Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 169


__ADS_3

Dia bisa tidak memperdulikan segala akibatnya, menyembelih si anjing kecil Fu untuk membalas dendam, tapi kita tidak bisa tidak harus memaksa si anjing kecil Fu mengeluarkan harta ratusan ribu liang perak, si anjing kecil Fu yang mati sepeser pun tidak berharga."


"Makanya, kita tidak bisa terus menunggu kedatangan ketua


perkumpulan." Kata Seruling Damai Xiao Tai-ping dengan keras, "masalahnya tidak bisa ditunggu, ditunggu lagi mungkin akan terjadi perubahan, jika si anjing kecil Fu menemukan gejala bahaya, melihat penampilan dia di benteng Zhang-feng yang hebat itu, kita mungkin harus membayar dengan harga yang sangat menakutkan, apakah bisa menangkap dia juga masih sulit di duga!"


"Memang tidak bisa menunggu lagi, menunggu lagi matahari


akan terbenam di barat, waktu tidak menunggu kita." Wakil ketua dua Shen-shou-tian-jun Lai Chang-wen mengangkat tangan sambil berdiri, "kita ini tidak bisa dalam gerakan permulaan langsung menggunakan kekerasan, perkumpulan kita tidak sanggup membayar harga seharga yang dibayar oleh benteng Zhang-feng."


Yu-shu-xiu-shi membawa lima puluh lebih pesilat tinggi, jauh


pergi ke benteng Zhang-feng meminta orang, menyaksikan


penampilan Fu Ke-wei yang begitu hebat, dia hampir saja mati ketakutan.


Hingga, seluruh anak buah perkumpulan Cun-qiu. Siapa pun tidak berani menepuk dada menjamin bisa menghadapi Fu-jiu, ini juga alasan mengapa orang-orang ini menunggu kedatangan ketua perkumpulan datang memimpin.


Jika segera melakukan tindakan, dan tidak beruntung mengalami kegagalan, bagaimana tanggung jawab pada ketua perkumpulan" Waktu tidak menunggu, jika di tunda terus, siapa pun tidak berani memperkirakan akan terjadi perubahan apa, di tunda lebih lama, kesempatan bocor beritanya juga semakin besar.


"Baiklah! kita tidak bisa menunggu lagi." Wu-chang-yi-jian menggigit gigi, dengan tegas memutuskan akan bertindak, "Sialan Xian-feng-tui (tendangan angin berputar), seharusnya dia tahu keadaannya mendesak sekali, harus segera mengundang ketua datang, sekarang kita sudah bersiap-siap bergerak, melakukan menurut rencana, tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun."


Mereka tidak tahu, pembawa berita Xian-feng-tui tidak saja tidak menyampaikan beritanya, juga tidak tahu Xian-feng-tui selamanya tidak akan bisa menyampaikan berita, karena dia sudah dibunuh oleh sekelompok orang misterius.


Beberapa orang masih merasa ragu, masih berharap ketua bisa tiba pada tepat waktunya.


Di luar ruangan terdengar suara derap kaki yang tergesagesa, masuk seorang laki-laki besar.


"Lapor pada wakil ketua." Laki-laki besar terengah-engah cepat-cepat melapor, "kami menemukan beberapa orang yang patut dicurigai, mereka berturut-turut masuk ke penginapan Yue-lai, harap beri petunjuk harus bagaimana menghadapinya?"


"Celaka!" Wu-chang-yi-jian meloncat, "mungkin kita telat selangkah, segera lakukan tindakan."


Orang yang ragu-ragu jadi tidak ragu-ragu lagi, dengan


gerakan menyatakan mendukung.


Fu Ke-wei beristirahat di dalam kamarnya, malam hari ini dia

__ADS_1


berencana menemui beberapa ular setempat mencari berita, dia tidak memperhatilan gerakan yang terjadi di luar sana.


Di penginapan juga tidak terjadi perubahan yang


mencurigakan.


Dia mengira tidak mungkin ada musuh yang muncul di kota Jiang-ning, kota yang sudah tertinggal ini, orang-orang persilatan mana ada semangat mengunjunginya".


Seharusnya dia berjalan-jalan di kota, saat ini dia jadi kurang


hati-hati, sehingga kewaspadaannya hilang, dia tinggal terus di dalam kamar beristirahat, tidak tahu dewa kematian sedang perlahan mendekati dirinya, mengulurkan tangan mau mengambil nyawanya.


Hari sudah tidak pagi lagi, tamu-tamu mulai berdatangan


menginap. Di luar terdengar ada derap kaki, ada orang mengetuk pintu.


"Masuk." Dia sudah tidur sejenak, tampak wajahnya bersemangat, dia membuka pintu kamar.


"Mengantarkan air minum."


Pelayan dengan wajah yang polos membawa teko besar, sebelah tangannya lagi membawa baki, berdiri di luar sambil tawa berkata, "apakah sarapan malam mau diantarkan ke kamar" Atau mau makan di rumah makan" Di seberang jalan ada satu rumah makan kecil yang cukup bagus, masakannya cukup enak, tuan boleh mencobanya kesana" Memang lebih enak di bandingkan dengan makanan penginapan kami."


Pelayan memperkenalkan rumah makan adalah hal biasa, makanya dia tidak curiga.


Jika pelayan memaksa menyatakan dia harus makan di penginapan, mungkin dia akan timbul rasa curiga dan menolaknya.


"Tolong antarkan aku sarapan malam ke kamar, setelah makan aku ingin jalan-jalan ke kota!" dia dengan santai minum satu gelas teh.


"Tunggulah sebentar tuan, aku segera antarkan."


Setelah menyalakan api lampu pelayan itu lalu berjalan keluar sambil menutup pintu.


Fu Ke-wei tanpa sengaja menyalakan lagi satu sumbu lampu.


Begitu dinyalakan tampak percikan api muncrat, mendadak ada asap hijau bersinar sangat terang lalu padam.


Wajah dia segera berubah, timbul perasaan merinding.

__ADS_1


Menambah nyala satu sumbu lampu, apinya tidak mungkin


muncrat begitu, seharusnya sinar lampu pelan-pelan bertambah, juga tidak mungkin timbul asap hijau yang bersinar sangat terang lalu padam.


Seorang yang kewaspadaannya tinggi, sangat sensitif pada hal-hal yang tidak normal, dia juga tidak terkecuali, dengan sendirinya dia merasakan ada bahaya. Segera dia meniup memadamkan lampu, tapi dia sudah merasakan bumi terasa berputar.


Tiga orang pelayan sedang membersihkan koridor di kedua ujung, memperhatikan terus jendela kamar Fu Ke-wei.


Pelayan yang mengantar teh mendekati seorang pelayan yang ada di ujung koridor, memberikan isyarat tangan.


"Keadaannya tidak normal, jangan sembarangan bertindak."


Pelayan yang ada di ujung koridor dengan tegang berteriak perlahan.


"Kenapa" Aku melihat sendiri dia minum air tehnya." Pelayan yang mengantar teh juga perlahan berkata, "lampunya sudah


dinyalakan beberapa saat, baru aku keluar. Saat ini seharusnya racunnya sudah bereaksi, dia seharusnya sudah......"


"Kau lihat, lampunya telah padam."


Disana bisa terlihat sinar yang menembus jendeka kamar, dengan mudah bisa melihat lampu kamar menyala atau padam.


"Iii...! Bagaimana mungkin!" kata pelayan yang mengantar teh, "kita sudah memperhitungkan tanpa kesalahan, aku berani mengatakan siapa pun orang persilatan meski sangat waspada, tidak mungkin bisa merasakan ada kelainan.


Mmm! Aku pergi periksa lagi......"


"Jangan." Pelayan yang mengawasi menarik temannya, "jika dia menyadari ada bahaya dan sekarang kau masuk kesana,


padahal racun Puder Xiao-yao di dalam tubuhnya bereaksi lamban, kau hanya punya satu jalan, mati."


"Ini......kau kira dia dewa......"


"Jangan lupa kehebatan dia di benteng Zhang-feng,


asalkan dia mengulurkan tangannya, kau pasti mati."


"Ini.."

__ADS_1


"Kita tunggu wakil ketua perkumpulan bertindak, aku tidak ingin mati sia-sia." Kata pelayan yang mengawasi, "jika dia masih ada tenaga melarikan diri, aku tidak bisa tanggung resikonya. Aku tahu diri, kita sama sekali tidak bisa menghadang dia."


__ADS_2