Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 120


__ADS_3

Jihan tengah berpikir, di depan banyaknya dress di toko langganannya. Jihan sesekali menatap ke arah Hana yang hanya duduk, dia tidak diperbolehkan oleh Jihan terlalu lama berdiri, nanti dia bisa kelelahan.


"Yang mana ya? Soalnya semua bagus."


"Memangnya kamu mau kemana Jihan? Kamu mau menemui sahabatmu?" Jihan menoleh ke arah Hana, dia sekilas mengangguk dan kemudian menggelengkan kepalanya.


"Antara iya dan tidak, dress yang bagus untukmu yang mana? Kamu suka yang mana?"


"Apa? Aku?" Hana tidak tahu apa yang di maksud oleh Jihan tadi, dia memilih jawaban antara iya dan tidak.


Jihan menemui sahabatnya yang baru saja pulang dari luar negeri itu, dan dia menjawab tidak mengalihkan topik ke arah di mana dress yang cocok untuk Hana. Kehamilan Hana memang sudah lumayan besar, tapi tidak menutupi jika badan yang Hana miliki itu memang masih terlihat bagus. Bahkan tidak seperti ibu hamil kebanyakan, Hana terlihat rampung jika menggunakan hoodie kebesaran itu.


Semua orang bahkan terpesona dengan Hana ketika perempuan itu masuk ke butik tersebut, memang Jihan akui jika Hana memang secantik itu. Dia bahkan punya sebuah aura yang cerah, dan dia juga ramah dengan semua orang tanpa terkecuali.


"Anda akan cocok jika menggunakan dress yang tidak terlalu pendek, dan tidak terbuka juga tapi tetap elegant. Anda pasti akan sangat cantik jika menggunakan dress ini, kami merancangnya sendiri." Salah satu pegawai menawarkan sebuah dress yang indah.


Tidak terbuka atau terlalu pendek, tidak terlalu panjang juga. Masih sangat modis jika Hana kenakan nanti, Jihan menawarkan dress itu kepada Hana. Tapi perempuan itu menggelengkan kepalanya menolak tawaran Jihan, tapi namanya juga Jihan. Dia memaksakan diri, dia membeli dress tersebut dan satu dress miliknya juga.


Setelah membayar dua dress yang di belikan. Jihan mengantar Hana ke sebuah tempat tentu saja, di sana Hana akan berada nanti. Tenang saja, soal ijin dari Jihan sebenarnya memang pria itu yang menyuruh Jihan untuk membelikan sekaligus mendadani Hana untuk acara malam ini.


Jihan tidak akan mengerjakan pekerjaannya jika tidak di berikan imbalan, gadis itu meminta imbalan dan berakhir Johan memberikan kartu kreditnya kepada sepupunya itu, dia boleh membeli apa saja bebas asalnya hanya satu barang saja.


Hana bingung dengan situasi sekarang, pagi-pagi tadi sekitar jam 9 pagi Jihan mengajaknya keluar untuk membeli sepatu dan sekarang dia membawanya ke butik untuk membeli dress. Sekarang dia akan membawa Hana kemana lagi? Jihan memang sulit di tebak.


"Kita mau ke mana lagi?"


"Tentu saja membuatmu cantik malam ini, ini sebuah kejutan yang pasti akan kamu sukai." Hana mengerutkan keningnya. Apa maksudnya dengan kejutan? Hana mengingat jelas hari ulang tahunnya bukan hari ini.


Hana tidak tahu apa yang akan Jihan lakukan kepadanya nantinya. Hana hanya diam dan pasrah ketika Jihan membawanya ke beberapa tempat yang bahkan tidak Hana duga ia akan berada di sana. Dan sekarang mobil Jihan berhenti di sebuah hotel mewah.


Bahkan hotel yang memasuki gerbang dengan empat penjaga di depannya, Hana tidak tahu ia akan di apakan oleh Jihan nantinya. Gadis itu nampak santai dan tanpa beban hidup sama sekali.


"Jihan-"


"Tenang saja, Hana. Jangan khawatir akan sesuatu yang tidak perlu, ini akan menyenangkan kau akan suka percayalah kepadaku."


"Tapi, kenapa kau mengajak ku kemari?"


"Kau akan tahu nanti, ayo turun. Pasti mereka sedang menunggu dirimu untuk di dandani."


"Dandan? Untuk apa?" Jihan hanya tersenyum, dia turun dari mobil di susul oleh Hana yang juga turun dari mobil.


Jihan membantu Hana berjalan, mungkin cukup susah ketika kehamilannya yang sekarang. Perutnya besar tidak sesuai dengan usia, mungkin saja karena anak yang Hana kandung bukan hanya satu melainkan dua bayi di dalam sana.


Gadis itu menunjukan jalan di antar dengan satu bodyguard yang Johan punya untuk menjaga dua perempuan itu. Setelah sampai di tempat tujuan setelah sekian lama berjalan, masuk ke dalam salah satu kamar hotel. Hana tidak tahu ada apa di dalam sana.

__ADS_1


Tapi ketika dirinya masuk ke dalam, ia melihat ada tiga orang dengan seragam seperti perias profesional. Mereka membungkuk hormat ketika melihat kedatangan Hana dan Jihan.


"Ada apa ini?" Hana benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Jihan hanya tersenyum, menyuruh Hana untuk duduk di kursi tepat di depan cermin.


"Cepat, dandani yang cantik ya. Tapi ingat, jangan terlalu tebal."


"Baiklah, dia sudah cantik tanpa make up apa pun. Mungkin aku akan menambahkan beberapa tambahan agar auranya berbeda nantinya."


"Lakukan saja yang terbaik, sepupuku sudah membayar mahal untuk itu." Hana awalnya akan bicara tapi terlebih dahulu wajahnya di bersihkan dan mulai di make up.


Sedangkan Jihan duduk di pinggir ranjang menunggu Hana selesai, seraya dia mengabari sepupunya itu. Apakah rencananya akan berhasil sekarang? Sepertinya Hana akan terkejut nantinya, tapi masalah itu tidak sebuah masalah besar. Ini hanya sebuah kejutan yang sudah lama di harapkan oleh sepupunya itu.


Jihan menatap ke arah Hana yang tengah di dandani, ia tersenyum lega. Johan memang tidak salah dalam memilih seseorang yang sesuai dengannya, dari penglihatan Hana memang pendiam.


Tapi perempuan itu memiliki sesuatu yang tidak orang lain punya, kebaikan dan kesabaran yang dia punya. Johan beruntung bisa bertemu dengan Hana, bahkan sekarang pria itu tengah menyiapkan segalanya.


...•••...


"Sudah siap, nona Jihan bisa melihat ini." Jihan yang dari tadi sibuk scroll tiktok tidak. menyadari jika make up sudah selesai.


Gadis itu mulai mendongak dan tiba-tiba saja dia terdiam, membuat orang-orang jadi lumayan takut dan berpikir jika pekerjaan mereka kurang sesuai dengan apa yang Jihan inginkan. Tapi kenyataannya tidak begitu, Jihan terdiam bukan karena mereka gagal.


Melainkan melihat keberhasilan mereka membuat Hana menjadi seperti princess yang sangat cantik sekarang. Apakah ia salah lihat orang? Bahkan dia sedang hamil saja masih sangat cantik seperti itu.


"Wow, aku yakin sepupuku akan menyukai ini. Kerja kalian sangat bagus, aku menyukainya dan sepupu ku pasti juga suka."


"Apa maksudmu Jihan?" Jihan menggenggam kedua tangan Hana, meyakinkan jika semua ini akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan.


Dress yang Hana kenakan cocok untuknya, bahkan sekarang dia seperti sosok yang berbeda, jauh lebih anggun dan juga sangat elegant. Johan memang tidak salah memilih pasangannya.


"Kami akan mengantar anda sampai lokasi, sekalian untuk memberikan hormat kepada tuan Albert."


"Boleh, ayo kita berangkat sekarang. Tapi berjalan yang pelan, dia sedang hamil anak kembar."


"Benarkah? Selamat ya, semoga kamu di berikan kesehatan terus." Hana tersenyum mendengarkan perkataan orang-orang. Ia tidak menyangka akan seperti ini keadaannya.


Jihan mengantar Hana ke suatu tempat yang di mana Hana tidak tahu, di temani beberapa orang di belakangnya sudah seperti princess saja. Hana terus menoleh ke arah Jihan, ia tidak yakin akan semua ini.


Sampai di mana mereka masuk ke dalam lift, perias juga masih senantiasa membenarkan rambut Hana agar jauh lebih rapi. Hana hanya diam, pasrah saja dengan semua ini. Ia tidak tahu apa yang terjadi nanti, ia merasa semua ini terlalu berlebihan. Hana tidak pernah merasakan semua ini seumur hidupnya.


Lift terbuka ketika sudah sampai di tempat tujuan, ruangan yang luas dan di depan sana terdapat pemandangan indah dengan kaca sebagai pembatasnya. Suara malam ini memang sangat indah dan menenangkan. Mereka mengantarkan Hana sampai ke taman yang indah itu, terdapat kolam renang di sana.


"Sepertinya dia belum datang, kamu bisa menunggunya di sini Hana?"


"Siapa?"

__ADS_1


"Seseorang tentu saja, siapa lagi? Bye!"


"Jihan! Tunggu..." Pergerakan Hana berhenti ketika ia melihat seseorang yang baru saja datang, semua orang membungkuk hormat kepadanya.


Dia melangkah menghampiri Hana, pria itu melangkah maju dan menatap dengan penuh tatapan kagumnya. Ia tidak pernah melihat perempuan itu bisa secantik ini, tidak hanya cantik, auranya juga berbeda dari yang biasanya. Pria itu datang, berdiri tepat di depan Hana.



"Johan..." Pria itu tersenyum, dia mengusap rambut Hana dengan perlahan seperti biasa yang dia lakukan ketika bertemu dengan Hana.


"Kamu cantik sekali."


"Apa maksudnya? Kamu yang nyuruh mereka tadi?" Johan tersenyum lagi, dia mengangguk untuk menyatakan iya atas pertanyaan yang Hana layangkan kepadanya.


Hana tidak menyangka akan semua ini, jadi ini yang semalam akan Johan katakan? Ia tidak tahu, ia merasa semua ini terlalu berlebihan untuknya. Tapi menurut pria itu tidak sama sekali, selagi dia bisa melakukan semua ini kepada tidak?


"Tapi, ini berlebihan. Kamu tidak perlu melakukan semua ini..." Johan meraih tangan Hana, menggenggamnya dengan pelan dan menatap ke arah mata bulat itu.


"Tidak apa, aku melakukan ini karena aku yang mau dan lagi pula, apa yang tidak jika untuk mu? Aku akan melakukan apa saja, Hana. Termasuk semua ini."


"Tapi-"


"Jangan merasa jika dirimu seseorang yang merepotkan, tidak sama sekali. Aku tidak pernah keberatan asalkan itu adalah dirimu, duduk dulu. Kamu lelah bukan?" Hana tidak tahu dengan semua ini, ketika Johan menggenggam tangannya dengan erat membuatnya nyaman.


Johan menuntun Hana untuk duduk di kursi kosong, sedangkan Johan duduk di kursi tepat di depan perempuan itu. Beberapa makanan datang atas perintah Johan sendiri, Hana tidak tahu jika ada makanan sebanyak ini dan satu lagi, bagaimana bisa pria itu tahu apa yang tengah Hana inginkan?


"Aku tahu kamu sedang ingin sesuatu yang segar, seperti es buah misalnya."


"Bagaimana bisa kamu tahu?" Johan tidak menjawab, dia hanya memandangi Hana saja tanpa ada niatan menjawab pertanyaan Hana.


Johan memberikan satu kue coklat kesukaan Hana, di depan Hana sudah banyak makana manis. Tidak sebanyak itu, ibu hamil sebenarnya tidak boleh makan manis berlebihan jadi Johan sendiri yang mengatur semua makanan itu, tetap dengan Hana yang inginkan.


Hana menyuap es buah tersebut, terlalu enak. Ia tidak berekspetasi akan seperti ini. Johan tersenyum lagi, ketika ia melihat reaksi Hana yang sepertinya baik.


"Kamu suka?" Hana mengangguk dan tersenyum dengan senangnya, dia tidak menyangka jika Johan akan tahu semua ini. Padahal dirinya sendiri tidak mengucapkan apa pun.


"Aku siapkan semua itu untukmu, makan yang banyak."


"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana kamu bisa tahu?" Pria itu menunduk pada awalnya dan dia mulai mendongak lagi, melihat ke arah perempuan itu dan kemudian berkata.


"Aku tidak bisa di bohongi, Hana. Aku akan tahu semuanya, walaupun kau tidak membuka suara mu. Aku akan tetap tahu apa yang kamu mau, dan yang kamu pikirkan. Aku berusaha menjadi seseorang yang selalu ada untuk mu..."


"Terimakasih..." Hana tidak bisa berkata apa pun sekarang, bahkan perlakuan yang Johan berikan kepadanya seolah Hana adalah orang yang begitu spesial di dalam hidup pria itu.


"Apa pun untukmu, Hana."

__ADS_1


__ADS_2