Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 41


__ADS_3

Acara pernikahan berlangsung dengan lancar, acara di mana Theo harus pergi karena ia juga ada urusan lain dan ia juga punya alasan lain mengapa ia memilih untuk pergi saja dari pada harus bertahan. Pria itu menaiki panggung dan menghadap ke arah Hana, gadis itu menatapnya itu membuatnya tidak bisa berkata-kata, sampai tatapan tajamnya bertemu dengan Satya yang menatapnya dengan datar.


"Kau mau pulang?" Tanya Satya, karena sepertinya Theo punya banyak urusan yang harus di selesaikan selain datang ke acara pernikahannya.


"Ya, aku akan pulang dan aku ingin bicara denganmu sebentar saja."


"Di mana?"


"Tidak perlu ke tempat lain, aku akan mengatakannya di sini." Ucapnya dan ia lantas membisikan sebuah kalimat, di mana kalimat itu membuat Satya seketika terdiam bahkan sepertinya ia enggan menjawab ucapan Theo.


Sedangkan Hana tidak tahu apa yang terjadi, ia bahkan tidak mendengar apa yang dua pria itu katakan secara pribadi, sepertinya Hana tidak perlu ikut campur.


Sampai di mana Theo sudah merasa selesai dengan kalimatnya, ia menepuk bahu Satya dan kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu teman-temannya yang lain selesai dengan acara.


Theo pergi, dia benar-benar pergi dari acara dan tentu saja semua sudah tahu tapi yang mereka tidak tahu adalah alasan, mengapa Theo pergi begitu cepat? Tidak ada yang aneh, walaupun seharusnya mereka tahu jika sebuah suasana yang paling Theo benci adalah tempat yang ramai dan kali ini bukan hanya satu alasan, dua alasan lainnya hanya dia simpan sendiri.


Satya menatap kepergian Theo yang mulai menghilang dari acara, sampai ia menoleh ke arah Hana. Gadis itu juga hanya diam tidak banyak bicara apa-apa kecuali jika dia di sapa atau mungkin di ajak bicara, dia akan menjawab. Ia agak benci dengan ini, mungkin ucapan Theo semua adalah kenyataan. Untuk apa dihindari? Tanpa Satya ketahui juga beberapa orang juga sudah tahu semuanya tanpa harus Satya sebarkan.


Di sisi lain, Anna melihat ke arah panggung di mana kembarannya dan kekasihnya tengah bahagia di atas sana. Senang? Ayolah jangan bertanya, dia tidak akan pernah senang akan semua ini.


Walaupun ia tahu betul tentang Satya yang tidak mencintai Hana karena sebuah alasan, jika saja Satya tahu bagaimana Anna mungkin pria itu akan jauh memilih Hana. Anna juga sadar jika derajatnya dengan Hana berbeda jauh, bahkan dari segi kepintaran jelas Hana pemenangan. Siapa yang diberi pertanyaan dan di suruh memilih, mungkin mereka akan memilih Hana ketimbang Anna.

__ADS_1


Jelas sekali bukan, Anna iri dengan Hana yang di sayang oleh banyak orang. Padahal mereka itu kembar, harusnya seimbang dan apa yang Hana miliki wajar jika Anna juga memiliki.


Tapi pemikiran Anna salah besar, maupun lahir dengan bersamaan dengan orang tua yang sama. Takdir tetap berbeda, jodoh pun tentu saja berbeda dan jalan hidup adalah masing-masing. Tidak pasti jika kembar harus sama semua, itu pemikiran konyol.


Melihat Hana begitu dikenal banyak orang membuat Anna merasa iri lebih, gadis itu tidak suka jika Hana tersenyum seperti itu bahkan begitu banyak anak laki-laki yang mengenal Hana.


'Tidak, harusnya yang di posisi itu adalah aku. Bukan anak sialan itu.'


"Hana, sungguh aku tidak menyangka jika kamu akan menikah dengan Satya. Tapi, selamat ya semoga kalian bisa akur terus, jangan lupa ponakannya juga ya." Mungkin itu adalah sebuah salah satu candaan, mereka menganggap demikian.


Tapi diam-diam Hana sadar diri jika ia tidak akan seperti itu, Hana juga sadar jika kehidupannya tidak akan semulus itu atau bahkan percuma saja jika Hana banyak merencanakan sekaligus berharap, karena kedepannya tidak akan seperti apa yang dipikirkan.


Mereka memuji berapa cocoknya Satya dengan Hana saat ini, tentu saja siapa yang tidak iri dengan pasangan itu? Tampan dan cantik, semua sama-sama pintar dan populer dengan cara yang berbeda. Mereka bergurau, tapi saat itu Hana di buat terkejut dengan tangan Satya yang merangkul pinggangnya seraya tersenyum ke arah teman-temannya.



Sedangkan pria itu tanpa dosa menatapnya sekilas dan kembung bergurau dengan semua teman-temannya, seperti ini lah kehidupan gerombolan anak laki-laki. Hana baru tahu sekarang, mereka banyak bergosib.


"Kalian semakin menempel saja, tenang saja. Mana mungkin kami merebut istrimu ini. Walaupun cantik sih." Ucap Jay, pria itu mengatakan apa adanya tapi justru dia mendapatkan pukulan di kepalanya oleh Juan.


"Jaga ucapanmu itu."

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, kenapa serius sekali?" Mereka bergurau terus sampai, entah sampai kapan tapi Hana hanya diam saja dan sesekali menanggapi dengan senyuman ketika salah satunya menggoda.


Ketika satu persatu dari mereka mulai pulang dan tersisa hanya beberapa saja, Satya masih merangkulnya dengan posesif tapi semua kejadian di mana Satya mendekat ke arah telinga gadis itu dan mengatakan sesuatu yang membuat hati Hana seketika terluka, sekaligus Hana sadar diri.


"Jangan dimasukan ke hati, aku seperti ini agar sandiwara ini tidak terbongkar." Ucapnya dan kemudian ia kembali memasang senyuman sebelumnya.


Hana hanya mengangguk, walaupun ia sudah terlanjur merasa jika Satya akan menerimanya. Semua sudah lenyap, memang seharusnya Hana tidak perlu mencari harapan palsu seperti itu.


Gadis itu hanya diam, ia menerima apa yang Satya lakukan kepadanya. Meskipun di dalam hatinya masih ada sebuah harapan besar, ia berharap jika Satya akan berubah tapi entah kapan semua itu akan terjadi, rasanya mustahil jika terjadi.


...•••...


Acara mulai selesai, Hana merasa jika badannya semakin lemas dan tidak ada tenaga lagi. Gaun yang ia pakai juga berat, menyulitkannya untuk berjalan ke mana saja. Tidak bebas untuk pergi kemana pun.


"Hana, kamu istirahat saja dulu. Kamu lelah bukan? Ke kamar ya, nanti bunda suruh Satya buat-"


"Maaf sebelumnya, tapi saya tidak apa-apa." Ucap Hana, ia tidak bermaksud apa pun dan Hana tidak mau merepotkan orang lain walaupun Satya adalah suaminya, suami di atas kertas.


"Tidak apa, dia suami kamu. Biar bunda yang mengurus acaranya, kamu tidur saja ya. Bunda juga sudah siapkan kamar hotel buat kalian berdua juga, jangan lupa istirahat ya." Ucap wanita paruh baya itu seraya mengusap rambut Hana, membuat gadis itu agak terdiam sekaligus terkejut. Tidak pernah ia rasakan hal semacam ini, tapi dia berusaha tetap tersenyum.


"Iya, Terima kasih."

__ADS_1


"Panggil aku, bunda. Oke?" Hana mengangguk, ia begitu senang ketika ia seharusnya tidak melakukan semua ini. Tapi di balik semua kesulitannya ia mendapatkan apa yang tidak pernah Hana dapatkan sebelumnya.


'Apa ini rasanya di sayang oleh seorang ibu? Menyenangkan sekali.'


__ADS_2