Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 87


__ADS_3

Nama sembilan jago pedang terbesar, sebenarnya hanyalah julukan


kosong yang dalam kutipan setengah dibesarbesarkan, di dunia


persilatan banyak sekali orang yang ilmu pedangnya hebat, hanya karena sembilan orang ini sering terdengar diluaran dibandingkan orang lain, suka pamer dan banyak pengekornya, makanya namanya jadi tersiar,


orang yang benar-benar ilmu pedangnya lebih tinggi dari sembilan jagi pedang terbesar tidak tahu masih ada berapa banyak lagi.


Ilmu pedangnya Hoa-fei-hoa juga lebih tinggi dari pada


sembilang jago pedang terbesar, paling tidak menurut perkiraan


dia lebih tinggi dari pada mereka, makanya dia berani melawan


Satu Pedang Dunia. Ketika Pedang Dewa yang ternama menyerang, dia bisa


bertahan sampai seratus jurus lebih.


Satu Pedang Dunia mana bisa dibandingkan dengan


Pedang Dewa" Makanya, dia merasa yakin dapat melawan Satu Pedang Dunia.


Orang muda itu mengatakan dia hanya bisa mengimbangi Satu Pedang Dunia, jika itu benar, maka dia akan kerepotan, di benteng


Zhang-feng yang pesilat hebatnya banyak sekali!


Pendeta dao dari Zhong-tiao dan Dewa Dingin adalah


beberapa di antaranya. Dia menatap dengan bengong ke arah hutan tempat


menghilangnya Fu Ke-wei, didalam hati penuh dengan


perasaan menyerah. "Bocah ini benar-benar sulit dibayangkan." kata Niu Langxing dengan kecewa, "jika dia berniat mengambil nyawa kita, kita tidak mungkin bisa hidup sampai sekarang. Di dunia persilatan bisa


muncul seorang pendatang baru yang begitu hebat, hanya langit


yang tahu dia muncul dari mana?"


"Sudahlah! Jika dunia persilatan tiada generasi, dunia persilatan tidak berhenti, hari apa yang tidak ada orang baru di dunia?" kata Wanita Penenun, nadanya tampak tidak bisa berbuat apa-apa,


"untungnya dia bukan anak buahnya benteng Zhang-feng, jika


tidak......" "Hey! apakah kalian masih berani pergi ke benteng Zhangfeng?" kata Hoa-fei-hoa sambil berjalan menuju hutan, "orang brengsek ini telah mempermainkan kita, tidak tahu apa tujuannya, tapi bisa dipastikan dia bukanlah orangnya benteng Zhang-feng, dia tidak akan mengganggu


rencana kita." "Tapi harus dipikirkan lagi." Keluh Wanita Penenun mengikuti, "jika kita tidak pergi, bagaimana menghadapi sanak famili di alam sana


yang mengharapkan kita membalaskan dendam mereka?"


"Ku pikir, kita tetap harus pergi!" kata Niu Lang-xing


dengan nada dalam. "Apa dilakukan menurut rencana semula?" tanya Hoa-feihoa.


"Tapi tidak mengambil harta pusakanya."


"Maksudmu......"


"Di sekitar benteng kita sembelih orang-orang benteng mereka, setelah itu kita pergi. Si anjing Xi Wen-xin tentu akan membawa banyak anak buahnya mengejar dan tidak akan berhasil, si anjing tua Xi pasti marah sekali dan lalu akan turun tangan sendiri, asalkan dia keluar, maka kita ada kesempatan menggunakan siasat membunuhnya."


"Hmm...! Baik, ayo kita cepat pergi mencari kesempatan." Kata Hoa-fei-hoa dengan gembira, "hanya saja kalau tidak


mengosongkan gudang harta dia, sungguh mengecewakan sekali, si


perampok ini duduk mendapat upeti, keluar merampas dan

__ADS_1


merampok, seharusnya mendapat hukum karma, keluarganya


hancur, harta bendanya habis baru itu menurut aturan langit."


"Nona besar, sekarang mana pantas kita membicarakan hukum


alam?" Niu Lang-xing tertawa pahit, "kami suami istri keluar gunung lebih lama sepuluh tahun dari padamu, ada berapa hal


yang menurut hukum alam" julukanmu lebih jelek dari pada kami!


Jalanlah! Sudah waktunya berangkat."


Fu Ke-wei berempat sebenarnya tidak pergi jauh, tanpa


diketahui mereka muncul dari samping.


"Keberaniannya sungguh patut dipuji." katanya sambil menatap ke empat bayangan orang yang semakin menjauh, pada Xie-shen


dan kawan-kawan berkata lagi, "mereka tidak jadi memindahkan


gudang hartanya, tapi kita bisa."


Empat orang saling tertawa, dengan langkah enteng,


berjalan menuju Lin-jia-gou.


Begitu melangkah masuk ke tempat penginapan Yue-lai, sorot


mata Xie-shen pertama-tama melihat pada kuda tunggangannya.


"Kuda tungganganku masih ada, para bajingan itu tidak


membawanya, sungguh bagus!" kata Xie-shen dengan senang.


"Aku datang menumpang kereta keledai, bungkusan bajuku


Kata Nie-sha-yin-hoa. Pelayan yang berdiri di pintu samping, begitu melihat


mereka wajahnya tampak cerah.


"Langit melindungi!" teriak pelayan dengan gembira, "akhirnya ada tamu yang kembali dengan selamat, terimakasih langit terima kasih


bumi." Orang-orang di penginapan Yung-an di seberang jalan,


mendengar suara itu pada keluar melihat.


Dua orang itu tidak perduli keramaian yang terjadi, mereka


berjalan terus menuju pintu samping.


Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen menunggu diluar.


"Tuan, dimana tamu yang lainnya?" Pelayan penginapan


mendekat dan bertanya penuh perhatian.


"Telah dibunuh semua, dan dikuburkan oleh orang yang baik hati di depan kuil Dewa Bumi di bukit sebelah timur laut, hanya kami


berdua yang selamat." Kata Xie-shen keras, "kami ingin mengambil kembali kuda tunggangan dan bungkusan baju, tidak ada


masalahkan?" "Tamu yang lain telah mati dibunuh?" Pelayan penginapan


terkejut wajahnya berubah.

__ADS_1


"Betul, malah digantung di atas pohon dan dipukuli sampai mati.


Orang-orang benteng Zhang-ltidak akan menerimanya, kalian cepat lapor polisi."


"Ini......" Xie-shen dan Nie-sha-yin-hoa membawa bungkusan


bajunya mengikuti Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen berjalan


menuju penginapan Yung-an.


"Tuan, sungguh maaf sekali, kamar kami telah penuh......" kata pelayan dengan gelisah sambil menggosok tangan tertawa.


"Pelayan, mereka adalah temanku, kami ada dua kamar, mereka


bisa tidur bersama kami satu malam saja!" kata Fu Kewei tertawa.


"Terima kasih tuan muda telah mempermudah." Kata


pelayan dengan lega. Setelah selesai mendaftar, empat orang itu masing-masing masuk


kekamar. Fu Ke-wei membalikan tubuh menutup pintu kamar, tidak sengaja


mengangkat kepala melirik, dari kamar tamu diseberang keluar dua


orang tamu sedang jalan menuju ruang makan, sorot mata Fu Ke-wei


jadi berubah. Empat orang itu setelah selesai mandi, mereka keluar kamar


berjalan menuju ruang makan untuk makan malam.


"Jika diruang makan ada orang bertanya peristiwanya kalian


ditolong, jangan bicarakan peristiwa aku bertarung dengan Sepasang Pedang Langit Selatan," Kata Fu Ke-wei pelan sesaat sebelum masuk ke ruang makan, dia berpesan pada Xie-shen dan Nie-sha-yin-hoa.


Dua orang ini mengerti dan menganggukan kepala.


Sudah hampir jam tujuh, tamu yang makan malam


kebanyakan sudah puas mengisi perut dan kembali ke


kamarnya masing-masing untuk istirahat, di dalam ruang


makan hanya tinggal dua meja dan empat tamu sedang makan.


Empat orang itu duduk dimeja dekat sisi jendela, memesan


makanan. "Hey! saudara Tu." Di meja sebelah terdengar suara yang nyaring berkata, "kau tadi di seberang jalan berkata, di antara tamu penginapan Yue-lai yang ditangkap orang-orangnya benteng Zhang-feng, ada kau


dan Nie-sha-yin-hoa" Ha ha ha......"


Xie-shen membalikan kepala melihat, tampak seorang


sastrawan tampan berbaju biru, usianya sekitar dua puluh


enam-tujuh sedang tertawa menengadahkan kepala!


"Kau tertawa apa?" tanya Xie-shen dengan melotot.


"Kebesaran namamu Xie-shen dengan Satu Pedang Dunia


setingkat, Nie-sha-yin-hoa juga tidak lebih rendah dari pada dia. Hari ini, semua malah kalah oleh sekelompok orang bawahan


benteng Zhang-feng, bagaimana aku tidak harus ketawa?"

__ADS_1


"Shan-xi adalah daerah kekuasaannya si marga Xi, anak buahnya banyak sekali, aku Xie-shen mengaku kalah, tapi aku akan menunggu dia di dunia persilatan." Kata Xie-shen dengan menggigit gigi, "kecuali dia selanjutnya tinggal didalam benteng selamanya tidak berani keluar."


"Menunggu dia mati tua di dalam benteng, kau tidak akan bisa membalas dendam." 


__ADS_2