Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 34


__ADS_3

Langkah kakinya yang di iringi oleh seseorang tanpa Hana sadari sendiri, mungkin dia terlalu mendengarkan lagu yang ia setel dari ponselnya. Kedua telinganya yang terpasang headset untuk mengabaikan semua orang, Hana sudah terlalu lelah untuk mendengarkan orang-orang berkata sesuatu kepadanya. Hana hanya mau menenangkan pikiran saja, selebihnya itu ia tidak tahu harus apa.


Gadis itu masuk ke dalam toko dan menyapa karyawan yang lain yang tengah bersih-bersih toko, karena barang stok sudah datang dan mereka juga harus menata semua barang itu, entah yang akan di jual atau barang untuk persediaan saja. Tidak setiap hari membeli barang, hanya perlu dua minggu sekali atau bahkan jika begitu ramai tidak sampai dua minggu beberapa barang sudah habis.


Itu tergantung musimnya memang, tidak semua kebutuhan toko itu punya. Terbatas apa lagi itu juga hanya toko kecil, yang memang sengaja buka di sana karena melihat peluang di mana banyak orang lewat.


"Selamat pagi!"


"Pagi Hana!" Semua begitu menyapa Hana dengan baik, mungkin Hana akan merasa tidak ada masalah jika sudah berada di tempat kerja. Beberapa masalah yang setidaknya ia lupakan beberapa saat saja.


Hana mulai bekerja membantu yang lain, beberapa membereskan dan ikut mengangkat kardus-kardus barang yang akan di simpan di gudang. Semua sudah bersih, tidak terlalu lama mereka bertiga menyiapkan semua itu karena kerja sama semua jadi mudah.


"Lumayan, mulai kerja masing-masing." Ucap Bian dan kemudian pria itu pun berjalan ke arah di mana ia bertugas.


Sedangkan gadis yang merupakan saudara Bian itu memilih untuk memeriksa barang yang habis lagi, siapa tahu masih ada atau terlupakan?


Hana? Dia memeriksa barang yang sudah datang yang mana saja. Semua pekerjaan berjalan dengan lancar tanpa hambatan seperti biasa, ketika makan siang mereka gantian untuk mempersingkat waktu saja. Tapi entah hari ini Hana sangat tidak nafsu makan, gadis itu membiarkan kedua temannya makan sedangkan Hana menjaga kasir.


Gadis itu menjaga kasir dan melihat kedua temannya makan, tidak masalah dan lagi pula Hana tidak ingin makan untuk hari ini. Hana hanya diam sampai pelanggan datang ia menyambut dengan ramah dan melayani pelanggan dengan baik.


......•••......


Kampus nampak begitu ramai, mungkin karena sepertinya kelas yang di hadiri dalam waktu bersamaan. Di tambah lagi persiapan lomba basket yang akan datang nanti, pasti akan banyak orang di kampus karena ada kampus dari luar juga. Anggap saja sebagai tuan rumah.


Kelas Hana merencanakan untuk membuat sebuah bazar, tentu saja untuk memeriahkan acara juga agar tidak terlalu sepi. Suporter juga butuh energi untuk mendukung jagoan mereka bukan? Tentu saja, teriak juga butuh tenaga ekstra.

__ADS_1


Tidak hanya kelas psikologi saja, kelas fakultas lain juga membuat bazar dengan tema yang berbeda-beda. Agar lebih berwarna dan kreatif, beberapa membuat bazar unik atau bahkan sebuah pameran memungkinkan peluang usaha juga.


Kalau fakultas psikologi membuat bazar cake, makanan manis dan juga kopi. Mereka hanya memberikan sebuah pencerahan, karena makanan manis membuat mood seseorang naik. Katanya, tapi beberapa orang membuktikan jika itu benar adanya tapi tidak semua orang berhasil.


"Hana jago masak loh, bagaimana jika buat cakenya secara live. Biar waktu di makan masih anget gitu, kan enak. Ya gak?" Saran Ayu, gadis itu berpikir demikian. Mengapa dia menunjuk Hana untuk jadi koki? Tidak salah juga, Hana juga pandai memasak.


"Hana bisa masak?" Tanya Wildan, sama-sama fakultas psikologi hanya saja dia berbeda angkatan saja.


"Bisa kak."


"Bagus, kita rencanakan saja dulu. Acaranya kurang 2 hari lagi, kita juga harus menyiapkan tenda juga buat jualan. Menyiapkan alat 1 sebelum acara, dan langsung sebelum ramai kita buat adonan cakenya dulu. Jadi kalau udah lumayan ramai baru buat cakenya. Gimana setuju?"


"Setuju!"


"Kak Wildan ide bagus!"


Wildan begitu senang ketika idenya banyak yang suka. Ia melirik ke arah Hana, gadis itu hanya diam sejak tadi. Siapa Wildan? Dia adalah salah satu teman Dimas yang begitu sibuk urusan pendidikan, maka dari itu dia jarang bergabung dan dia juga salah satu yang tahu jika Hana adalah adik kandung Dimas.


Mengapa di rahasiakan? Bukan di rahasiakan, musuh Dimas banyak. Jika saja mereka semua mengetahui kalau Hana adalah adik kandung Dimas, justru akan bahaya dan apa lagi Hana perempuan. Ada sebuah kejadian beberapa tahun lalu yang membuat Dimas trauma, maka dari itu ia tidak menyebarkan berita itu.


Setelah mereka membuat rencana akan bazar yang mereka buat esok hari. Membuat berbagai rencana sebenarnya, dari bentuk tenda bagaimana, membawa alat apa saja, cake jenis apa saja yang di jual, sampai beberapa jenis kopi yang akan di jual sampai krim yang cocok apa.


Begitu banyak yang harus direncanakan, bahkan semua mahasiswa begitu antusias. Bagaimana dosen? Mereka hanya menyiapkan beberapa keamanan, membentuk kelompok keamanan dan juga tim ruang medis. Siapa tahu ada sesuatu yang tidak di inginkan, waspada itu tidak apa selagi itu baik.


"Setelah ini, ada bagian yang belanja."

__ADS_1


"Aku sama Hana ya kak!" Aca menaikan tangannya dengan semangat, ia suka berbelanja apa lagi makanan walaupun tidak pintar memasak.


"Boleh, tapi saya harus ikut kalian. Mengawasi juga, patungan dulu buat kebutuhannya ya." Hana hendak mengeluarkan uang, tapi di tahan oleh Wildan. Pria itu memberikan isyarat agar Hana menyimpan uangnya saja.


"Tapi-"


"Biar kakak saja yang bayar buat kamu, simpan saja uangmu itu." Wildan mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang dua kali lipatnya.


Hana merasa tidak enak hati kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa Wildan membayarkan jatah yang seharusnya Hana bayar? Tapi mungkin Hana tidak tahu, jika Wildan tahu segalanya.


"Sudah terkumpul dan udah pas, jadi setelah kelas selesai. Aca sama Hana, satu orang lagi siapa?"


"Saya kak!"


"Oke, Tiara." Gadis itu tersenyum riang dan lalu duduk di antara Hana sekaligus Aca, memeluk kedua gadis itu dengan senang hati. Hana hanya tersenyum, sedangkan Aca bertambah girang membalas pelukan tersebut.


Wildan yang melihat itu hanya terkekeh pelan, ia melihat data lagi dan memeriksa kebutuhan bazar yang akan mereka siapkan nanti. Tidak begitu banyak dan lagi pula hanya makanan saja.


"Baiklah, bubar ya. Masuk ke kelas masing-masing, yang tim belanja tadi setelah selesai kelas. Kumpul saja di parkiran, nanti saya susul."


Mereka mengangguk secara bersamaan, dan kemudian bubar satu persatu. Bersama dengan Hana dan Aca juga kembali ke kelas mereka.


Tapi ketika mereka tengah berjalan sambil mengobrol ria, dua pasangan melewati mereka berdua dan Hana tidak sadar ketika melihat itu. Anna bersama Satya? Hana menoleh, tentu saja jangan lupakan Aca juga yang kenyataannya dia masih suka dengan Satya.


"Apa itu?" Hana tidak menjawab pertanyaan Aca, ia hanya diam dan mematung bagaikan mahkluk mati. Ia tidak menyangka akan terjadi lagi, Hana sudah menduga. Anna tidak akan membiarkannya hidup tenang walaupun satu detik.

__ADS_1


__ADS_2