Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 33


__ADS_3

"Aku keluar untuk makan siang, aku tidak mengganggu siapa


pun." Sorot matanya melihat pada tukang pukul dengan berani,


"siapa yang memberitahuku, orang-orang bengis ini begitu galaknya, sebenarnya apa maksudnya?"


"Tuan, kau kurangilah bicara." Pemilik penginapan dengan wajah pahit menasihati.


"Paak..!" terdengar satu suara.


Tukang pukul yang marah itu menampar.


"Pergi sana!" Tukang pukul itu berteriak marah, ingin


menginjakkan kakinya diatas perut pemilik penginapan.


Fu Kei Wei mundur ke dalam kamar, lalu muncul kembali di pintu.


"Aku akan mengingat wajah kalian." Dia berkata dingin,


"tempat ini sudah tidak ada hukum, harus mencari seorang yang punya kharisma, yang punya kemampuan, tampil


membereskannya." "Hajar dia!" teriak Jin-ba-dou tiba-tiba dengan nada dalam.


"Buum!" pintu kamarnya di tutup.


Tukang pukul baru saja ingin mendobrak pintu, pemilik


penginapan keburu berteriak:


"Tuan ke delapan, penginapan kecilku tidak bisa


bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa."


Jin-ba-dou tidak bodoh, akhirnya mengangkat tangan menyuruh


menghentikan tukang pukulnya mendobrak pintu.


"Lihat saja nanti." Kata Jin-ba-dou pada tukang pukul, "urus hal penting dulu, utus orang awasi orang ini."


Seorang tukang pukul maju mengetuk pintu kamar sebelah,


pintunya tidak lama sudah dibuka, tujuh orang masuk kedalam.


Pemilik penginapan dengan seorang pelayan menunggu di


pekarangan, dua orang itu mengerutkan alis, wajahnya pahit, seperti ada kesulitan tidak bisa dibicarakan.


Pintu kamar Fu Ke-wei di buka, dia melangkah keluar kamar.


"Tuan, melawan orang-orang ini tidak ada gunanya." Kata pemilik penginapan sambil menggosok-gosok tangan tidak tenang, "orang jauh dari rumah yang utama harus bisa menahan diri, mereka orangnya


banyak, jika kau tidak mengalah, demi mukanya, kau lebih beralasan juga mereka tidak akan membiarkan kau menyalahkannya, buat apa


kau...?" "Aku tadi dengar orang itu memaki aku orang bodoh." Dia berkata pada diri sendiri, 'aku ingin dia menyesal selamanya.'


"Tuan......" "Bagus, bagus sekali." Dia mulai tertawa keji, melirik sekali pada dua pria di ujung jalan pekarangan.


Di dalam kamar, dua orang tamu melihat dengan dua pasang

__ADS_1


mata aneh yang tidak bersahabat.


"Pagi ini kalian berdua pergi ke kantor polisi melapor." Tawa dingin di wajah Jin-ba-dou membuat orang ketakutan, "apa sudah selesai melapornya."


"Jin-ba-dou, aku mengerti maksudmu." Kata tamu pertama


tenang, "walau anda bisa mengusir aku pergi, di kemudian hari masih ada orang yang akan datang. Orang yang datang lain kali, sangat


mungkin adalah tuan Tui Guan, akibatnya bagaimana, harap kau


dapat menghadapinya. Aku menjamin pada anda, sebelum tuan


Tui-guan datang ke tempat anda, tuan Li dan anda sekalian, pasti


akan makan nasi damai dulu di dalam penjara, percaya atau tidak


terserah kau. Jika tidak bisa menghukum kalian yang tidak tahu


aturan ini, buat apa pemerintah punya pejabat besar dan kecil?"


"Kau mengancam aku?"


"Aku tidak perlu mengancam siapa pun." kata si tamu dengan dingin, "aku hanyalah pengantar surat dari kantor polisi


Nan-yang, dengan kantor Xiang-yang tidak ada hubungan sedikit


pun, aku hanya melaksanakan tugas, itu saja. Jangan


menganggap tuan besar Li banyak hartanya,dan besar


kekuasaannya, lantas pemerintah takut pada dia, tapi jika bapak


maka sudah tidak ada yang dia takuti lagi, maka nasib tuan besar


Li sudah di tetapkan, anda pasti tahu cerita Ling Yi yang seluruh


keluarganya di penggal."


"Mmm...! Begitu seriuskah" Apakah Nan-yang-ba-jie yang


menuntutnya?" "Masalah ini tidak ada hubungannya dengan Nan-yang-bajie."


"Apa..." Bukan mereka......"


"Nan-yang-ba-jie bukan orang yang tidak bisa menerima, mereka sama dengan kalian, ingin menyelesaikan dengan cara sendiri."


"La......laporan dari kantor anda adalah..."


"Ada surat laporan resmi dari kabupaten Ye, yang menuntut adalah dua orang korban yang selamat, mereka adalah tamu ekspedisi, keluarga


korban yang meninggal juga dengan tegas menuntut menangkap


pelakunya. Di dalam kereta ada seorang yang jadi saksi, orang ini sudah sampai di tempat anda. Kantorku mengirim surat pada Xiang-yang, harap mengundang tamu ini ke kantor tempat kejadian menjadi saksi, itulah tugasku datang ketempat anda, besok aku segera meninggalkan tempat ini, tidak perlu merepotkan anda membawa orang mengusir keluar."


"Iii...! Bukankah orang yang mati itu orangnya Nan-yangba-jie?"


"Mereka yang mati tujuh orang, belum dilaporkan ke kantor


pemerintah. Dalam angkutan kereta dari Xu-zhou, kusirnya berikut

__ADS_1


enam orang penumpang semua meninggal." Pengantar surat itu


tertawa dingin, "tujuh nyawa orang hilang, apakah pemerintah bisa tinggal diam" meski kalian lebih kejam juga tidak akan bisa


membereskan dengan menekan aku, tidak ada gunanya, bagaimana


anda harus bertindak pikirlah sendiri, benarkah anda akan memaksa


kami berdua pergi?" Jin-ba-dou jadi bengong, tampang bengisnya sekarang sudah


menghilang. "Jangan menyangka pak Bupati di tempat anda merasa takut pada tuan besar Li, menurut yang aku tahu, terhadap tuan besar Li dia sudah tidak senang." Pengirim surat menambah tekanannya, "tidak ada orang yang senang di matanya ada duri, di hatinya ada pisau, tuan besar Li itulah duri di matanya pisau di hatinya. Kau tahu, beberapa tahun ini penangkapan terhadap orang-orang perkumpulan Er-le sangat gencar, entah sudah terjadi berapa banyak salah tangkap yang mengerikan, asalkan pak Bupati


bertekad, mudah saja mengambil tindakan pada Tuan Jin, yang telah


memenggal kepala tiga atau lima ratus orang. Tentu, kalian tidak ada hubungannya dengan perkumpulan Er-le, tapi asalkan ada dua tiga orang yang tampil menjadi saksi, akibatnya sulit dikatakan, bukankah begitu"


Mencari beberapa orang saksi mudah sekali."


Jin-ba-dou mendengar kata-kata ini bulu kuduknya jadi berdiri


semua, warna wajahnya berubah besar.


"Aku kira ini masalahnya Nan-yang-ba-jie, makanya......"


Akhirnya Jin-ba-dou tidak bisa galak lagi, "makanya berbuat tidak sopan, saudara, aku di sini minta maaf, minta maaf."


"Tidak berani." Kata pengantar surat terhadap tingkah Jinba-dou yang mula-mula kasar belakangan menjadi hormat, dia seperti tidak


merasakan terganggu, "sebenarnya dalam perkara ini kalian telah salah jalan, kalian ingin menghilangkan masalah, tapi malah mencari masalah yang bukan-bukan, kalian dengan sekuat tenaga menghadapi


Nan-yang-ba-jie, sebaliknya mereka tenang-tenang menonton lelucon


ini." "Tolong tanya, siapa nama dan marga tamu itu?" tanya Jinba-dou.


"Surat dinas itu menggunakan surat segel, yang dikirim dari kantor polisi ke kantor polisi di tempat anda, juga memakai surat rahasia, aku tidak cukup alasan bisa mengetahui isi surat."


"Kalau begitu harus menyelidik ke kantor polisi."


"Betul, tuan besar Li tentu punya orang di kantor polisi."


"Terima kasih atas perhatiannya." Jin-ba-dou jelas ingin buru-buru pergi dari sana, "hal yang tidak mengenakkan ini, di lain hari aku akan meminta maaf, pamit."


Setelah mengantar pergi tamu yang tidak di undang, dua


pengantar surat itu saling tertawa penuh arti, mereka kembali


kekamar menutup pintu. Di ruang dalam melangkah keluar seorang bertubuh pendek


yang gesit berusia setengah baya, dengan enteng berkata,


"terima kasih atas bantuan kalian berdua, banyak terima kasih."


"Baik, baik." Kata Pengirim surat yang tadi bicara dengan Jin-ba-dou, "dengan demikian, mereka tidak sempat lagi


memperdulikan masalah kalian, pergilah dengan bebas! Semoga


kalian berhasil." "Aku segera menyampaikan suratnya." Kata orang


setengah baya, "surat palsu itu, apa tidak tampak ada

__ADS_1


kelemahan?" "Bukan aku bermulut besar."


__ADS_2