Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 20


__ADS_3

Di tempat menaruh kurungan burung, tiba-tiba tampak Fu Ke-wei


bangkit berdiri. "Kau baru datang?" Fu Ke-wei mendekat sambil tertawa, "apa ingin pergi ke Wu-wei-zhou" Tidak salah, Wu-wei-zhou memang sangat


sepi, mudah menghindari pengawasan orang, bagus untuk


bersembunyi. Tapi aliran di utara lebih bahaya dari aliran selatan, kau seorang diri apa bisa mengendalikan rakit bambu ini" Maukah ku


bantu?" Wajah Ratu Lebah berubah total, wajahnya yang cantik memikat


tiba-tiba seperti kehilangan darah, dari merah berubah menjadi putih pucat. Baju laki-lakinya di penuhi dengan rumput dan pasir, persis seperti pemburu burung yang hidupnya susah, jika tidak membawa pedang,


sungguh tidak seperti pesilat tinggi dunia persilatan.


"Kau kau sembunyi disini?" dia dengan terkejut bertanya.


Tidak ada jalan untuk mundur, dia harus menyelamatkan diri


melalui jalan air. Tapi dia tahu itu tidak mungkin, jarak yang dua puluh langkah


seperti ribuan li jauhnya, dia pasti tidak akan secepat pisau Xiu-luo yang ternama diseluruh dunia.


"Benar! Aku sedang menunggumu!" kata Fu Ke-wei sambil


tertawa berdiri satu zhang lebih.


Hati Ratu Lebah tenggelam kebawah, tawa Fu Ke Zwei tadinya


sangat ramah, walau membuat orang sulit menebaknya, tapi di lihat di matanya, tawa semacam ini sedikit pun tidak ada perasaan ramahnya, sebaliknya menakutkan sekali, itu adalah tawa kucing pada tikus yang ditaruh di depan cakarnya, tawa serigala pada anak kambing di depan taringnya.


"Ssst..!" sebuah suara pedang dicabut, dia mencabut keluar pedangnya, bersiap-siap akan mempertaruhkan nyawa.


"Kau pasti masih punya banyak Jarum Ekor Lebah." Wajah Fu Ke-wei kelihatannya seperti lebih ramah, "mungkin kau masih ada harapan membunuhku, aku pikir kau tidak akan menceritakan alasan


kenapa mau membunuh aku. betul tidak?"


Pedang dia di sodorkan ke depan, ujung pedang mencapai posisi


menyerang, wajah serius, lima jari tangan kiri setengah direntangkan setengah dibengkokan, tampak bergetar.


"Kau tidak bicara, tapi kau akan mengatakannya." Tangan Fu Ke-wei dengan santai diulurkan kebawah, dia tidak berniat mencabut pedang,


"kau tidak ada niat beradu pedang dengan aku, karena ilmu pedangmu tidak seberapa. Cara kau membunuh orang adalah diam-diam menyerang dan bersiasat, usaha yang kau kerjakan adalah yang paling hina di dunia persilatan. Makanya, aku juga akan menggunakan pisau Xiuluo


membunuhmu." Dia malas menjawab, sepasang matanya memperhatikan sorot


mata Fu Ke-wei. "Tempat aku berdiri, adalah jarak paling ideal untuk jarum Ekor Lebahmu." Fu Ke-wei tersenyum, "kesempatan ini tidak boleh dilewatkan."


Dua zhang, memang jarak paling ampuh jarum Ekor Lebah, juga


jarak tepat bagi pisau Xiu-luo mengambil nyawa, pisau Xiu-luo lebih berat dari pada jarum, tenaganya lebih besar beratus kali.


Sehingga, kedua belah pihak sama-sama sangat waspada.


Semangat kedua belah pihak, masing-masing sedang bersiap


melakukan pertarungan untuk menjatuhkan semangat lawannya.


Tenaga dan semangat kedua belah pihak sudah sampai pada saatnya,

__ADS_1


sekecil apa pun perubahannya, bisa menimbulkan serangan gila yang


mendadak, yang menakutkan, tiada duanya, tidak menyerang tidak


apa-apa, sekali menyerang maka kalau bukan kau yang mati maka aku yang mati.


"Aku telah mendapatkan tidak sedikit jejak penting." Fu Kewei terus bicara, seperti tidak terpikirkan kalau berkata maka kurang konsentrasi,


"tidak perlu lagi pengakuan lebih banyak, menangkap hidup atau mati sudah tidak ada pengaruhnya, Wanita Penenun Fei Yin-yin sudah


mengatakan terlalu banyak. Dia tidak bisa tidak bicara, karena


mengalami hal yang lebih parah dari pada mati, hingga semangatnya


hancur, kalau kau" Apa yang akan kau alami apa pernah kau


perhitungkan?" Sorot mata Ratu Lebah bergerak, pedangnya pelan-pelan


mengeluarkan suara siulan naga.


"Tenaga dalammu cukup hebat." Kata Fu Ke-wei sambil


pelan-pelan bergerak ke kiri setengah langkah, "tidak sulit membunuh orang dalam jarak tiga zhang dengan menggunakan jarum sekecil ini.


Lima enam tahun ini, kau tidak pernah gagal, orang yang mati secara diam-diam sudah terlalu banyak. Aku pikir, jika aku melelangmu di


muka umum, coba kau tebak, ada berapa banyak orang yang akan


datang berlomba membeli" Harganya entah akan setinggi apa" Jika


membuat kau bagus! Lihay!"


sekilas sudah meluncur tiba, kebetulan dia sedang melangkah ke


sisi satu langkah, jarumnya lewat di sisi iga kanan, sungguh


berbahaya sekali. "Kau cukup hebat, sangat paham akan senjata gelap." Dia tetap berkata dengan tenangnya, "beberapa ahli senjata gelap sangat percaya diri, merasa dirinya paling hebat, menyerang kepada jalan darah atau khusus membidik titik mematikan, merasa ini adalah jurus hebat. Tapi, orang semacam ini yang gagalnya pun sering sekali, malah


mengakibatkan nyawanya melayang.


Kau dengan aku bersifat sama, bertemu dengan lawan yang


seimbang. Asal bisa melepaskan senjata gelap, dan dapat mengena


sasarannya, tidak perduli titik mematikan atau bukan, artinya telah sukses setengah bagian. Maka beberapa tahun ini, kau dan aku bisa


hidup dengan baik. Tapi hari ini, diantara kau dan aku harus ada


seorang yang dihapus namanya dari dunia persilatan."


Ratu Lebah sudah mulai menggeser posisinya, karena


pergeserannya Fu Ke-wei terpaksa dia bergeser juga untuk


mendapatkan posisi yang menguntungkan.


"Lebih baik lemparkan saja pedangmu, agar gerakannya lebih


lincah." Fu Ke-wei pelan-pelan bergeser sambil berkata, "orang yang berkhayal menggunakan pedang menangkis senjata gelap, pasti

__ADS_1


adalah orang paling idiot, paling ditertawakan, paling kasihan di dunia, kau seharusnya mengerti ini. Aku memberi kesempatan, kau


menyimpan pedang, aku jamin tidak mengambil kesempatan


memberimu, sebuah pisauku."


Siasat Ratu Lebah mengharapkan Fu Ke-wei bertarung


menggunakan pedang telah gagal, terpaksa dia menyimpan


kembali pedangnya. Dia merasa denyut jantungnya tidak dapat dikendalikan, telapak


tangannya berkeringat, sungguh gejala yang tidak menguntungkan,


membuktikan di dalam hatinya ada gejolak, telapaknya berkeringat


pasti akan berpengaruh pada tenaga dan teknik melempar jarum.


Tentu saja, dia bukan ingin bertarung pedang dengan Fu Ke-wei,


hanya ingin dalam pertarungan ini mendapat kesempatan bagus


melepaskan jarumnya. Fu Ke-wei disebut Xie-jian (Pedang sesat),


jurus pedangnya berbeda dengan perguruan yang ada di dunia,


belum pernah terdengar ada orang ternama atau pesilat tinggi mana


yang bisa mengalahkannya, dengan orang macam ini bertarung


pedang, adalah menggunakan nyawa sendiri untuk berkelakar.


"Jangan paksa aku." Kata Ratu Lebah sambil menyimpan


pedangnya, dengan melemparkan pedang kebawah, dia melihat


keadaannya sudah tidak ada kesempatan menggunakan pedang,


"lepaskan aku, dan selanjutnya, pasti tidak akan ada orang yang diam-diam membunuh kau lagi, kecuali musuh besarmu tidak


melepaskanmu." "Kaulah yang memaksa aku." Kata Fu Ke-wei, "jika kau di posisi aku, apa kau akan menyelidik sampai tuntas atau tidak" Kita adalah orang yang mempermainkan nyawa, entah penjelasan apa yang bisa membuat


tenang" Jika setiap hari kita khawatir ada orang diam-diam akan


membunuh, tidak jadi gila juga itu baru aneh."


"Aku tidak bisa memberitahu, kau "


"Aku tidak akan berhenti sebelum sampai di'sungai


kuning'." "Hemm...!" Ratu Lebah berteriak, sepasang tangan berturut-turut diayunkan, yang digunakan adalah jurus BungaHujan Memenuhi


Langit, hujan jarum menguasai daerah sekitar dua zhang, dahsyat laksana angin topan badai hujan.


Bayangan biru melayang mundur, melayang mundur sebelum


hujan jarum tiba, tubuh manusia yang berat malah ringan seperti


bunga jatuh, mundurnya seperti tidak cepat, tapi sebenarny lebih cepat sedikit dari pada hujan jarum.

__ADS_1


__ADS_2