
Hana berjalan dengan kepala menunduk, keadaannya kacau karena kurang tidur. Semalam tidak bisa tidur karena terlalu banyak berpikir, pikirannya terus melayang ke mana-mana sampai matanya pun enggan untuk menutup setidaknya untuk istirahat sejenak.
Di tengah lamunannya seseorang menabrak bahunya, membuat Hana mendongak sedikit dan menoleh ke arah samping di mana ada seseorang yang jatuh di sana. Hana hanya melihat tidak berniat menolong sama sekali, ternyata itu adalah Anna.
Gadis itu terduduk di atas lantai, ia mengeluh kesakitan. Hana hanya menatap, hanya beberapa orang saja yang menolong Anna untuk berdiri atau mungkin mereka adalah, teman-teman Anna di masa SMA dahulu.
"Hey! Setidaknya minta maaf!" Hana tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap dengan tatapan kosong, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap apa adanya. Hana sudah tampak kacau sejak awal masuk kampus.
Terlihat ekspresinya yang datar, ia bahkan tidak mengeluarkan suara apa pun. Semua mahasiswa yang berada di sekitar sana melihat keadaan kacau di sana, enggan ikut campur. Takut saja jika kena dosen mereka bisa dalam bahaya nanti biarkan saja.
"Heh! Kau bisu ya!" Salah satunya, menjambak rambut Hana membuat gadis itu tidak berbuat apa pun. Dengan keras mereka menarik rambut panjang itu sampai terasa kulit kepala mulai perih.
Sampai tanpa mereka sadari, jika Raya datang bersama temanya Ayu yang kebetulan memang baru datang. Kelasnya sama dengan Hana jadi jangan heran mengapa Raya selalu kebetulan berada di sekitar Hana. Gadis itu memasang wajah datar dan melangkah cepat ke arah salah satu mahasiswa itu.
Dan kemudian menendang badannya begitu saja, Raya tidak berpikir lebih. Ia melihat keadaan Hana yang terpojok di dinding dengan keadaan kacau seperti itu, ia langsung menatap tajam ke arah gadis itu yang tidak lain adalah teman Anna.
"Siapa kau?" Raya menarik baju itu dan melihat nama tag yang terpasang di kemeja putih itu. Ia tersenyum meremehkan dan mendorongnya begitu saja.
"Apa kau teman dari pelacur ini? Siapa namamu? Ah! Nama mu Annisa. Nama yang bagus, tapi tidak dengan attitude mu." Raya mengucapkan itu tanpa berpikir, ia melirik ke arah Hana yang tengah di bantu oleh Ayu untuk berdiri.
"Rambut mu rontok?" Ucapan Ayu tentu saja terdengar oleh telinga Raya, lantas gadis itu memukul Nisa dengan keras dan menjambak rambut itu dengan kasar.
"Bagaimana rasanya? Masih kurang keras untukmu?"
"AAAHHKKK!! LEPASKAN TANGANMU SIALAN!!" Raya tidak melepaskan tangannya sama sekali, ia bahkan menambah cengkramannya membuat helai rambut itu tersangkut di jarinya.
"Mau lag-"
"Raya! Lepaskan tanganmu itu." Raya langsung melirik tepat ke arah suara itu berasal, menatap datar ke arah pria itu dan menepis kepala Nisa. Membuat gadis itu merasa kesakitan yang bertambah karena kepalanya menghantam lantai.
Raya berdiri dengan raut wajah malas, ia tahu bagaimana endingnya nanti. Lantas ia menoleh lagi ke arah Hana dan Ayu yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Ayu, jaga Hana. Jangan sampai mereka menyentuh aset kembaran ku."
"Iya, tenang saja."
Raya kembali berhadapan dengan pria di depannya, pria yang menginjak umur 29 tahun. Dosen tertinggi di kampus, termasuk calon pemilik kampus karena dia adalah cucu dari pendirian kampus tersebut. Sebenarnya Raya malas, kenapa harus pria itu terus?
"Kamu sudah tahu bukan, ikuti saya."
Raya merotasi bola matanya dan mengikuti pria itu, tentang Hana sepertinya temannya masih bisa mengendalikan situasi. Sebenarnya Ayu juga bisa ilmu bela diri lagi pula Ayu juga masuk ke perguruan karate yang sama dengan Raya, hanya saja Raya memang terlalu terang-terangan.
"Kamu tidak apa-apa kan Hana? Kamu kelihatan kacau sekali hari ini."
"Aku tidak apa-apa, terima kasih." Ayu membantu Hana, ia juga membantu Hana berjalan karena terlihat kaki gadis itu tidak seimbang untuk berjalan.
Mereka berdua meninggalkan kawasan yang baru saja mereka buat kacau begitu saja, karena memang bukan masalah Hana juga. Hana tidak melakukan apa pun, ia hanya berjalan di rutenya saja sedangkan yang menabrak? Ia masa bodoh.
"Kamu sudah sarapan? Kalau mau-"
"Tidak perlu, terima kasih. Itu sangat merepotkan, kau temani Raya saja sepertinya dia dalam masalah karena aku. Ucapkan permintaan maaf ku kepadanya." Ayu tidak bisa berkata-kata, ia hanya melihat Hana masuk ke kelas.
Ayu tidak dapat berpikir lagi, ia memilih untuk segera pergi ke kantor memeriksa keadaan Raya. Sepertinya Raya akan mengamuk nanti, tapi tidak tahu juga apakah prediksi Ayu benar atau tidak. Sampai tidak sengaja ia berpas-pasan dengan Theo yang juga baru masuk.
"Di mana Raya?" Tanyanya dengan penuh kebingungan tapi tidak ada ekspresi apa pun, ia juga melihat keramaian singkat ketika ia masuk ke kampus, tapi setelah ia akan masuk mendadak semua bubar.
"Dia ada di ruangannya pak Sandy."
"Ngapain?"
"Tadi ada kekacauan singkat, jelasinnya tar aja ya. Raya kalau ngamuk lebih serem, aku duluan ya." Theo tidak menjawab dan malah berpikir, memang kekacauan apa yang sampai-sampai Raya di bawa ke ruangan dosen itu?
__ADS_1
"Tapi tadi kayaknya emang mereka yang salah, aku lihat Hana juga jalannya lurus-lurus aja dan di depan tidak ada orang. Pada dasarnya aja mereka caper."
"Iya, masih baru juga udah begitu ya."
"Pernampilan mereka seperti cabe-cabean ya, aku jadi waspada takut pacar ku di goda sama mereka."
Theo hanya mendengar apa yang para siswa itu katakan di depannya, mereka melewati Theo begitu saja dan tentu saja apa yang mereka katakan Theo bisa mendengarnya.
'Memangnya apa yang terjadi tadi?'
Theo kembali berjalan ke arah lapangan basket, karena dia juga ada urusan di sana lebih tepatnya latihan karena sebentar lagi pertandingan. Pertandingan yang harus dia hadapi.
Di tempat lain, Raya hanya diam saja tapi dia juga kesal dengan tadi. Sedangkan di depannya, pria itu yang tidak lain adalah dosen yang tengah memeriksa hasil rekaman kamera pengawas.
"Kamu sadar apa kesalahanmu?"
"Cuma nendang doang, lagian juga gak mati tuh orang." Dosen itu, yang biasa di panggil Sandy itu. Kenyataannya tengah pening karena kelakuan Raya yang terlalu ajaib baginya, dari sekian banyak mahasiswa yang paling mencolok kenapa Raya? Padahal dia perempuan dan baru saja 4 bulan masuk kampus sudah seperti ini.
"Cuma nendang kata kamu, sama saja. Kamu penyebab kekacau-"
"Mereka jambak Hana duluan, nabrak duluan dan menuduh yang bukan-bukan. Aku hanya membantu Hana saja, apakah aku salah? Dasar, semua sekolah sama saja." Sandy menghela nafas panjang dan berusaha tetap sabar menghadapi mahasiswa di depannya sekarang.
"Bagus, bagus kalau kamu punya inisiatif untuk membantu. Tapi bukan seperti itu juga-"
"Kalau tidak kekerasan, mereka udah kayak topeng monyet! Kalau di biarin terus mereka seenaknya pak!" Sandy menatap Raya dengan tatapan datar. Namun, terkesan dalam. Membuat gadis itu yang awalnya memasang wajah garang dengan tatapan menantang berubah menjadi gugup.
"Ngomong lagi coba."
"Enggak!"
"Dasar anak ini."
__ADS_1