Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 32


__ADS_3

Bandit Tai membuka sepasang tangannya, menepukan tangan,


menyatakan tangannya tidak menyembunyikan senjata gelap apa pun,


sepasang matanya yang besar menyorot sinar dingin, hawa


membunuh seperti gelombang ganas, semangatnya menekan orang.


Sastrawan itu membuat kuda-kuda, sepasang telapak di angkat


menunggu serangan. Seluruh tubuh dia tampak kendur, setiap ototnya lemas,


sepasang telapak yang diangkat satu diatas satu dibawah, jarak


depan belakang hanya kurang lebih setengah chi, telapaknya juga


terlihat tidak bertenaga, dengan tampang Bandit Tai yang kejam


seperti ingin makan orang sama sekali berbeda.


Bandit Tai mulai bergerak merubah posisi, tidak berani


menyerang dari depan. Sastrawan itu berputar di tempatnya, seluruh tubuhnya tampak


lemas, kuda-kudanya pun tidak mantap, hanya sepasang matanya


bersorot sinar aneh, menghisap dengan kuat sorot mata


lawannya. "Kau telah berlatih mencapai tingkat dari fokus kembali ke


hampa," Bandit Tai tiba-tiba mengendurkan tenaganya, "aku bukan lawanmu, aku menyanggupi permintaanmu, aku pasti akan


menyampaikan pesanmu."


Bandit Tai pandai melihat keadaan, memukul genderang


mundur bukan tidak ada alasannya.


Seorang ahli sekali mengulurkan tangan, sudah tahu lawan ada


tidak isinya. Kepandaian sastrawan yang tenaga dalamnya terpusat di dalam,


telah mencapai tingkat tertinggi dalam bertarung, sudah


melampaui kemampuan seorang manusia, mencapai tingkat tiada


orang tiada aku. Saat tidak menyerang, penampilan luarnya lemas, sedikit pun


tidak ada gejala yang membahayakan, sekali tenaga dalamnya


keluar, pasti akan seperti geledek mendadak muncul, seperti


gunung meletus bumi pecah, sangat mengerikan.


Bandit Tai adalah seorang ahli tenaga dalam, dia terpaksa


mengakui dirinya tidak setinggi kepandaian lawannya.


Setelah berjalan sejauh seratus langkah lebih, Bandit Tai


baru"merasakan otot di tubuhnya mengendur, sepasang telapak


tangan sudah tidak berkeringat lagi, dia membalikan kepala melihat kebelakang, ternyata lawan sudah menghilang.


"Orang ini sangat menakutkan." Dia berkata sendiri, "ilmu silat dan pengalaman bertarungnya, paling sedikit telah mengalami ujian keras selama lima puluh tahun. Kenapa sejak dulu tidak pernah mendengar


ada orang yang ilmu silatnya setinggi ini, apa lagi usianya begitu muda, sungguh hal yang tidak masuk akal."


Di kebun Li telah terjadi keributan yang tidak kecil, pengantar surat dengan kecepatan penuh menuju perumahan Han-bei di kota Fan,


tikus, ular diseluruh kota semua dikerahkan.


Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing tidak pergi ke kabupaten Ye, di

__ADS_1


kebun Li, mereka menunggu anak kedua tuan besar Li pulang dan


menceritakan kejadiannya. Menunggu anak-anak keluarga Li,


menyelesaikan perselisihan lamanya dengan Nan-yang-ba-jie yang


namanya di dunia persilatan tidak begitu bagus, masalah di kabupaten Ye apa yang masih perlu di selidiki" Masalah ini tidak perlu ditangani oleh pemerintah, kecuali mayatnya korban ada di tangan polisi.


Alasan lain yang menurut tuan besar Li benar, adalah Nanyang-ba-jie dalam keadaan marah, telah menutup jalan raya yang menuju ke utara, orang-orang tuan besar Li jika berani melampaui perbatasan, akan


mendapat pembalasan yang sangat kejam.


Dua keluarga hartawan besar yang bertetangga ini telah


bermusuhan selama beberapa tahun, akhirnya masing-masing


mencari bantuan pada teman-temannya, permusuhan menjadi


terbuka, masing-masing tidak mau mengalah, menimbulkan gejolak di


dunia persilatan. Api telah dinyalakan, tinggal menunggu kesempatan


membara. Setelah tiga hari, di jembatan Bao-tai sebelah utara kota Fan


kira-kira lima-enam li, lima orang penanggung yang datang dari


Nan-yang, dengan beberapa tukang pukulnya Tanah Delapan Arah


Jin-ba-dou telah melakukan pertarungan yang seimbang, kedua


belah pihak masing-masing ada yang terluka dan mati. Akhirnya


orangnya Jin-ba-dou yang lebih banyak bisa memenangkan


pertarungan kecil yang pertama kali ini.


Situasi kota Fan menjadi tegang, mereka bersiap-siap


menghadapi keributan yang segera akan datang.


berusia sekitar empat puluhan, tepat menginap di sebalah kanan


kamar Fu Ke-wei. Karena sama-sama tamu, kedua belah pihak tidak terhindar


bertemu dan menganggukan kepala saling menyapa,


berbincang-bincang untuk menghilangkan kesepian di perjalanan.


Dimalam hari, kereta tuan muda kedua Li, memutar Zaoyang


kembali ke Xiang-yang, pulang dari kota Fan kereta empat kuda


melewati jalan raya, dengan cepat masuk ke perumahan Han-bei.


Tuan muda kedua Li Hoa-rong membawa seorang gadis cantik,


lalu menunggang kuda sampai di sisi sungai, dengan perahu cepat


yang di peruntukan keluarga Li diantar kepelabuhan kota, dengan


gembira dia pulang ke kebun Li.


Dia berjalan melalui jalan raya barat kota, tidak melalui kota,


karena gerbang kota telah di tutup.


Fu Ke-wei berdiri di depan penginapan, melihat kereta empat


kuda lewat. Dia mengenal kereta empat kuda yang mewah ini, tapi, dia melihat


empat penunggang kuda yang mengawal orangnya telah diganti,


bukan empat orang yang semula.

__ADS_1


Biksunya bisa lari, kuilnya tidak akan lari, asalkan dia tahu siapa pemilik kereta empat kuda, dia tidak akan takut tidak bisa


menemukan pelaku kejahatannya.


Tengah hari di hari kedua, situasi penginapan Fu Tai tibatibajadi


tegang. Sepuluh lebih pria besar mengawal Jin-ba-dou yang memakai


mantel panjang, berdandan hartawan, dengan angkuh masuk


keruangan, mereka mendapat sambutan dari pemilik dan pelayan


penginapan. Jin-ba-dou, julukannya adalah Ba-fang-du-ti (Tanah delapan


arah), orangnya gampang bergaul, di Jiang-hu dia cukup punya


nama. Dia sudah berusia setengah abad, bahunya lebar berpinggang


besar, beralis pedang, mata macan, tidak saja belum tampak tua,


juga masih bersemangat sekali, gerakannya lincah, sorot mata


sedikit berhawa pembunuhan, keberaniannya menonjol keluar.


Di bawah tuntunan pemilik penginapan, Jin-ba-dou dengan enam


orang tukang pukulnya sampai di luar pintu kamar dua orang tamu.


Di depan dua mulut jalan pekarangan, sudah ada dua orang


laki-laki besar berjaga. Fu Ke-wei kebetulan mau keluar dan membuka pintu kamar,


hingga mereka bertemu berhadapan.


Jin-ba-dou baru saja lewat dari pinggir sampai di depan pintu


sebelah, ketika Fu Ke-wei membuka pintu melangkah keluar kamar,


seorang tukang pukul yang berada dibelakang Jin-ba-dou, dengan


tanpa sungkan mengulurkan tangan menghadang dia, tangannya


menekan di dadanya. "Masuk, disini tidak ada urusanmu."


Tukang pukulnya berkata pada dia, lagaknya memaksa,


sepasang mata yang aneh melotot, sikapnya seperti ingin makan


orang saja. "Iii...! Kenapa kau ini?"


Sepasang kakinya tetap di tempat, dia melawan dorongan tangan


besar lawan, membantah dengan tidak senang.


Begitu ada penolakan, segera hal itu menarik perhatian semua


orang, sampai Jin-badou yang di depan juga membalikan kepala,


melihatnya. Para penjahat setempat ini sudah terbiasa memaksa orang, mana


bisa menerima orang yang melawan"


Tukang pukul yang pertama tertegun, lalu timbul


amarahnya. "Apa kau ingin mati" Jika tidak, pasti punya tulang hina, ingin dipukul." Kata tukang pukul dengan keras, matanya melotot,


"cepat kau berguling kesana, supaya tidak kupecahkan tulang


hinamu." Fu Ke-wei melirik sekali pada Jin-ba-dou, yang juga menatap dia,


sedikit pun tidak ada niat menghentikan tindakan tukang pukulnya,


dan di wajahnya tampak ada rasa tidak senang dan tidak sabar atas

__ADS_1


penolakan dia yang berani ini.


__ADS_2