
Dia merintih sekali, pingsan tidak sadar-kan diri.
Fu Ke-wei menempatkan Ratu Lebah di penginapan di
pelabuhan Fu, setelah meninggalkan cukup uang, dia buruburu
menuju keselatan. Lembah Da-yin dibawah bukit Shuang-jian di gunung Lu,
kampung Tao letaknya setengah li di tenggara hutan.
Perkampungan ini sebenarnya hanya ada sepuluh lebih rumah, ketua
perkampungannya Hartawan Besar Zhan, Zhan Fan-chen, di Jiu-jiang
dia cukup punya nama, termasuk bangsawan setempat, orangnya
ramah dan penderma. Siapa pun tidak tahu dia berpura-pura baik,
lebih-lebih tidak ada orang yang tahu dia adalah ketua perkumpulan Qing-lian, pemimpin pembunuh bayaran.
Fu Ke-wei siang malam berlari ke Jiu-jiang, dia tahu dia harus
cepat, maka dia segera melakukan gerakan kilat, jika menunggu
perkumpulan Qing-lian mendapat tanda bahaya pasti akan
mengumpulkan pesilat tinggi untuk berjaga, atau ketua Zhan setelah mendengar berita, bisa melarikan diri, dunia demikian
besar, kemana mencari orang menakutkan yang tidak diketahui
siapa pun" Di selatan perkampungan Tao sekitar satu li, ada satu lereng
datar seluas sepuluh ha, penuh ditumbuhi rumput setinggi lutut,
seperti karpet hijau yang besar.
Keluar masuk orang kampung, harus melalui lereng ini. Jalan
kecil menuju kota menerobos lereng, berdiri diatas lereng, dapat
melihat dengan jelas pemandangan pintu kampung.
Lewat tengah hari, Fu Ke-wei sudah tampak berada
ditengah-tengah lereng, dia duduk di atas rumput di pinggir jalan
kecil, membuka makanan dan arak yang dibawa, dengan santai
menikmatinya. Makan di alam terbuka, tidak cocok dengan situasinya, karena
diatas kepala matahari sangat terik, sungguh tidak nikmat, dia
sesungguhnya sedang menyiksa diri.
Di luar dalam jarak setengah li tampak hutan menghampar, pohon
tua menjulang kelangit, di setiap tempat adalah tempat melancong
dengan pemandangan indah. Malah ada orang di lapangan rumput
pendek, di bawah terik matahari, makan di
alam terbuka, sungguh tidak normal.
Hal yang tidak normal, akan menjadi perhatian orang.
Setelah minum setengah puas, di kampung Tao keluar tiga orang,
dengan tenang berjalan menurun, semakin mendekati lapangan
rumput. Sejak tiga orang ini mulai meninggalkan pintu perkampungan,
gerak-geriknya sudah di dalam pengawasan Fu Ke-wei.
Tentu saja, segala gerakan dia juga dalam pengawasan tiga orang
itu. Jarak kedua tempat satu li lebih, kedua belah pihak bisa melihat
dengan jelas bentuk tubuh dan wajah lawannya, seharusnya dari
bentuk tubuh dan gerakan, melihat kedudukan lawan, seorang
pembunuh bayaran, sudah punya kemampuan ini.
Dia pikir di perkampungan sudah ada orang yang mengenal
dirinya. Sesudah dekat, semua tampak seperti orang kampung yang
berwajah biasa dan ramah, usia-nya sekitar tiga-empat puluhan,
__ADS_1
berdandan pegawai panjang, tidak terlihat tingkah seorang pesilat.
"Hei...!" orang yang pertama sampai sambil tersenyum menyapa,
"saudara semangat sekali, mengapa makan dialam terbuka?"
"Ha ha ha! Diatas kepala matahari seperti pembakaran besar,
mana ada semangat makan di alam terbuka?" dia bangkit berdiri sambil tertawa keras, "aku sedang menunggu orang."
"Menunggu orang" Ada janji?"
"Belum janji! Jika janji maka itu janji kematian." Dia
menepuk-nepuk pedang yang di selipkan di pinggangnya, "barang yang harus dibawa, aku sudah membawa semuanya."
"Janji dengan siapa?"
"Teman lama." Dia tertawa, dari dalam keranjang makanan
mengambil satu hio, menggunakan kuku di bawah hio satu cun,
mengupas hio, maka hio nya tampak ada kupasan
sepanjang setengah cun, "saudara, kenal hio semacam ini?"
"Tidak kenal." Orang kampung menggelengkan kepala.
"Ha ha ha! Saudara seharusnya kenal, ini adalah hio penghitung waktu yang sering digunakan orang Jiang-hu." Dia menancapkan hio di tanah,
"kecepatan pembakarannya, ditentukan oleh besar kecilnya tiupan angin, kering basahnya dan lain-lain, biasanya digunakan didalam ruangan
ditaruh diatas tempat abu untuk menghitung waktu. Disini, sulit bisa tepat, tapi perbedaannya tidak besar."
"Maksud saudara ini adalah "
"Ini adalah hio dua cun batas waktu yang aku berikan pada orang untuk bertemu." Dia tertawa, "anginnya tidaklah besar, panas dan kering, hio satu cun ini, kira-kira dapat menyala setengah jam."
"Orang yang saudara janjikan adalah "
"Inilah dia." Di dalam dada dia mengeluarkan kartu minta bertemu, "tuan hartawan besar Zhan, Zhan Fan-chen di
perkampungan Tao, benar tidak ketua perkampungan kalian"
Tolong, saudara sampaikan untuk aku, terima kasih."
"Apa?" tiga orang kampung wajahnya bersamaan berubah.
"Siapa marga dan namamu, saudara?" orang kampung pertama yang tetap menyapa, dan telah menerima kartu minta bertemu,
"sepertinya kau lupa membubuhkan nama."
"Tidak perlu membubuhkan nama, ketua kampung Zhan sudah
tahu." Dia kembali mengambil makanan dari keranjang, "masih ada lagi, benda-benda ini sekalian diantarkan."
Tiga pria besar wajahnya berubah besar, menarik nafas dingin.
Seluruhnya ada tiga benda: jarum tiup beracun orang tua, senjata
gelap yang kedua ujungnya tajam dari Wanita Penenun, Jarum Ekor
Lebahnya Ratu Lebah. "Ambilah!" Dia memberikan tiga macam senjata gelap ke tangan pria kampung, "tadinya aku punya cukup alasan, diamdiam
membunuh dulu beberapa orang perkampunganmu kemarin malam,
lalu dengan terang-terangan menyerang. Harap beritahu ketua
perkampungan kalian, sekali hionya terbakar habis jika dia tidak
datang, aku akan tepuk-tepuk kaki pergi, akibatnya dia harus
tanggung semuanya. Ooo ya! Dia tidak dapat membawa terlalu
banyak orang, paling banyak hanya boleh membawa tiga orang
sebagai saksi, aku juga hanya membawa tiga orang. Orang lainnya,
boleh berdiri diatas lereng menyaksikan, menghindarkan kesalah p ah aman."
"Tiga orang saksi anda "
"Disana." Dia menunjuk kehutan disebelah barat sejauh
setengah li, "begitu ketua perkampungan datang, mereka akan menampakan dirinya."
"Ini "Apa yang aku katakan, harap saudara jangan lupa apa-apa yang penting. Ah! Aku akan menyalakan hio."
Tiga orang kampung berpencar ke kiri dan ke kanan, akan
__ADS_1
melakukan sesuatu. "Kalian adalah orang orang pintar, harap jangan melakukan hal bodoh yang merugikan." Dia santai berkata, "aku masih muda, kesabaran ku ada batas, dan juga bukan pahlawan yang penuh kebenaran dan penuh
kesayangan, apa kalian mengerti maksudku?"
Tiga orang kampung itu saling memandang, pelan-pelan
mundur. Dia mengeluarkan peneker api, pisau api begitu dipukul, percikan
api membakar pembuat api, lalu perlahan di goyang, pembuat api
mengeluarkan api, menyalakan selongsong kain minyak.
"Waktu pembakaran satu cun hio sudah cukup." Dia menyalakan hio, meniup padam api yang menyala, katanya, "kalian lambat satu langkah sama dengan merugikan ketua perkampungan kalian lebih
satu langkah kesempatan mempersiapkan diri."
Tiga orang kampung segera berlari, cepat sekali.
Fu Ke-wei kembali duduk, kembali minum arak.
Hio setengah cun hampir terbakar habis jadi abu, di luar pintu
tetap tidak ada gerakan. Dia menghabiskan seteguk arak terakhir di dalam Hu Lu,
memasukan kembali alat makan dan sisa-sisa, bangkit berdiri
menepuk-nepuk debu di tubuhnya, membereskan baju, pedang
dipindahkan ketempatyang mudah dicabut.
Semua gerakannya, dilakukan dengan tenang dan mantap,
sepertinya dia benar-benar adalah pelancong menikmati gunung,
bukan (latang untuk bertarung dengan pesilat tinggi.
Akhirnya, sekelompok orang mulai keluar dari pintu
perkampungan. Diatas lereng, dua puluh lebih laki perempuan menahan nafas
menunggu, berjarak di luar seratus langkah, tetap masih bisa
merasakan ada ketegangan.
Empat orang telah tiba, hionya pas terbakar habis.
"Ketua perkumpulan, apa kabar." Sambil tertawa dia
merangkapkan tangan memberi hormat, "aku datangnya
tergesa-gesa, harap bisa di maafkan, aku Fu Ke-wei."
Ketua perkumpulan Qing-lian, Zhan Fan-chen usianya kira kira
setengah ratus, tingkahnya anggun, perawakannya tegap, wajah persegi, telinga besar, wajah bersinar merah, memelihara kumis dan janggut, wajahnya tenang, tersenyum ramah. Memakai mantel panjang berwarna
biru pusaka sebagai dasar dengan kembang awan putih berkilat, tidak perduli di tempat apa kehadirannya, siapa pun harus mengakui dia adalah bangsawan ternama yang berkedudukan tinggi.
Tiga orang yang mengikuti usianya tidak beda jauh, semua
memakai mantel hijau, semua berwajah terang dan tenang,
tingkahnya tidak biasa. Wajah yang jujur ramah, panca indra tepat di tempatnya, sulit buat orang percaya mereka adalah pesilat. Tiga
orang membawa empat bilah pedang, jelas yang satunya milik ketua
kampung Zhan Fan-chen. "Lama telah mengagumi." Ketua Zhan sambil tersenyum
membalas hormat, tawanya ramah, "saudara kecil
menggemparkan dunia persilatan, naga di antara manusia, hari ini
dapat bertemu, sungguh membuat kagum orang seumur hidup."
Basa-basi sejenak, ketua perkumpulan memperkenalkan
orang-orangnya. Mereka adalah Zhao-zhong, Qian-xiao, Sunren.
Entah nama mereka asli atau palsu" Bagaimana pun begitu lah
kenyataannya. Fu Ke-wei mengangkat tangan kanan, mengayunkan tiga kali.
Tidak lama, dari dalam hutan melangkah keluar tiga orang
setengah baya, langkah kakinya santai, sebentar saja telah
mendekat. Wajah ketua perkumpulan sedikit berubah, tapi tetap
tersenyum. "Tiga temanku ini, mungkin ketua Zhan tidak asing, mereka datang untuk menjadi saksi." Fu Ke-wei memperkenalkan kedua belah pihak, "salah satu empat polisi besar di dunia dari kantor Jiu Jiang, Pedang Penakluk iblis, Xu Wen-ding polisi Xu, salah satu dari sembilan jago pedang terbesar di dunia, Pedang Naga Bersiul, Wu Yu-long, orang pintar dari dunia persilatan, Pedang Setan, Zuo-liang. Mereka adalah orang orang ternama di dunia persilatan saat ini yang bisa kuundang. Mengenai polisi Xu adalah penanggung jawab setempat, dia berhak tahu segala hal yang terjadi di tempatnya.
__ADS_1
"Harus, harus," Ketua Zhan tertawa-tawa, "saudara kecil sudah mempersiapkan dengan matang, caranya juga hebat."