
Hana melirik ke arah kamar yang sudah sejak tadi pagi tidak kunjung terbuka, suasana yang mendadak menjadi sunyi seperti ini membuat perempuan itu merasa khawatir. Hari ini, Johan tidak berangkat bekerja karena memang hari minggu dia tidak berangkat dan memilih istirahat di rumah untuk memulihkan tenaganya.
Perempuan itu terus memandangi pintu kamar itu, sampai di mana dia beranjak dari tempat duduk dan pergi ke dapur mengambil makanan yang masih hangat. Setelah itu dia pun menaiki anak tangga itu sendiri tanpa bantuan siapa pun, ia harap Johan tidak tahu akan hal ini. Dia akan marah jika tahu Hana nekat naik tangga tanpa pengawasan satu orang pun, tapi Hana bisa melakukan itu semua sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Dia segera melangkah ke arah kamar itu, di mana Jihan berada. Gadis itu terus mengurung dirinya sendiri di dalam kamar, Hana berniat mengantarkan sarapan yang bahkan tidak Jihan sentuh sejak pagi. Makanannya masih bisa di makan karena baru saja di masak 3 jam lalu.
Hana mengetuk pintu kamar itu, berharap jika Jihan akan membukakan pintu kamarnya untuk dirinya. Tapi sebuah kenyataan yang terbalik ketika tidak ada jawaban sama sekali.
"Jihan, tolong buka pintunya. Aku membawakan mu makanan, buka lah aku mohon. Kamu belum makan apa pun sejak semalam."
Tidak ada jawaban yang berada di dalam kamar. Sedangkan di satu tempat dia hanya duduk di atas lantai, menatap ke arah depan sampai suara notifikasi membuatnya mengalihkan pandangannya.
Dia memberanikan diri membuka ponselnya setelah hampir seharian tidak menyentuh ponselnya yang tergeletak di atas meja itu, dia membuka ruang chat dan berharap akan ada kabar baik. Tapi kenyataannya tidak seperti yang di harapkan sama sekali. Gadis itu tanpa sadar meneteskan air matanya sendiri, tanpa sadar dan dia benar-benar sudah hilang kendali atas emosionalnya sendiri.
Jihan menatap tanpa minat, walaupun tidak bisa di bohongi jika tatapannya sudah sangat putus asa akan semua ini. Ia berharap semua akan baik-baik saja, tapi tidak ada yang baik-baik saja selama ini. Ia terpuruk sendirian tanpa ada yang mengetahui akan keadaannya.
Tiba-tiba saja gadis itu tertawa, dia melempar ponselnya sampai terbanting menabrak kaca balkon cukup keras. Dia memegangi kepalanya sendiri yang sudah terasa berat, ia berharap semua hanyalah sebuah mimpi buruk saja.
__ADS_1
"Aku pasti bermimpi, tidak mungkin mereka meninggalkan aku secara bersamaan seperti ini..." Jihan benar-benar tidak tahan dengan semua ini, gadis itu sudah menangis lagi.
Dia tidak bisa menahan tangisannya lagi, ia sudah terlalu lelah menghadapi semua ini sendirian. Tidak ada yang memahami keadaannya atau bahkan sahabatnya sendiri yang begitu egois, justru mengatakan jika Jihan adalah orang egois.
Di mana letak ke egoisan Jihan sekarang? Apakah dia memukulnya karena tidak memberi tahu hubungan tersembunyi itu? Tidak, Jihan hanya diam tidak mengatakan apa pun dan memilih tidak berkomentar.
Padahal di sisi lain Jihan sudah tidak bisa merasakan apa pun lagi. Hatinya susah benar-benar hancur, rumah di mana biasanya tempat Jihan pulang sekarang sudah hancur dan semua meninggalkan dirinya. Jihan menatap ke arah cermin, menatap dirinya sendiri yang tengah dalam keadaan kacau sekarang.
Gadis itu menatap ke arah lain, di mana ia melihat pelindung layar ponselnya pecah berkeping-keping. Dia mengambil serpihan kaca itu, menggoreskannya ke arah tangannya tanpa rasa sakit sama sekali.
Bukannya sebuah hal gila yang dirinya lakukan, Jihan hanya mau mengalihkan rasa sakit di hatinya ke arah sakit fisik di mana lukanya nyata bisa dia lihat. Goresan yang sekian kali, tetesan darah mulai keluar mengalir tanpa hambatan.
Jihan bersandar di sisi ranjang, tidak ada tujuan lain yang harus dia capai sekarang. Semua sudah hancur, keluarganya yang sudah entah pergi kemana tanpa mengharapkan kehadirannya dan sahabat yang menghianati dirinya tanpa Jihan sadari sendiri.
"Aku memang seharusnya tidak ada, untuk apa aku hidup di sini?"
Sedangkan di tempat lain, Hana mencoba mengetuk pintu Jihan berulang kali tapi tidak ada jawaban apa pun. Mendadak perasaan Hana tidak enak, ia terus berdiri di sana sampai tanpa dia sadari Johan keluar dari kamar.
Pria itu melihat Hana yang berdiri di depan kamar sepupunya dengan nampan makanan yang dia bawa, apa Jihan belum menyentuh makanannya? Johan memutuskan untuk menghampiri perempuan itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Jihan belum makan?"
__ADS_1
"Dia tidak menyentuh sarapannya sama sekali, sejak tadi pagi dia tidak keluar dari kamarnya. Aku khawatir, Johan. Jihan pasti tengah dalam masalah." Johan tidak tahu apa yang terjadi, dia mencoba membuka pintu itu tapi tidak bisa.
Ia berusaha berpikir, dia mengetuk pintu Jihan berulang kali tidak ada jawaban apa pun. Sampai di mana dia memilih mendobrak pintu itu, di bantu oleh dua bodyguardnya yang lain dan pada akhirnya pintu terbuka walaupun harus rusak.
Hana masuk ke dalam, melihat suasana kamar yang gelap sekaligus sunyi membuatnya ketakutan. Perempuan itu melangkah maju, bersamaan dengan Johan yang berada di belakangnya mengawasi.
"Jihan, kamu baik-baik saja? Jihan-" Nampan yang Hana bawa tiba-tiba saja terjatuh, perempuan itu terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang.
Johan pun berlari ke arah Hana dan melihat apa yang perempuan itu lihat. Pria itu menggelengkan kepalanya tidak percaya, dia langsung menyuruh para bodyguard untuk membuka pintunya lebar-lebar. Johan mengangkat keadaan Jihan yang sudah tidak sadarkan diri dengan luka di tangannya.
Hana tidak bisa membayangkan bagaimana bisa ini semua terjadi, wajah pucat itu. Seolah dejavu untuk dirinya sendiri, Hana tidak bisa bergerak sekarang ketika melihat keadaan Jihan yang sekarang.
"Tetaplah di rumah, jangan khawatir. Aku akan segera memberikan kabar, aku akan menyuruh Steven datang kemari untuk menjaga mu."
"Johan-"
"Ini demi kebaikan mu, Hana. Aku akan kembali." Johan membawa Jihan ke mobil, membawa sepupunya itu pergi ke rumah sakit.
Tetesan darah yang menjadi jejak di setiap lantai yang ada, Hana mendadak terdiam membeku. Ini sama seperti kejadiannya saat itu, perempuan itu menatap ke segala arah di mana ia menatap ke arah seluruh sudut kamar. Dia menatap ponsel yang sudah hancur dengan layar yang sudah rusak. Tapi masih bisa menyala.
Perempuan itu mengambil ponsel yang sudah nyaris hancur itu, mencoba menyalakan ponsel itu. Entah apa yang terjadi sekarang, tapi ia melihat isi chat yang membuatnya seketika sakit hati.
__ADS_1
"Kenapa Jihan tidak cerita tentang ini? Dia hanya diam..." Hana tidak menyangka jika masalahnya akan sebesar ini. Perempuan itu menatap ke arah banyaknya darah yang mengalir di sana.
"Ini sama seperti waktu itu..."