Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 55


__ADS_3

Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen dengan kepala terangkat


melewatinya. Seorang laki-laki setengah baya berwajah kuning yang berada


di belakang Huang-jit-ye, diam-diam mengayunkan tangan


kanannya ke-depan, seberkas sinar hijau terbang melayang


menuju punggungnya Fu Ke-wei.


Fu Ke-wei sepertinya tidak merasakan, dia tetap melangkah


dengan tenang. Ouw Yu-zhen yang berjalan di sebelah kiri belakang


dia, melangkah setengah langkah ke kanan, lengan bajunya dengan


enteng dikibaskan, sinar hijau itu mendadak menghilang.


Kedua orang itu tidak memalingkan kepalanya, juga tidak


berhenti, dengan santai turun kebawah.


Laki-laki setengah baya yang berwajah kuning tertegun,


akhirnya menghirup hawa dingin berkata:


"Mungkinkah" Seranganku bisa gagal?"


"Adik ketiga, bukan saja kau gagal, Jara Pelebur Darah mu juga diambil wanita itu." Kata Huang-jit-ye, wajahnya sangat tidak tenang, "jika kita tidak bisa segera mengetahui asal usulnya juga tidak tahu ada berapa banyak pembantu dia, mungkin kita akan


kalah. Ayo jalan! Mari kita pergi ke taman Tai-hang


merundingkannya, bila perlu......"


Tanggal tiga di awal musim panas, di pekarangan timur


penginapan tua Shang-dang yang terletak di sebelah timur rumah


putra raja Shen. Karena dekat dengan rumah putra raja, keamanannya sangat


terjaga, penduduk disekitar-nya juga jadi aman, tidak ada orang


yang berani membuat onar disekitar ini. Sehingga, penginapan tua


Shang-dang menjadi salah satu penginapan mewah di daerah ini.


Pekarangan timur di penginapan itu luas sekali, selain dihiasi oleh beberapa pot bunga, di tanam juga dua pohon tua Mei, ada beberapa


kursi meja dari batu untuk istirahat tamu, di depan dan di belakang dua jalan dinyalakan dua buah lentera.


Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen adalah satu satunya tamu


penginapan yang belum tidur.


Kedua orang itu sambil mendinginkan tubuh sambil


mengobrol. Di atas meja batu ada satu teko teh dengan dua buah cangkir teh,


di sisinya ditaruh satu kipas tilap yang terbuka, diatas kipas ada gambar tiruan Tang He-hu. Tentu saja bukan gambar asli Tang Be-hu, Tang Be-hu sudah mati dua ratus tahun lebih.

__ADS_1


Kipas seperti ini dibuat di daerah Su-hang, di Jiang-nan, adalah


kipas bambu yang sangat biasa, dengan uang sepuluh sen lebih bisa


membeli satu kipas, di Shan-xi tentu saja tidak seharga itu.


Angin kecil bertiup, dua bayangan hitam terbang dari atas tembok


benteng, mendadak muncul disisi meja mereka.


Dua orang ini tetap duduk tenang seperti semula, terhadap dua


bayangan orang yang terbang datang dengan ganasnya, sedikit pun tidak memperdulikan, sedikit pun tidak ada gerakan untuk mempertahankan


diri. Dua bayangan hitam itu memakai baju malam, di punggungnya ada pedang panjang, dua pasang matanya bersinar aneh, tidak seperti mata manusia malah seperti mata hewan yang dapat melihat di kegelapan,


sangat menakutkan orang. "Duduklah!" Fu Ke-wei menunjuk pada dua kursi lainnya, "kalian datang kesini kan bukan untuk berdiri saja.


"Siapa nama dan marga anda?" kata Fu Ke-wei dengan nada


dalam. "Aku Hou-yen, dia adalah temanku, marga Tang, namanya Nan."


"Ooo! Ternyata adalah kepala ruang Zhong-yi dari perkampungan Tian-wang, Kera Tangan Besi, saudara Hou dan Tie-fo (Budha besi)


komandan Tang, maaf-maaf. Aku marga Fu, namaku di urutan ketiga,


karena namaku diambil dari urutan angka, anda berdua panggil saja aku Fu-shan, he he he! Silahkan duduk."


"Kalau nona ini siapa..." Katanya jurus Tangan Gadis Memetik


Bintang dia sangat hebat, pastinya dia adalah Gadis Giok nona Ling yang ternama di dunia persilatan itu!"


kau panggil saja aku Fu-zhen!"


"Aku datang kemari tidak untuk berkelakar." Wajah Houyen tampak tidak senang, "anggap saja kalian ini marga Fu. Fu-shan, kau sengaja .datang ke Lu-an ini, apa ingin pamer?"


"Iii...! Kata-katamu ini aneh." Wajah Ouw Yu-zhen yang elok tampak menonjol, "kalau kami datang ke Lu-an untuk pamer, apa hubungannya dengan perkampungan Tian-wang anda" Apakah


Lu-an adalah daerah rampokan kalian" Apakah aku lewat Lu-an akan


merampok" Disini apa yang pantas untuk dipamerkan?"


"Kau......" Hou-yen tidak bisa menjawab.


"Aku berani bertaruh jika perkampungan anda pasti ada hubungannya dengan Huang Yung-sheng, jika tidak, maka aku akan membawa kalian


kerumah putra raja, menjelaskan pada pengawal, aku jamin bisa


mendapatkan hadiah uang dua atau tiga ratus liang perak, kau percaya tidak?"


Hou-yen tidak bisa bicara, kemarahannya tambah


memuncak. "Rumah putra raja dekat sekali, jika anda merasa tidak


repot......" Hou-yen tidak bisa menahan amarahnya lagi, dengan


menggigit gigi dia mengulurkan tangan mencengkram.


Tapi dia malah celaka sendiri! Tangan yang sekeras besi itu sebaliknya ditangkap Fu Ke-wei dan ditekan ke atas meja batu, di lanjutkan dengan suara tamparan keras pada kepalanya, kecepatan pukulannya seperti

__ADS_1


kilat, Hou-yen bukan saja tidak bisa meronta, mengeluarkan suara jeritan juga tidak keburu.


Tie-fo (Budha Besi) Tang-nan sangat terkejut, segera dia


mencoba mencabut pedangnya.


Pedang dia biasa selipkan dipunggungnya, memang tidak begitu


mudah mencabutnya, keuntungannya adalah tidak mengganggu


gerakan, tapi kerugiannya buat lengan yang kurang panjang, tidak


gampang mencabutnya, tidak semudah dan tidak selincah jika


diselipkan di pinggang. Sehingga baru saja tangannya mengenai gagang pedang "Paak!"


Tiba-tiba sebuah teko teh pecah di atas bahu kanan Tang-nan, air


teh panas segera membasahi wajahnya, sungguh sangat sakit sekali,


lengan kanannya terasa mati rasa, kehilangan tenaga untuk


mencabut pedang. Fu Ke-wei melepaskan Hou-yen, dia meloncat melewati meja


batu, tangan dan kakinya menyerang, pukulannya seperti angin


ribut, sepasang kakinya menendang dada dan perut lawan,


telapak dan tinju mendarat di dasar leher, sepasang bahu dan


telinga jadi naik turun, suara daging terkena pukulan tidak


terhitung banyaknya. Begitu sepasang kaki Fu Ke-wei menyentuh tanah, Tang-nan


sudah roboh. "Aku tidak percaya kau benar Budha yang terbuat dari besi." Fu Ke-wei menepuk-nepuk tangannya, "Hawa murnimu masih belum


mencapai tingkat keenam, mana bisa disebut Tie-fo" Berdirilah, aku ingin memberi beberapa pukulan lagi untuk melemaskan otot dan


tulangmu, coba lihat apa tenaga dalammu sudah berhasil dilatih


belum." Tang-nan merintih dan meronta, ingin berdiri tapi tenaganya tidak


bisa dikerahkan, beberapa kali dia mencoba mengangkat tubuhnya


ke atas, tapi kembali jatuh, langit seperti berputar tanah terasa


gelap, dia meronta sulit berdiri.


Hou-yen yang ilmu silatnya lebih tinggi, sudah lebih dulu


terkapar pingsan diatas meja batu.


Akhirnya Tang-nan dengan susah payah bisa berdiri, meski masih


bergoyang-goyang. "Kau...kau bagus...bagus pukulannya......"


Tang-nan berkata dengan kacau, lidahnya seperti


membesar satu kali lipat, suaranya tidak jelas.

__ADS_1


"Aku sedang berpikir, apakah akan mengantarkan kalian ke rumah raja Shen." Fu Ke-wei menepuk kipas lipat di tangan berkata pada diri sendiri, "terhadap kalian kepala perampok, para pengawal pasti akan senang sekali, dijamin pasti akan mendapatkan hadiah dua tiga ratus liang perak, uang ini paling sedikit bisa dipakai hidup senang selama duatahun tanpa bekerja..."


__ADS_2