Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 35


__ADS_3

Menghadapi dua orang aneh dan hebat yang ternama di dunia


persilatan, Jin-ba-dou malah berani terang-terangan menyerang,


bisa diketahui Jin-ba-dou penguasa setempat ini, memang


mempunyai ilmu yang hebat.


"Traang..traang!"


Huo-bao-ing berturut-turut menangkis dua kali, lalu mundur dua


langkah. Jin-ba-dou juga tidak bisa mengambil kesempatan baik dari


serangan berturut-turutnya, posisinya berubah ke sisi pedang yang


ditangkis keluar. Dua serangan percobaan ini, mungkin kedua belah pihak


menyimpan dua atau tiga puluh persen tenaganya, masingmasing


ada rasa khawatir, menyerang dan menangkis dengan mantap.


"Kau sudah dapat mengeluarkan hawa pedang untuk melukai


orang." Kata Huo-bao-ing dingin, "tidak aneh tuan besar Li bisa tenang-tenang hidup banyak tahun dalam kedamaian. Baik, kau


juga terima dua jurus pedangku."


Pelangi pedang meluncur, dahsyat laksana mendorong


gunung menumpahkan laut. "Traang!" Dua Pedang bentrok, angin kuat menyebar.


Bayangan orang mendadak berpisah, hawa pedang


mendadak hilang. Huo-bao-ing mengeluarkan teriakan tertahan yang terkejut, dia


mundur ke belakang satu zhang lebih, wajah yang merah api tiba-tiba kehilangan warna darah, tangan kanan yang memegang pedang


tampak gemetar. Jin-ba-dou hanya mundur dua langkah, tubuhnya tidak


mantap, dia memaksakan berdiri dengan kuda-kuda, dia


kehilangan tenaga untuk membalas serangan.


Bu-fei-khe tertegun, tongkat kepala naga di ulurkan, mundur


dengan waspada, mengawal Huo-bao-ing mundur ke pintu ruangan.


"Orang ini telah berhasil melatih hawa pedang." Huo-baoing sambil mundur sambil perlahan berkata, "cepat mundur!"


Terdengar siulan marah, pedang Jin-ba-dou dan tubuhnya


menjadi satu terbang kembali maju menyerang.


Jika Bu-fei-khe sebelumnya tidak mendapat peringatan dari


Huo-bao-ing, pasti menggunakan tongkat kepala naga menangkisnya,


dan sangat mungkin tongkatnya akan hancur oleh hawa pedang,


malah mungkin juga terluka.


Dua orang ini tidak melayani serangannya, seperti angin ribut mereka keluar dari ruangan, menghilang dalam kegelapan malam. Di kebun


sebelah kiri ruangan, di tanam tidak sedikit bunga dan pohon. Fu Ke-wei yang bersembunyi di satu pohon besar, dapat melihat dengan jelas


gerak-gerik yang terjadi di dalam ruangan melalui jendela yang terbuka lebar.


Dia sudah lama datangnya, lebih pagi satu jam dari pada


Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe.


Dia tidak sembunyi diatas cabang pohon, tapi dengan jurus aneh

__ADS_1


menempel di batang pohon, seperti seekor cecak. Orang di bawah


pohon jika ingin mencari orang diatas cabang, pasti tidak akan


berhasil. Setelah dua orang tua hebat itu pergi, diam-diam dia juga


meninggalkan perumahan Han-bei.


Di sebelah selatan rumah sembahyang Fan Hou bagian timur


kota, ada satu warung yang menjual makanan kecil, arak yang di


jualnya mendapat pujian dari para peminum, warung itu


dinamakan Xu Lao-ren. Masakan teman minum arak yang dijual di warung Xu Laoren,


tidak ada yang memakai daging, semuanya dari buah kering dan


kacang-kacangan. Ruangan warung tidak besar, tidak ada pelayan, hanya pemilik


warung Xu Lao-ren (orang tua Xu) yang melayani, tamunya hampir


semuanya adalah langganan disekitar, tidak menjadi perhatian


orang. Sore hari, Fu Ke-wei tampil diwarungXu Lao-ren.


Ruang warung yang kecil, hanya ada enam meja makan.


Cuacanya panas, didalam ruangan warung sangat panas dan


gerah. Dia duduk disatu meja, satu teko arak, empat piring bermacam


kacang-kacangan untuk teman minum arak, dia minum dengan


santai, menikmati makanan.


Di meja sebelah kanan, ada dua orang tua setengah baya, dua


Begitu orang jadi tua, segala penyakit bermunculan!


Sungguh hal yang menyedihkan, makanya kedua orang itu sepertinya


seluruh tubuhnya berpenyakit, minum seteguk arak pun harus batuk dua kali, tidak hentinya menepuk pinggang dan punggung, supaya


membuyarkan sakit pada punggung dan pinggang.


Laki-laki besar pertama muncul diluar pintu warung, lalu kedua,


ketiga. Dua orang tua buruk rupa tidak ada reaksi, sambil minum arah


sambil meneruskan perbincangan, suaranya pelan, ada hawa tidak


ada tenaga. Paling akhir, Jin-ba-dou muncul dengan tubuhnya yang tinggi


besar, di belakangnya diikuti oleh dua orang, dengan wajah yang


serius perlahan melangkah masuk kewarung.


Dua orang ini yang satu adalah Shuang-jie-shu-sheng Luo


Wen-jing yang tampan, yang satunya lagi adalah tuan muda kedua


dari keluarga Li, berwajah tampan dengan tampangnya yang


sombong, usianya baru dua puluh dua tahun, dijuluki Yumien-el-lang (Tuan Kedua berwajah kemala),Li Hoa-rong.


Dua orang tua buruk rupanya merasakan keadaan


berbahaya, mereka bersamaan menaruh gelas arak dan


sumpit. Tiga orang yang sampai di sisi meja, dingin menghentikan


langkah. Jin-ba-dou melirik sekali pada Fu Ke-wei, dia mengenal orang

__ADS_1


yang berada di penginapan Fu Tai, yang tidak tahu diri melawan


hingga mendapat hajaran. Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing walau telah melihat Fu


Ke-wei, tapi sesaat belum mengenalnya, sebagai sastrawan yang


hari itu bertemu di gunung Xian.


Karena saat ini dandanan Fu Ke-wei, walau tetap berbaju hijau,


tapi baju bawahnya ditarik keatas diselipkan dipinggang,


penampilannya persis seperti seorang persilatan, sedikit pun tidak ada bau pelajar.


Fu Ke-wei acuh saja, dia menundukkan kepala minum arak dan


makan kacang. "Kalian berdua, tidak perlu pura-pura lagi." Kata Jin-ba-dou dingin,


"sebenarnya, dua hari lalu aku sudah menyelidik kalian berdua bersembunyi di rumah sembahyang Fan Hou, siang hari tidur, setelah bergerak di malam hari lalu kembali lagi, tidur di tumpukan rumput di belakang rumah sembahyang. Dengan kedudukan kalian berdua yang


namanya menggemparkan dunia persilatan, dan terhormat, demi


membantu teman sehingga hidup jadi susah, memang perlu


dimaklumi, juga sangat menyedihkan."


Orang tua yang sepasang alisnya panjang, matanya kecil,


membalikan wajah menengadah, dari sepasang matanya yang


tampak lesu dan letih, dia tertawa tawar, pelan bangkit berdiri.


"Kalau tidak salah anda orang yang bergelar Ba-fang-du-ti (Tanah delapan arah)," kata orang tua berwajah buruk, "aku Bu-fei-khe dan Huo-bao-ing terlalu menganggap rendah dirimu, tidak aneh bisa


ditemukan jejaknya olehmu. Ooo...! Anda membawa orang tidak


sedikit." "Tidak sedikit." Kata Jin-ba-dou tertawa dingin, "tapi anda boleh tenang, aku tidak pernah mengandalkan orang banyak untuk


mencari kemenangan."


"Tentu, tentu, seorang pesilat tinggi di antara pesilat tinggi, pedangnya bisa mengeluarkan hawa pedang, mana mau


mengandalkan banyak orang untuk menang?"


"Ini adalah Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing saudara kecil Luo."


Jin-ba-dou memperkenalkan temannya, "salah satu dari Tiga


Sastrawan Dunia Persilatan masa kini, adalah orang hebat di dunia


persilatan, kalian berdua mungkin tidak merasa asing."


"Sudah lama kami mendengar ketenarannya!" kata Huobao-ing juga bangkit berdiri, "gelombang belakang Zhangjiang mendorong gelombang depannya, di dunia orang baru menggantikan orang lama, dunia


persilatan adalah miliknya anak muda, dari Tiga Sastrawan Dunia


Persilatan usianya paling banyak tidak melewati tiga puluh tahun,


sungguh dunia persilatan sudah ada penerusnya."


"Ini tuan muda kedua Li, Li Hoa-rong, putra kedua tuan besar Li."


Jin-ba-dou mengulur tangan memperkenalkan Li Hoa-rong, "tuan


muda kedua, apa ada yang mau dibicarakan pada mereka?"


"Tidak ada yang harus dibicarakan." Kata Li Hoa-rong dengan sombong, "kemarin malam mereka merasa sebagai orang tua


melakukan kejahatan mengirim pesan, melukai empat orang, kita


harus mengundang mereka keperumahan, supaya nanti kalau


Nan-yang-ba-jie pulang, menggunakan tandu melapor."

__ADS_1


__ADS_2