Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 118


__ADS_3

Suara guntur mendadak berhenti, bayangan orang kembali


tampak. Hoa-fei-hoa muncul di belakang Golok Pemutus Arwah satu zhang


lebih, wajahnya dingin serius, sinar di matanya tetap bersinar.


Ujung pedangnya ada jejak darah, tapi darahnya tidak


banyak. Orang yang menonton diatas loteng benteng hening tidak


bersuara, tenang seperti mati.


Seluruh sorot mata, terfokus pada Hoa-fei-hoa, di mata setiap


orang ada rasa ketakutan, tidak mengerti, bengong, dan sulit


percaya, bermacam-macam sikap.


Senjatanya Golok Pemutus Arwah tetap menunjuk miring


kedepan, tapi wajah seperti setan, dengan susah payah melangkah


kedepan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah......


Sepertinya kaki dia beratnya ada ribuan jin, begitu sulit


menggerakannya. Di dada kiri bawahnya, darah segar memerahkan baju yang


dirobek oleh pedang, jejak darah membesar, dengan cepat menyebar


ke bawah bajunya. Langkah keempat, tubuh dia bergoyang, tubuhnya dengan sulit


dibalikan. "Traang!" Goloknya lepas dari tangannya, jatuh ketanah.


"Kau...kau..." dia teriak dengan terengah-engah.


Hoa-fei-hoa tidak memperdulikannya, pelan-pelan melangkah


kembali ketempat semula, menggunakan bawah sepatunya mengelap


jejak darah di ujung pedang, memasukan pedang kedalam sarungnya.


"Akh...!" Golok Pemutus Arwah menjerit ngeri, mendadak roboh telungkup.


Orang-orang di loteng benteng ribut, wajah nya juga pada


berubah. Ketua dua benteng mereka ternyata tidak bisa menahan


sebuah serangan Hoa-fei-hoa, membuat ketakutan orang-orang


yang menganggap ilmu silatnya sudah hebat.


Tertutup sudah pintu perundingan damai, ketua benteng Xi dan


anaknya mana berani keluar bertarung secara jantan" Orang yang


berkuasa dan punya cukup banyak anak buah yang bisa di suruh,


mana mau dirinya menempuh bahaya"


Tepat jam lima sore, semua orang makan makanan kering di


dalam hutan yang berada di depan benteng.


Tian-ya-koay menarik Xie-shen datang ke depan hutan, sambil


makan gepuk daging yang dingin, sambil mengawasi gerak-gerik


benteng Zhang-feng. Fu Ke-wei menelan sepotong gepuk terakhir, mengelap bersih

__ADS_1


tangannya, setelah berpesan dengan perlahan pada Ouw Yu-zhen, dia


segara berjalan pelan menuju pada Hoa-feihoa dan duduk di sisinya.


"Apakah malam ini tetap mengikuti rencana, menyelidik ke dalam benteng?" tanya Hoa-fei-hoa tertawa.


"Tidak, malam ini langsung menyerang masuk."


"Kenapa merubah rencana?" kata Hoa-fei-hoa tidak


mengerti. "Karena kau." "Aku?" "Tidak salah, siang hari tadi kau telah membunuh ketua dua, Golok Pemutus Arwah Han Zhi-jian, sudah membuat mereka jadi ketakutan.


Aku menduga, ketua benteng Xi telah berencana melepaskan


benteng, melarikan diri, makanya malam ini kita harus menyerang


masuk kedalam benteng. Jika sampai ketua benteng Xi dan anaknya


menggunakan siasat, serangga mas melepas kulit melarikan diri, tidak saja tujuan kita menagih hutang menjadi gagal, dan jejakku


menyelidiki satu persoalan juga akan jadi terputus."


"Masalah kau menyelidiki jejak itu, apakah penting sekali?"


"Iya, malah lebih penting dari pada menagih hutang pada


benteng Zhang-feng." Fu Ke-wei menganggukan kepala, tapi


kemudian dia membelokan arah pembicaraan, "aku ingin


menanyakan satu hal pada nona, jika nona merasa tidak mau


menjawabnya, anggap saja aku tidak menanyakannya."


"Ooo...! Masalah apa" Mendengar kata-katamu tampak serius


sekali." Kata Hoa-fei-hoa merasa aneh.


"Asal-usul dan perguruanku bukan rahasia, tidak ada yang sulit dikatakan?" Hoa-fei-hoa tertawa, "kau tanyalah! Terhadap kau, aku pasti mengatakannya, dan mengatakan semuanya."


"Terima kasih atas kepercayaan nona." Kata Fu Ke-wei dengan serius, "nona selain belajar silat dari ketua vihara Meihoa, apakah punya guru lain?"


"Sama sekali tidak ada." Kata Hoa-fei-hoa dengan tegas.


"Serangan terakhir nona pada Golok Pemutus Arwah tadi siang,


jurus pedang yang digunakan, jika aku tidak salah melihatnya, pasti bukan gurumu yang mengajarkannya, apaka kata-kataku benar atau


tidak?" "Saudara Fu matamu tajam sekali, bagaimana kau bisa tahu


bukan guruku yang mengajarnya?" Hoa-fei-hoa terkejut sekali.


"Sementara kau jangan tanya dulu, nanti aku akan jelaskan."


Fu Ke-wei dengan serius sekali, "siapakah yang mengajarkan


jurus pedang ini?" "Bukan orang lain yang mengajarkannya, tapi aku berhasil


melatih sendiri mengikuti gambar sketsa yang ditinggalkan


ayahku......" "Apakah jurus pedang ini ada namanya?" Fu Ke-wei menyela pembicaraan dia, "saat kau melakukannya apakah ada perasaan


tidak bisa mengendalikannya?"


"Tidak salah, memang ada perasaan itu. Jurus pedang ini sangat dahsyat sekali, tapi karena ada kekurangan ini, maka aku jarang


menggunakannya. Mengenai apa namanya, karena di dalam sketsa


tidak ada catatannya, maka aku tidak tahu."

__ADS_1


"Ayahmu dia......"


"Ayahku meninggalkan rumah saat aku berumur empat tahun,


dia dengan temannya bermain ke gunung Kun Lun sebelah barat,


dua tahun kemudian, di kampung terjadi wabah penyakit, ibuku


membawa aku meninggalkan kampung tinggal di rumah famili.


Hitung-hitung ayahku meninggalkan rumah sudah sembilan belas


tahun, sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, aku berkelana


di dunia persilatan, tujuan utamanya adalah mencari keberadaan


beliau......" "Apakah ibumu sekarang ini masih tetap tinggal di rumah


famili?" "Ibu telah meninggal saat aku berusia sembilan tahun." Wajah Hoa-fei-hoa tampak sedih.


Fu Ke-wei berpikir sejenak, matanya menatap Hoa-fei-hoa.


"Apakah nama ayahmu diatasnya Ruo bawahnya Tian,


sebutannya Tian-ruo-fei-mo?" Fu Ke-wei menanyakan dengan satu kata persatu kata.


"Ih...! Kenapa kau bisa tahu?" Hoa-fei-hoa terkejut sekali, hampir mengira dirinya salah dengar.


"Kalau begitu nona seharusnya marga Ling, bukan marga Hoa."


Fu Ke-wei wajahnya tenang, tapi didalam matanya ada sinar rindu.


"Kau......kau kenapa bisa tahu?"


"Karena ayahmu adalah guruku!"


"Ahh......! Benarkah" Dimana ayahku sekarang?" Hoafei-hoa terkejut dan senang sekali.


"Guru telah berhasil menjelma, terbang ke langit barat." Kata Fu Ke-wei dengan sedih, "makam beliau ada di kampungku, jika


ada waktu nanti aku temani kau pergi membersihkan dan


sembahyang di makam beliau."


"Tidak di duga aku susah payah mencari di dunia persilatan,


akhirnya harapan tetap tidak terkabul......"Hoa-feihoa mengucurkan air mata.


"Adik seperguruan, kau jangan sedih. Guru telah berhasil


mendapatkan dao, duduk terbang ke langit, ini adalah harapan yang


sangat dimimpi-kan oleh orang-orang aliran misterius berlatih dao."


Fu Ke-wei dengan lembut menghibur, "jika arwah guru di langit mengetahui aku telah bertemu dengan adik seperguruan, pasti dia


akan sangat gembira, beliau tadinya mengira seluruh keluarganya


telah meninggal dalam wabah penyakit itu."


"Mulai sekarang familiku di dunia ini hanya ada kakak


seperguruan seorang." Hoa-fei-hoa menghapus air mata


dengan sapu tangan sutra,


"mendapatkan satu kehilangan satu, apakah ini sudah


ditakdirkan langit......"

__ADS_1


"Aku juga begitu, tapi aku telah mendapatkan seorang adik


seperguruan." Fu Ke-wei dengan sayang melihat pada Hoa-feihoa.


__ADS_2