Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 1


__ADS_3

Fu Ke-wei berdiri diatas bukit, mengangkat kepalanya dan


menghirup nafas panjang, setelah menutup sepasang matanya,


seluruh tubuhnya seperti membeku, tapi setiap otot di tubuhnya


mengendur seperti kehilangan tenaga.


Lama... dia baru kembali mulai bernafas, tingkahnya tadi seperti


orang mati, hanya bedanya dengan orang mati, dia masih bernafas.


Di ufuk timur sudah tampak sinar fajar, sekarang keadaan di


sekeliling sudah mulai terlihat.


Sekeliling pegunungan itu penuh dengan rimba yang


berwarna hijau, rumput liar hijau segar, bunga-bunga liar


terdapat dimana-mana. Dia menghirup hawa segar musim semi, Cuaca bagus di hari


Cing-ming (Ceng-beng) yang sulit didapat, berbeda sekali dengan


Cing-ming tahun lalu yang hujan mengesalkan orang.


Disini adalah tempat bagus untuk tidur panjang, di belakang ada


perbukitan Yin-yang, di depan tidak sampai sembilan li, ada sungai besar berkilau perak, menghadap air membelakangi gunung,


gunungnya terang airnya jernih.


Sebelum matahari fajar muncul, dia sudah selesai berlatih silat


yang setiap hari harus dilatihnya.'...


Dia memungut pedang yang ditaruh di lapangan rumput,


membereskan baju, wajah yang muda, mulai kembali kewajah yang


normal, wajah yang tampak merah berdaging sehat.


Setelah berkelana didunia persilatan selama lima tahun,


perjalanan ini tidak meninggalkan kerutan di wajahnya, dia tetap


muda, sehat, energik. Lima tahun, didalam ingatannya cukup panjang sekali, harihari


yang dilewatinya penuh dengan sabetan pedang dan golok,pengalaman keluar masuk pintu hidup atau mati, sekarang dia malas


memikirkannya. Pada usia delapan belas tahun dia sudah keluar gunung, dia semakin matang, matangnya membuat membuat dia mengerti pahit getirnya


kehidupan, kematangan yang membuat dia sadar akan lahir, tua, sakit, mati, lingkaran hidup yang tidak bisa diramalkan.


Setiap tahun pada hari Cing-ming, dia selalu datang kesini,


membersihkan dan bersembahyang pada makam ayah dan ibunya yang


telah meninggal selama delapan tahun, juga gurunya yang sambil duduk semedi meninggalkan hidupnya, gurunya yang telah mendidik dia hingga tumbuh dewasa. Maka walau dirinya berada puluhan ribu li ditempat liar sana, dia harus sampai ditempat ini pada hari Cing-ming ini, delapan tahun terasa seperti satu hari, dia tidak pernah absen.


Rumah dia berada di depan di bawah lereng gunung, nama


tempatnya adalah kampung Liu Jiang, dia tinggal dengan empat-lima


puluh kepala keluarga, separuh lebih adalah petani yang rajin.


Sekarang dia tinggal sendirian, beberapa gunung kecil di atasnya


ditanami dengan pohon sejenis cemara, usia pohonnya sudah puluhan


tahun, sama sekali tidak perlu diurus oleh dia. Makanya, dia kerasan di dunia persilatan, tidak ada yang dia khawatirkan.


Setelah sembahyang pada ayah ibu dan gurunya, pikiran dia seperti


asap, melayang-layang diatas udara. Dia berpikir: 'manusia begitu kecil dan tidak menentu! Hidup, cuma beberapa puluh tahun, mati, menjadi setumpukan tanah kuning. Tidak perduli orang suci atau bukan, hidup adalah sama, mati pun juga sama, siapa pun tidak bisa lari dari putaran kehidupan.


Matahari sudah naik diatas gunung sebelah timur, angin gunung


bertiup dingin. Dia^membereskan alat-alat sembahyang,


dimasukan ke dalam keranjang jinjing, lalu keluar dari mulut


pekuburan, sebelum pergi dia menatap lagi pada pekuburan yang


sepi. Dia tahu, dia sudah harus pergi, pergi kejalan yang dia pilih, pergi ke alam yang sulit ditebak. Cing-ming tahun depan, apakah dia bisa kembali kepekuburan ini untuk membersihkan dan membetulkan kuburannya"


Hanya bisa mengandalkan dugaan saja. Mungkin, tulang mayat dia


sendiri sudah tidak tahu dikubur ditanah kuning mana, dan dimakan oleh belatung.

__ADS_1


Akhirnya dia pergi dengan langkah yang mantap,


menandakan tekad dia yang akan maju kedepan.


Sampai di bawah bukit, kampung Liu-jiang sudah terlihat.


Dari deretan rumah yang tidak teratur, dia sudah dapat melihat


dengan jelas bangunan rumah berderet tiga, didepannya ada


pekarangan besar, itulah rumahnya.


Berjarak tiga-empat li, tiba-tiba dia melihat dari bayangan hutan, di depan benteng pekarangannya ada satu bayangan asing


berkelebat menghilang. Dia berdiri, berhenti berjalan.


Pelan-pelan dia menaruh keranjang jinjing nya, berdiri


konsentrasi, wajahnya telah berubah, berubah jadi dingin, aneh,


sepasang matanya bersinar, seluruh tubuhnya penuh dengan


hawa yang menakutkan. Dia mengambil pedangnya dan diselipkan dipinggang,


mengangkat kain mantel panjang disisipkan kepinggangnya,


menggulung lengan baju, memeriksa pelindung lengan sebelah kiri


dan kanan. Diluar pelindung tangannya masingmasing ada tiga bilah


pisau yang bentuknya tidak aneh tapi bersinar dan melengkung


seperti bulan sabit, nama pisaunya adalah Xiu-luo, buatan India.


Karena senjatanya, dia di dunia persilatan dijuluki: Xie-jianxiu-luo (Pedang Sesat Pisau Melengkung).


Nama Xie-jian-xiu-luo, didunia persilatan diakui sebagai orang


yang paling berani, paling sulit ditebak, paling sulit dihadapi, pesilat muda misterius, tidak perduli pesilat mana baik dari golongan putih atau golongan hitam, semua segan terhadapnya, selain itu


perbuatannya tidak pernah bohong dan tidak pernah menyesal.


Walau Xie-jian-xiu-luo menggemparkan dunia persilatan, tapi


orang yang tahu nama asli dan wajah aslinya, sangatlah sedikit


sekali. Setelah pagi lewat, didalam kampung hanya tinggal


membetulkan kuburan atau bersembahyang pada nenek


moyang. Kemudian dia muncul dibawah pohon besar di mulut kampung, di


depan satu jembatan kecil dari kayu yang melintang diatas sungai,


dia berdiri cliatas jembatan, melihat pekarangan rumah dia yang


berjarak setengah li. Dia tidak melihat lagi kearah kampung, mulutnya menyungging


tawa dingin, tiba-tiba dengan langkah besar dia melewati jembatan


kecil, dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Wajahnya sekali pun tidak menengok


Tidak lama kemudian, ada delapan orang, tua, muda, lakilaki,


wanita menelusuri jalan kecil mengejarnya.


... Cerita Silat Novel...



Rabu, 07 Maret 2001


Pengelana Rimba Persilatan 1


Fu Ke-wei berdiri diatas bukit, mengangkat kepalanya dan


menghirup nafas panjang, setelah menutup sepasang matanya,


seluruh tubuhnya seperti membeku, tapi setiap otot di tubuhnya


mengendur seperti kehilangan tenaga.


Lama... dia baru kembali mulai bernafas, tingkahnya tadi seperti


orang mati, hanya bedanya dengan orang mati, dia masih bernafas.


Di ufuk timur sudah tampak sinar fajar, sekarang keadaan di


sekeliling sudah mulai terlihat.

__ADS_1


Sekeliling pegunungan itu penuh dengan rimba yang


berwarna hijau, rumput liar hijau segar, bunga-bunga liar


terdapat dimana-mana. Dia menghirup hawa segar musim semi, Cuaca bagus di hari


Cing-ming (Ceng-beng) yang sulit didapat, berbeda sekali dengan


Cing-ming tahun lalu yang hujan mengesalkan orang.


Disini adalah tempat bagus untuk tidur panjang, di belakang ada


perbukitan Yin-yang, di depan tidak sampai sembilan li, ada sungai besar berkilau perak, menghadap air membelakangi gunung,


gunungnya terang airnya jernih.


Sebelum matahari fajar muncul, dia sudah selesai berlatih silat


yang setiap hari harus dilatihnya.'...


Dia memungut pedang yang ditaruh di lapangan rumput,


membereskan baju, wajah yang muda, mulai kembali kewajah yang


normal, wajah yang tampak merah berdaging sehat.


Setelah berkelana didunia persilatan selama lima tahun,


perjalanan ini tidak meninggalkan kerutan di wajahnya, dia tetap


muda, sehat, energik. Lima tahun, didalam ingatannya cukup panjang sekali, hari hari


yang dilewatinya penuh dengan sabetan pedang dan golok,


pengalaman keluar masuk pintu hidup atau mati, sekarang dia malas


memikirkannya. Pada usia delapan belas tahun dia sudah keluar gunung, dia semakin matang, matangnya membuat membuat dia mengerti pahit getirnya


kehidupan, kematangan yang membuat dia sadar akan lahir, tua, sakit, mati, lingkaran hidup yang tidak bisa diramalkan.


Setiap tahun pada hari Cing-ming, dia selalu datang kesini,


membersihkan dan bersembahyang pada makam ayah dan ibunya yang


telah meninggal selama delapan tahun, juga gurunya yang sambil duduk semedi meninggalkan hidupnya, gurunya yang telah mendidik dia hingga tumbuh dewasa. Maka walau dirinya berada puluhan ribu li ditempat liar sana, dia harus sampai ditempat ini pada hari Cing-ming ini, delapan tahun terasa seperti satu hari, dia tidak pernah absen.


Rumah dia berada di depan di bawah lereng gunung, nama


tempatnya adalah kampung Liu Jiang, dia tinggal dengan empat-lima


puluh kepala keluarga, separuh lebih adalah petani yang rajin.


Sekarang dia tinggal sendirian, beberapa gunung kecil di atasnya


ditanami dengan pohon sejenis cemara, usia pohonnya sudah puluhan


tahun, sama sekali tidak perlu diurus oleh dia. Makanya, dia kerasan di dunia persilatan, tidak ada yang dia khawatirkan.


Setelah sembahyang pada ayah ibu dan gurunya, pikiran dia seperti


asap, melayang-layang diatas udara. Dia berpikir: 'manusia begitu kecil dan tidak menentu! Hidup, cuma beberapa puluh tahun, mati, menjadi setumpukan tanah kuning. Tidak perduli orang suci atau bukan, hidup adalah sama, mati pun juga sama, siapa pun tidak bisa lari dari putaran kehidupan.


Matahari sudah naik diatas gunung sebelah timur, angin gunung


bertiup dingin. Dia^membereskan alat-alat sembahyang,


dimasukan ke dalam keranjang jinjing, lalu keluar dari mulut


pekuburan, sebelum pergi dia menatap lagi pada pekuburan yang


sepi. Dia tahu, dia sudah harus pergi, pergi kejalan yang dia pilih, pergi ke alam yang sulit ditebak. Cing-ming tahun depan, apakah dia bisa kembali kepekuburan ini untuk membersihkan dan membetulkan kuburannya"


Hanya bisa mengandalkan dugaan saja. Mungkin, tulang mayat dia


sendiri sudah tidak tahu dikubur ditanah kuning mana, dan dimakan oleh belatung.


Akhirnya dia pergi dengan langkah yang mantap,


menandakan tekad dia yang akan maju kedepan.


Sampai di bawah bukit, kampung Liu-jiang sudah terlihat.


Dari deretan rumah yang tidak teratur, dia sudah dapat melihat


dengan jelas bangunan rumah berderet tiga, didepannya ada


pekarangan besar, itulah rumahnya.


Berjarak tiga-empat li, tiba-tiba dia melihat dari bayangan hutan, di depan benteng pekarangannya ada satu bayangan asing

__ADS_1


berkelebat menghilang.


__ADS_2