
"Tidur saja jika kamu masih lelah." Ucap Johan, dia menata barang-barang ia bawa dari rumah. Sebenarnya tidak terlalu banyak karena tidak akan lama di Indonesia, cepat atau lambat mereka berdua juga harus kembali ke Australia.
Tapi Johan juga tidak akan memaksa Hana ikut dengannya, lagi pula di sini juga ada Dimas dan juga teman-temannya yang pasti akan menjaga Hana dengan baik selagi ia tidak ada. Johan memang punya banyak pekerjaannya tapi dia rela menyamping kan pekerjaannya itu demi Hana.
Dia menuruti apa yang perempuan itu mau, apa lagi karena umur kandungan Hana sudah masuk 8 bulan, kesehatannya memang harus benar-benar di jaga dari mulai sekarang. Johan juga ingin ketika Hana menyebutkan namanya ia langsung datang dengan cepat tidak mau membuang waktu banyak.
Tentang tempat tinggal sekarang, Johan membeli satu unit apartemen di dekat apartemen Dimas, sebenarnya satu gedung tapi beda lantai. Hanya berbeda satu lantai lebih atas, Johan ingin yang terbaik untuk Hana.
"Aku tidak lelah, kamu saja yang tidur kamu tidak tidur selama perjalanan." Ucap Hana, dia hanya melihat Johan yang berjalan ke sana kemari. Apakah dia tidak lelah?
"Aku baik-baik saja, jangan pikirkan aku."
"Jangan begitu, kamu sudah janji untuk tidak sakit bukan? Istirahat lah dulu."
"Sebentar, tinggal yang satu ini saja." Johan menyelesaikan sesuatu yang entah itu apa. Sampai di mana pria itu berjalan ke arah Hana dan tiduran di atas paha perempuan itu.
Ia menatap ke arah Hana dengan tatapan lelah, tapi entah kenapa Johan hari ini nampak berbeda atau hanya perasaan Hana saja? Pria itu terdiam beberapa saat, dia terus mengusap perut besar itu yang berada di depan matanya sendiri dan sesekali mencium permukaan perut itu.
Mungkin karena sentuhan yang dia berikan, bayi di dalam sana menendang. Hana yang terkejut tentu saja di sadari oleh Johan, pria itu mendadak panik tapi Hana memaksanya agar tetap di tempat.
"Bayinya menendang mu?" Terlihat bagaimana raut wajah khawatir itu terlihat jelas di sana. Hana hanya mengangguk saja, lagi pula hal yang seperti ini sudah biasa terjadi.
Yang Johan khawatir bukan masalah itu saja, raut wajah Hana yang terkejut sekaligus seperti menahan sakit, bayi di dalam perut perempuan itu bukan hanya satu melainkan ada dua. Bayangkan saja dua bayi saling menendang satu sama lain, bukan hanya Johan yang khawatir melainkan Hana mengkhawatirkan bayi-bayinya juga.
Pria itu mengusap perut itu lagi dan memeluk pinggang ramping itu dengan pelan, ia tidak mau menyakiti Hana. Entah itu ia sadari atau pun tidak, ia hanya mau membuat perempuan itu bahagia melebihi apa pun, bahagia sampai lupa akan masa lalu meskipun akan mustahil saja. Tapi setidaknya ia berusaha untuk melakukan semua itu.
__ADS_1
Hampir satu tahun, Johan berusaha membuat Hana melupakan masa lalunya dan itu bukanlah sebuah hal yang mudah. Di tambah Hana sepertinya memang masih memiliki perasaan walaupun sedikit, Johan akan menggantikan ruangan itu dengan dirinya di dalam sana.
"Kalian jangan seperti itu, kasihan bunda sakit nanti. Baik-baik di dalam sana ya, jangan bertengkar." Entah Johan bicara dengan siapa, tapi dia nampak senang sekali melakukan semua itu.
Bahkan ketika di pagi hari, dia akan selalu mengajak berkomunikasi anaknya sepanjang hari. Mengusap perut besar itu dengan lembut, bicara dengan nada penuh dengan kasih sayang, jangan lupakan sang ibu yang selalu di sayang oleh Johan juga.
Mereka berdua memang sudah saling berjanji, walaupun Johan tahu dan masih ingat betul akan anak yang Hana kandung memang bukanlah anak kandungnya. Tapi Hana, bukan demi Hana melainkan demi kebahagiaan ketiga orang yang paling ia sayangi sekarang ia rela melakukan apa saja.
"Jangan terlalu lelah, jika ingin sesuatu katakan saja kepada ku." Hana mengangguk, dia yakin dengan keputusannya yang sekarang.
"Jangan hanya mengangguk, kau selalu membuatku khawatir. Aku tidak mau sesuatu terjadi kepadamu, jangan buat dirimu terluka."
"Iya, aku tahu."
Hana hanya memandangi wajah yang amat damai itu, entah apa yang pernah ia bayangkan sampai dia bisa bertemu dengan pria sebaik Johan? Hana masih ingat di mana pria itu selalu datang ketika saat Hana memang benar-benar membutuhkan seseorang di sampingnya.
Kejadian di mana Hana memang tidak bisa melupakan segala hal, ketika ia masih dalam kondisi terpuruk Johan dengan sikap acuhnya akan datang tanpa di duga. Johan akan datang, dia akan melakukan sesuatu ketika Hana dalam masalah.
Sampai di mana mereka berdua berpisah di saat kelulusan beberapa tahun yang lalu, Johan mengatakan hal yang aneh menurut Haha. Dia minta kepada Hana untuk tetap memakai kalung yang dia belikan untuk Hana, dia bilang untuk kenang-kenangan saja.
Padahal kenyataannya di dalam kalung itu ada pelacak, terlalu menjaga padahal dia berada di tempat yang jauh. Itulah Johan, jika bukan pria itu siapa lagi yang akan melakukan hal nekat sampai seperti itu?
Hana mengusap rambut tebal itu dengan tangannya, mungkin akan semakin membuat pria itu nyaman tidur di sana. Hana harus bersyukur, walaupun ia sudah kehilangan seseorang yang ia cintai berulang kali. Kenyataannya akan datang orang lain yang akan benar-benar siap.
"Terimakasih, atas semuanya..."
__ADS_1
...•••...
Anna tengah berada di rumah sakit, dia masih harus di rawat sampai keadaannya benar-benar pulih. Ia hanya duduk di taman sendirian, Satya tengah ke kantor untuk mengurus sesuatu di sana. Dan Anna harus menerima itu, lagi pula Satya bekerja juga untuknya juga. Keadaan anaknya? Masih belum stabil, ia tidak bisa menggendong anaknya karena keadaannya masih belum baik.
Itu membuat dirinya seperti tertimpa meteor, tidak ada semangat hidup di dalam dirinya. Sampai sebuah suara yang terdengar tidak asing di telinganya, Anna lumayan masih ragu akan dugaannya tapi ketika ia menoleh ke arah belakang.
Senyuman perlahan terbit membuatnya berdiri di tempat duduknya, dia berjalan ke arah orang itu yang juga berjalan ke arahnya dengan seorang pria di sampingnya. Anna memeluknya, mengutarakan betapa rindunya Anna sekarang.
"Kamu kembali..." Hana mengangguk, tentu saja ia akan kembali sekarang. Ia tahu akan sesuatu yang membuatnya harus memaksa Johan untuk membuatnya kembali.
"Bagaimana keadaanmu? Bagaimana anakmu?"
"Aku tidak apa-apa."
"Anakmu? Aku ingin bertemu dengannya, dia pasti menggemaskan." Anna mendadak terdiam ketika Hana mengatakan semua itu, kenapa Hana begitu senang?
Bukannya seharusnya dia harus merasakan sedih atau dia tidak mau melihat anaknya? Tentu saja ada alasannya, anak itu adalah hasil hubungan gelap antara Anna dan Satya ketika Hana masih berhubungan dengan Satya. Tapi kenapa?
"Kamu mau melihatnya?"
"Kenapa tidak? Dia juga keluarga ku." Johan hanya melihat tanpa berminat sama sekali, ia memasang raut wajah datarnya yang biasa dia tunjukan kepada semua orang. Mungkin Hana tidak menyadari akan itu.
"Keluarga ya..."
__ADS_1