adiknya itu akan pergi dan dia mencegahnya sekarang.
Perasaan Dimas sudah seperti mati rasa, tidak bisa lagi harus mengatakan apa lagi. Dia hanya menangis, menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi dan menyesali semua apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"Kamu harus tetap bertahan, jangan pergi ke mana-mana. Kakak tunggu Hana kembali ya, jangan pergi."