Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 31


__ADS_3

Luo Wen-jing mengejar sejauh setengah li, beberapa kelinci hutan


pada lari ketakutan karena kejarannya, tapi dia terpaksa membawa


perasaan terkejut menyerah mengejar, dengan lesu kembali mencari


jalan turun gunung. Setengah li di sana, Li Hoa-xin berlima bersembunyi di dalam


kebun buah di sisi jalan, diam mendengarkan gerakan yang ada


diatas, lama sekali, hingga membuat setiap orang gelisah.


Yang pertama tidak tahan adalah Hoa Sheng, anak kecil


memang kesabarannya terbatas, dia ribut ingin naik ke atas


membantu, akhirnya di paksa oleh kakaknya untuk diam.


Akhirnya, mereka mendengar tawa keras itu!


Mereka melihat ada orang yang turun gunung, Luo Wenjing


turun dengan rupa wajah yang tidak biasa.


Ketika dia berkumpul bersama melewati belakang kampung Xian


beberapa saat, seorang pria besar dengan dandanan orang kampung,


perawakannya tegap, dengan langkah besar keluar dari kampung,


berjalan menuju ke jalan kecil.


Di sebelah kanan jalan di belakang satu pohon, melangkah keluar


seorang sastrawan baju hijau, kipas lipatnya direntangkan,


menghadang jalannya.


"Bangsat gunung Tai, ha ha ha! Kau berdandan seperti orang


kampung, meninggalkan gunung Tai seribu li lebih, mengira tidak ada orang yang bisa mengenalimu?" kata Sastrawan itu dengan keras,


"kau ikut di belakang Shuang-jieshu-sheng, Luo Wen-jing jadi


pengawalnya, semua orang persilatan sudah tahu, asal bisa


mendapatkan marga Luo, pasti bisa menangkapmu dan menyerahkan


pada polisi, memenggal kepalamu untuk digantungkan di gerbang


kota untuk di pertontonkan"


Bandit Tai Qiao-zhuang bertolak pinggang, berhenti dua zhang


lebih, sepasang mata yang seperti bel tembaga melotot pada


sastrawan itu, dia tidak bicara, tidak bergerak, wajahnya bengis.


Sastrawan itu tidak banyak bicara lagi, juga dengan tanpa takut


menatap lawannya. Mata besar melotot pada mata kecil, terjadi, perang pelototan,


melihat siapa yang lebih kuat, melihat siapa yang takut akan hancur lebih dulu.


Matahari diatas terasa terik, walau dari hutan di kedua sisi jalan angin bertiup sepoi-sepoi, perasaan panasnya tetap membuat orang


tidak tahan, situasi yang tegang juga menambah kekuatan

__ADS_1


panasnya. Udara gerah membuat sifat manusia bisa jadi buruk, mudah


membuat orang kehilangan kesabarannya, dengan begini saling


berhadapan, kau memelototi aku, aku memelototimu, lebih lebih


mudah membuat orang naik darah.


"Kau ingin menangkap aku"'' Bandit Tai akhirnya tidak tahan


bicara. "Ada sedikit maksud itu, tapi bukan karena hadiahnya." Kata Sastrawan dengan santai. "Apa kau pantas?"


"Pantas atau tidak, tidak lama lagi akan tahu."


"Katakan julukanmu, nanti aku antar kau ke akherat."


"Sudahlah, yang ke akherat belum tentu diriku, pesilat tinggi bertarung, kesempatan hidup atau mati adalah setengah-setengah.


Kalau kau mati, tahu julukanku juga apa gunanya" Bagaimana pun kau di depan raja akherat tidak bisa mendakwa aku, kau sama sekali tidak


percaya di dunia ini ada dewa atau setan, hanya percaya yang kuat hidup yang lemah mati, orang mati seperti lampu mati, jika aku mati, kau juga tidak perlu tahu aku ini siapa, semuanya selesai, betul tidak?"


"Betul." "Makanya kau tidak ada gunanya bertanya."


"Kau sudah berada dalam lingkup kekuatan garpu terbang


pencabut nyawaku, kau sudah dipastikan mati disini."


"Ha ha ha! Jika aku takut pada garpu terbang mu, aku tidak


akan menampakkan diri berbicara denganmu, dari belakang kau


saja diam-diam melakukan serangan mematikan, bukankah


akan jauh lebih aman?"


serangan diam-diam." Kata Bandit Tai dengan galak.


"Aku tidak percaya tahayul, coba buktikan padaku!"


Begitu Sastrawan habis berkata, tubuhnya tiba-tiba


berkelebat kekiri. Satu sinar membelah udara, berubah jadi pelangi,


berkelebat dengan kecepatan yang sulit di lihat mata


telanjang. Tapi, kelebatan ke kiri tubuh sastrawan mendadak berhenti, dia


tetap berada di tempatnya, sepertinya sedang menggunakan ilmu


merubah tubuh, bayangan berkelebat, hanya begitu saja.


Garpu terbang yang kecil tajam sepanjang delapan cun, dari sisi


bayangan sastrawan meluncur lewat, hingga mencapai sepuluh


zhang lebih baru dengan satu suara keras jatuh ketanah.


Dalam jarak sepuluh zhang, jejak terbang garpu terbang ini adalah


lurus, titik paling tingginya hanya naik sekitar lima cun, tenaga


lemparan garpu terbang nya Bandit Tai, sungguh membuat orang


mengeluarkan lidah, sulit di percaya.


"Lihay!" kata Sastrawan tertawa meng-ejek, "saudara, kau telah menghamburkan sebuah garpu terbang yang tidak mudah

__ADS_1


membuatnya, walau kau ada kesempatan memungutnya kembali,


garpunya juga sudah berubah bentuknya tidak seperti semula lagi,


ingin melemparnya dengan jitu sudah tidak mungkin."


"Kali ini aku akan memberimu tiga bilah." Kata Bandit Tai menggigit gigi, mulutnya bicara, tapi sepasang tangannya ke bawah tidak


bergerak, telapak tangannya menghadap ke paha luar, entah garpu


terbang kecil itu disembunyikan dimana.


"Aku ini orangnya tidak sabaran, tidak ada kesabaran yang besar."


Sastrawan tidak tertawa lagi, nadanya berubah jadi bertenaga, tegas, tidak mengizinkan orang salah paham, "aku bisa memaafkan kau dalam keadaan gelisah ingin menyerang mengambil nyawaku, tapi tidak akan sungkan kalau kau terusterusan menyerang ingin mengambil nyawaku.


Mulai sekarang, jika kau menggunakan senjata rahasia lagi,


menggunakan garpu terbang itu untuk mengambil nyawa orang, kau


akan menyesal selama-lamanya."


Hati Bandit Tai seperti meloncat, sorot matanya sedikit


berubah. Melihat tingkah sastrawan yang berdiri tegak seperti gunung, tidak takut dan tidak ngeri, dan juga tampil dengan wajah yang percaya diri dan tegas, kepercayaan akan ketepatan lemparannya akhirnya mulai


goyah, hatinya tergerak, telapaknya mulai berkeringat, ini adalah hal yang paling tidak bisa di benarkan oleh para pakar senjata gelap.


Arti lain dari telapak tangan berkeringat, adalah hati tegang,


kepercayaan diri berkurang, pasti akan mempengaruhi ketepatan


senjatanya. "Aku ingin kau menyampaikan pesanku." Kata sastrawan itu menambah tekanan, "suruh Shuang-jie-shu-sheng, Luo Wen-jingjangan sampai tertutup matanya oleh persahabatan,


mempercayai kata-kata sepihak pasti akan menghancurkan dia


sendiri. Jika dia mau lepas tangan dan pergi, itu yang paling bagus, jika tidak mau menuruti, dan memutuskan melibatkan diri, maka


pergilah kekantor polisi di kabupaten Ye, tanyakan dengan jelas


kejadiannya, untuk menentukan apakah dia pantas melibatkan diri


atau tidak. Mengingat dia tidak mudah bisa jadi ternama, bagaimana pun Tiga


Sastrawan Dunia Persilatan adalah orang dari aliran kebenaran yang dihormati orang, aku beri dia satu kesempatan untuk menguji apakah hati manusia itu jahat atau baik, apakah dia membuat cacat nama sastrawan, biarkan dia sendiri yang memutuskan kebaikan atau keburukan dia


sendiri, kau, sekarang boleh pergi, ingat sampaikan pesanku."


Kata-kata ini maknanya benar, kalimatnya tegas, nadanya pun


sangat angkuh. Yang lebih penting adalah, setiap kata-katanya tegas


bertenaga, menampakan tekad dan keberanian.


Bandit Tai Qiao-zhuang merasakan telapak, tangannya sudah


basah oleh keringat. "Siapa sebenarnya dirimu?"


"Seorang yang melihat ada yang tidak adil maka akan


bersuara." "Jika aku tidak memakai garpu gerbangku, apakah anda berani


bertarung dengan aku?"


"Setiap saat kau boleh menyerang." Kata sastrawan itu


menyimpan kipas lipatnya.

__ADS_1


__ADS_2