
Jihan sudah pulang dari kampus, dia langsung saja masuk ke dalam rumah dan akan menyapa Hana, sekaligus bertanya akan keadaan kedua keponakannya. Gadis itu awalnya tenang saja ketika masuk tapi melihat apa yang berada di depannya sekarang membuatnya terdiam.
Gadis itu yang awalnya memasang wajah cerah dan ceria seketika berubah menjadi datar. Raut wajah yang memang jarang dia tunjukan kepada orang banyak, memang hanya yang benar-benar mengenal dirinya yang bisa melihat sekaligus orang yang Jihan tidak suka untuk saat ini.
"Jihan? Kamu sudah pulang ternyata, temanmu berkunjung kemari. Kamu tidak menyapanya?" Hana sepertinya tidak tahu, itu masih bisa Jihan maklumi lagi pula memang Jihan tidak cerita apa pun.
Sekarang di mana Jihan berdiri dan dia berdiri tepat di depan temannya itu, entah dia masih pantas di sebut teman atau tidak. Jihan memasang raut wajah yang sama tidak berubah, itu membuat Hana sedikit aneh.
"Dari mana kau tahu rumah ku?"
"Aku hanya bertanya dengan dosen fakultas mu saja, memangnya salah? Lagi pula kita berteman, aku juga mau berkunjung ke rumah mu-"
"Tapi sayangnya aku tidak berharap akan kunjungan mu, lebih baik kau pergi." Satu kalimat yang memang nadanya terkesan tidak tinggi, tapi susunan kalimat yang lumayan.
"Kau mengusirku?"
"Itu hak ku, ini rumah ku." Hana berusaha memenangi antara mereka berdua, tapi mendadak Risa berdiri beranjak dari tempat duduknya.
Dia menatap ke arah Jihan dengan raut wajah penuh kekecewaan, tapi sepertinya Jihan tidak memperdulikan itu. Persetanan dengan kata teman, ia sudah tidak percaya dengan istilah menyebalkan itu. Ia lebih memilih sendiri dari pada berteman, berteman dengan penghianat seperti Risa akan memuakan.
Jihan masih ingat betul dahulu, di mana ia selalu bercerita tentang Lino kepada Risa. Itu memang kesalahan Jihan yang terlalu percaya dengan orang lain, dia percaya jika Risa tidak mungkin melakukan hal busuk seperti itu. Tapi kenyataan lain, tuhan sendiri yang menunjukkan berapa buruknya gadis itu tepat di depannya sendiri.
"Apa hanya karena Lino? Kau masih tidak merelakannya untuk ku? Egois sekali kau-"
__ADS_1
"KAU YANG EGOIS! KAU JUGA TAHU AKU SUKA DENGAN LINO SEJAK MASIH SMP TAPI KAU MASIH MEREBUTNYA BAJINGAN!" Kalimat keras sekaligus nada membentak membuat Risa tidak bisa berkutit.
Gadis itu hampir menangis tapi dia menahan diri, Hana menenangkan Jihan tapi dia tidak bisa tenang lagi. Emosi, hanya itu yang sudah menguasai gadis itu sekarang.
Tanpa berkutit atau bahkan mengatakan yang lain lagi, dia langsung menarik Risa keluar dari rumahnya itu dan langsung menyuruh bodyguard menyeret Risa untuk keluar dari rumahnya. Jihan hanya melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah angkuh, dia tidak mau berbaik hati lagi. Ia pikir semua akan baik-baik saja, percaya dengan keadaan memang ide buruk.
Gadis itu bisa melihat jika Risa berusaha memberontak, dia terus memaki Jihan, tapi apa perdulinya sekarang? Ia tidak perduli dengan teman sekarang, Jihan berpikir akan menunggu momen saja. Pasti akan ada lagi yang terjadi setelah itu, ia tidak akan perduli akan hal itu.
Mereka pikir Jihan diam karena Jihan tidak bisa melakukan apa pun? Omong kosong, gadis itu bisa saja melakukan pembunuhan seorang diri jika dirinya mau, tapi karena dia masih memikirkan masa depan. Ia mengurung niatnya sendiri, dan dia memilih jalur lain.
Sepertinya menyenangkan jika melakukan balas dendam tapi tidak secara langsung. Sedangkan Hana melihat Jihan dari belakang, gadis itu memang mirip dengan Johan, dari sudut pandang mana pun. Walaupun memang Jihan jauh lebih ceria, dia sering tersenyum dan tertawa.
Berbeda dengan Johan yang terkesan jika senyumannya adalah momen langka. Tapi raut wajah, emosional tetap sama. Mereka hanya saudara sepupu yang lumayan jauh tapi juga dekat. Mungkin karena situasi membuat mereka berdua dekat bagaimana anak kembar seperti ini, padahal tidak sama sekali.
"Tidak sama sekali, dia pantas mendapatkannya Hana. Dia sudah merebut apa yang aku punya, aku tidak perduli dengan kesopanan atau kasar atau tidak. Aku tidak perduli." Jihan langsung pergi masuk ke dalam rumah, dia menaiki anak tangga dan kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.
Hana hanya membuang nafas panjang, bukan karena ia mengira Jihan salah memperlakukan orang. Hanya saja ia takut sesuatu terjadi kepada Jihan, bagaimana pun ia sudah menganggap Jihan lebih dari saudara. Dia penting untuk Hana, sepertinya dia memang butuh waktu sendirian selama beberapa saat.
...•••...
Jihan melempar tasnya ke sembarang arah, dia langsung tidur di ranjangnya. Menenangkan pikiran memang bukan suatu hal yang mudah ia lakukan. Setelah ia bertemu dan bahkan bicara dengan Reyhan, pria itu memang sedikit mengurangi beban pikiran Jihan sekarang.
Walaupun saat ini semua moodnya hancur karena kedatangan Risa yang tidak di undang. Itu membuatnya moodnya hancur bukan main, ia harus berusaha lagi menenangkan pikirannya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka akan seperti ini..." Dia menutup matanya berharap ada ketenangan yang datang untuknya.
Jihan memang susah mengendalikan emosinya jika sudah seperti ini, masalah keluarga ia sudah tidak perduli. Karena baginya rumah pertamanya itu sudah terlanjur hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Ia hanya bisa menatap kenangan yang tersisa saja, sisanya ia akan menyimpan. Walaupun sejujurnya Jihan tidak terlalu pandai menyembunyikan kesedihannya seorang diri, dirinya tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sudah terlanjur hancur ini. Semua sudah terlanjur terjadi.
Gadis itu mengambil ponsel barunya yang baru saja ia beli sendiri. Menghubungi beberapa teman yang bisa dia andalkan untuk mengembalikan moodnya hari ini.
"Hey, tumben kau menelpon ku. Is there any problem?"
Jihan membuang nafas panjang dan dia juga pasti mendengar semua itu, sulit menjelaskan semua ini padahal Jihan juga mau bicara agar semua beban pikirannya sedikit hilang.
"Yeah, aku hanya mau mengembalikan mood ku."
"Why? Jika kamu mau, kamu bisa datang ke markas nanti malam. Nanti malahan kembali ke rumah biar aku yang antar dan menjelaskan alasan kepada sepupumu, aku jemput jam 5 sore nanti jika kamu mau."
"Boleh juga, why not?"
"I will come soon, jangan dandan terlalu mencolok."
"Aku tidak semurahan itu, aku tunggu." Jihan memutuskan sambungannya dan kembali menatap ke atas langit-langit kamarnya itu.
Sepertinya kebiasaan buruk akan kembali datang kepadanya, tapi Jihan berusaha tidak terlalu buruk. Ia berusaha menjadi yang terbaik, membuktikan jika diam bukanlah orang yang lemah. Justru dari diam itu orang-orang menyimpan banyak amarah yang tersembunyi.
__ADS_1
"Lihat, apa yang akan dia lakukan setelah ini."