
Dia begitu tenang, dengan sabar dapat menahan sakit, ini adalah
modal dia berkelana di Jiang-hu selama lima tahun dan masih hidup
sampai sekarang. Diatas benteng, di satu tempat yang rusak, pelan-pelan nonggol
setengah kepala, dengan sangat perhatian menyapu kebawah.
Dia telah melihatnya, tapi tidak perdulikan.
Diatap genteng rumah paling luar, ada satu bayangan hitam
yang bergerak-gerak. Mungkin orang-orang itu sudah tidak sabar menunggu, bersiap
masuk kerumah mencari mayatnya, orang-orang ini semuanya
penakut. Langit terlalu hitam, nama Xie-jian-xiu-luo menggemparkan ke
seluruh penjuru persilatan, di dalam kegelapan malam kedahsyatan
pisau Xiu-luo bisa bertambah sepuluh kali lipat, siapa yang berani jadi pahlawan"
Dia pelan-pelan menggulung lengan baju kanannya, terima kasih
langit! Tidak, seharusnya terima kasih pada pelindung lengan kantong pisau dirinya sendiri, dua buah jarum Ekor Lebah miring menancap
kedalam kantong kulit tempat menyelipkan pisau, tertahan oleh
badan pisau terbang arahnya jadi membelok dan tenaganya
berkurang lebih dari setengahnya, maka jarum itu masih menancap di kantong kulit.
Melihat posisinya, dua buah jarum ini, satu menuju kearah
jantung, dan yang satunya lagi sedikit keatas mengarah kedada kiri, ketepatannya, sungguh membuat hati orang bergetar.
"Wanita hina ini sungguh keji!" di dalam hati dia memaki.
Di depan terdengar ada suara yang pelan sekali, rupanya ada
orang yang naik keatap genteng rumah mengintip.
"Malam ini orang yang datang membantu dari luar, paling sedikit
ada delapan orang." Di dalam hati dia menghitung, sambil
menenangkan diri mengawasi keadaan disekitarnya.
Dia tidak bisa keluar, otot dada yang dipotong masih terluka,
begitu bergerak akan mengalirkan banyak darah, bagaimana
bisa bertarung dengan pesilat tinggi"
Juga, tubuhnya tidak membawa senjata.
Tempat bersembunyiannya bagus sekali, dari belakang rumah
sampai ke kaki benteng jaraknya ada tiga puluh langkah lebih, penuh tumbuh rumput liar dan pohon berduri kecil, dia berjongkok tiarap di rerumputan, rumput liar menutupi dirinya, walau sinar lebih terang lagi, dari atas benteng melihat kebawah juga sulit menemukan bayangan
tubuhnya. Yang paling penting, pesilat yang ilmu meringankan tubuhnya
sudah sampai tingkat kesempurnaan pun tidak akan dapat dari jarak
lebih dari sepuluh langkah seperti kilat mendadak menyerang dirinya.
Jika orang yang datang ke rerumputan mencari jejak, dari jarak
dua zhang lebih sudah dapat dirobohkan dengan menggunakan
pisau Xiu-luo, keadaan dia sekarang, tenaga yang dapat di gunakan
untuk melempar pisau Xiu-luo, hanya dapat mencapai jarak kurang
__ADS_1
lebih dua zhang. Jika tidak mendesak sekali, dia tidak akan menggunakan pisau
Xiu-luo, untuk menghindarkan lukanya kembali pecah. Satu-satunya
hal yang bisa dia lakukan, adalah bersembunyi dengan baik, berdoa
pada langit supaya melindungi jangan sampai di temukan oleh
orang-orang ini. Asalkan hari sudah terang, orang-orang ini pasti akan
melarikan diri. Jika didalam rumah tidak ditemukan mayatnya, pasti akan timbul
kekacauan, mungkin pemimpinnya mengira dia sudah melarikan
diri, tidak buru-buru melarikan diri dari tempat kejadian itu, adalah hal yang aneh.
Akhirnya, dia mendengar ada suara di dalam rumah, malah dapat
melihat sinar lampu yang keluar dari celah dinding, orang-orang ini sudah berani dengan terang-terangan menyalakan lampu mencari
dia. Lalu, ada orang yang mencari di kaki benteng, ada orang yang
mencari di pinggir kali, di seberang jalan, ada orang dengan
terburu-buru dari sebelah kiri tempat bersembunyinya lari kearah kaki benteng, jaraknya tidak sampai satu zhang, mereka malah tidak
memperhatikan daerah rumput pendek tempat sembunyi dia, malah
mencari di tempat kaki benteng yang ditumbuhi rumput
setinggi manusia dan pohon-pohon.
Orang-orang ini semua memakai pakaian malam, semua memakai cadar hitam, bukan saja tidak bisa melihat wajahnya, juga tidak bisa melihat jelas bentuk tubuhnya, langit terlalu gelap, dan gerakan
orang-orang ini juga terlalu cepat.
Lama, dari arah kaki benteng ada orang mencari berbalik arah, mulai dari rumah sebagai pusat berkumpul. Dua bayangan hitam satu di kiri satu di kanan, dengan hati-hati selangkah-selangkah berjalan
memeriksa, tidak henti-hentinya menggunakan pedang membuka
Melihat arah dan garis jalannya, tempat sembunyinya tepat dari
arah orang sebelah kanan, tidak diragukan lagi dia pasti tidak akan lolos dari nasib jika di temukan.
Dia menggigit gigi, sepasang tangannya mencabut sebilah pisau
Xiu-luo. Bayangan hitam semakin mendekat, babak hidup atau mati segera
akan ditentukan. Dia merasa jatungnya berdebar bertambah cepat, telapak
tangannya mulai berkeringat.
Dua zhang, satu setengah zhang..sepasang tangan dia tidak
berkeringat lagi, kembali seperti dulu tenang dan mantap, tenaga
dalamnya diam-diam dipusatkan, akan melakukan satu serangan
dahsyat menentukan hidup atau mati.
Ini adalah keistimewaan dia di Dunia persilatan yang berbeda dari
orang-orang lain, ketika dia memutuskan akan bertarung, malah dia
akan lebih tenang dibandingkan di saat kapan pun, tenangnya sampai dia sendiri juga heran, sebab kalau sudah begitu dia merasa meski
langit runtuh pun tidak akan mempengaruhi dirinya, dengan berani
dia menghadapi kematian, dibandingkan orang yang mengaku tidak
takut mati jangan dikata.
Hampir mendekati jarak satu zhang, sorot mata bayangan hitam
__ADS_1
itu sedang menyapu dari arah kanan ketempatnya.
Pisau Xiu-luo dia, tenaganya sudah terpusat di ujung pisau.
Mendadak, diatap genteng muncul satu bayangan hitam, sambil
mengeluarkan satu siulan tajam yang pendek, lalu sekelebat
menghilang. Bayangan hitam yang akan melangkah mendekat, membalikan kepala
pada temannya yang di kiri, lalu bersiul mengangkat tangan mengayun ke belakang, dua orang itu membalikan tubuh lari ke arah kaki benteng, dengan gerakan Bangau Menerjang Langit, orang itu meloncat keatas
benteng setinggi dua zhang, sekelebat sudah menghilang.
Jantungnya Fu Ke-wei kembali berdebar, telapaknya pun kembali berkeringat, perasaan mengendur setelah melewati
bahaya, membuat dia merasa sangat lelah, dan lukanya kembali
terasa sakit. "Aku pasti bisa mencari kalian."
Dia didalam hati berteriak.
Cuaca akhirnya menjadi terang, dia masuk ke dalam rumah
Yan-fang, dengan teliti memeriksa setiap pelosok, dia berharap bisa mendapatkan sedikit jejak.
Tapi harapannya sia-sia, kecuali perabotan rumah, apa pun tidak
ada yang ditinggalkan, sampai satu baju pun tidak ditemukan.
Dia jadi tertawa pahit menggelengkan kepala, orang-orang ini
sungguh pintar sekali, seperti setan saja, gerakan menghilangkan
jejaknya begitu sempurna.
Terakhir, dia sekali lagi melihat kesekeliling rumah.
Tiba tiba, dia menyorotkan matanya pada alat minum yang
pernah dia gunakan untuk menjebak orang tua, di barang itu ada
satu lubang kecil terkena senjata gelap, tapi senjata gelapnya telah hilang.
Itu adalah lubang sebesar kacang, menembus alat setebal
setengah cun, lubangnya ada yang mendadak membesar, di
sekeliling lubang ada jejak warna hijau padam yang sulit dilihat.
Dia mencium-cium lubang kecil itu, lalu membuka kantong serba
ada, dengan pisau Xiu-luo mengambil bubuk dari satu botol keramik
perut besar, di campur dengan air liur lalu dioleskan pada satu sisi lubang kecil itu, dia memperhatikan perubahannya, dia tidak
henti-hentinya mencium. Tidak lama, sisi yang telah dioles bubuk, tampak ada jejak warna
pucat keputihan. Dia kembali menggunakan bubuk di botol lainnya, dioleskan pada
sisi lain lubang kecil. Berturut-turut dicobanya menggunakan empat macam obat bubuk,
akhirnya obat terakhir menampakan jejak warna abuabu hijau,
mengeluarkan bau tipis semacam amis ikan.
Dia tertawa puas, lalu membereskan kantong serba ada
pelan-pelan berdiri. "Seruling Pengejar Nyawa, Jarum Kematian, aku sudah tahu
siapa kalian!" Dia berguman, sinar dingin di matanya tiba tiba jadi membara,
sudut bibirnya tersenyum keji, sepasang tangan dengan reflek
__ADS_1
mengepal kuat.