Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 15


__ADS_3

Hari ini, tidak lama setelah lewat tengah hari, saat dia masuk


keruang penginapan, wajahnya sudah menjadi hijau keabu-abuan,


pucat, sepasang matanya tidak bersinar, langkahnya berat, dan juga bau obat dan luka busuk di tubuhnya, semua menjelaskan dia adalah


orang yang akan menjalin keluarga dengan raja neraka. Pedang di


pinggangnya, seperti akan membebani dia jatuh! dibandingkan saat


dia muncul pertama di Iao-gu-fan seperti dua orang yang berbeda.


"Tuan, kau...kau kenapa?" pelayan yang


membopong dia dengan perhatian ber-tanya, "wajahmu jelek


sekali, apakah lukanya kambuh lagi?"


Waktu dia terluka pelayan sudah tahu, setiap hari pelayan yang


memanggilkan tabib memeriksanya, mengganti obat dan makan obat,


tapi semakin diobati semakin parah.


"Sungguh aku merasa tidak tahan." Katanya dengan nafas


terengah-engah. "Tuan, kalau tidak tahan harus baik-baik istirahat!" Pelayan


membopong dia masuk kedalam, menuju kekamarnya, sambil


berjalan sambil menyalahkan.


"Aku tidak bisa istirahat." Dengan lemas berkata, "aku tahu aku akan segera mati, tapi sebelum mati, aku harus tahu orang yang diam-diam ingin membunuhku, tidak dengan tangan sendiri membunuh mereka,


mati pun tidak bisa menutup mata."


"Tuan..." "Aku tidak akan mati di penginapanmu." Dia terengahengah


kesakitan, "tolong suruh orang panggilkan tabib Luo, obat jamu dia dingin, lebih cocok untuk luka. Dan juga itu tabib Zhuang, tolong


suruh orang panggil dia."


"Baik aku sekarang menyuruh seorang pelayan kecil pergi


memanggilnya." Toko tabib Luo berjarak setengah li dari penginapan, tabib ini


cukup ternama di daerah ini, cukup mahir terhadap pengobatan


keseleo atau luka terjatuh.


Saat tabib Luo pulang meninggalkan penginapan, sudah sekitar


jam empat sore, di belakangnya sudah diikuti oleh seorang


setengah baya yang tinggi kurus.


"Apakah tabib Luo?" Orang setengah baya sekali masuk toko


sudah memanggil, "sibuk sekali tampaknya, apa baru pulang dari


penginapan Yi-Teng?"


"Benar." Tabib Luo membalikan tubuh, kotak obat diberikan pada


pelayan toko, "saudara ada keperluan apa" Silahkan duduk di dalam, silahkan!"


Tuan rumah dengan tamunya sudah duduk, pelayan kecil sudah


mundur setelah menyiapkan teh.


Tamu itu menyebut dirinya marga Sun, datang dari Nanjing.


"Tabib Luo, aku mengikutimu sejak dari penginapan." Orang


marga Sun terus terang mengatakan maksudnya, "pasienmu itu

__ADS_1


bukan saja usahanya sejenis dengan aku, dan juga tetangga satu


jalan. Orang ini sifatnya sombong, suka berkelahi, tidak mudah


didekati. Tapi mengingat usahanya sejenis, aku tidak bisa


meninggalkan dia tanpa mengurusnya, makanya aku berencana


diam-diam menyewa perahu, menyewa beberapa orang memaksa


dia pulang ke Nan-jing, jika tidak memaksanya, dia tidak akan mau


pulang, niat balas dendamnya terlampau keras, dia tidak akan


mendengarkan nasihat siapa pun."


"Benar, dia tidak mau pulang." Tabib Luo berkata, "kadang


pingsan, tapi tetap saja mulutnya berguman apa itu wanita hina,


apakah luka dia ada hubungannya dengan wanita?"


"Tidak tahu." Marga Sun berkata, "maksud ku datang kesini, adalah


berharap mengetahui keadaan sakitnya, supaya ada persiapan, jika


membawa dia pergi, dalam dua hari di dalam perahu, apakah akan


berbahaya?" "Ini...sulit dikatakan." Tabib Luo berpikir dengan hati-hati berkata,


"dadanya ada tiga luka menganga, dalam sampai ketulang, telah diobati beberapa hari, tapi lukanya tidak merapat juga, kalau sakitnya kambuh dia tidak mau berbaring, setiap hari pergi keluar, katanya mencari jejak, obat yang dimakan tidak cukup untuk dia, panasnya tidak turun-turun seluruh tubuhnya seperti api, yang aneh adalah dia tetap masih bisa bertahan, tapi....jika di perahu dia mau istirahat, kiranya tidak apa-apa."


"Dia tidak akan mati bukan?"


"Mungkin, masalahnya adalah entah dia bisa tenang atau tidak,


bisa tidak membatalkan niat gilanya membalas dendam, jika dengan


tenang baik-baik diobati, dia tidak akan mati."


"Ooo! Kalau begitu aku jadi lega."


orang yang tidak ingin hidup, menurut lukanya dua hari lalu


mungkin dia sudah harus berbaring, sebabnya dia masih bisa


bertahan sampai sekarang, bisa dikatakan karena kuatnya


keinginan dia untuk hidup dan niat membalas dendam, dia melebihi


orang biasa, dan dapat bertahan tidak jatuh. Di Nan-jing ada tabib yang bagus, bawalah dia pergi! Dia akan hidup."


"Terima kasih atas nasihatmu, sekarang aku pulang, aku akan


berusaha membawa dia pulang ke Nan-jing."


Tidak lama, marga Sun pamit meninggalkan toko.


Dua orang awak perahu menyatu dengan orang-orang pejalan


kaki, di kejauhan mengikuti marga Sun dari belakang.


Malam sudah tiba, tapi tamu-tamu penginapan Yi-feng masih


ada yang keluar masuk, sampai dini hari, baru suara orang


semakin reda. Fu Ke-wei tinggal di kamar pekarangan belakang barisan ketiga,


tamunya kebanyakan adalah pedagang.


Sekitar jam dua dini hari, dua pelayan yang bertugas melayani Fu


Ke-wei keluar dari kamar, menutup pintu kamar, menelusuri gang


kembali ke tempat tinggalnya.

__ADS_1


Sinar lentera putih dibawah gang terbatas, para tamu sudah


tidur, tidak terlihat ada orang yang bergerak dijalan.


Ada dua bayangan hitam melayang turun kepekarangan dari


arah barat, yang satu menempelkan tubuh disudut belokan gang,


yang satu diam-diam datang ke kamarnya Fu Ke-wei, tanpa


mengeluarkan suara membuka pintu kamar, sekelebat masuk


kedalam. Didalam kamar gelap sekali, pelayan tidak menyalakan lampu.


"Aku...aku ingin minum..." dari arah ranjang terdengar


panggilan yang lemah, tidak bertenaga seperti merintih.


Tamu yang sendirian, tidak ada teman yang membantu,


keadaannya pasti menyedihkan.


"Aku bawakan air untuk kau minum." Kata bayangan hitam itu,


berjalan menuju arah suara.


"Buuk..." terdengar satu suara, bayangan hitam itu jatuh


kebawah, ditangkap oleh satu tangan besar yang kuat sekali, dia


tidak dapat bergerak. Bayangan hitam yang bertugas mengawasi dan membantu,


menempel di dinding sudah bersiap-siap, matanya tidak berkedip


menatap pintu kamar, setiap saat dapat dengan cepat melabrak ke


dalam membantu. Teman telah masuk beberapa saat, seharusnya, tidak perduli


apakah berhasil atau tidak, dia sudah harus keluar, saat berniat


meninggalkan tempat persembunyian, tiba-tiba di belakang tubuh


terdengar satu suara dalam:


"Apakah anda sedang menunggu orang?"


Bayangan hitam itu terkejut, mendadak dia membalikan tubuh,


tangannya sudah memegang belati, tanpa berpikir maju menyerang


dengan belati, orang yang menyerang lebih dulu menang, yang


belakang menyerang celaka, asal menemukan ada orang, harus


dibunuh untuk membungkam mulutnya.


Di sudut belokan gang yang tidak tersorot oleh sinar lampu,


bayangan hitam tidak perduli siapa orang yang datang, asal melihat satu bayangan orang, mana ada waktu melihat dulu siapa orangnya"


Tusukan belati cepat laksana kilat, reflek-nya sungguh tidak bisa


dibandingkan, seharusnya tidak mungkin bisa gagal, orang yang


gerakannya secepat ini, menjadi seorang pembunuh pasti senang


melakukannya. Belati menusuk kearah jantung, arahnya tepat sekali.


Tapi, tusukan mematikan ini malah gagal, di depan mata


bayangan hitam berkelebat, belati nya menusuk ke tempat


kosong, lalu dibawah perut "biji kejiFnya bergetar, terkena satu


tendangan yang kuat sekali, "Mmm..." terdengar suara, "Buuk" satu

__ADS_1


getaran besar, punggungnya menabrak dinding, segera jatuh


ketanah pingsan di injak oleh seseorang.


__ADS_2