Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 34


__ADS_3

Pengantar surat menepuk dadanya,


"aku Pit Seribu Bayangan dalam meniru tulisan dan prosedur surat resmi dan aturannya aku sangat hapal, pasti tidak akan ada


kesalahan, tenang saja!"


"Bagus kalau begitu. Kalian berdua paling baik segera tinggalkan tempat ini, supaya jangan terjadi 'malam panjang banyak mimpinya', aku pergi dulu." Orang setengah baya selesai bicara, mundur ke ruang dalam, dari jendela belakang pergi meninggalkan rumah penginapan.


Dua orang pengantar surat segera beres-beres, bersiap pergi,


ketika sedang membereskan bungkusan, seorang pengantar surat


mengulur tangan mengambil kantong surat dinas yang di taruh


diatas meja. "Kantong itu tinggalkan saja, boleh tidak?" Di dalam gorden jendela ada orang yang bicara, "aku ingin melihat tanda tangan


penerima-nya." Dua orang pengantar surat itu terkejut, mereka jadi


terbengong. Fu Ke-wei melangkah maju ke sisi meja, wajahnya tenang.


"Pembicaraan kalian, aku telah mendengar semua." Dia


menunjuk keruang dalam, "saudara yang telah pergi itu, apakah orangnya Nan-yang-ba-jie?"


"Kau......" Yang menyebut dirinya sendiri Pit Seribu Bayangan


pengantar surat palsu maju ke depan mendesak.


"Jangan risau." Fu Ke-wei menggoyangkan tangan menghadangnya,


"aku tidak menanyakan urusan kalian, kalian memberitahukan jejaknya saksi pada Jin-ba-dou, supaya semua orang-orangnya mencari saksi ini.


Aku tanya, kalian tahu seberapa banyak terhadap saksi itu?"


"Jujur saja padamu, terbatas sekali." Kata Pit Seribu Bayangan, "orang itu tidak mau memberitahu namanya, kami hanya dapat katakan pada


laporan di kampung Ru-wen, kirakira tahu bentuk tubuh dan wajahnya saja, kalau mau jelas harus menyelidik ke Xu-zhou, di perusahaan


angkutan Zhongzhou di Xu-zhou dia telah meninggalkan nama dan


usianya." "Bukankah kalian berniat mencelakai dia" Jika dia jatuh ke tangan orang-orangnya tuan besar Li, tinggal tunggu mati saja."


"Tidak mungkin." Kata Pit Seribu Bayangan dengan pasti, "dia itu tidak mau menuntut, pasti ingin cepat-cepat pergi menghindarkan


kerepotan, malah mungkin sudah meninggalkan Xiang-yang, lagi pula, di laporan dinas hanya ditulis nama palsu dia......"


"Nama palsu dia adalah......"


"Nama palsu dia adalah Wu-ming, ciri tubuhnya di kirakira."


"semua pelancong yang bermarga Wu yang lewat di Xiangyang,


akan terkena imbasnya karena ulah kalian. Tapi itu bukan urusanku, pamit." Habis bicara dia tertawa tawar, lalu mundur ke ruang


belakang. Pit Seribu Bayangan berdua mencoba mengikutinya, tapi sudah


kehilangan jejak dia. Hati dua orang seperti ada setan, buru-buru mengambil

__ADS_1


bungkusannya, keluar kamar dan pergi.


Jin-ba-dou sudah melupakan masalah Fu Ke-wei, juga tidak


mengutus orang mengawasinya. Masalahnya terlalu sibuk, sibuk


mengejar pelancong yang bermarga Wu namanya Ming, sibuk


mengutus orang pergi ke kabupaten Ye mencari kabar.


Hampir tengah malam, perumahan Han-bei masih sibuk.


Jin-ba-dou di ruangan mewah yang luas, mengumpulkan


sepuluh pembantu yang di percaya, sedang merundingkan kemana


pergi nya saksi Wu-ming. Kota Xiang-yang sebesar itu, ingin cari seorang yang bermarga Wu


dan namanya Ming. Sungguh tidak tahu harus bagaimana, marga dan


nama ini sangat umum sekali, Wuming di kota ini yang sudah di data ada sebanyak sepuluh sampai dua puluhan.


Jika bisa mendapatkan saksi ini, masih ada harapan merubah


keadaan, makanya Tuan besar Li sangat mementingkan hal ini, Jin-ba-dou terpaksa bekerja sekuat tenaga.


Dua bayangan hitam mendekat dari arah utara, dengan mudah


menyusup masuk dua lingkaran penjagaan luar.


Jin-ba-dou pada sepuluh lebih anak buahnya, "dia bersikeras tidak tahu apa yang terjadi, setelah lepas dari kejaran orang-orangnya


Nan-yang-ba-jie, langsung menuju Xu-zhou, menjemput nona Bai,


melalui Xi-ping kembali ke selatan, seharusnya setelah dia sampai di kota Xiang-yang, diam-diam mengutus orang kembali mengawasi ada


gerakan apa dari Nan-yang-ba-jie, hingga akan tahu apa sebenarnya


yang terjadi......Iii!"


Satu bayangan orang melayang masuk dari luar pintu ruangan


yang terbuka, dibawah sinar lampu tidak bisa melihat dengan jelas.


Seorang laki-laki besar tertegun, dengan reflek yang cepat sekali


bangkit berdiri mengulur tombak menghadang.


"Berhenti! Kau......" teriak laki-laki besar dengan suara dalam, sambil memukul dengan sebelah telapaknya.


"Buung!" terdengar suara getaran besar! Orang yang terbang masuk itu bertabrakan dengan dua laki-laki besar, dua orang itu jatuh ke bawah bergulung.


"Ha ha ha ha......" Suara tertawa keras terdengar, "disini Huo-bao-ing, Bu-fei-khe, orang yang menuntut keadilan sudah


datang." Satu hitam satu putih, dua bayangan orang, dengan suara keras,


cepat masuk kedalam, mulutnya mengatakan keadilan, tapi

__ADS_1


gerakannya sebaliknya, sebilah pedang sebuah tongkat kepala naga


seperti angin ribut hujan deras, dengan dahsyat melabrak.


Untungnya semua orang disana membawa senjata, tapi sudah


tidak ada kesempatan membicarakan keadilan, di dalam teriakan


marah, golok dan pedang keluar dari sarungnya melakukan serangan


geledek. Senjata bersentuhan membuat orang ketakutan, kelebatan


bayangan orang seperti kilat.


Diikuti teriakan terkejut, bayangan orang mendadak


berpisah, tenaga angin berpencar ke segala arah.


Semuanya ada empat orang yang jatuh ke tanah, di tanah


meronta, merintih. Di tengah ruangan berdiri dua orang, berwajah merah dengan


janggut putih, Huo-bao-ing Du Zhang-he, dengan pedang


bersinar di tangan, ujungnya ada bekas darah.


Bu-fei-khe Hong-wu yang memakai mantel putih berwajah pucat,


beralis panjang dengan mata kecil, tongkat kepala naga di tangannya tampak panjang dan berat, bersinar ungu menyilaukan mata.


Karena Jin-ba-dou duduk di sebelah atas, tidak keburu


bentrok dengan tamu tidak diundang, pedangnya sudah


digenggam, saat ini tepat berhadapan dengan dua orang hebat


dari punia persilatan. "Aku bicara aturan dengan kalian." Huo-bao-ing dengan nada dalam berkata, "tiga hari kemudian tepat tengah hari, di Guan-qiu sebelah utara jembatan Bao-tai, suruh Tuan besar Li membawa


anaknya kesana dan menyelesaikan masalah, jika dia melakukan


siasat busuk, akibatnya dia yang bertanggung jawab."


"Du Zhang-he, apa dengan cara ini kau menyampaikan pesan?" kata Jin-ba-dou dengan marah sekali, dia mengangkat pedangnya maju ke


depan, "kau terlalu menghina orang, perumahan Han-bei tidak bisa mengizinkan kau melakukan kejahatan disini, aku ingin mencoba ilmu pedangmu."


"Kau punya ilmu silat tinggi, aku tidak menganggap rendah dirimu, seharusnya aku menemanimu bermain-main sebentar." Huo-bao-ing Du Zhang-he memberi aba-aba tangan pada Bu-fei-khe, "pesan sudah di sampaikan, tidak ada waktu berlama-lama, pamit!"


"Berkata datang langsung datang, berkata pergi langsung pergi, kau terlalu menghinaku, aku akan menahanmu."


Habis berkata begitu Jin-ba-dou menyerang, pedang dan


orangnya tiba bersamaan, terlihat sinar dingin sekelebat, cepat


laksana kilat, pedang-nya mendadak berbunyi seperti siulan naga,


hawa pedang seperti gelombang menerjang.

__ADS_1


__ADS_2