Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 125


__ADS_3

Perusahaan pelayaran San-jiang khusus berlayar dalam pelayaran jarak jauh, perahu penumpangnya bertipe setengah besar ini biasanya disebut perahu cepat, jika mengikuti arus dan mengikut angin, kecepatannya boleh juga, tapi penumpangnya tidak bisa muat banyak, hanya muat empat puluh orang, pos terakhirnya adalah Nan-jing.


Perusahaan pelayaran itu memiliki perahu cepat sebanyak lima


belas buah, setiap hari satu perahu berlayar satu rit, setelah sepuluh hari baru bisa tiba di Nan-jing. Lamanya hari pelayaran, jika segala sesuatunya lancar, kira-kira dua puluh hari sudah bisa tiba di kota Wu-chang, tapi kadang juga bisa meleset tiga-lima hari.


Disepanjang perjalanan, perahu tidak menaikan atau menurunkan


penumpang, tapi langsung berlayar menuju Nanjing.


Bos perusahaan pelayaran ini adalah tuan besar Guan Tianfu, tapi


yang benar-benar mengurusnya adalah pengurus besar perusahaan


pelayaran Jin Jia-sun. Perahu cepat yang kembali dari Nan-jing kali ini,


mengangkut dua puluh empat penum-pang.


Setelah awak perahu mengikat tali, membentangkan papan


jembatan, para penumpang segera berturut-turut naik kedarat.


Didalam perahu, ada seorang sastrawan melancong belajar yang


sangat tampan, romantis, membawa seorang pelayan berusia


tujuh-delapan belas tahun yang bersih juga tampan, mereka


menginap di penginapan tua Jiang-han sebelah barat luar kota.


Di buku catatan penginapan tua Jiang-han, telah mencatat surat


jalan sastrawan yang sah.


He Xian-wei, penduduk ibu kota, dua puluh lima tahun, pelajar di


Guo-zi-jian. Melancong belajar, tujuan kota Chengdu di Si-chuan,


batas waktu satu tahun. Pelayan yang ikut bernama Yung-lin, tujuh


belas tahun, warga Nu. Dia bicara dengan logat pejabat, dijamin asli. Diatas surat


jalannya penuh dengan cap pengawas gerbang kota yang harus


diperiksa setiap pelancong lewat, jati dirinya tidak ada yang


mencurigakan. Putra terbaik Nan-jing juga banyak, dan sering datang melancong


kekota ini, tapi putra terbaik dari ibu kota, sangat sedikit yang


datang. Orang yang mampu belajar di Guo-zi-jian, seharusnya bergelar


diatas Ji-ren, lebih tinggi satu kelas dari pada Xiu-cai, kedudukannya tentu saja lebih tinggi satu tingkat, di dalam masyarakat biasa pantas disebut tuan, makanya pelayan penginapan menyebut dia tuan muda.


Dia sebenarnya adalah Fu Ke-wei, sedang pelayannya adalah

__ADS_1


Nie-sha-yin-hoa (Wanita Jahat Bunga Perak) Chao Yung-ling. Kali


ini dia juga mengganti marganya.


Di Jiang-hu, Fu Ke-wei telah mengadu nyawa selama banyak tahun, di usia tujuh belas tahun turun gunung melabrak lautan pedang gunung


golok, tapi dia tidak menginginkan dirinya ternama, dia tidak ingin menonjol, dia tidak mau memberitahukan nama aslinya. Hari ini adalah Fuxian, besok mungkin jadi Fu-jiu. Tapi kali mi, dia harus ganti marga, dia punya alasan M-mlui mengganti marganya.


Ada pepatah berkata, laki-laki sejati jalan tidak mengganti nama,


duduk tidak mengganti marga, apa lagi mengganti marga


dipandang sebagai hal yang hina.


Dia pernah berkata, dia bukan laki laki sejati, mengganti marga


tidak ada pengaruh pada tujuan besarnya.


Jika seseorang memerankan peran misteriusnya di dunia


persilatan, maka tidak akan memandang hina mengganti marga.


Nie-sha-yin-hoa juga orang persilatan yang tidak mementingkan


aturan, tentu saja juga tidak perdulikan marga atau nama.


Saat ini penampilan He Xian-wei berbeda dengan saat di Shan-xi,


yang tingkahnya seperti pengelana dunia persilatan.


Hoa-fei-hoa (Bunga Bukan Bunga) mengajarkan dia teknik merubah


wajah, membuat dia semakin leluasa, bisa dikatakan dia bisa


menyamar apa jadi apa, sampai Nie-shayin-hoa yang cantik tiada


duanya, matang memikat orang, juga bisa berubahnya jadi pelayan


kecil yang putih bersih, sedikit pun tidak terlihat sikap genit, bisa dilihat kemahirannya sudah sampai tingkat sempurna.


Pagi-pagi, Fu Ke-wei berpakaian sutra hijau, tangannya


menggoyang kipas lipat, membawa pelayan kecil mengunjungi kantor


pendidikan yang berada di sebelah timur kantor keamanan,


melakukan kunjungan kehormatan, mencari tahu kapan ada


seseorang guru besar atau sastrawan besar yang datang mengajar.


Setelah berkunjung hampir dua jam lebih, baru dia pergi ke Jin Feng lou yang megah yang berada digerbang timur, menikmati


pemandangan dalam dan luar kota.


Berturut-turut tiga hari, jejaknya telah berada diseluruh tempat

__ADS_1


ternama didalam mau pun didalam kota, termasuk Huang-he-lou yang


berada di kabupaten Wu-chang (Berbeda tempatnya dengan kota


Wu-chang) disisi sungai gerbang Hanyang.


Menurut cerita, dulu Zhu Ge-liang meminam angin timur mempermainkan Zhou-yu di Huang He-lou, diatas loteng kuno ada lentera Zhu-ge. Satu sajak dengan tujuh hurufnya Cuiying "Huang He-lou", menggambarkan pemandangan disekitar Chang-jiang dan Han-jiang hingga membuat orang terus menerus teringat dan membayangkannya. Sayang sekarang lotengnya telah ada tentara yang menjaga, jadi tidak sembarang orang bisa naik, tidak bisa menyaksikan hijaunya rumput Han-yang dan Ying-wu-zhou, orang


hanya bisa didepan loteng melihat ke arah gelombang asap diatas dua sungai, membuat orang jadi sedih.


Aktifitas Fu Ke-wei telah menjadi perhatian orang-orang kota,


memang dia orangnya menonjol, ditambah kedudukan dia, ingin tidak menjadi perhatian orang juga sulit.


Hari ini, dia muncul dijalan raya barat kota di toko Gu-guxuan.


Ini adalah toko barang antik yang paling besar namanya,


kepercayaannya tinggi. Ruang toko Gu-gu-xuan besar, diatas rak, barang antik banyak sekali, hingga alat tembaga di zaman Cun-qiu Zhanguo, ke bawah sampai dinasti sekarang bermacam-macam batu pusaka yang didatangkan dari India, semuanya tersedia.


Tiga pelayan toko satu pengurus tua terus dengan rajin melayaninya, dengan merendah diri menemani dia berkeliling


melihat-lihat, terakhir dia tertarik oleh sebuah penggaris giok yang seluruhnya putih, bersinar.


Pelayan mengeluarkan penggaris giok, ditaruh diatas meja besar


yang bersinar, mendadak diruang toko tercium bau wangi, tahu tahu


disisinya telah berdiri seorang wanita.


Pelayan dan pengurus baru saja akan menyapa, tapi di beri tanda


oleh wanita dengan diam-diam menggoyangkan tangan.


Wangi wanita itu memabukan orang, tubuhnya yang


langsing lebih-lebih menarik orang.


Seorang nona remaja cantik, sudah tentu memiliki daya tarik


yang memabukan, tidak perlu bersolek hanya berias sedikit lebih


menarik orang. Nona remaja besar ini, daya tariknya lebih besar lagi, dia sudah


cantik seperti bunga, baju hijau giok bercorak awan tipis yang


dikenakan, juga konde wanita diatas kepalanya, lebih-lebih


menonjolkan kecantikannya.


Baju terusan yang mewah ini, jika tidak ditutup selendang kecil


kembang indah dari Liu Shu, pasti akan terlihat kerah di dadanya, bisa terlihat kulit segi tiga putih dibawah lehernya, yang menarik sorot mata laki-laki, membuat orang membayangkan yang tidak tidak, daya


tariknya sungguh kuat sekali.

__ADS_1


__ADS_2