
Dua bulan kemudian. Fu Ke-wei muncul di sebuah kereta jarak jauh dari Xu-zhou ke
Nan-yang. Dalam dua bulan ini, dia telah menjelajahi utara dan
selatan sungai besar, malah sampai jauh ke ibu kota,
mengejar Pedang Naga Langit Lu-zhao.
Walau benteng Tian-long sudah lenyap di dunia, dan ketua
bentengnya juga telah menjadi orang cacat, tapi Pedang Naga Langit yang berada di urutan ketiga dari sembilan jagoan aliran hitam ini, di Jiang-hu telah merajala rela selama empat puluh tahun lebih, uang haram yang dia kumpulkan sudah sulit dihitung banyaknya, tidak dapat di jamin dia tidak menyewa pembunuh bayaran lagi membunuh dia, jika tidak di cabut akar bahaya ini, bukankah dia selamanya tidak akan bisa tenang"
Bulan lalu dari teman persilatan, dia memperoleh beberapa berita,
sehingga dia jauh-jauh datang ke He-nan mencoba keberuntungan.
Tengah hari, kereta kuda telah meninggalkan daerah
perbukitan, masuk ke dataran Ru-he, keadaannya juga
semakin lembab, sungguh seperti di dalam oven.
Terpal kereta sudah sangat buruk, tapi untuk menutup terik
matahari lebih dari cukup.
Dari sembilan penumpang di kereta, dua orang diantaranya wanita.
Sembilan orang itu duduk di dalam kereta yang ditarik oleh dua
keledai, terlihat sedikit berdesakan.
Jalan raya yang lebarnya hanya tiga zhang lebih, tidak ada angin
yang berhembus, gandum tinggi di kedua sisi menghalangi udara
yang bergerak, maka cuara terasa sangat panas dan gerah, benar
seperti di dalam oven. Permukaan jalan dari tanah yang kuning keabu-abuan, setelah di
gilas oleh roda kereta, amblas sedalam hampir satu chi. Sehingga,
debu di belakang kereta bergulung keatas, dalam setengah hari debunya mungkin belum turun, dan delapan kaki keledai yang
menginjak jalanan, mengangkat debu, tepat menyembur kedalam
kereta, membuat semua orang yang berada di dalam kereta
wajahnya penuh dengan tanah dan kepala penuh dengan debu,
keringat di tambah debu, sungguh tidak enak dipandang dan
dirasakan, baik lakilaki atau perempuan semua sama, siapa pun
jangan harap bisa bersih.
Sepanjang jalan tidak banyak pelancong, kadang ada dua atau
tiga orang yang naik kuda lewat, mereka memperlambat
__ADS_1
tunggangannya, menghindar debu yang berterbangan.
Setelah lama kering, jika turun hujan lebat, pelancong yang lewat
jalan ini akan lebih susah, sebab jalan bisa-bisa amblas hampir kelutut, kereta juga sama sekali tidak bisa bergerak, harus menunggu sampai tanahnya kering baru dapat berjalan lagi.
Didalam kereta, ada seorang pelajar dari kota Xiang pergi ke kota
Nan-yang untuk sekolah, pada tahun itu, orang yang tidak sekolah di anggap rendah, dengan sekolah, baru dihargai setiap orang, demikian permikiran itu tertanam dalam hati orang.
Dalam dinasti Ming, setiap raja selalu ada pejabatnya yang
menyalahgunakan kekuasaan, beratnya pajak, sungguh membuat
orang mengeluarkan lidah, membuat rakyat sulit hidup, langit
marah, orang kesal, yang sial adalah rakyat. Pelajar bersusah payah belajar supaya bisa berhasil, setelah berhasil maka dia akan
mendapat kedudukan jadi pejabat, raja tidak perduli dari mana
asalnya" Asal lulus bisa jadi pejabat. Bagaimana pun menjadi pejabat lebih baik dari pada jadi rakyat miskin, karena menjadi pejabat
adalah satusatunya jalan untuk keluar dari kemiskinan.
Dari sembilan penumpang, kecuali dua orang wanita, yang
lainnya terdiri dari petani, karyawan, usahawan semua ada, dan Fu
Ke-wei mungkin adalah satu-satunya orang Jiang-hu yang
berkelana. Larinya kereta keledai sangat mantap, kecepatannya stabil,
orang tidak tahan. "Saudara!" Usahawan setengah baya yang duduk diseberang
berkata pada Fu Ke-wei yang sedang menutup mata istirahat,
"kita semua kepanasan, sampai baju basah oleh keringat, kau
sepertinya sedikit pun tidak merasa kepanasan, kau bisa
menutup mata beristirahat dengan santai, kau tidak takut
panas?" "Takut satu hal, bisa atau tidak bisa menahan adalah satu
keahlian besar." Dia membuka sepasang matanya tertawa, "takut juga tidak ada gunanya, kita harus berusaha bisa menahannya."
"Ooo! Bagaimana cara menahannya?"
"Hati tenang tentu akan dingin, seluruh tubuh dilemaskan, tidak gelisah, pikirkan hal yang gembira, lakukan nafas yang panjang dan dalam. Cobalah! Dijamin kau tidak akan demam." Dia tenang berkata, "air jangan terlalu banyak minum, sedikit bicara."
Selesai berkata, dia kembali menutup sepasang matanya.
"Debu yang menyebalkan!" kata orang yang memakai baju petani mengerut alis, "sampai di tempat istirahat di depan, sungguh aku akan meloncat kedalam kali berendam sepuasnya!"
"Jalan ini aku pernah beberapa kali lewat, di depan sepertinya ada sebuah kali, semua orang menyebutnya kali Putih, tapi mungkin kusir tidak akan menghentikan keretanya, harus sampai dulu di kabupaten
Ye baru dapat beristirahat, di sana kau baru dapat berendam air."
"Orang setempat memang menyebutnya Kali Putih." Kata pelajar itu menyela, "tidak lama lagi kalian sudah bisa melihatnya, kedua pantai jauhnya beberapa li, semua pasir putih ini dibawa oleh aliran sungai. Begitu air sungai meluap, air sungai itu warnanya menjadi
__ADS_1
putih susu, makanya disebut kali putih."
Bagaimana pun seorang pelajar, banyak pengetahuannya.
Benar saja kata-katanya tidak salah, tidak lama, di depan
tampak sebaris-sebaris pasir putih, ada beberapa sudah menutupi
sawah, tidak ada rumput yang tumbuh, putihnya menyilaukan
mata, juga tampak liar. Suara roda kereta mengeluarkan bunyi keras, ketika melewati
jembatan Ru-wen, pemandangannya pun berubah.
Di depan debu membumbung tinggi keatas, satu kereta dengan jelas. Ini adalah kereta tali panjang, empat ekor kuda semuanya kuda
pilihan. Dengan as lebar, roda besar, badan kereta kecil, box kereta mewah dengan gambar burung merak biru. Kusirnya memakai baju
putih bulan, pakai topi matahari, berdiri diatas tempat kusir
mengayunkan pecut, panjangnya pecut satu zhang delapan chi,
pecut itu diayunkan tidak berhenti membentuk kembang pecut.
Di belakang kereta, empat penunggang kuda memakai baju warna
biru langit, membawa golok atau pedang, mengawal kereta kuda
kadang melihat kebelakang, kudanya juga kuda pilihan.
Di belakangnya lagi, debu bergulung-gulung, terdengar suara
derap banyak kuda, paling sedikit ada empat belas ekor kuda,
mengikuti dari jarak seratus langkah di belakang.
Kusir utamanya adalah seorang pria kasar, dia terkejut, mungkin dia telah banyak pengalaman, telah melihat ada yang tidak beres, dua kali teriakan terdengar, satu suara pak pak dan satu lagi suara pecut, kereta pelan-pelan menepi kepinggir kiri.
Jalan raya dapat dilewati tiga atau empat kereta secara
bersilangan, logikanya kalau menghindar menepi kekiri sisi jalan,
kereta tidak akan sampai tabrakan, kereta empat kuda tali pendek,
juga dapat lewat bersilangan.
Penumpang didalam kereta, tidak dapat melihat keadaan di depan,
hanya mendengar suara kereta dan derap kuda yang cepat sekali,
mereka juga malas mengeluarkan kepala melihat keadaan di luar
kereta. Kedua buah kereta itu semakin dekat, kereta kuda yang
didepan seperti gila menerjang datang.
"Perlahan sedikit, apa mau mati"'' kusir utama berteriak.
Orang yang didalam kereta terkejut bangkit berdiri.
__ADS_1