Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 66


__ADS_3

Di satu sisi, seseorang itu hanya melamun menatap langit tepat di balkon kamarnya. Menatap langit seolah ia ingin berharap sesuatu yang rasanya mustahil untuk di kabulkan.


Apakah ia bisa egois sekarang? Tetapi, ia tidak mau membuat orang yang dirinya cintai hancur kembali hanya karena sebuah sifat buruknya sekarang. Pada dasarnya ia sadar akan semua hal, orang yang dia cintai sudah tidak lagi menginginkan dirinya dan lagi, tidak mengharapkan akan keberadaannya lagi.


Kesempatan itu sudah hilang sekarang, tersisa hanyalah sebuah penyesalan yang begitu membuatnya merasa hampa dalam kehidupannya. Sekarang harus bagaimana lagi? Ia harus menerima mau tidak mau, tapi di antara ia harus rela dan tidak. Ia tidak akan bisa merelakan semua itu.


"Aku sadar jika perasaan ku ini memang salah, tapi aku merasa berhak melindungi dirinya. Apakah aku salah di sini? Atau justru sebaliknya?" Ia hanya ingin melindungi seseorang saja dan selebihnya, ia benar-benar tidak menduga akan apa yang dirinya rasakan sekarang. Semua membuatnya bimbang, bahkan lewat dari itu ia tidak paham.


...•••...


Terbangun dari tidurnya, ia melihat jika dirinya sekarang berada di posisi di mana pria itu memeluknya. Sama seperti di mana terakhir ia menutup matanya dan dengan posisi yang masih sama tanpa ada perubahan sama sekali.


Gadis itu hendak menyingkir dari sana, tapi pelukan di perutnya semakin erat membuatnya tidak bisa bergerak leluasa sesuka hati. Satya memeluk Hana dengan erat, bahkan enggan melepaskan pelukan itu.


"Tetap di sini. Tidak ada jadwal apa pun hari ini bukan?" Hana sebenarnya memang tidak punya jadwal lain, atau bahkan jadwalnya kuliah juga tidak ada. Karena selama dua hari ia akan di rumah saja karena dosen memang tidak mengajar.


"Tidak ada, tapi aku harus masak-"


"Lupakan soal itu, kau masih sakit dan tetap lah tidur. Masalah makanan aku bisa pesan online nanti, tidur lagi." Hana pasrah, gadis itu berakhir mengalah dan hanya berbaring saja membiarkan Satya memeluknya entah harus sampai kapan.


Sesekali Hana menoleh ke arah belakang, Satya masih menutup matanya dengan tenang. Sepertinya memang selelah itu, ia melirik ke arah jam di mana masih menunjukkan pukul 5 pagi. Sepertinya tidur sebentar lagi tidak ada masalah, selain Hana yang harus menyiapkan sarapan untuk Satya, jam 8 juga Satya harus ke kantor.


Kegiatan pria itu semakin padat, bukan masalah kuliah lagi melainkan di tambah dengan pekerjaan yang harus dia tangani. Hana menawarkan diri sebenarnya untuk membantu, tapi Satya menolak.

__ADS_1


Berlangsung hampir 20 menit berlalu, pria itu mulai membuka matanya lagi dan melihat posisinya masih sama saja, melihat Hana yang ternyata tertidur lagi. Satya hanya diam saja, tidak ada berniat untuk bangun dari tidurnya. Ia terus memandang wajah Hana dari samping, bodohnya ia baru sadar jika istrinya secantik itu. Kemana dirinya selama ini sampai baru sadar setelah beberapa bulan hidup dengan istrinya? Satu rumah juga.


Satya menyingkirkan dirinya dan memposisinya dirinya duduk. Ia membenahkan selimut yang lumayan berantakan, sepertinya cuaca memang agak dingin.


Pria itu pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi, membersihkan diri sekaligus bersiap untuk pekerja nantinya. Tidak memakan waktu lama, hanya 10 menit saja dia sudah selesai dengan urusan mandinya.


Melihat Hana masih tertidur, pria itu melangkah mendekat dan memeriksa keadaan istrinya itu. Demamnya sudah tidak terlalu tinggi, itu membuatnya kerasa lega. Sampai di mana Satya akan pergi, Hana bangun dan melihat Satya akan bersiap bekerja.


"Kamu sudah bangun? Kenapa tidak bangunkan aku saja dulu?" Ucap istrinya itu, sedangkan Satya hanya tersenyum dan mengancingkan kemejanya satu persatu.


"Kamu masih sakit, sayang. Tidur saja dulu-"


"Sarapannya?"


Pria itu memasang wajahnya datar, dalam arti dia tidak mau di bantah. Tapi bagaimana lagi? Hana juga tidak mau seharian hanya berdiam diri saja di ranjang, itu tidak menyenangkan sama sekali dan membosankan. Kelas kuliahnya juga tidak ada hari ini, ia harus apa jika tidak membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah?


Satya menarik Hana mendekat membuat gadis itu memiliki jarak yang dekat dengan suaminya itu, bagaimana cara menjelaskan keadaan sekarang? Haha tidak bisa harus berdekatan dengan Satya, pakaian pria itu belum sepenuhnya terpakai, maksudnya kancing kemeja itu belum menutupi semua.


"Jangan nakal, istirahat dulu biar aku yang masak." Hana menggelengkan kepalanya seolah benar-benar menolak ajakan suaminya.


Satya membuang nafas panjang, ia memegang kedua sisi pipi gembul itu dan menatap mata bulat itu. Hanya seperti ini saja sudah sukses membuat jantung Hana berdebar tidak karuan. Kenapa pria itu hobi membuat dirinya jantungan? Biasanya tidak seperti ini, tapi sebenarnya memang akhir-akhir ini.


"Menurut? Atau-"

__ADS_1


"Baiklah." Jawaban Hana memang sudah cukup membuat Satya tersenyum, dia mencium kepala istrinya itu.


"Pintar, tidur lah lagi dan cepat lah sembuh." Ucapnya dan membenarkan pakaiannya, Hana hanya diam tidak bisa melawan dengan cara apa pun. Kata-kata Satya tidak bisa di bantah, jika saja di bantah dia akan melakukan sesuatu agar lawan bicaranya menurut.


...•••...


Sedangkan di tempat lain, pria itu tengah sibuk dengan segala dokumen di depannya sampai ia rasanya mau mual saja melihat semua itu setiap hari. Tapi apalah daya, pekerjaannya memang itu.


Sampai di mana suara dering ponsel berbunyi membuat pandangannya teralihkan, ia mengambil ponselnya dan melihat, siapa yang menelponnya di jam sibuk seperti ini? Ia pun menerima panggilan itu, walaupun ia juga harus tetap melanjutkan pekerjaannya juga.


"Bagaimana? Apakah ada hasilnya?" Ucapnya, ia hanya mau semua apa yang dirinya lakukan membuahkan hasil. Itu harus terjadi, jika tidak maka ia akan turun tangan sendiri.


"Saya menemukan rekaman CCTV yang kebetulan belum di ambil, Tuan bisa melihatnya sendiri. Saya akan kirimkan lewat file."


"Bagus, aku akan melihat hasil kerja mu itu." Setelah itu telpon tersebut terputus secara dua pihak, pria itu memeriksa laptopnya dan memeriksa apakah file yang di maksud sudah di kirim atau belum oleh anak buahnya itu.


Ia menunggu selama beberapa saat saja, tidak ada waktu 5 menit yang terbuang. Sampai di mana ia melihat notifikasi dari sana, ia membuka situs web dan melihat video yang bawahannya maksud.


Melihat dengan teliti tanpa ada yang tertinggal, semua pergerakan dia lihat sampai di mana ia melihat seseorang itu masuk ke dalam sebuah ruangan. Ia mulai memberhentikan videonya dan mengzoom layarnya agar bisa melihat jelas.


Tidak terlihat wajahnya membuatnya lumayan kesulitan sekarang, tidak tahu apa yang dia lakukan di dalam sana sampai pada akhirnya dia keluar dari ruangan. Ia bisa melihat sekilas wajah itu, melanjutkan videonya dan bahkan ia juga melihat video yang lainnya. Orang itu bergerak di mana saja tetap tertangkap kamera CCTV yang ada, dan ada sebuah rekaman yang membuat pria itu merasa ada yang aneh.


Orang itu masuk ke dalam mobil seseorang, tidak beberapa lama juga dia keluar dengan amplop coklat yang tentu saja ia tidak bodoh, isinya pasti nominal uang rupiah. Pria itu melihat plat nomor mobil tersebut, bahkan tanpa harus di hafalkan, sekali melihat ia langsung tahu siapa pemilik mobil itu.

__ADS_1


"Tertangkap kau, bajingan."


__ADS_2