
Dimas menutup pintu mobil, ia berjalan masuk ke dalam rumah yang selama ini tidak pernah lagi dia kunjungi. Dia hanya muak dengan keadaan, sebenarnya jika dia mau Dimas tidak akan sudi menginjakkan kakinya di sana.
Tapi ia terpaksa karena ini masalah adik perempuannya, ia hanya menduga akan sesuatu yang terjadi sekarang bukan lah sebuah hal yang bagus untuk meninggikan egonya. Ketika Dimas masuk ke dalam, ia melihat kedua orang tuanya berada di meja makan bersama anak kesayangan mereka.
Tentu saja kehadiran Dimas membuat mereka terkejut, setelah sekian lama pria itu datang dan berdiri di sana dengan tatapan datarnya seperti sebelumnya. Stella bahkan tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat sekarang. Lantas wanita itu meletakan piring di atas meja, dia berlari ke arah Dimas dan hendak memeluk putranya.
Tapi dia malah melangkah mundur ketika Stella hendak memeluknya, itu membuat hati wanita paruh baya tersebut merasa sakit. Ia menatap ke arah Dimas, tapi dia justru mengalihkan pandangannya ke arah Anna yang duduk di tempat duduknya. Menatap Dimas dengan tatapan yang aneh.
"Aku datang ke sini bukan untuk berpelukan, aku mau bicara dengan Anna." Lantas ayahnya berdiri, tentu saja dia merasa heran dengan anak laki-lakinya itu.
"Mau apa kau datang ke sini?"
"Apa anda mendengar apa yang saya ucapkan tadi? Saya ingin bicara dengan Anna." Ucapnya sekian kalinya, ia tidak berminat melakukan apa pun di sana kecuali menuntaskan tujuan utamanya datang ke rumah tersebut.
Stella menunduk, dia pun melangkah mundur dan membiarkan Anna berjalan ke arah Dimas. Ia tidak tahu apa tujuan kakaknya itu datang, tapi sepertinya memang ada hal serius yang mau dia sampaikan seperti biasanya. Dimas akan langsung to the point kepada Anna dan tidak akan pernah basa basi.
"Kakak mau bicara dengan Anna? Kakak mau bicara di mana?"
"Ikut aku sekarang." Dimas menarik tangan Anna untuk ikut dengannya tapi pria itu justru menahan tangan Anna agar tidak ikut dengan Dimas, dia masih tidak percaya dengan anaknya itu.
"Mau kau bawa kemana anak ku?" Dimas membuang nafas panjang, sepertinya ia akan membuang banyak tenaga untuk bersabar yang biasanya ia tidak pernah melakukan hal seperti itu kecuali di depan Hana.
"Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya ingin bicara." Ucapnya seraya menatap tajam ke arah ayahnya sendiri, ia tidak perduli mau ayahnya itu setuju atau tidak ia tidak akan berpikir panjang dengan pendapat orang lain.
Anna melepaskan genggaman tangan ayahnya itu, dia mengangguk meyakinkan kedua orang tuanya untuk percaya kepada Dimas, lagi pula dia juga anak mereka bukan? Seharusnya mereka percaya dengan putra mereka bukan malah terus curiga dengannya. Sampai di mana Dimas menarik Anna keluar dari rumah itu.
Dimas masuk ke dalam mobil begitu saja, Anna juga ikut masuk ke dalam mobil tersebut. Suasananya seketika menjadi tegang sekarang, tapi di saat itu Anna tidak sengaja melihat ada poraloit yang menggantung di atas mobil, itu adalah foto Hana dan Dimas ketika masih sekolah dahulu. Anna membuang pandangannya, tersenyum miris dengan dirinya sendiri.
Walaupun ia tahu dahulu Hana tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, tapi Hana memiliki sosok berharga seperti Dimas. Jujur saja Anna iri dengan saudaranya itu, dia mendapatkan kasih sayang yang lebih dari cukup.
"Kita mau kemana kak?" tapi sepertinya pertanyaannya tidak di jawab oleh pria itu, karena dia hanya diam saja.
Anna memutuskan tidak banyak berbicara, raut wajah Dimas bahkan sudah menunjukkan jika mood pria itu sedang tidak bagus sekarang. Sampai di mana mereka sampai di sebuah tempat sepi, parkiran lapangan basket kota. Karena ini hari selasa jadi sana memang sepi.
__ADS_1
Dimas menghentikan mobilnya, memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya tapi dia tidak mematikan mesin mobilnya. Anna kebingungan, kenapa Dimas mengajaknya di tempat seperti ini?
"Sekarang kau harus menjawab pertanyaan ku dengan jujur." Ucapnya membuat Anna menatap ke arah Dimas, penuh dengan tanda tanya. Memang apa yang akan Dimas tanyakan kepadanya? Tapi entah kenapa perasaan Anna mengatakan itu bukan pemikiran bagus.
"Kakak mau bertanya tentang apa?"
"Kau pasti tahu tentang tragedi di kampus mu, dan kau salah satu saksi matanya. Apa kau juga dalang dari masalah ini? Menuduh Hana sembarangan memberikan laporan palsu kepada polisi untuk menangkap Hana, apa itu benar atau tidak?" Seketika perempuan itu membeku kaku, ia lantas menatap Dimas dengan tatapan yang.
"Aku-"
"Katakan dengan jujur, Anna. Kau tahu jika aku tidak suka kebohongan." Anna tidak menjawab, bibirnya kaku untuk berbicara tentang hal itu. Bagaimana ia harus menjawab?
Anna seketika gelisah, dia memegang perutnya sendiri karena dia takut. Apa yang harus dia katakan? Dimas menatapnya penuh menuntut akan semua jawaban dari dirinya.
"Aku tidak tahu."
"Aku tidak yakin dengan jawabanmu, dan katakan sejujurnya-"
"AKU BILANG AKU TIDAK TAHU KAKAK! AKU TIDAK TAHU!!" Dimas terdiam ketika mendapatkan jawaban itu, kenapa Anna menangis?
Pria itu memalingkan pandangannya ke arah lain, ia mendengar suara isakan tertahan dari adik perempuannya itu. Ia tidak menanggapi apa pun tentang itu, jawaban Anna bukan sepertinya yang ia harapkan.
"Sepertinya sudah cukup, berbicara dengan mu memang bukan ide yang bagus. Aku akan mengantar mu pulang." Ucapnya membuat Anna terdiam, apakah Dimas tidak mempercayai dirinya?
"Kakak-"
...•••...
Setelah sekian lama ia datang, pergi hanya untuk melupakan segalanya dan sekaligus ia harus melupakan masa lalunya yang buruk. Dia kembali lagi, memperbaiki segalanya yang seharusnya dia perbaiki sejak dahulu. Dia datang ke sebuah tempat swalayan yang pernah gadis itu bekerja di sana. Ia pikir dia masih di sana.
Namun, sepertinya tidak ada. Karena katanya gadis itu sudah tidak bekerja di sana lagi, mungkin karena ada seseorang yang mampu mencukupi gadis itu jadi dia tidak bekerja lagi. Ia membuang nafas panjang, sepertinya ia harus menemui gadis itu sendiri sekarang.
Mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang di sana, seharusnya di angkat tapi sepertinya pemilik nomor tengah sibuk sekarang ini. Ia merasa tidak enak sekarang, perasaanya berkata lain.
__ADS_1
"Tumben, biasanya tidak pernah seperti ini? Apa dia sibuk ya?" Ia berpikir demikian untuk menghilang perasaan anehnya sekarang, tapi dia berusaha terus menghubungi nomor itu. Ia hanya ingin bertemu saja, membicarakan masalah yang lalu dengan cara baik-baik.
Di sisi lain ponsel itu terus berdering, tapi tidak ada satu orang pun yang mengangkat ponsel itu. Suara teriakan bahkan suara mengerikan itu terdengar menutupi suara dering ponsel tersebut.
Pria itu tidak menyerah sama sekali, ia melihat sesuatu dari GPSnya jika letak ponsel itu masih di rumah yang sama. Mungkin ia harus menemuinya sekarang juga, jadi dia pun memutuskan pergi dari swalayan tersebut dan kembali pergi ke suatu tempat.
Mengendarai kendaraannya dengan perasaan cemas yang entah kenapa secara tiba-tiba saja muncul, ia berusaha berpikir positif selama perjalanan berlangsung. Sampai di mana dia sudah sampai di sebuah rumah, gerbangnya tertutup dengan satu penjaga di depan gerbang. Pria itu turun dari mobilnya, dia berjalan mendekat ke arah gerbang.
"Permisi, apakah Hana di rumah? Atau mungkin Satya di rumah?" Ia bertanya kepada satpam tersebut. Tapi raut wajah satpam itu seperti kebingungan menjawab pertanyaannya.
"Mereka tidak ada di rumah tuan, mereka baru saja pergi."
"Benarkah? Kira-kira pulangnya jam berapa?" Tanyanya sekali lagi, ia kurang yakin dengan jawaban satpam tersebut yang terdengar tidak meyakinkan.
"Saya tidak tahu, tuan. Maaf sekali lagi, sepertinya lain waktu anda kemari lagi saja." Ucapnya dengan raut wajah yang nampak gelisah. Tapi pria itu tidak banyak berpikir panjang.
Dia pun pergi, melangkah menjauh dari sana tapi dia sempat menoleh ke arah belakang di mana di sana ada mobil. Tentu saja mobil siapa lagi jika bukan milik Satya, ia hafal bagaimana mobil sahabatnya itu dan bahkan plat nomornya saja dia hafal.
Ia menatap ke arah layar ponselnya, GPSnya juga berada di rumah dan tentu saja menjelaskan segalanya. Sekarang Jeffry benar-benar khawatir.
'Apa memang ada yang disembunyikan seperti ini?'
Jeffry tidak tahu apa yang tengah terjadi, tapi ia hanya mendengar kabar buruk yang terjadi. Tapi dia tidak mempercayai semua itu karena ia yakin, orang sebaik dia tidak akan melakukan hal keji seperti itu.
"Mungkin aku akan menemuinya besok saja, dia pasti sibuk sekarang." Ucapnya walaupun tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
Jeffry pun memutuskan untuk pergi dari sana, dan siapa sangka jika ada seseorang yang mengintip dari jendela. Menatap tajam ke arah mobil itu seolah ia tidak suka ada orang yang mengusiknya, pria itu kembali menutup korden itu dan menendang seseorang yang berada di lantai, terkapar tidak berdaya.
"Apa kau masih berhubungan dengan Jeffry?" Tangannya bahkan tidak segan menarik rambut itu, tidak memperdulikan pemilik rambut tersebut yang sudah sangat kesakitan.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, ekspresi kesakitan sekaligus takut yang menjadi satu jelas terlihat di sana. Tapi sepertinya pria itu tidak perduli sama sekali, dia kembali menepis kepala gadis itu.
__ADS_1
"Jangan sampai kau menghubunginya lagi, jika aku sampai tahu kau masih berhubungan dengannya. Aku tidak akan segan untuk melukaimu, ingat itu!" Ucapnya dengan kasar, kemudian dia meninggalkan gadis itu di sana.
Dia menangis, memegangi kepalanya yang sakit bukan main. Bahkan rambutnya rontok berjatuhan di atas lantai bersamaan tetesan darah yang menyambut di sana, ia tidak bisa melakukan apa pun selain ia berharap kepada tuhan. Entah kapan semua itu akan berakhir.