Pejuang Takdir Ini

Pejuang Takdir Ini
Chapter : 81


__ADS_3

"Aku rasa tidak ada rekaman lain, tidak ada kamera di rooftop." Ia membuang nafas panjang, bagaimana sekarang? Ia harus segera berpikir keras untuk memecahkan masalah ini.


"Apa ada mahasiswa yang merekam kejadian itu?"


"Aku tidak tahu, memangnya kenapa?" Johan tidak menjawab, karena tidak ada kamera yang bisa menjadikan bukti jika gadis itu tidak melakukan perbuatan keji.


Johan keluar dari ruangan pengawas tersebut, ia hanya bisa seperti ini. Tapi bukan berarti setelah dia mendapatkan sebuah kegagalan dia akan menyerah, jangan berharap akan itu karena di hidup Johan tidak ada kata menyerah begitu saja.


Ia akan mencari sesuatu, dia juga sudah menyuruh aparat berwajib mencari bukti-bukti yang bisa di manfaatkan sebagai barang bukti ketika berada di persidangan nanti. Mungkin ini masih ada waktunya karena Hana belum mendapatkan surat penangkapannya karena tuduhan pembunuhan yang mustahil terjadi.


Johan melangkah ke arah lapangan yang katanya di sana adalah salah satu tempat kejadian dari dua tempat antara rooftop dan lapangan itu sendiri. Pria itu hanya berada di sana, jika pembunuh dia pasti akan menyuruh korbannya untuk naik ke rooftop yang lebih tinggi agar korban cepat meninggal.


Seharusnya begitu bukan? Kenapa dia malah membawa korban ke gedung dengan lantai 1 saja, walaupun memang gedung itu bisa dikatakan cukup tinggi. Tapi dia jatuh bukan di atas tanah, jika pembunuh sudah merencanakan maka dia akan mendorongnya jatuh sampai ke arah atau di tempat bebatuan. Tapi kenapa mendaratnya di atas mobil?


"Tidak masuk akal sekali jika ini dinyatakan sebagai pembunuhan berencana, nanggung sekali."


"Begitu kah menurutmu, aku pikir perkataanmu ada benarnya." Ucapnya, dia berdiri tepat di samping Johan seraya melipat kedua tangannya di antara dada dan perutnya.


Johan menoleh ke arah pria itu, yang memiliki jabatan tinggi di kepolisian sekarang. Dia teman satu kelompok dengan Johan dahulu, masih kalian ingat yang pernah menangkap anak buah Anna ketika melakukan percobaan pemerkosaan saat sma dulu? Arga.


"Tapi sayang tidak ada bukti, itu akan memberatkan pihak Hana."


"Akan sangat merepotkan jika seperti ini terus." Johan membuang nafas panjang, tidak ada situasi yang mendukung penyelidikan ini.


"Aku sudah bilang kepada Dimas tentang kasus ini, dia akan menyusup ke pihak dalam. Santai, dia tipe orang tidak suka terlambat."


...•••...


Mungkin karena terlalu banyak masalah membuatnya kepalanya rasanya akan pernah, masalah kuliah, pekerjaan sekaligus masalah masalah keluarga belum ada yang selesai satu pun. Satya, ia terdiam di tempatnya tanpa beranjak sama sekali.


Dia berada di club malam lebih tepatnya, dia memilih untuk minum di sana menghilangkan masalahnya yang terus bersarang di dalam kepalanya, seolah enggan untuk hilang. Satya tidak tahu lagi harus kemana, ia seolah hilang arah sekarang.


Sampai seseorang sepertinya menyadari akan keberadaan Satya yang berada di tempat laknat tersebut, dia menghampiri Satya dan menepuk bahu pria itu membuatnya menoleh, mendapati temannya berada di sana Satya tersenyum, ia pikir tidak ada yang sadar akan keberadaannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di tempat ini? Bukannya kau susah berjanji kepada istrimu tidak akan datang ke sini lagi?" Ucapnya merasa heran dengan temannya itu, kenapa semakin sesat begini?


"Kata siapa? Aku hanya ingin datang kemari saja, dia tidak akan tahu lagi pula dia tidak ada hak mengatur hidupku."


"Kau sudah gila? Dia istrimu, tentu saja dia berhak. Kau ini waras atau tidak sih?" Satya hanya tertawa seperti orang kehilangan akal, tentu saja akan membuat Rio merasa aneh dengan temannya itu. Apa dia masih waras?


Melihat memang keadaan Satya memang di luar kendali sekarang, sepertinya karena kejadian yang lalu menimpa membuat pria itu seperti orang gila sekarang. Rio pergi sebentar untuk meminta ijin mengantar Satya pulang, karena ia tidak yakin jika Satya bisa pulang sendirian. Lagi pula ia tidak akan tega membuat gadis baik itu menjadi janda.


Rio sudah diberikan ijin, jadi pria itu pun mengambil jaketnya dan bergegas ke tempat Satya. Dia membantu temannya itu berdiri sekaligus keluar dari tempat tersebut dengan susah payah.


"Astaga kau berat sekali, di mana mobilmu? Aku akan mengantarmu pulang ke rumah."


"Untuk apa? Aku tidak mau bertemu dengan pembunuh itu." Rio ingin memukul Satya sekarang, tapi mau bagaimana lagi pria itu sedang tidak sadar karena pengaruh alkohol.


"Dia istri mu bodoh, jika kau tidak menikahinya maka banyak yang mau menikahinya, dasar gila." Satya menoleh ke arah Rio, menatap temannya itu dengan tatapan kebingungan. Apa maksudnya?


"Apa maksudmu? Menikahi pembunuh itu, siapa yang mau?" Rio hanya diam, ia membalas tatapan Satya dengan tatapan datarnya.


Sebenarnya ini merepotkan, tapi mau bagaimana lagi jika tidak di tolong dia akan malah semakin menjadi nantinya. Seperti apa yang pernah Satya lakukan beberapa waktu lalu. Rio menggelengkan kepalanya, melupakan kejadian buruk itu dan kemudian dia masuk ke dalam mobil, menjalankan kendaraan beroda empat itu keluar dari kawasan itu.


Rio bekerja di club malam, dia hanya sebagai peracik minuman saja selebihnya ia tidak melakukan apa pun. Ia hanya akan melayani tamu yang meminta minuman darinya, sudah itu saja. Walaupun sejujurnya Rio tidak mau, tapi keadaan memaksanya berada di sana. Ia menoleh ke arah Satya sekilas, pria itu masih berbicara tidak jelas di tempat duduknya.


Entah kenapa, ia merasa keadaan semakin memburuk. Bahkan saat ia menduga apa yang akan terjadi nanti, ia tidak bisa berbicara sekarang. Dia di bungkam, apalah daya seseorang yang tidak memiliki kekuasaan seperti Rio berdiri di antara menara tinggi, ia tidak akan bisa melakukan apa pun.


"Kau seharusnya bersyukur, mempunyai keluarga yang sayang dengan mu, dan sekali lagi, tuhan memberikan mu istri yang baik. Tapi kenapa kau begitu jahat dengannya? Jika kau tidak suka seharusnya kau berani melepaskannya, bukan menjebaknya ke dalam jurang semakin dalam, kasihan dia."


...•••...


Hana menunggu di rumah, Satya belum juga pulang bahkan sekarang sudah jam 12 malam dan pria itu belum menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Apakah dia tidak mengerti jika dia punya istri yang menunggunya setiap saat?


"Dia kemana? Kenapa nomornya tidak bisa di hubungi?" Ia kebingungan harus apa sekarang, menunggu memang tidak akan membuatnya lelah. Tapi jika seperti ini terus.


Suara mobil datang membuat Hana seketika berlari keluar rumah, melihat gerbang terbuka membuatnya merasa lega. Ia menghampiri mobil itu, dia mendapati seseorang di dalam sana membuat Hana kebingungan.

__ADS_1


"Kak Rio?" Pria itu keluar, dia tersenyum. Ia tidak menyangka jika gadis itu akan menyapanya sekarang, ia pikir Hana sudah tertidur terlebih dahulu karena memang sudah terlalu malam.


"Kau belum tidur?"


"Aku menunggu Satya pulang, apa dia baik-baik saja?" Rio hanya mengangguk saja, ia berjalan memutar arah dan membuka pintu mobil yang lain.


Dia membawa Satya keluar, membantu pria itu berjalan dengan benar sampai masuk ke dalam rumah. Hana mengikuti Satya sampai ke dalam rumah, Rio juga mengantar sampai di dalam.


"Satya, kamu tidak apa-apa?" Ketika Hana memegang tangan pria itu, dia justru menepis tangan Hana dengan kasar dan itu di saksikan oleh Rio sendiri.


"Jangan sentuh aku pembunuh!"


"Satya! Jaga sikapmu, dia istrimu bodoh." Satya melepaskan diri dari Rio, dia justru menatap Rio dengan tatapan aneh membuat Rio merasa jika dirinya di.


"Kenapa? Kau tidak suka dengan sikap ku? Maka pergi lah dari sini." Ucapnya dengan kasar, dia berjalan sendiri menaiki tangga menuju ke kamar sendirian walaupun beberapa kali dia sempat terpeleset tapi tidak sampai terjatuh.


Rio dan Hana hanya melihat karena percuma sana, Satya tidak akan mau di tolong seperti itu. Rio membuang nafas nafas panjang, ia merasa memang keadaan yang dia bayangkan benar-benar terjadi sekarang dan Rio menyaksikan semuanya sendiri.


Pria itu menatap ke arah Hana, gadis itu masih menatap ke arah Satya dengan tatapan khawatir sekaligus perasaan yang mendalam. Rio bisa merasakan semua itu, walaupun ia hanya bisa melihat saja.


"Aku harap kamu tidak apa." Hana hanya tersenyum, dia kembali menatap ke arah Rio. Membuat pria itu tertegun.


"Tidak apa, terimakasih sudah mengantar Satya ke rumah. Aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya."


"Tidak perlu, cukup kamu bahagia itu sudah membuatku senang. Tidur lah, sudah malam. Aku akan pulang sekarang." Ucapnya, dia mengusap kepala Hana dengan pelan.


"Jaga dirimu."


"Hati-hati kak." Rio pergi, pria itu benar-benar pergi meninggalkan Hana berada di sana sendirian saja.


Gadis itu melamun, ia tidak bisa berbuat lebih. Ia menyadari sesuatu jika memang pada dasarnya ia tidak berada di posisi ini, seharusnya Anna yang berada di posisinya. Gadis itu pasti akan bahagia karena dia memiliki cinta dari Satya, bukan seperti dirinya yang justru di benci.


’Apakah aku bisa bertahan? Aku tidak tahu jawabannya.'

__ADS_1


__ADS_2