Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 9


__ADS_3

"Kalau begitu aku segera mengurusnya, kelihatannya tidak ada


masalah, tadi aku melihat dia tersenyum penuh arti padamu, baguslah!"


habis bicara Naga Setempat habis membalikan kepala, pada orang yang bermata tikus itu membisikan beberapa kata.


Pria bermata tikus tidak henti-hentinya menganggukan kepala,


lalu meninggalkan tempat, dengan jalan-pelan menghampiri orang


tua itu, di sisi telinga orang tua itu bicara beberapa saat.


Sejak tadi Fu Ke-wei memperhatikan keadaan di


sekelilingnya, tapi tidak terlihat ada yang mencurigakan.


Ruang restoran yang amat ribut, tamu makan yang kasar dan


rendahan, brandalan yang tidak tahu aturan dan licik, wanita


petualang yang suka akan uang...semuanya begitu biasa, semuanya


begitu alami. Keadaan demikian, di seluruh dunia, setiap kota metropolitan


dan kota yang agak pantas sedikit, memang seperti itu, sejak


zaman dahulu, sungguh tidak tampak ada keadaan yang tidak


biasa. Menurut dia, apa yang dikatakan Naga Setempat, orang


misterius yang ada di belakang Yan-fang, barulah hal yang tidak


biasa. Dia berusia empat puluh tahunan, wajahnya putih pucat,


tubuhnya tinggi kurus, menangkap orang semudah menangkap


anak ayam, ini adalah ciri khas wajah Tamu Penggantung Wu-feng.


Orang yang mau dicarinya, itulah Tamu Penggantung Wu-feng,


yang menempati urutan ketiga dari empat penjahat terbesar di


dunia persilatan. Tamu Penggantung adalah pembunuh berdarah dingin, sulit dilacak


keberadaannya, ilmu silatnya sangat tinggi, hoby satu-satunya adalah wanita, juga khusus menyukai wanita petualang yang pandai diatas


ranjang, terhadap wanita yang kelihatan manja, tidak romantis sedikit pun dia tidak ada selera.


Inilah alasannya, dari Yan-fang dia mendapatkan jejaknya.


Jika Wu-feng belum meninggalkan Wu-hu, pasti akan


kembali ketempatnya Yan-fang yang harum itu.


Jika dia bisa tinggal di tempat Yan-fang selama beberapa hari,


cepat atau lambat pasti akan bertemu Wu-feng dan melempar dia


keluar pintu, dia berharap bisa menunggu tibanya hari itu.


Dia mengira tidak ada orang yang tahu asal-usulnya, lebihlebih


tidak terpikir ada orang yang akan mencelakainya. Sebab dia sudah


mengawasi keadaan sekelilingnya, semua tampak normal, jika


mempunyai reflek begini, maka dia akan hidup lebih lama.


Tidak ada hal yang mencolok mata, tidak tercium ada bau yang


membahayakan. Sampai pria yang bermata tikus itu pun, tidak terlihat berlaku aneh. Orang ini hanya licik, serakah, gesit, pandai


menyembunyikan keinginannya sebagai seorang tikus setempat, seekor tikus yang tubuhnya penuh jarum, suka berkeliaran di kegelapan saja, tidak perlu di khawatirkan oleh dia.


Ruang makan kembali ribut dan kacau seperti semula, Yanfang


sudah kembali ke tempatnya, menunggu kesempatan bernyanyi


kedua kalinya, bernyanyi berturut-turut akan merusak gairah minum


para tamu. Pria bermata tikus sudah kembali.

__ADS_1


Fu Ke-wei melihat Yan-fang dari jauh menatap kearah


tempat dia, wajahnya tidak tampak expresi khusus.


"Aku pikir, kau tidak berhasil." katanya pada pria mata tikus yang baru saja duduk.


"Hanya berhasil setengah." Laki-laki bermata tikus pertama kali bicara, logat lokalnya sangat kental, "pertama, malam ini Yan-fang ada janji dengan orang, harus menunggu dia membatalkan janjinya terlebih dulu baru bisa menerima, bisa tidaknya membatalkan, sekarang sulit mengata-kannya.


Kedua, jika telah membatalkan, kau harus datang setelah lewat tengah malam, dia mengamen biasanya selesai sekitar jam sepuluh malam, jika terlalu pagi, dia dengan kakeknya belum ada di rumahnya, pergi kesana juga tidak ada gunanya, dia berharap kau mendengar dia nyanyi disini sampai selesai."


"Aku ini orangyang sabar." Kata Fu Ke-wei.


"Kalau begitu bagus, dia sudah menyuruh orang untuk mengaturnya."


Perkataan Pria bermata tikus tanpa ada perasaan, "aku beritahu terlebih dulu, uang bokingan dia semalam sangat tinggi, kau harus siap-siap dulu.


Dan ada lagi yaitu apakah dia mau kau menginap atau tidak, dia berhak menentukannya, jika dia mempersilah-kan kau pergi, kau tidak boleh ngotot mau tinggal dan ribut."


"Kau tenang saja, aku akan tahu diri." Kata Fu Ke-wei,


pembicaraannya beralih, "saudara, siapa marga dan nama anda"


Sudah datang begitu lama, arak pun sudah banyak meminumnya,


dan juga telah membantu aku, sampai sekarang aku belum


berkenalan dengan saudara, sungguh tidak sopan."


"Orang semacam aku nama dan marga tidak terlalu dibutuhkan.


Kau panggil saja aku Tikus Setempat." Kata Pria bermata tikus malah dengan tanpa perasaan mentertawakan dirinya sendiri, "aku


mengikuti abang Lu sudah lima enam tahun, bertemu orang


ngomong bahasa orang, bertemu setan ngomong bahasa setan, aku


senang bekerja, mau memanggil apapun padaku, aku tidak akan


menyalahkan kau." "Ooo! Saudara Tikus Setempat, kau sungguh sangat


penyabar." Dia berkata lagi, "kau mengatakan kau bekerja


dengan senang, itu belum tentu, paling sedikit tadi diluar


"Tapi akhirnya kau berhasil berbisnis dengan abang Lu, betul


tidak?" kata Tikus Setempat, "itulah keberhasilan aku, yang gagal


seharusnya kau." "Jangan banyak omong kosong lagi, dengar! Yan-fang akan


menyanyi lagi!" teriak Naga Setempat dengan keras.


Yan-fang memang mulai menyanyi lagi, suara seruling yang merdu


mengikutinya. Sepasang matanya yang genit melemparkan sorot mata seksi


pada tamu lainnya, sambil bernyanyi sambil berdiri memegang sapu


tangan, menggoyangkan pinggul, matanya genit seperti sutra penuh


pesona, tapi sekali pun tidak pernah melirik pada Fu Ke-wei,


sepertinya ada yang dikhawatirkan, dikatakannya tidak tertarik malah tertarik, mungkin dia sudah melupakan akan hal ini.


Ini adalah reaksi yang sangat normal, Fu Ke-wei sungguh kagum


akan kematangan wanita pengamen ini, juga kepandaiannya


menyembunyikan sesuatu. Kabupaten He-kou karena berada diluar kota, makanya tidak ada jam


malam, juga tidak ada larangan, perahu perahu bisa berlalu lalang siang dan malam, setiap saat ada perahu yang merapat di pelabuhan dan


berangkat, bagaimana bisa mencegahnya"


Saat restoran hampir tutup, tamu-tamu mulai bubar,


beberapa pemabuk dibopong oleh temannya pergi.


Akhirnya Yan-fang dengan orang tua itu juga pulang, saat mau


pergi, dari kejauhan dia memberi senyuman manis pada Fu Ke-wei,

__ADS_1


sorot matanya membuat hati orang melayang.


Naga Setempat dan Tikus Setempat terus berkomplot mencekok


arak pada Fu Ke-wei, tapi, kedua orang itu malah mabuk terlebih


dahulu, sampai hampir saja terbaring! Fu Kewei yang minum


seratus gelas lebih arak, sepertinya kecuali berkeringat, paling


banyak hanya tiga puluh persen mabuk.


Tikus Setempat sedikit lebih sadar dari pada Naga Setempat,


begitu Yan-fang pergi, dia segera menaruh gelas dan sumpit,


sepasang tangannya bertahan pada meja, dengan lidah yang


pendek berbicara tidak lancar pada Fu Ke-wei:


"Bos... Fu,... saatnya... pergi,,. mau... maukah... ku antar kau


per...pergi kerumah...Yan-fang?"


"Tikus Setempat, apakah kau bisa jalan?" tanya Fu Ke-wei.


"Ten...tentu bisa, bang, kau...kau pergi duluan saja."


Naga Setempat sudah tengkurap diatas meja, sudah tidak bisa


jalan! "Uuu...mmm...mmm...ngek..."


Naga Setempat terus tersedak arak, tampaknya akan


muntah. "Dia segera akan merangkak." Kata Fu Ke-wei berkata.


"Nan...nanti...akan ada yang datang... datang menjemput dia." Kata Tikus Setempat sambil menahan meja, bergoyanggoyang berdiri, "bos


Fu, per...pergilah! Ja...jauh sekali lho! Ib...iblis kecil itu,


mmm...kapan-kapan aku...aku juga pergi...mencari dia


bersenang-senang. Jalan, aku...aku antarkan."


"Tidak perlu, aku tahu cara mencari dia." Fu Ke-wei mengeluarkan dua blok perak diberikan pada pelayan yang


melayani di samping, "dibawah benteng kota di ujung jalan, tidak


terlalu jauh." "Ooo! Ternyata kau...kau sudah menaruh ha...hati pada


Yan-fang." "Orang kabupaten He-kou, siapa yang tidak tahu tempat itu" sia-sia kau mengatakannya." Fu Ke-wei mendorong kursi bangkit berdiri,


"Yan-fang sepertinya tidak menyuruh orang memberi jawaban, tidak


tahu apakah dia membatalkan janjinya?"


"Apa masih perlu menyuruh orang memberi jawaban" Dia sudah


dari tadi memberi aba-aba tangan menyatakannya!"


"Ooo! Kenapa aku tidak memperhatikan?" sangat diluar


perkiraan Fu Ke-wei. Dia terus mengawasi gerak-geriknya Yan-fang, seharusnya dia


bisa melihat aba-aba tangan Yan-fang, tapi sungguh dia tidak


melihatnya. "Dia sedang menunggumu." Kata Tikus Setempat,


"aku...aku sungguh kagum padamu, pergilah! Aku...aku


antarkan, siapa tahu di...ditempat dia bi...bisa makan sup...sup


penyadar arak...yang dia buat sendiri..."


"Kau tidak bisa berjalan, aku pergi sendiri saja, terima kasih!"


kata Fu Ke-wei sambil merapihkan baju melangkah.


Naga Setempat mulai muntah, hawa arak memabukan orang.


Kemudian datang dua orang yang berdandan kuli, mengapitnya

__ADS_1


pergi, para pelayan tidak ada orang yang berani bertanya.


__ADS_2