Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 36


__ADS_3

Berada di sebuah pusat perbelanjaan, mereka berempat tengah memilih bahan makanan yang akan mereka jadikan sebagai cake yang akan mereka jual di bazar nanti. Wildan dan Akbar tengah mendorong troli sedangkan tiga gadis yang tengah di depan mereka memilih bahan makanan.


Hana juga memilih beberapa bahan makanan yang di butuhkan, ia memilih tepung sampai semua perlengkapan yang ada yang di mana itu akan dibutuhkan nanti.


"Sudah lumayan banyak, masih ada lagi?" Tanya Akbar kepada yang lain, tapi sepertinya benar jika troli sudah melebihi buatan. Padahal mereka mengambil troli berukuran besar dan tentu saja muat banyak barang.


"Sepertinya sudah cukup." Ucap Aca, gadis itu sudah mulai paham dengan bahan makanan dan ia akan belajar lagi. Ingat, sudah tidak terlalu suka dengan pria itu. Tahu lah siapa orang yang dimaksud itu.


"Baiklah, periksa lagi dan setelah itu kita bayar. Antri kasir lumayan panjang."


"Oke, mari kita ke kasir."


Mereka pun pergi ke kasir, sedangkan Wildan akan menyiapkan uang yang diperlukan untuk membayar belanjaan mereka. Sepertinya sudah banyak dan sudah seperti apa yang dibutuhkan nantinya.


...•••...


Hana masuk ke dalam apartemen dan ia tidak menemukan satu orang pun di dalam sana, entah kenapa? Dan tidak ada Dimas di dalam apartemennya. Ia tidak tahu kemana Dimas pergi dan dengan siapa? Tapi ia berusaha agar tidak terlalu ikut campur dengan urusan Dimas karena bukan urusannya juga.


Sampai gadis itu memilih untuk masuk ke dalam kamar saja, ia sudah cukup lelah dengan kegiatan hari ini. Tapi belum saja ia masuk ke dalam kamar, suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya.


Ternyata itu Dimas, pria itu menatapnya dengan tatapan tajam dan menghampiri adiknya itu. Tanpa aba-aba pria itu menampar pipi Hana, tanpa kata-kata apa pun yang keluar dari bibirnya.


Sedangkan Hana yang mendapatkan tamparan keras itu hanya diam, ia diam dan benar-benar tidak memiliki sebuah kalimat apa pun. Merasakan pipinya terasa panas dan perih, sekian lama ia tidak menerima tamparan itu dan sekarang mengejutkan karena pelakunya adalah kakaknya sendiri.


"Apa maksudmu dengan menerima perjodohan itu? Aku sudah bilang jangan diterima!" Suara bentakan itu seketika masuk ke dalam telinga Hana secara mengagetkan.


Gadis itu diam, ia menoleh dan menatap ke arah Dimas dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus menjawab apa, itu keputusan Hana dan untuk apa? Bukannya Dimas hanya kasihan dengan Hana saja, kenapa dia melarang Hana untuk menerima perjodohan itu?

__ADS_1


"Itu keputusan ku."


"LALU APA KEPUTUSANMU ITU SUDAH BENAR SIALAN! KAU-"


"Kenapa kakak yang marah? Bukannya kakak tidak akan perduli? Untuk apa?" Hana hanya mengatakan apa yang ia pikirkan saja. Sisanya ia tidak memperdulikan apa pun, padahal ia juga memikirkan bagaimana perasaan Dimas nanti.


Tapi melihat sikap Dimas akhir-akhir ini memang membuatnya tidak habis pikir. Semenjak pria itu memiliki kekasih dia sering lupa dengan Hana bahkan dia juga sering berkata dengan nada tinggi kepada Hana di mana semua itu tidak pernah terjadi sepanjang hidup. Percaya atau tidak, sebenarnya Hana masih tidak menerima semua itu.


Dimas berubah membuatnya semakin enggan tinggal bersama pria itu lagi, meskipun Dimas adalah kakak kandungnya. Apa pria itu sudah lupa akan keadaan? Hana tidak masalah jika Dimas memiliki kekasih atau bahkan yang lainnya, Hana tidak perduli. Ia juga hanya mau Dimas bahagia saja, itu susah cukup.


Tapi kenyataannya Dimas berubah karena alasan sepele itu, kenapa Hana begitu menyepelekan segala hal di sisi ia juga menanggung resiko yang ada?


"Lebih baik kakak istirahat, karena seminggu ke depan acaranya akan di mulai." Dimas tidak paham dengan apa yang Hana katakan, otaknya sudah cukup banyak berpikir.


"Acara apa maksudmu?"


Dimas terdiam di saat itu juga, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi karena di sisi lain Hana menjadi korban keegoisan keluarganya untuk sekian kali. Entah apa pun alasannya Dimas tidak akan menerima semua itu. Ia tidak akan menerima.


Sampai ponselnya berdering membuatnya mengangkat telponnya, ternyata adalah Key. Kekasihnya yang sudah lumayan lama menemaninya selama ini, sekilas ia menatap pintu kamar Hana yang tertutup dan kemudian dia pergi dari apartemen lagi.


Sedangkan di dalam kamar, Hana hanya berdiri mematung. Ia memegang pipinya sendiri yang masih terasa perih akan tamparan yang Dimas berikan kepadanya.


Seketika di saat itu ia menangis, bahkan kakinya tidak dapat menahan beban badannya sendiri sehingga gadis itu berakhir terjatuh begitu saja di atas lantai dengan tangisan kencang.


Memegang dadanya sendiri yang sudah terasa sesak dan sakit, nafasnya tidak bisa di kontrol. Tapi yang lebih menyakitkan adalah sikap Dimas yang berubah kepadanya secara drastis.


"Apa dosa ku sampai kau memberikan semua cobaan ini kepada ku?"

__ADS_1


...•••...


Theo baru saja masuk ke beskem dan ia sudah di sambut teman-temannya yang tengah bahagia, entah bahagia karena apa sekarang?


"Baru saja datang? Kau sudah tahu sebuah berita bahagia?" Ucap Juan yang tengah memegang sebuah kertas yang entah apa kertas itu sampai membuat semuanya begitu bahagia bahkan termasuk Satya yang di bilang jarang tersenyum.


"Apa?"


"Satya akan menikah, bahagia bukan?" Theo tidak tahu apa maksudnya, tapi ia segera menerima kertas undangan itu yang tertulis nama seseorang yang membuatnya terkejut bukan main.


"Maksudnya?"


"Satya akan menikah dengan Hana." Theo masih tidak percaya, anggap saja ia masih dalam keadaan tidak sadar. Pria itu masih kebingungan membuat Juan merasa heran.


"Hana-"


"Hana anak fakultas psikologi." Seketika Theo terdiam, ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang mendadak hancur.



Pria itu terdiam, ia bahkan terus menatap ke arah undangan itu dengan tatapan tidak dapat dijelaskan bagaimana. Tapi di pastikan jika sekarang ia merasa lebih hancur dari pada tahun lalu. Theo menatap temannya sendiri yang tidak lain adalah Satya, dia nampak bahagia bahkan tertawa ketika membagikan undangan pernikahannya kepada yang lain.


Yang membuat Theo tidak percaya, bagaimana bisa begitu tiba-tiba? Padahal sebuah ini Satya tidak dekat dengan Hana, jangankan menyapa mengobrol saja tidak pernah melihat. Bagaimana bisa?


'Ini pasti mimpi bukan? Tidak mungkin.'


Ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya dan melihat apa isi pesan tersebut, semakin membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Pria itu langsung pergi dari beskem dan kemudian ia pun segera ke suatu tempat dengan mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Keberadaan Theo yang tiba-tiba saja menghilang membuat yang lain merasa ada yang aneh. Sedangkan Surya yang tengah duduk di sofa seraya menatap undangan tersebut, ia menoleh ke arah kemana Theo pergi. Seolah dia tahu sesuatu yang mungkin tidak pernah siapa pun mengetahui apa itu.


__ADS_2