Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 133


__ADS_3

"Petugas Shu Bai-yun melaporkan, rumah besar dan kecil keluarga Guan di seluruh kota, tidak pernah ditemukan ada orang yang


mencurigakan keluar masuk, si anjing tua Guan menyamar jadi


seorang kaya sangat berhasil, sedikit pun tidak menarik perhatian


orang, harap tuan menambah kewaspadaan mencegah hal yang tidak


diinginkan." Nie-sha-yin-hoa memang pembantu yang cekatan, "tamu di kamar sebelah kiri mau pun kanan sangat mencurigakan, mungkin


mata-mata keluarga Guan."


"Bukan, mereka adalah mata-matanya keluarga Du." Kata Fu Ke-wei yakin, "putri tuan besar Du Jin-yuan berteman denganku, dia merasa tidak tenang jadi mengutus orang mengawasi. Tenang saja,


mereka tidak membahayakan aku."


"Aku akan perhatikan mereka, orang-orangnya keluarga Du juga


bukan orang sembarangan."


"Saat aku tidak ada, kau harus sangat hati-hati." Dia dengan serius berpesan, "sekali ada gejala yang tidak menguntungkan, kau harus segera pergi ketempat jauh, jangan takut menggagalkan


usahaku, aku bisa melakukannya dengan cara lain, mengerti tidak?"


"Tuan, aku akan sangat waspada."


Nie-sha-yin-hoa lupa dirinya menyamar jadi laki-laki, tanpa sadar


tersenyum manis, penuh dengan rasa kewanitaan.


"Aku khawatir kau terlalu percaya diri, Xiao Ling, paling baik selain waspada kau harus sedikit rendah hati, telapak kaki banyak diolesi minyak. Jika terjadi sesuatu pada dirimu, seumur hidup aku tidak akan bisa tenang!" tiba-tiba tanpa sadar Fu Ke-wei menarik memeluk Nie-sha-yin-hoa.


"Walau begitu, aku juga rela sepenuhnya." Nie-sha-yin-hoa menurut saja dipeluknya.


"Tidak, ini adalah masalah antara aku dengan Xi Zhangfeng,


jangan melibatkanmu, itu sudah tidak seharusnya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku......" dia melepaskan tangan pelan mendorong tubuh dari pelukannya.


"Apakah tuan lupa hutang nyawanya Xi Zhang-feng padaku juga


belum dibayar" tentu saja aku juga berhak terlibat dalam masalah ini."


Nie-sha-yin-hoa malah sebaliknya menempelkan tubuhnya dengan


erat, "malah Xie-shen dan adik Ji, semua juga ada hak melibatkan diri, tapi kau malah sengaja meninggalkan mereka, melakukan tindakan


seperti ini apakah adil" saat mereka tidak mendapatkan jejakmu di


tempat yang telah dijanjikan, apakah kau tahu perasaan di dalam hati mereka?"


"Hal ini tidak bisa berbuat apa apa." Fu Ke-wei mengeluh, "aku mengejar ketua benteng Xi dan anaknya, selain membalaskan


dendam nyawa teman, tujuan utamanya adalah menyelidiki di mana


Pedang Naga Langit Lu-zhao, masalah ini tidak ada sangkut pautnya


dengan orang lain, apa lagi......"

__ADS_1


"Apa lagi apa?"


"Apa lagi jika di sisiku banyak orang, tidak terhindar akan kurang perlindungannya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, bukankah


akan membuat aku menyesal seumur hidup?"


"Tuan terlalu banyak khawatir! Kami semua terlahir sebagai orang yang bermain nyawa, tidak memandang penting hidup atau mati,


semua akibat akan ditanggung sendiri, yang kau katakan itu bukan


alasan." Nie-sha-yin-hoa dengan banyak pertanyaan di dalam hati memandang dia, "apakah kau merasa sebutan kami tidak bagus,


hingga bisa merusak nama baik?"


"Nama baik" Memangnya aku punya nama baik! Kau kira aku ini


orang suci?" kata Fu Ke-wei tertawa, "kau tahu di dunia persilatan ada berapa banyak orang ingin sekali makan dagingku, tidur di atas kulitku?"


"Betulkah?" Nie-sha-yin-hoa tertawa, "aku malah mengira penilaian Tian-ya-koay terhadap mu sangat tepat."


"Ooo..! Bagaimana dia mengatakannya?"


"Ingat saat berpisah di Shan-xi, dia kata kau bertingkah aliran hitam, berhati pendekar." Kata Nie-sha-yin-hoa tertawa, "setelah tinggal bersamamu beberapa waktu, apa yang kau lakukan, apa yang kau


perbuat, membuat aku merasakan kau adalah seorang yang bisa


diandalkan, aku kira penilaiannya si pengemis tua itu tepat sekali.


Xie-shen dan mereka juga pasti ada perasaan yang sama, jika tidak mana mau dengan suka rela melayani kau?"


"Itu karena mata kalian keluar dari kelopaknya." Kata Fu Ke-wei tertawa, "di kemudian hari kalian bisa menyadari, aku ini tidak seperti yang kalian bayangkan."


"Sudahlah, tidurlah dengan tenang!" dia tiba-tiba mempertinggi suaranya, diam-diam memberi isyarat, ada orang sedang


mengawasi, "besok aku masih harus bertemu dengan nona kedua


Guan!" "Ya, tuan." Nie-sha-yin-hoa juga memperkeras suaranya, membereskan alat


minum keluar kekamar depan tempat tidurnya, dengan teratur


membereskan ranjang tidur, membetulkan bantal dengan tenang


tidak tergesa-gesa, semua tindakannya menunjukan dia adalah


pelayan yang teliti dan rajin.


Kamarnya ada beberapa jendela terang, diatas jendela terang yang


ada disisi, ada satu bayangan menggunakan ilmu meringankan tubuh


yang tinggi, Gordin Mutiara Menggantung Terbalik, bayangan itu


menggantung dibawah atap, kertas minyak jendela telah dilubangi satu lubang kecil, dari lubang kecil mengintip kedalam.


Guan Mei-yun sudah tertarik pada Fu Ke-wei, dia memang juga


wanita nakal yang tidak taat aturan, putra para orang yang punya

__ADS_1


kedudukan di kota ini, melihat dia seperti melihat wabah"


Dan para putra orang kaya yang pikirannya hanya wanita dan


mengaku dirinya romantis, malah menjadikan dia sebagai sasaran,


dengan giatnya mengikuti kemana dia pergi.


Kali ini, akhirnya dia menemukan pria idaman yang membuat hatinya


tergerak, mendapat kesempatan berkenalan, membuka jaring cinta


dengan terencana, menangkap pria tampan yang segalanya membuat dia tergilagila.


Dia tahu, kakaknya tidak bisa tenang terhadap orang asing yang


datang dari ibu kota, dia sedang merencanakan sebuah siasat


menghadapi pria idaman hatinya, kakak perempuan dia sepertinya


juga ada maksud terhadapnya, di dalam hati tentu saja dia tidak rela.


Tadinya dia ada niat membawa ke Taman Anggrek kakaknya, tapi


dibatalkan. Pagi-pagi keesokan harinya, dia mengutus pelayan mengundang


Fu Ke-wei ke Taman Qing fengnya Du Lan-yin.


Taman Qing-feng adalah harta tidak bergeraknya tuan besar Du


Jin-yuan, biasanya hanya digunakan oleh keluarga wanita, diurus oleh putri tunggal kesayangannya Du Lan-yin, di dalam taman ada paviliun dan kebun bunga, adalah tempat yang bagus untuk bermain.


Dia tidak menginginkan kakak laki-lakinya membawa Fu Kewei jadi


berandalan. Para lelaki berkumpul, selain mengejar arak dan wanita, yaitu


memainkan tongkat atau tombak, berebut kekuasaan dengan


berandalan jalanan, tidak bisa melakukan hal yang baik.


Dia juga menjaga kakak perempuannya mengincar Fu Kewei,


menjaga supaya kakak wanitanya tidak merebut pria idamannya.


Dia dan Du Lan-yin di ruang kecil, menemani Fu Ke-wei


sarapan pagi. Makanannya enak enak, ada pelayan wanita melayani.


Fu Ke-wei sedikit pun tidak kaku, dengan lancar berkatakata,


tingkahnya selain hangat dan sopan juga tampak tingkah sombong


yang tidak kelewat batas para putra orang kaya yang romantis,


mengatakan kata-kata yang terselubung yang tidak merusak situasi,


membuat dua wanita cantik tingkahnya jadi genit, mendekatkan jarak hubungan antar lawan jenis.

__ADS_1


Du Lan-yin adalah tuan rumah, dia menemani mereka berdua


melihat-lihat ke sekeliling taman.


__ADS_2