Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 147


__ADS_3

Sesampainya di sekolah, Jack terus mengikuti saudaranya itu ke mana saja. Entah sampai kapan harus begitu? Dia tidak lelah atau merasakan hal semacamnya, sepertinya tidak.


Jeano benar-benar tidak bisa melakukan apa pun atas semua yang sudah saudaranya itu lakukan, sebenarnya ia tahu jika Jack tengah mengikuti dirinya dan bahkan memperhatikan dari jauh. Tapi karena ia sudah terlalu lelah dengan kegiatan belajar membuatnya mengabaikan Jack, terserah apa yang Jack lakukan sekarang. Ia tidak perduli sama sekali.


Jack terus memperhatikan Jeano, kembarannya itu tengah berada di perpustakaan. Tidak tahu ada apa dengan saudaranya itu bisa sangat betah di dalam ruangan yang paling di hindari banyak orang itu? Apakah karena bundanya suka perpustakaan jadi Jeano mengikuti? Tidak tahu, apakah itu alasannya atau tidak.


Tapi yang penting, ia ingin tahu apa yang saudaranya itu lakukan selama jam pelajaran. Tapi siapa sangka jika ada orang lain di belakang Jack, dan dia tidak menyadari akan itu.


Secara tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan memukul Jack, tanpa alasan yang jelas. Suara gaduh itu mengundang Jeano untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi di sana.


Tapi di tempat lain, Jack sudah tersungkur di lantai. Dia melihat 4 orang di depannya yang tengah mengerumuni dirinya, salah apa dirinya sekarang?


"Apa maksudmu?!"


"Bukannya aku yang harus mengatakan itu? Mau kurang kerjaan apa sampai mengerjai ku?!"


"Aku tidak melakukan itu! Dasar fitnah." Jack mencoba menyangkal, ia benar-benar tidak tahu akan permasalahan itu. Di mana sebuah masalah, anak itu kepedasan saat tengah makan siang dan sup yang dua makan mengandung cabai, dan berakhir harus sakit perut. Tapi sungguh bukan perbuatan Jack.


Di saat anak itu hendak menghajar Jack, tiba-tiba saja seseorang datang menahan tangan anak itu untuk mencegah dia memukul Jack lagi. Jack tidak tahu apa yang terjadi di depannya, tapi ketika ia mendongak mendapati.


"Jeano?" Saudaranya sudah berada di sana, mungkin tatapannya sudah sangat tidak ramah itu.


"Jangan ikut campur kau, jika kamu tidak mau ikut dalam masalah ini."


"Merepotkan, untuk apa? Berhenti membuat kegaduhan atau aku laporkan penjaga perpus di sini." Tangan Jeano di tepis dengan kasar oleh anak itu, tidak ada yang perlu di permasalahkan sekarang. Itu adalah kecerobohannya sendiri, kenapa menyalahkan orang lain?


"Sudah ku bilang jangan ikut campur!" Baru saja pukulan itu akan melayang ke arahnya, terlebih dahulu Jeano menghindar dan memukul wajah anak itu dengan buku di tangannya.

__ADS_1


Terjadilah pertengkaran di sana, dan Jack tidak bisa bergerak karena ia terpaku dengan apa yang saudaranya lakukan sekarang, ia pikir Jeano tidak perduli kepadanya. Tapi lihatlah siapa yang tengah bertengkar dengan orang lain karena melindungi Jack? Siapa?


...•••...


"Terimakasih ya, Jeano. Dan saya juga minta maaf selaku wali kelas mereka, gara-gara mereka muka kamu-"


"Tidak apa." Jeano memalingkan pandangannya ke arah 4 anak nakal tadi. Mereka enggan menatap ke arah Jeano, entah karena mereka semua takut atau memang pada dasarnya mereka malas.


Jeano tidak menunjukan reaksi apa pun, setelah dia menceritakan kronologinya dan meminta maaf kepada Jack yang sempat di pukul tadi. Terlalu keras pukulan mereka sampai-sampai bibir Jack terluka, jujur saja Jeano marah tapi dia masih menahan diri karena masih di lingkungan sekolah.


Ia hanya merasa heran saja, mereka semua ini masih berada di sekolah dasar. Bagaimana bisa sudah bisa memukul orang lain dengan alasan yang sama sekali tidak jelas? Tidak tahu apa akan mereka lakukan lagi ke depannya. Mungkin sekarang masih bisa di cegah, tapi tidak tahu apakah esok hari bisa atau tidak.


Jeano pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan di ikuti oleh Jack. Dia menarik tangan saudaranya itu membuat dia berhenti melangkah.


"Kau menolong ku?"


"Jangan percaya diri, suara kegaduhan mengganggu." Jeano menjawab dengan singkat dan kemudian dia pun pergi meninggalkan Jack berdiri di sana, hanya menatap punggung saudaranya itu perlahan menjauh dan kemudian menghilang.


Di tempat lain Jeano berjalan ke arah kelas, tapi tiba-tiba saja seseorang berdiri di depannya atau lebih tepatnya seorang siswi yang berada di sana. Ia tidak tahu dengan itu, berniat akan melewatinya tapi.


"Ini untukmu." Suara itu membuatnya menoleh, mendapati gadis itu memberikan sesuatu kepadanya. Jeano hanya menatap tanpa ada niat mengambil barang itu, padahal itu pemberian orang lain.


"Bawa kau saja, aku tidak butuh." Jeano berjalan berlalu begitu saja, dan lagi-lagi dia memperdulikan orang lain yang berada di sekitarnya sama sekali.


Gadis itu yang berawal hanya menunduk, sekarang ia mendongak dan menatap ke arah Jeano yang pergi meninggalkan dirinya. Ia tahu semua ini memang tidak wajar dilakukan anak-anak, tapi apa salahnya jika memberikan sebuah barang yang sangat istimewa kepada seseorang yang istimewa juga?


Sampai seseorang menepuk bahunya, dia menoleh dengan raut wajah terkejut. Ia melirik ke arah nama tag, Jack. Gadis itu kurang bisa membedakan tapi ketika melihat bola mata coklat itu ia mulai yakin.

__ADS_1


"Apa itu?" Dia langsung menyembunyikan barang itu di belakang badannya, padahal percuma saja karena Jack juga sudah melihat.


"Tidak ada, untuk apa kau di sini?" Jack melihat ke arah ke mana saudaranya pergi, dan kembali menatap ke arah gadis itu.


Dia sering melihatnya, tengah memperhatikan Jeano. Walaupun memang tidak secara terang-terangan seperti yang lain, dia masih malu mungkin. Jack melihat nama tag siswi itu, dan kemudian tersenyum.


"Boleh aku membantumu? Linda?"


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu kau sudah susah payah mencari barang yang bagus untuk diberikan kepada Jeano, jangan buat usahamu sia-sia begitu saja." Sangat berbeda jauh, Jack memang jauh lebih ramah dan murah senyum. Bahkan aura yang dia keluarkan juga sangat menyenangkan, tapi entah kenapa ia justru malah suka dengan Jeano yang jelas tidak pernah melirik dirinya.


"Tapi-"


"Walaupun kita tidak saling mengenal, apa kau bisa percaya kepadaku?" Linda masih kurang yakin, apakah ia harus percaya dengan Jack atau tidak?


"Apakah dia akan menerima ini? Aku sering melihat dia membuang banyak hadiah dari yang lain, bahkan jauh lebih bagus dari pada punya ku..." Jack tidak bisa menjawab dengan kalimat apa pun, karena apa yang Linda katakan benar.


Jeano memang sering membuang banyak barang-barang itu, dia menganggap semua barang itu tidak ada yang berguna dan hanya akan menjadi sampah saja. Walaupun Jack sudah mencoba mencegah, tapi kenyataan lain ketika Jeano sudah melempar semuanya ke tong sampah. Antara percaya dan tidak, Jack terkadang tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan yang lain.


Mungkin Jeano tidak memikirkan orang lain, tapi justru Jack yang memikirkan perasaan orang lain. Seperti sekarang, ia paham akan ketakutan yang Linda rasakan. Di buang seperti sampah, semua itu sangat tidak menyenangkan sama sekali.


"Aku akan berusaha agar dia mau menerima hadiah mu, aku berjanji." Jack akan berusaha dan semua perkataannya itu membuat Linda terkejut.


Bagaimana bisa Jack bisa seperti ini? Dia bahkan rela membantu Linda yang bahkan mereka berdua tidak saling kenal sebelumnya. Mungkin rumor itu benar, Jack sudah seperti satu raga yang terpisah.


"Apa bisa?"

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan berusaha untukmu." Senyuman itu, membuat Linda juga tersenyum dengan senyuman lebar dan penuh semangat.


"Terimakasih, Jack."


__ADS_2