
Melayang sejauh tiga zhang, hujan jarum pun habis tenaganya
pada jatuh ketanah, walau masih ada beberapa yang terbang
maju, tapi sudah tidak dapat melukai orang. Jarak kedua pihak
sudah ada labih dari lima zhang.
Ratu Lebah membalikan tubuh langsung menggunakan
langkah seribu, dengan kecepatan penuh loncat kearah sungai.
"Ha ha ha ha " Suara tawa menggetarkan telinga, semakin mendekat
dibelakang. "Matilah kau!"
Ratu Lebah tiba-tiba membalikan tubuh, dengan marah teriak,
kedua kalinya dia melepaskan jarum, jumlahnya lebih banyak dari
yang pertama kali, tenaganya lebih mengejutkan orang.
Tapi, saat jarum Ekor Lebah dari sepasang tangannya
terbang menembus angin, jantungnya seperti meloncat,
wajahnya berubah, dia tahu dia sudah habis, hatinya tenggelam
kebawah, seluruh tubuh terasa kaku.
Fu Ke-wei yang mengejar sampai tiga zhang, mendadak menerkam
kedepan, disaat sekejap tubuhnya menempel tanah, kilatan sinar
dengan kecepatan yang tidak dapat dilihat mata telanjang, sudah tiba didepan dadanya Ratu Lebah.
Ratu Lebah sudah tidak dapat menghindar, hanya dengan reflek
menggerakan tubuh, pisau Xiu-luo langsung menusuk masuk
kedada kanan bawah, seluruh tubuhnya bergetar, seperti terkena
listrik. Hujan jarum bersiut lewat dari atas punggung Fu Ke-wei,
semuanya tidak berhasil mengenai sasaran, ada beberapa lewat
hampir menempel di belakang kepala, bahayanya setipis rambut.
Fu Ke-wei menerkam sambil melempar pisau saat lawan telah
melemparkan jarum seperti hujan, Pisau Xiu-luo malah lebih cepat
sekejap dari hujan jarum, perhitungannya memang tepat dan hebat
sekali, meski bergerak belakangan tapi sampai lebih dulu, tidak aneh Ratu Lebah sampai tidak punya kesempatan menghindar, dia hanya sempat
bergerak menghindar dari tusukan pisau di tempat yang mematikan.
Dia meloncat berdiri, maju dengan langkah besar. Sepasang
tangannya menahan dadanya, membalikan tubuh sempoyongan
lari kesungai. Fu Ke-wei perlahan mengikuti, dengan keras berkata:
"Jangan harap kau ingin mati di dalam air."
Langkah Ratu Lebah kacau, tapi tetap berlari ke depan, dia sudah
hampir sampai di sungai. "Semua karena berhubungan dengan hidup matinya diriku, aku
tidak dapat kasihan padamu." Nada bicara Fu Ke-wei semakin dalam.
Saking sakitnya seluruh tubuh Ratu Lebah sampai gemetar,
langkahnya semakin lambat bergoyang-goyang.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan ketua kalian, ketua kalian akan tidak akan berhenti mengutus orang diam-diam membunuh aku, di
tempat mana pun aku harus waspada ada orang yang diam-diam ingin
membunuhku, minum seteguk air juga mungkin bisa mati terkena
racun. Makanya, aku tidak akan berhenti."
Ratu Lebah sudah hampir sampai di air, lalu jatuh, kembali
berusaha berdiri. "Berani diam-diam membunuh aku, dan dapat mengutus banyak
orang, merencanakan jebakan yang rapih, orang ini pasti adalah orang yang hebat. Diantara aku dan dia, hanya boleh satu orang yang hidup, setelah ada yang mati baru boleh selesai." Nada bicara Fu Ke-wei tegas dan kuat, menggetarkan telinga, dan penuh percaya diri, "menangkap bangsat tangkap dulu rajanya, tidak menangkap otak pembunuhnya,
aku tidak bisa tidur tenang."
Akhirnya Ratu Lebah sudah sampai pada jarak kurang lebih satu
zhang dari sisi air, mendadak dia menerjang ke depan.
Fu Ke-wei cepat maju ke depan, menangkap lengan kanannya,
sekali tarik. Dia menjerit kesakitan, lalu dilemparkan ke pantai,
__ADS_1
tubuhnya meronta, terlentang, kaki dan tangan semakin lemas.
"Aku tidak bisa kasihan padamu." Dia berdiri tegak, "beritahu aku asal usulmu, baru aku dapat menolongmu."
Ratu Lebah menahan sakit, membuka sepasang mata yang tidak
bercahaya, menatap pada dia.
"Aku...aku tidak bisa mem...memberi tahumu." Ratu Lebah
akhirnya bicara, "aku...aku sakitnya su...sudah tidak tahan,
tambahkan aku sa...satu pedang, aku...aku tidak ben...benci kau."
"Tidak." katanya dengan tegas, "aku ingin tahu kebenarannya, di dunia persilatan ada tiga organisasi pembunuh bayaran yang besar,
perkumpulan Bunga Merah, Organisasi Teratai Putih, perkumpulan
Qing-lian. Beritahu aku, kau anggota pembunuh bayaran dari
perkumpulan yang mana?"
"Aku...aku ti...tidak bisa..."
"Dengan susah payah aku bisa mendapatkan orang penting seperti kau, kalau kau tidak mengatakannya aku tidak akan berhenti." Dia dengan galak berkata, "walau kau mati, aku juga akan memamerkan mayatmu di dunia persilatan, mengundang orang persilatan
melihatnya, kurasa pasti ada orang yang mengenal wajah aslimu, dan mendapatkan asal usulmu."
Ratu Lebah ingin bicara tapi tidak jadi, akhirnya berteriak sekali, lalu jatuh pingsan.
Saat sadar kembali, bintang-bintang penuh di langit. Dia
menemukan dirinya berbaring di dalam gubuk rumput, di sisi
menyala satu obor cemara, di sisinya duduk Fu Ke-wei.
Dia menemukan dirinya hanya memakai baju dalam, luka
dadanya telah dibalut dengan sobekan baju.
"Aku tidak akan berterima kasih padamu karena telah menolongku."
katanya dengan lemah, "orang yang berusaha di bidangku, menjaga rahasia adalah syarat penting dan utama. Aku adalah pakarnya, pakar dihidang ini, kau tidak mungkin mendapatkan apa pun dari mulutku."
"Aku tahu kau sangat pemberani." Kata Fu Ke-wei dingin, "hatimu pun cukup kejam cukup keji, tapi sebagai manusia! Pasti ada
kelemahannya di balik kekejaman, pasti tersembunyi satu kelemahan.
Jago aliran hitam, Orang Gila Pembunuh Sembilan Leng-gang, tidak
takut langit tidak takut bumi, membunuh orang seperti menjagal
anjing, tapi begitu dia bertemu dengan seekor kucing hitam, dia
dia. Aku tidak akan gunakan cara yang keji memerasmu, tapi aku
sedang mencari kelemahanmu."
"Aku aku tidak akan takut takut kucing hitam."
"Masih ada benda dan cara lain!"
"Kau sedang me menyia nyiakan waktu."
"Kita lihat saja nanti." Katanya sambil tertawa, "disekitar sini sangat tersembunyi, aku ada banyak waktu."
Saat tengah malam, Ratu Lebah mulai demam.
Pada saat hari sudah terang, dia sudah dalam keadaan
setengah sadar. Saat dia sadar, melihat Fu Ke-wei diluar gubuk, sedang
santainya bernyanyi kecil, dengan bangganya memanggang bebek
liar. "Beri beri aku air " teriak dia dengan lemah.
"Baik, airnya datang." Kata Fu Ke-wei gembira, dia memindahkan bebek panggang setengah matang ke sisi api, batang pohon yang
menembus bebek ditaruh diatas cabang kaki tiga penyangga, lalu
membawa kendi air keramik dan sebuah mangkuk yang di beli dari
kampung. "Minumlah!" Fu Ke-wei mengangkat tubuh atas dia memberi dia minum air, "airnya belum di masak, kalau sampai sakit perut tidak tanggung jawab."
Dia tidak bisa tidak minum, dia minum satu mangkuk besar.
Fu Ke-wei membaringkan dia kembali, lalu kembali kesisi api
memanggang bebek liar. Seluruh tubuh Ratu Lebah panas sekali, wajahnya merah
seperti api, bibirnya sudah tampak ada retak dan kering.
"To...tolong panggilkan...tabib un...untuk aku..." Dengan nada memohon.
"Oh...! bagaimana tabib mau datang" Kau sedang
berkhayal." Kata Fu Ke-wei seperti tidak terjadi apa apa.
"Ka... kalau begitu ba...bawa aku ke... kekota ber...
__ADS_1
berobat..." "Rupamu yang seperti setan ini, apa aku berani
membawamu" Apa siap masuk ke pengadil-an?"
Keadaannya memang sungguh sangat kacau, dia hanya
memakai baju dalam, di bawah baju tampak berantakan baunya
kalau dicium bisa muntah, laki-laki tentu akan menghindar
mengurus dia, keadaan seperti ini memgotongnya masuk kekota,
pasti akan terlibat perkara. "Ooo.. .Aku hampir mati..."
"Seharusnya kau memang harus mati sejak dulu, tidak perlu
salahkan orang!" Saat ini Ratu Lebah sudah bukan lagi setan wanita yang bisa
dengan tersenyum membunuh orang, tapi adalah wanita biasa yang
disiksa oleh demam panas yang tinggi yang tidak lama lagi akan
hancur. Demam panas akan membuatnya setengah sadar, setengah sadar
akan menjadi mimpi buruk, mimpi buruk akan mengigau, mengigau
tidak akan terhindar membocorkan rahasia yang di sembunyikan
didalam hati. Buat orang persilatan tangan memegang golok atau pedang, satu kata tidak cocok segera timbul hawa membunuh, pisau putih masuk, keluar jadi pisau merah, mati pun tidak perlu mengerutkan alis, sekali bertarung tidak perdulikan hidup atau mati.
Tapi semua ini tidak bisa membuktikan dia tidak takut mati, kalau
tidak takut mati lalu buat apa hidup" Pahlawan yang takut disiksa
sakit, sekali disiksa, seorang pemberani sangat mungkin berubah
menjadi penakut. Sakit, itulah kelemahan Ratu Lebah, di dunia kebanyakan orang
ada kelemahan semacam ini, sangat umum sekali.
"Tolong aku..."
Dia seperti menyerah, sebenarnya suaranya sangat
dikasihani. "Aku sudah menolongmu, sayang obat lukaku kurang
mujarab." "Aku " "Kau tidak apa apa, mungkin masih bisa bertahan dua tiga hari, aku akan menunggui mu mati, aku akan menguburkan kau di bawah
pasir." Ratu Lebah teriak sekali, lalu jatuh pingsan.
Saat sadar, hari sudah sore.
Semalam lagi dia menderita, kecuali air, Fu Ke-wei sama sekali
tidak perdulikan dia. Hari sudah terang, keadaan Ratu Lebah hanya tinggal
nafasnya, orangnya sudah tidak karuan sekali.
"Kau kau ti tidak meng...mengganti obat." Katanya dengan tidak jelas.
"Obat ku telah habis digunakan." Fu Ke-wei dengan santai berkata, diluar gubuk dia meng-gerakan kaki dan tangan, di sisinya ada dua ekor bebek liar yang diburu semalam.
"Aku aku bunuhlah aku!"
"Terhadap orang tidak berdaya, aku tidak ada selera, aku hanya menunggu kau menghembuskan nafas terakhir, setelah mengubur
kau tepuk-tepuk tangan dan pergi. Kau tahu, laki laki mengurus
wanita sakit sungguh repot sekali!"
"Aku " "Beritahu aku, siapa nama dan marga kau" Mungkin, aku akan
mendirikan satu bompai untukmu, mengukir namamu. Ha ha ha!
Orang mati tinggalkan nama, itu harus." "Tolong aku!"
"Belum waktunya. Hey! Kau bukan bermarga Nu kan?"
"Aku...marga Ouw...Ouw Yu-zhen." Akhirnya dia menyerah.
"Dari perkumpulan Bunga Merah?"
"Per... Perkumpulan Qing-lian..." Pikirannya sudah dalam keadaan setengah sadar.
"Ketua perkumpulan mu adalah "
"Hartawan Besar Zhan, Zhan Fan-chen." Kali ini jawaban dia terdengar jelas.
"Ooo! Aku bawa kau mencari dia, bagaimana mencarinya?"
"Di...gunung Lu lembah Da-yin kampung Tao."
"Siapa yang mengeluarkan uang untuk bunuh aku?"
"Ti...tidak tahu."
"Bagaimana Wanita Penenun bisa tahu?"
"Dia...dia tidak mung mungkin tahu, dia hanya me...
__ADS_1
menerima pe... perintah a... aku..."
"Baik, aku bawa kau berobat." Dia merintih sekali, pingsan tidak sadar-kan diri.