Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 11


__ADS_3

"Apa! Kau..." Yan-fang menggeliatkan pinggangnya yang kecil,


meronta. "Jangan bangun, duduk saja di pelukanku sambil ngobrol." Dia


erat memeluk tidak melepaskan, "aku tidak akan melepaskanmu,


karena..." "Ooo! Bagaimana pun kau harus membiarkan aku melepas


baju..." "Saat harus melepas baju, aku akan melepaskanmu." Dia


memeluknya lebih erat lagi, "tidak perduli asal usulmu bagaimana, itu pastilah cerita lama yang sejak zaman dahulu sampai sekarang sama


saja, aku tidak perlu menceritakan, yang ingin aku katakan adalah kau yang sekarang dan dikemudian hari."


"Sekarang" Apa kau sudah memutuskan menyimpan bunga


didalam rumah emas" Kau..."


"Itu adalah hal di kemudian hari, sekarang aku ingin bicarakan


keadaanmu. Mendengar kata kata Naga Setempat Lu-jiu, beberapa


hari lalu ada orang disini berebut dan berkelahi, ada orang yang


dilempar keluar pintu, dipukul sampai mengalirkan darah dan kepala pecah." "Adakejadian itu."


"Siapa saja mereka itu" Orang yang memukul dan


melempar keluar pintu adalah..."


"Aduh! Kau memijat menyakiti pinggang aku," tiba-tiba


Yan-fang tertawa sambil berseru, "lepaskan aku, aku ingin berdiri


menarik nafas..." "Aku kan tidak menggelitikmu." Akhirnya dia melepaskan


tangannya, "hal cemburu berkelahi walau adalah hal biasa, tapi jika tidak betul mengurusnya, mungkin akan memakan korban..."


"Kau ingin tahu siapa orang itu, betul tidak?" Yan-fang dengan


tangan memainkan godeknya, langsung bertanya.


"Aku ini mengkhawatirkan mu..."


"Khawatirkanlah dirimu sendiri!"


"Maksud mu..." "Aku ingin kau mati!"


Begitu suara mati keluar, tangan mulus Yan-fang turun kebawah,


sinar jarum berkelebat, tiga buah jarum ekor lebah yang telah di


sembunyikan di dalam rambut, dengan sangat cepat menusuk


kearah dada Fu Ke-wei. Berdiri bertempelan, yang satu berdiri yang satu duduk, sekali


tangan dijulurkan langsung sampai di sasaran, yang satu tidak


berniat, yang satu berniat, dewa sakti pun tidak akan lolos dari


petaka ini. Tangan kanan Fu Ke-wei saat ini baru saja diangkat mengusap


dagunya, dia yang pertama menyadari dari lengan baju Yan-fang ada gerakan yang tidak biasa, setelah melihat bayangan jarum yang hampir tidak terlihat oleh kasat mata, dia sudah tidak dapat menghindar.


"Aiit..." dia berteriak terkejut, langsung jatuh terlentang.


Jarum ekor lebah yang panjangnya dua cun, jika masuk


kedalam dada, bagaimana akan tertolong"


Walau tidak langsung mati, tapi sulit bergerak, sekali bergerak


sakitnya menusuk paru-paru, sakitnya bisa membuat seluruh


tubuhnya lemas, kehilangan semangat gerak dan tenaga.


Yan-fang bergerak mundur setelah melepaskan jarumnya, dengan

__ADS_1


ringannya terbang mundur satu zhang lebih, turun di pintu kamar dalam, dengan cepat mengangkat gorden masuk kedalam, saat keluar lagi di


tangan kirinya ada sebilah pisau belati sepanjang satu chi, berdiri di jalan menuju dapur, dengan dingin menatap Fu Ke-wei yang diatas lantai,


meronta kesakitan. Wajah cantik dia berubah jadi dingin dan kaku, sepasang matanya


yang cantik genit berubah bersinar dingin, tidak berkedip menatap Fu Ke-wei, seperti seekor serigala yang telah makan kenyang, dengan


tatapan dingin melihat pada buruan kecilnya yang telah mati, di


matanya walau ada hawa pembunuhan, tapi sudah tidak ada selera.


Fu Ke-wei menggulung tubuhnya, dengan sekuatnya menahan


sakit, satu cun demi satu cun dia meronta duduk, sesaat, dia


berhasil, tangan kiri menekan dadanya, tangan kanan bertahan pada


bantal kapas, lutut kanannya dibengkokan setengah duduk, akhirnya


dia bisa duduk stabil. Wajah dia pucat putih, setiap otot wajahnya mengencang


berubah bentuk, berubah sangat menakutkan, giginya digigitkan


dengan kuat, bisa diketahui sakit yang dia derita begitu hebatnya.


Sinar matanya sangat menakutkan, dia mengawasi pada


Yan-fang, api kemarahan membara, hitamnya menakutkan orang,


dinginnya mengigilkan orang.


Dari kejauhan, terdengar suara kentongan tiga kali tanda jam


dua belas malam! "Jarum...ekor...lebah..." seluruh tubuhnya gemetar,


"kau...kau adalah..."


Mata Yan-fang bergerak, terhadap lawan yang masih bisa meronta


duduk, itu diluar dugaannya, dia juga terkejut karena dia masih bisa bicara.


berkilat, sangat tajam sekali.


"Kau adalah...adalah Ratu Lebah Perempuan...yang


su...sulit dilacak..."


Yan-fang melangkah, selangkah demi selangkah mendekat,


langkahnya pelan sekali, matanya menyorot sinar yang sangat


waspada sekali. Tubuh Fu Ke-wei bergoyang, hampir saja jatuh, tapi akhirnya bisa


ditahan dengan tangannya, dengan gemetar satu cun-satu cun dia


menggerakan tubuhnya yang berat itu mundur kebelakang, menggerakan sepasang kakinya dengan susah payah mundur, sekali


bergerak, garis kesakitan diwajarinya bertambah selapis.


Tidak jauh di belakang tubuhnya ada pintu ruangan, di luar adalah


pekarangan yang gelap pekat.


Kecepatan Yan-fang mendekat, lebih cepat di banding


gerakan dia mundur kebelakang.


Dia sudah bisa bicara, gemetar tubuhnya semakin keras.


Sinar kilat datang, bayangan orang datang menekan, Yanfang


sudah tidak tahan lagi, dia menyerang dengan belatinya.


Angin kuat menekan tubuhnya, bau harum menyerang orang,


hawa dingin belati menuju kearah dadanya, tubuhnya harus

__ADS_1


membungkuk dan juga menempel dekat.


Terdengar satu teriakan perlahan, sebelum sesaat ujung belati


sampai disasaran, Fu Ke-we merebahkan tubuh kebelakang,


sepasang kaki dengan kecepatan kilat menyerang, sakit yang amat


sangat membuat dia tidak bisa mengerahkan tenaga seharusnya,


tapi serangannya tetap saja dahsyat.


"Aiik..." Yan-fang berteriak terkejut, kaki kanannya tersapu, dia jatuh


miring satu zhang lebih, jatuh dengan satu suara keras, dan


menabrak mengenai dinding, membuat jendela bergetar, orangnya


telah jatuh di bawah dinding.


Fu Ke-wei mengangkat tubuhnya, tapi di dalam ruangan gelap,


sepasang lilin telah dipukul jatuh oleh Yan-fang, gelapnya sampai


mengulurkan tangan tidak bisa melihat lima jari.


Jelas, Yan-fang tahu pisau Xiu-luo-nya sangat menakutkan, sangat


mungkin dia masih ada tenaga melemparkan pisau terbangnya


memadamkan lampu adalah pertahanan yang paling baik.


Dalam kegelapan, terdengar Yan-fan mengeluarkan siulan aneh.


Segera di depan sudah ada gerakan, si orang tua seperti setan


keluar dari pekarangan, di tangannya membawa seruling bambu yang


berwarna-warni, lebih panjang empat cun dari pada seruling yang


dipakai untuk pertunjukan, seruling ini sepanjang dua chi dua cun.


"Dia di bawah pintu." Teriak Yan-fan dengan gelisah.


Di dalam pintu di bawahnya ada benda yang bergerak, dengan


sinar bintang di pekarangan samar-samar bisa terlihat.


"Jarumku mengenai dadanya, tapi dia masih bisa bertahan."


Yan-fang berbicara lagi, tapi telah merubah posisi, "dia telah


menendang kaki kananku, dalam waktu singkat ini, dia tidak bisa


bergerak leluasa, cepat bunuh dia!"


Orang tua itu mengangkat seruling kebibir-nya, sebuah sinar


dingin menembak dari dalam seruling, dengan jitu mengenai benda


bergerak di bawah pintu sejauh satu zhang lebih, satu suara aneh


terdengar. "Bukan manusia." Orang tua dengan perasaan aneh


berteriak, "apa benar dia ada di dalam?"


"Seharusnya masih ada."


"Kau benar telah melukainya?"


"Tiga buah semuanya mengenai dadanya."


"Kau tidak menambah dia satu pisau?"


"Sedikit terlambat..."


"Kacau! Cepat keluar."

__ADS_1


"Seharusnya dia sudah tidak akan bisa bertahan..."


"Cepat jalan!" Orang tua itu berteriak ketakutan.


__ADS_2