
Hari ini, tidak lama setelah lewat tengah hari, saat dia masuk
keruang penginapan, wajahnya sudah menjadi hijau keabu-abuan,
pucat, sepasang matanya tidak bersinar, langkahnya berat, dan juga bau obat dan luka busuk di tubuhnya, semua menjelaskan dia adalah
orang yang akan menjalin keluarga dengan raja neraka. Pedang di
pinggangnya, seperti akan membebani dia jatuh! dibandingkan saat
dia muncul pertama di Iao-gu-fan seperti dua orang yang berbeda.
"Tuan, kau...kau kenapa?" pelayan yang
membopong dia dengan perhatian ber-tanya, "wajahmu jelek
sekali, apakah lukanya kambuh lagi?"
Waktu dia terluka pelayan sudah tahu, setiap hari pelayan yang
memanggilkan tabib memeriksanya, mengganti obat dan makan obat,
tapi semakin diobati semakin parah.
"Sungguh aku merasa tidak tahan." Katanya dengan nafas
terengah-engah. "Tuan, kalau tidak tahan harus baik-baik istirahat!" Pelayan
membopong dia masuk kedalam, menuju kekamarnya, sambil
berjalan sambil menyalahkan.
"Aku tidak bisa istirahat." Dengan lemas berkata, "aku tahu aku akan segera mati, tapi sebelum mati, aku harus tahu orang yang diam-diam ingin membunuhku, tidak dengan tangan sendiri membunuh mereka,
mati pun tidak bisa menutup mata."
"Tuan..." "Aku tidak akan mati di penginapanmu." Dia terengahengah
kesakitan, "tolong suruh orang panggilkan tabib Luo, obat jamu dia dingin, lebih cocok untuk luka. Dan juga itu tabib Zhuang, tolong
suruh orang panggil dia."
"Baik aku sekarang menyuruh seorang pelayan kecil pergi
memanggilnya." Toko tabib Luo berjarak setengah li dari penginapan, tabib ini
cukup ternama di daerah ini, cukup mahir terhadap pengobatan
keseleo atau luka terjatuh.
Saat tabib Luo pulang meninggalkan penginapan, sudah sekitar
jam empat sore, di belakangnya sudah diikuti oleh seorang
setengah baya yang tinggi kurus.
"Apakah tabib Luo?" Orang setengah baya sekali masuk toko
sudah memanggil, "sibuk sekali tampaknya, apa baru pulang dari
penginapan Yi-Teng?"
"Benar." Tabib Luo membalikan tubuh, kotak obat diberikan pada
pelayan toko, "saudara ada keperluan apa" Silahkan duduk di dalam, silahkan!"
Tuan rumah dengan tamunya sudah duduk, pelayan kecil sudah
mundur setelah menyiapkan teh.
Tamu itu menyebut dirinya marga Sun, datang dari Nanjing.
"Tabib Luo, aku mengikutimu sejak dari penginapan." Orang
marga Sun terus terang mengatakan maksudnya, "pasienmu itu
__ADS_1
bukan saja usahanya sejenis dengan aku, dan juga tetangga satu
jalan. Orang ini sifatnya sombong, suka berkelahi, tidak mudah
didekati. Tapi mengingat usahanya sejenis, aku tidak bisa
meninggalkan dia tanpa mengurusnya, makanya aku berencana
diam-diam menyewa perahu, menyewa beberapa orang memaksa
dia pulang ke Nan-jing, jika tidak memaksanya, dia tidak akan mau
pulang, niat balas dendamnya terlampau keras, dia tidak akan
mendengarkan nasihat siapa pun."
"Benar, dia tidak mau pulang." Tabib Luo berkata, "kadang
pingsan, tapi tetap saja mulutnya berguman apa itu wanita hina,
apakah luka dia ada hubungannya dengan wanita?"
"Tidak tahu." Marga Sun berkata, "maksud ku datang kesini, adalah
berharap mengetahui keadaan sakitnya, supaya ada persiapan, jika
membawa dia pergi, dalam dua hari di dalam perahu, apakah akan
berbahaya?" "Ini...sulit dikatakan." Tabib Luo berpikir dengan hati-hati berkata,
"dadanya ada tiga luka menganga, dalam sampai ketulang, telah diobati beberapa hari, tapi lukanya tidak merapat juga, kalau sakitnya kambuh dia tidak mau berbaring, setiap hari pergi keluar, katanya mencari jejak, obat yang dimakan tidak cukup untuk dia, panasnya tidak turun-turun seluruh tubuhnya seperti api, yang aneh adalah dia tetap masih bisa bertahan, tapi....jika di perahu dia mau istirahat, kiranya tidak apa-apa."
"Dia tidak akan mati bukan?"
"Mungkin, masalahnya adalah entah dia bisa tenang atau tidak,
bisa tidak membatalkan niat gilanya membalas dendam, jika dengan
tenang baik-baik diobati, dia tidak akan mati."
"Ooo! Kalau begitu aku jadi lega."
orang yang tidak ingin hidup, menurut lukanya dua hari lalu
mungkin dia sudah harus berbaring, sebabnya dia masih bisa
bertahan sampai sekarang, bisa dikatakan karena kuatnya
keinginan dia untuk hidup dan niat membalas dendam, dia melebihi
orang biasa, dan dapat bertahan tidak jatuh. Di Nan-jing ada tabib yang bagus, bawalah dia pergi! Dia akan hidup."
"Terima kasih atas nasihatmu, sekarang aku pulang, aku akan
berusaha membawa dia pulang ke Nan-jing."
Tidak lama, marga Sun pamit meninggalkan toko.
Dua orang awak perahu menyatu dengan orang-orang pejalan
kaki, di kejauhan mengikuti marga Sun dari belakang.
Malam sudah tiba, tapi tamu-tamu penginapan Yi-feng masih
ada yang keluar masuk, sampai dini hari, baru suara orang
semakin reda. Fu Ke-wei tinggal di kamar pekarangan belakang barisan ketiga,
tamunya kebanyakan adalah pedagang.
Sekitar jam dua dini hari, dua pelayan yang bertugas melayani Fu
Ke-wei keluar dari kamar, menutup pintu kamar, menelusuri gang
kembali ke tempat tinggalnya.
__ADS_1
Sinar lentera putih dibawah gang terbatas, para tamu sudah
tidur, tidak terlihat ada orang yang bergerak dijalan.
Ada dua bayangan hitam melayang turun kepekarangan dari
arah barat, yang satu menempelkan tubuh disudut belokan gang,
yang satu diam-diam datang ke kamarnya Fu Ke-wei, tanpa
mengeluarkan suara membuka pintu kamar, sekelebat masuk
kedalam. Didalam kamar gelap sekali, pelayan tidak menyalakan lampu.
"Aku...aku ingin minum..." dari arah ranjang terdengar
panggilan yang lemah, tidak bertenaga seperti merintih.
Tamu yang sendirian, tidak ada teman yang membantu,
keadaannya pasti menyedihkan.
"Aku bawakan air untuk kau minum." Kata bayangan hitam itu,
berjalan menuju arah suara.
"Buuk..." terdengar satu suara, bayangan hitam itu jatuh
kebawah, ditangkap oleh satu tangan besar yang kuat sekali, dia
tidak dapat bergerak. Bayangan hitam yang bertugas mengawasi dan membantu,
menempel di dinding sudah bersiap-siap, matanya tidak berkedip
menatap pintu kamar, setiap saat dapat dengan cepat melabrak ke
dalam membantu. Teman telah masuk beberapa saat, seharusnya, tidak perduli
apakah berhasil atau tidak, dia sudah harus keluar, saat berniat
meninggalkan tempat persembunyian, tiba-tiba di belakang tubuh
terdengar satu suara dalam:
"Apakah anda sedang menunggu orang?"
Bayangan hitam itu terkejut, mendadak dia membalikan tubuh,
tangannya sudah memegang belati, tanpa berpikir maju menyerang
dengan belati, orang yang menyerang lebih dulu menang, yang
belakang menyerang celaka, asal menemukan ada orang, harus
dibunuh untuk membungkam mulutnya.
Di sudut belokan gang yang tidak tersorot oleh sinar lampu,
bayangan hitam tidak perduli siapa orang yang datang, asal melihat satu bayangan orang, mana ada waktu melihat dulu siapa orangnya"
Tusukan belati cepat laksana kilat, reflek-nya sungguh tidak bisa
dibandingkan, seharusnya tidak mungkin bisa gagal, orang yang
gerakannya secepat ini, menjadi seorang pembunuh pasti senang
melakukannya. Belati menusuk kearah jantung, arahnya tepat sekali.
Tapi, tusukan mematikan ini malah gagal, di depan mata
bayangan hitam berkelebat, belati nya menusuk ke tempat
kosong, lalu dibawah perut "biji kejiFnya bergetar, terkena satu
tendangan yang kuat sekali, "Mmm..." terdengar suara, "Buuk" satu
__ADS_1
getaran besar, punggungnya menabrak dinding, segera jatuh
ketanah pingsan di injak oleh seseorang.